bagian 9

1293 Words
Dentam musik menggema di telinga, asap rokok, bau alkohol. Sungguh sangat menyeruak indera penciuman. Kayla duduk di pantry, sambil menyesap minuman berakohol. Menjadi p*****r, masih jadi profesi Kayla saat ini. Kini datang seorang lelaki mendekati Kayla yang sedang santai. "Hey cewek,” goda lelaki bongkotan, dengan menggunakan kemeja berwarna coklat tua. Kayla memandang lelaki yang duduk di sampingnya. Kemudian tersenyum. “Kenapa, om?” tanya Kayla. Gadis itu bangkit dari duduknya. Menarik kerah kemeja lelaki itu menuju ke tempat yang lebih nyaman. “Mantap-mantap, yuk,” ajaknya. Kayla tersenyum nakal. . “Ah...,” desah Kayla ketika om-om m***m meremas gundukannya. Tak mau rugi, Kayla menyuguhkan Wine yang telah ia campur dengan pil antimo kepada mangsanya. Ketika sudah loyo, kini tangan Kayla mulai beraksi. Memberantas, dan menghabiskan uang yang dimiliki sang mangsa. Di lain sisi, lelaki dengan rahang yang mengeras menyaksikan itu semua. Merasa marah, darahnya seakan mendidih. Kemarahanya memuncak ketika melihat Kayla duduk di pangkuan lelaki lain. Alfa tak mau tinggal diam, seketika bangkit, dan akan menyeret Kayla. Kayla masih tertawa sumringah. Gadis itu meliuk-liukan tubuhnya. Pengaruh alkohol membuat kesadarannya sedikit menghilang. Gadis itu semakin menggila, hingga nyaris membuka Bra. Sehingga, membuat para tamu yang melihat tak tahan. Kini ratu b***h itu dikelilingi para lelaki. “Aw... Lepasin,” teriak Kayla ketika ada yang menggeretnya secara paksa. “persetan dengan semuanya,” kata Alfa. Kini Alfa menarik Kayla ke tempat yang lebih aman. Kayla memandang Alfa dengan raut jengkel. “Lu, udah gila?” teriak Alfa. Sambil memakaikan kemejanya ke tubuh Kayla. “Ah... Siapa sih, lu?” jawab Kayla dengan nada serak. Kini Alfa memapah Kayla agar menjauh ke tempat sialan itu. Dengan langkah gontai, gadis itu berjalan. Tapi... kemudian Kayla memeluk tubuh Alfa, membuat langkahnya terhenti. Alfa menegang ketika Kayla mencium lembut bibirnya. Jantungnya terasa berhenti, nyawanya seakan tercabut selama beberapa detik. Bolehkah Alfa terbawa suasana? Bagaimanapun, Alfa juga lelaki normal. Kini Alfa membalas pelukan Kayla, juga membalas ciuman gadis itu. Lelaki mana yang tahan, jika melihat gadis, dengan balutan kain yang kekurangan bahan. Namun, beberapa detik kemudian, Alfa tersadar, dan mengakhiri semua. Kemudian membopong Kayla menuju mobil. “g****k,” runtuk Alfa. Sambil mengendarai mobil. Kayla terus meracau. Rasanya ingin sekali membekap mulut cerewet Kayla. Kini, Kayla ia bawa ke rumahnya. Untung saja, Alfa tinggal sendirian di rumah. Kedua orang tuanya bekerja di luar negeri. ????? Pagi harinya. Sinar matahari menyilaukan pandangan Kayla. Gadis mengucek mata, dan melihat siapa yang telah mengganggu tidurnya. "Alfa,” ucap Kayla bingung. Perlahan bersandar di bahu kasur. "Kok gue ada di sini,” kata Kayla lagi. Saat menyadari dirinya berada di tempat Alfa. "Emang kenapa?” tanya Alfa, kemudian duduk di samping Kayla. "Tadi malam, kan...,” ucapan Kayla terhenti mengingat-ingat, apa yang terjadi tadi malam. “lu, bisa gak, sih? Berhenti, dan ninggalin kerjaan haram itu,” kata Alfa. Mencoba mengalihkan pembicaraan. Kini Kayla menatap Alfa sengit. Kenapa, Alfa tak bisa sedikitpun mengerti. Bahwa, Kayla melakukan ini semua karena terpaksa. “Terus, gue harus kerja apa? Soalnya, jadi p*****r itu cara alternatif buat gue. Cara gampang buat ngehasilin uang,” jawab Kayla. “g****k! Lu anggep gue apa? Gue bisa bantuin, lu. Apa perlu gue nikahin sekalian?” tanya Alfa. Spontan membuat Kayla kagok, tak bisa menjawab. Kini Kayla duduk di pangkuan Alfa. Sambil memeluk lelaki itu. Hal, seperti ini sudah biasa Kayla lakukan ketika Alfa marah. Kayla akan bermanja, hingga emosi Alfa reda. "Turun, gak? Atau gue akan nidurin lu sekarang juga," jawab Alfa seperti biasanya. Tapi, bukannya turun dari pangkuan Alfa, Kayla, malah mencium bibir sahabatnya itu, dan mengusap usap d**a Alfa. Jantung Alfa tentunya berdegub kencang. Kayla memang gila, tapi kenapa Alfa tak bisa menolak sentuhan yang Kayla berikan? "Sarap, lu,” kata Alfa, sambil menjauhkan wajah Kayla. Gadis itu tersenyum nakal. Sambil berbisik,”kenapa gak dilanjutin? Inikan? Yang tadi malam kita lakuin?” Alfa begidik ngeri, dan segera meninggalkan Kayla. Seraya berkata,”cewek gila.” “Alfa, b*****t. Gue denger apa yang lu bilang,” teriak Kayla. Sebejat-bejatnya gue, gue gak akan ngelakuin hal gila ke, elu, batin Alfa. ????? Bell sekolah berbunyi, para siswa, dan siswi berhamburan masuk ke kelas masing-masing. Kayla, dan Hana sudah duduk di bangku mereka. Hari ini adalah pelajaran Pak Bambang. Bimbingan korseling, atau biasa disingkat dengan BK. “Aji Sukala?” “Hadir, pak.” “Tri Suaka?” “Hadir.” “Maemunah?” “Hadiroh, pak.” “Kayla Safitri?” “Ada, pak.” “Sini maju ke depan,” kata pak Bambang. Kayla bingung, apakah dia melakukan kesalahan? Kenapa Pak Bambang memanggilnya? “Kenapa, Pak?” tanya Kayla. Pak Bambang mengeluarkan secarcik kertas dari saku celannanya. Kertas, beramplop. Yang entah apa isinya? “Ini, ada titipan,” ucap pak Bambang sambil menyerahkan secarcik kertas itu. “Apa ini, pak? Dari siapa?” tanya Kayla. “Dari seseorang yang mencintaimu, katanya,” jawab Pak Bambang. “Masih jaman, ya? Pake surat-suratan segala, kaya jaman bahula aja,” sindir pak Bambang. Kayla kembali ke bangkunya, berjalan dengan menunduk menahan malu. Manusia mana yang berani mempermalukan dirinya seperti ini? Jika Kayla tahu, maka dia berjanji, akan membogem wajahnya. Tak peduli, siapapun orang itu. Hana menahan tawa, melihat ekspreksi sahabatnya itu. Kini Kayla duduk dengan raut wajah kesal. Segera membuka isi amplop di genggamannya. “Dari Glen?” lirih Kayla. Tapi, masih bisa terdengar oleh Hana. Untuk Kayla yang cantik. Pesonamu sungguh luar biasa Dalam ketulusan, dan kesederhanaan Mengalahkan jutaan bintang yang ada di semesta ini Lubuk hati ini tersenyum bagai langit yang biru Ingin ku ungkapkan perasaan ini... Seolah aku dituntun untuk mengungkapkan Isi sanubariku Melihatmu tersenyum.. Laksana melayang di atas cakrawala Wajahmu merona bagai mawar merah Sosokmu yang misteri bagai lembah Dalam kegelapan malam ku merefleksikan sosokmu Seperti inikah yang namanya asmara Hidup ku lebih berwarna ketika menatapmu Tanpa bujukan atau rayuan Cukup membuat batin tentram Ingin ku bersua dan mengungkapkan Perasaan ini kepadamu... Dari Glen, puisi ini ditulis, dari lubuk hati yang paling dalam (Puisi by: Muhammad Rifqi) Kayla merinding, membaca puisi dari Glen. Hana yang ikut membaca, tertawa seketika, lupa jika masih ada pak Bambang di dalam ruangan. Akhirnya Hana di hukum, untuk tidak ikut pelajaran pak Bambang. Sekarang giliran Kayla yang tertawa, melihat sahabatnya sengsara. Hana melihat ke arah Kayla, seolah berkata,”Awas ya,lu!” ????? Di kantin. Ketika semua sedang asik ngobrol, dan bercanda. Kini Hana malah cemberut, dan cuek ke Alvin. Kayla masih saja terkekeh, melihat tingkah sahabatnya. Alfa yang duduk di samping Kayla menyenggol lengan gadis itu. “Hana lagi kenapa? PMS?” bisik Alfa. Bukanya menjawab, Kayla malah terkekeh. “Kamu kenapa sih, Yang?” tanya Alvin yang mulai jengkel dengan sikap Hana. “Kamu apaan, sih? Pacarnya lagi badmood, malah dibentak gitu?” ujar Hana dengan mata berkaca-kaca. “Lah, siapa yang bentak kamu? Aku tanya baik-baik, loh dari tadi,” jawab Alvin. Semakin membuat Hana sengit. “Tadi, tuh... Aku dihukum sama pak Bambang, disuruh keluar kelas. Gak ikut pelajaran. Ngerti gak, sih?” jawab Hana berapi-api. “Kenapa sampe dihukum? Kamu bolos? Gak ngerjain tugas? Kan aku udah bilang, jangan bolos! Kalo ada pr langsung di kerjakan sepulang sekolah!” jawab Alvin berapi-api. Membuat Hana menggebrak meja. “Ini semua gara-gara Kayla,” teriak Hana. Semua murid yang ada di kantin, terkejut. Memandang Hana dengan pandangan sengit. Alvin mencoba menenangkan sang pacar, menyuruh untuk duduk, dan tenang. Kini Alvin menatap Kayla, dengan tatapan memohok. Meminta penjelasan, kenapa Hana bisa dihukum, dan tidak boleh mengikuti pelajaran pak Bambang. “Kok gue? Gue salah apa emang?” tanya Kayla bingung. “Iya lah, salah, lu. Kalo aja lu gak baca surat dari Glen. Gue gak akan ketawa,” jawab Hana. Kini giliran Alfa yang menatap Kayla bingung. Kini Kayla mengambil sepucuk surat dari saku. Kemudian, memberikan ke Alfa. Alvin yang penasaran akhirnya ikut membaca surat dari Glen. Alvin tertawa, tetapi tidak dengan Alfa. Lelaki itu merasa cemburu, ketika tahu bahwa Glen menyukai Kayla. Jika dia mencoba merampas apa yang kupunya. Sebisa mungkin, akanku kokohkan tameng, agar dia tak macam-macam, batin Alfa. ?????
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD