bagian 10

2279 Words
Sudah pukul sepuluh malam, tapi Mifta belum juga tidur. Kayla, mulai bingung. Sedangkan, Gina sudah menelponnya berkali-kali. Kayla masih menggunakan baju tidur. Mifta terus menyuruhnya libur bekerja. Terpaksa berbohong, dan mengiyakan permintaan sang ibu. Sampai pukul sebelas malam, Mifta baru saja tidur. Kayla akan segera melakukan aksinya. Berjalan, dan membuka pintu dengan perlahan. Takut, jika Mifta terbangun. Jemputan sudah siap, menunggu Kayla. Kini Kayla segera memasuki mobil. Kini Kayla telah sampai di Klub, gadis itu segera ke toilet, untuk mengganti pakaiannya. Setelah dirasa cukup, Kayla mulai mencari mangsa. Tak sulit bagi Kayla untuk mengincar tamu. Baru beberapa menit, gadis itu sudah mendapatkan mangsa. “Sebentar ya, om. Aku mau joget dulu,” kata Kayla pada tamunya. Kemudian, gadis itu naik ke panggung. “liat, ratu b***h kita! Baru datang udah punya Slepetan aja. Kita yang udah dari tadi, belum aja dapat,” kata Rani. Salah satu p*****r di klub itu. “Pantas aja, ya? Mami gak ngebolehin dia keluar. Dia kan ladang duitnya mami,”lanjutnya. “Ah... Bodolah. Pasti dia pake kelewer,” ucap Vita, teman Rani. Banyak b***h yang iri dengan Kayla. Pasalnya, ketika Kayla datang. Semua berubah. Mereka menganggap, jika Kayla merebut pelanggan. Semakin malam, semakin ramai. Begitulah suasana club malam. Semua bersorak, memanggil nama gadis yang sedang menari dengan edannya di atas panggung. "Kayla," teriak salah satu pengunjung. Dj mulai memainkan musiknya. Kayla muncul, dan segera menaiki panggung. Semua bersorak, ketika melihat Kayla. Ada segerombolan laki-laki, yang terdiri dari 3 orang. Mereka sangat antusias menonton kemolekan tubuh Kayla. Ada Alvin, di antara gerombolan itu. Alvin sengaja, membuntut Kayla. Ketika dirinya mengantar pulang Hana. Tak sengaja, Alvin melihat Kayla masuk ke mobil. "Malam ini, Kayla harus kencan sama gue," kata laki-laki berkaos biru. "Berani bayar berapa, lu? Kaya punya uang aja," kata lelaki berkaos hitam. "Gampang masalah uang mah. Ada om Waluyo yang siap menampung masalah krisi ke-ekonomian. Iya kan, om?" tanya lelaki berkaos biru. "Dasar lu semua, otak m***m," jawab Waluyo. "Berani lu sentuh cewek itu. Kalian habis sama gue," tambahnya. Alvin melihat lelaki berkaos merah, menatapnya intens. “Loh... Itukan, om Waluyo. Omnya Alfa. Ngapain dia ke sini,?” batin Alvin bertanya-tanya. Kini waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 malam. Gadis itu sudah bersiap-siap untuk pulang. Malam ini sungguh sangat melelahkan, bagi Kayla. "Gak papa capek, yang penting saweran buanyak," ucapnya sendirian. "Kayla," panggil seorang lelaki. Gadis itu menoleh. Kemudian, menghentikan langkahnya. Gawat, kenapa ada Alvin di sini? Mampus gue, batin Kayla. Kayla mempercepat langkahnya. Namun, Alvin berhasil mencekal lengan Kayla. "Jangan menghindar!" perintah Alvin. "Lepasin gue," bantah Kayla. "Kamu udah janji sama Alfa. Gak akan kerja jadi penari striptis lagi. Tapi, ini? Kamu mau Alfa kecewa?" kata Alvin. Kayla menunduk, takut jika Alvin mengadu kepada Alfa. "Gue harus gimana? Hanya cara ini yang bisa gue lakuin," jawab Kayla seadanya. "Kamu putus asa gitu aja? Kamu gak mikirin perasaan Alfa?" tanya Alvin. "Ini jalan yang paling gampang buat gue. Gue mohon! Tolong jangan ikut campur urusan gue! Jangan pernah lu bilang ke Alfa,” ucap Kayla. Alvin melepas cekalannya, dan mengusap rambutnya frustasi. "Meskipun gue gak bilang, Alfa bakal tau sendiri. Karena, sejauh apapun bangkai tersembunyi, maka akan kecium baunya," jawab Alvin. Dan, meninggalkan Kayla. “Kalo lu bilang ke Alfa. Gue juga bakal bilang ke Hana. Kalo lu berani main di belakang,” teriak Kayla. Namun, Alfa tak menggubris. Apapun risikonya, gue harus siap. Sebab, semua yang gue lakukan harus dipertanggung jawabkan. Lagipula, ini jalan hidup yang gue pilih. Ora gak berhak ngantur hidup gue, batin Kayla. ????? Kayla sedang duduk bersama Hana, dua gadis itu sedang asik menikmati batagor kantin sekolah. “Ngomong-ngomong, kelas kita katanya bakal ada murid baru,” kata Hana. “Serius? Cewek apa cowok?” tanya Kayla. “Katanya sih cewek,” jawab Hana. Kayla mengangguk mengerti. Kini Kayla melamun, memikirkan perkataan Alvin. Tapi... Kenapa ia takut? Ini jalan hidupnya, dan ini pilihannya. Semua orang tidak berhak mengatur urusan pribadinya. “Kalo dia marah, gue harus bodo amat. Ini hidup gue, gue yang nentuin sendiri. Mereka gak berhak ikut campur,” batin Kayla. Tak butuh waktu lama, tiga lelaki tampan datang. Alfa, Alvin, dan Glen. Mereka berjalan ke arah Hana, dan Kayla. “Cuyung,” panggil Hana ke Alvin. Gadis itu langsung bergelayut di lengan Alvin. Mereka memang seperti permen karet. Menempel di manapun, dan kapanpun. Tak, peduli masih di sekolah. Glen tersenyum ke arah Kayla, gadis itu membalas senyum Glen. Alfa menyaksikan kontak mata, antara Glen, dan Kayla. Hatinya merasa panas, ingin rasanya mengusap kasar wajah Glen yang sok ganteng itu. Namun, ia urungkan. Mengingat Glen adalah temannya sendiri. “Aku mau ngomong,” kata Alfa tiba-tiba, dan menarik lengan Kayla. Sepontan membuat gadis itu berdiri. “Apaan sih, Fa?” Kayla tak terima diperlakukan seperti itu. Alfa tak mengubris, lelaki itu membawa Kayla menjauh dari Glen, Alvin, dan Hana. “Sini duduk!” perintah Alfa. “Apaan, sih? Norak banget,” jawab Kayla. “Kay, apa kamu masih jadi p*****r? Aku gak suka,” kata Alfa. Gadis itu tersenyum kecut, dan membenarkan dugaannya. Alvin pasti sudah bocor, dna membeberkan tentang kejadian semalam. Kayla melihat ke arah Alvin, dengan tatapan menantang. Seolah berkata,”Bacot!” Alvin yang menyadari tatapan Kayla, langsung membuang muka. “Jawab gue!” tegas Alfa. “Harus gitu? Lu tau semua tentang gue? Harus juga? Lu tau semua urusan gue?” tanya Kayla balik. Alfa terkejut mendengar jawaban Kayla. “Gue Cuma pingin tahu. Jujur aja, gue gak suka." “Terus kalo lu gak suka? Gue bakal berhenti?” tanya Kayla lagi. “Harus!” Kayla tersenyum kecut. Hingga alis kirinya terangkat. Apa hak Alfa melarang dirinya? “Lu gak berhak! Lu Cuma orang lain! Jadi gak bisa ngatur gue terus menerus. Hidup gue beda, gak kaya hidup lu. Mulai sekarang, kita masing-masing aja. Jangan pernah ikut campur urusan gue. Gue berhak nentuin apa yang gue mau,” ucap Kayla. Hati Alfa terasa sakit ketika mendengar ucapan yang keluar dari bibir gadis di depannya. Apa selama ini, pengorbanan Alfa tak ada harganya di mata Kayla? Gadis yang selama ini ia jaga, sekaligus ia sayang, ternyata menilai dirinya tak berharga. “Satu lagi! Gue gak butuh lu. Gak dulu, gak sekarang. Lu Cuma orang lain, yang sok jadi pahlawan,” ucap Kayla sebelum pergi meninggalkan Alfa. Kayla sudah lelah, menurutnya, semua manusia egois. Meminta, tanpa tahu perjuangan yang telah ia lalui. Tanpa tahu, ada beban yang ia tanggung. Kayla terpaksa, berbicara kasar, agar Alfa tak terus menerus memaksa dirinya untuk berhenti bekerja di tempat haram itu. Sebenarnya. Gadis itu juga ingin berhenti, namun keadaan memaksa dirinya untuk menjadi seperti itu. Kayla juga tidak mau, jika mengandalkan Alfa terus menerus. Akan ada masanya, gadis itu berhenti, dan meninggalkan dunia yang menjijikan itu. Tapi... Sekarang belum waktunya. Kayla masih membutuhkan jalan buruk itu, untuk bertahan hidup. Kayla berhenti di antara Glen, Alvin, dan Hana. “Han... Mulai sekarang, lu gak usah deket-deket gue. Kiita bukan teman lagi. Satu lagi! Awasin tuh pacar lu, memang keliatanya polos, sih. Tapi... Lu gak tau kan? Sebenarnya dia ngapain aja kalo gak lagi sama lu,” ucap Kayla, kemudian pergi. Hana tentu saja bingung, dan memandang Alvin. Hana tak tahu, apa yang sudah terjadi. Kenapa Kayla berbicara seperti itu? Apa dirinya berbuat salah? Sedangkan Alvin hanya terkekeh. Seolah mengejek Kayla. “Ha? Dia kenapa, sih?” tanya Hana kepada Alvin. Lelaki itu mengidikkan bahu, seolah tak tahu. Glen menatap kepergian Kayla, dan membatin, “kayaknya ada sesuatu yang gue lewatkan. Ini kesempatan bagus. Gue bisa deketin Kayla tanpa ada yang menganggu.” Ketika semua harus terjadi karena terpaksa. Maka, “Ya udah.” Menjadi kalimat pasrah. ???? Baru kali ini Hana merasa dimusihi, tanpa tahu apa salahnya. Hana masih bingung, kenapa Kayla mendiamkan dirinya? Sampai-sampai, Kayla tak mau duduk bersebelahan dengan dirinya. Kesalahan apa yang telah ia lakukan? Sehingga sahabatnya menjadi dingin, bahkan bertegur sapapun tak mau. Sudah seminggu, Kayla tak mau berbicara dengan para sahabatnya. Ketika bertemu Alfapun, Kayla seolah tak mengenal. Apalagi jika bertemu Alvin, muka sinis akan Kayla beri, ketika bertapa muka dengan lelaki itu. Menjauh dari sahabat-sahabatnya, namun dia malah lengket dengan Glen. Bel sekolah berbunyi, kini Kayla hendak ke kelas Glen. Ajakan Hana untuk ke kantin bareng, di tolak oleh Kayla. "Eh... Lu liat Glen, gak?” tanya Kayla pada teman sekelas Glen. “Kayaknya dia ke kantin, deh.” Kayla mengangguk paham, dan segera pergi ke kantin. Langkah Kayla terhenti, ketika melihat Glen bersama Kirana. Jantung Kayla berpacu cepat, karena melihat pemandangan di depanya. Semakin ragu untuk menghampiri Glen. “Kok gue ngerasa cemburu, ya?” batin Kayla. “Ah... Bodo amat. Gue samperin aja.” Akhirnya Kayla bertekad untuk menghampiri Glen. Gadis itu menepuk pundak Glen, spontan membuat lelaki itu terkejud. Tadinya ingin marah, namun ia urungkan ketika tahu siapa yang menepuknya. Glen tersenyum, dan menyuruh Kayla untuk duduk di sampingnya. “Kalian lagi apa?”tanya Kayla basa-basi. “Kita lagi bahas tugas, Kay. Aku sama Glen satu kelompok. Jadi, kamu gak perlu cemas, apalagi cemburu. Haha.” Kirana mencoba menggoda. Mendengar jawaban Kirana, sedikit membuat Kayla lega. Entah, apa yang sebenarnya Kayla rasakan. Padahal, ia pikir, Glen hanyalah teman pelampiasannya saat ini. Saat ia menjauhi teman-temannya. “Dih... Kalem aja kali, Na. Gue sama Glen juga Cuma temanan. Siapa juga yang mau marah, karena masalah ginian,” kata Kayla. “Haha... Yaudah. Aku tinggal ke kelas dulu, ya. Nikmatin, temu kangennya.” Glen tersenyum, dan mengangguk. Kini tinggal Glen, dan Kayla. Mereka saling tatap. “Apa? Gue cantik, ya?” “Cantik banget.” Di situlah, mereka mulai bercanda. Hingga tak sadar, ada pasang mata yang memandang. Merasa sakit, sekaligus kehilangan. Alfa Satya, sahabat Kayla yang merasa terbuang, ketika sudah tak dibutuhkan. Ternyata menyimpan perasaan, hingga sekarang. Ini kali pertama Alfa patah hati sebelum memulai. “Udah, biarin aja,” kata Alvin yang sedari tadi memperhatikan tatapan Alfa ke arah Glen, dan Kayla. “Harusnya, lu bilang dari dulu. Kalo lu suka sama dia. Kalo udah gin, kan? Terlambat. Kalah start sama Glen,” lanjutnya. Semudah itu, lu lupain gue? Harusnya gue... Yang ada di posisi dia. Yang buat lu selalu tersenyum, batin Alfa. “Cariin, gue pacar!” ujar Alfa tiba-tiba, membuat Alvin tak percaya, dengan ucapan sahabatnya itu. ????? Sakit, dan kecewa, gambaran hati Alfa saat ini. Lelaki itu merasa kehilangan, seseorang yang ia sayang telah mengecewakannya. Hal itu sangat membuat Alfa sakit. Ketika pengorbanan, dan perhatiannya tak dianggap. Alfa duduk di kursi, sambil mencoret meja sekolah. Ia merasa gabut, karena memang tak ada yang bisa ia lakukan saat ini. Ia marah dengan Glen, karena menurutnya Glen telah mengambil kesempatan, untuk merebut Kayla. “Lu kenapa, Fa?” tanya Glen tiba-tiba. Spontan membuat Alfa menoleh. “Kepo, lu.” Glen hanya terkikik. Lelaki itu mengambil gawai, membaca pesan dari Kayla. “Dasar cewek ini, bisa-bisanya selucu ini,” lirih Glen. Tapi masih bisa didengar oleh Alfa. Alfa yakin, pasti cewek yang dimaksud Glen adalah Kayla. “Udah sampe mana sama Kayla?”tanya Alfa. Glen melirik. “Kepo!” “Gue berhak tau!” Alfa mulai emosi. “Yaudah! Semoga lekas jadian,” lanjutnya. “So pasti! Lu gak papa, kan? Kan ku Cuma sahabatan doang sama Kayla. Jadi, gak masalah, dong. Kalo gue pacaran sama dia?” Lagi-lagi perkataan Glen membuat Alfa tak sabat. Emosinya tersulut. Laki-laki itu menggebrak meja. Meninggalkan Glen. Di kantin. Alfa menatap rindu gadis yang sedang duduk sambil memakan batagor. Ingin rasanya menyapa. Tapi, lagi-lagi gengsi menjadi penghalang. Rasa kecewanya juga belum sepenuhnya sembuh. Akhirnya, hanya bisa menatap dari jauh. Menikmati setiap senyum yang tercipta dari bibir gadis yang ia sayangi. Alvin datang bersama Hana Mereka duduk di samping Alfa. “Kayla memang sekarang udah berubah,” ujar Hana. “Gue kehilangan sosok dia yang peduli,” tambahnya. Alfa mengusap wajahnya kasar. Membenarkan perkataan Hana. Namun, harus bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur. "Lu gak coba buat bicara lagi sama dia?" tanya Alvin. Alfa menggeleng. "Yaudah! Nanti juga kalo dia butuh, bakal nyari lu." "Dia udah gak butuh gue. Dia udah pinter sekarang. Gak butuh bantuan siapapun," jawab Alfa. Mengingat kembali ucapan Kayla beberapa waktu lalu. Alfa jadi flash back. Mengingat kenangannya dulu bersama Kayla. Dulu, Alfa pernah mendiamkan Kayla, karena bolos sekolah. Kayla yang merasa dicuekin Alfa, akhirnya mencari cara, agar Alfa mau memaafkan dirinya. Berbagai macam cara sudah Kayla lakukan, tapi hasilnya nihil. Alfa tetap dingin. Hal itu membuat Kayla kesal. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk menunggu Alfa di depan rumah. Karena biasanya lelaki itu akan melakukan olah raga pagi, joging contohnya, dan selalu melewati rumah Kayla. Saat itu, Kayla menunggu Alfa hampir setengah jam, sambil duduk di sepeda. Beberapa menit kemudian, seseorang yang ia tunggu kini nampak. Kayla mencoba menyapa Alfa, namun Alfa berlari seolah tak melihat Kayla. Gadis itu manyun, namun mencoba menghilangkan rasa kesalnya. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengikuti Alfa. Tanpa, mengayuh atau menaiki sepeda. Alfa merasa diikuti, namun tak peduli. Lelaki itu terus melanjutkan aktivitasnya, seolah tak ada apa-apa. Kini mereka sampai di taman. Di sana terdapat jembatan, yang biasa pengunjung gunakan untuk berfoto. Ketika Kayla ingin mengayuh sepeda, rantai lepas. Kayla bingung, dan terus mengikuti Alfa. Kesabaran Kayla sudah habis. Ia marah, karena ia tahu, bahwa Alfa pasti menyadari jika Kayla mengikutinya sejak tadi. "Alfa!" teriak Kayla. Alfa berhenti, namun tak menoleh. Sedangkan, Kayla bercucuran air mata. "Gak bisa, ya? Lu ngeliat ke belakang?" lanjutnya. Dengan berat hati terpaksa Alfa membalikkan tubuhnya. Dengan tangan ditaruh di atas pinggang. Memandang Kayla dengan tatapan dingin. "Apa?" "Lu gak liat, rantai sepeda gue lepas?" "Terus? Gue harus apa?" "Gue gak bisa maju. Gue pingin, lu ke sini!" tangisnya membanjir. Alfa mengusap wajahnya. Lelaki itu tak tega, jika melihat perempuan menangis. Akhirnya, memutuskan untuk maju ke arah Kayla. Beberapa menit kemudian. Dua anak manusia itu duduk di bangku taman. Keduanya sedang asik menikmati es krim. Namun, tak ada satupun topik pembicaraan yang keluar. Suasana sangat canggung. "Jadi... Lu nangis, karena rantai sepeda lepas?" tanya Alfa memecahkan keheningan. "Iya? Kenapa? Masalah?" Kayla kembali dengan sikap sarkasnya. Hal itu membuat Alfa terkekeh. Saat itu juga, mereka baikan. Alfa tersenyum, ketika mengingat kenangannya dulu bersama Kayla. Sebelum, gadis itu berubah, menjadi Kayla yang sekarang. Kayla yang tak membutuhkan dirinya. Gue kangen, batin Alfa. ***** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD