Masih merenung, meratapi nasib buruk yang tiada henti. Gudang sekolah, masih menjadi tempat yang ia kunjungi ketika sedang dalam tekanan. Sambil merokok, dan memandang asap yang telah mengepul.
“Katanya, kalo ngerokok inspirasi bakal muncul? Kok ini gue malah tambah puyeng, ya?” ujar Kayla.
Kini gadis itu kembali melamun. Memikirkan nasibnya, yang tak kunjung membaik. Dia teringat, ketika harus mengurus sang ibu setiap bagi, membiayai hidup sendiri, dan ketika sang ayah memilih pergi, meninggalkan dirinya, dengan sang ibu.
"Argh! s**t," umpatnya.
"Pusing gua lama-lama. Bisa depresei gua kalo gini terus,” lanjutnya.
Kini Kayla memutuskan untuk ke kantin, 3 hari tidak memakan nasi, membuat separuh energinya menghilang. Berjuang juga butuh energi kan? Bagaimanapun, Kayla hanya manusia biasa.
“Kayla,” panggil seseorang, spontan membuat Kayla menghentikan langkahnya, dan menoleh.
"Ya?" jawab Kayla.
"Mau ke mana?" tanya Glen.
"Kantin," jawab Kayla, kemudian melanjutkan langkahnya. Diikuti Glen berjalan di sampingnya.
"Gue temenin,” kata Glen.
"Ya udah."
Di kantin.
Kayla masih diam, membuat Glen salah tingkah, harus memulai pembicaraan dari mana. Sedangkan, gadis di depannya hanya diam, seperti tak menghiraukan kehadiran dirinya. Glen merasa tidak enak, apa mungkin Kayla masih marah, karena masalah kemarin? Ketika dirinya tiba-tiba mencium Kayla. Glen sadar, jika yang ia lakukan adalah hal yang tak sopan. Mencium seseorang di depan umum, tanpa meminta ijin.
“Btw... Lu masih marah karena masalah kemarin?” tanya Glen memecahkan keheningan.
Kayla menoleh, melirik Glen tak suka.
"Dikit,” jawab Kayla ngirit.
Glen semakin salah tingkah, dan merasa bersalah.
“Maafin, gue. Sumpah kemarin gue kelepasan, Kay,” jawab Glen membela diri.
Kayla mengidikan bahu, seolah tak peduli, apapun alasan lelaki yang duduk di hadapannya.
“I don't care. Gue gak peduli. Tapi, emang, sih. Semua cowok di sekolah ini, gak ada yang gak caper sama gue. Semua cowok itu sama, dan lu juga termasuk,” ujar Kayla.
Glen memandang Kayla tak mengerti. Apa yang Kayla maksud? Karena Kayla cantik, lalu banyak lelaki yang menyukai? Tapi, kenapa? Kayla bilang, jika Glen sama seperti lelaki lain?
“Maksud, kamu?” tanya Glen.
“Ya itu, sama-sama spesies Kadal. Tukang modus,” jawab Kayla jujur.
“Anjir! Gue bukan cowok kaya gitu, gue anak baik-baik,” jawab Glen tak terima.
“Ya siapa tau, lu gitu? Cuma mau paha, d**a, sama selakangan.”
“Heleh... Sok tau banget, lu,” jawab Glen.
10 menit mereka terdiam, hanya keheningan yang menyelimuti keduannya. Kayla sibuk dengan batagornya. Sedangkan Glen sibuk memandangi gadis di depannya. Glen tak bisa berkata, bahwa Kayla memang cantik alami, bak bidadari. Matanya sampai tak bisa, jika tak memandang wajah gadis di depannya ini.
“Kay?” panggil Glen.
“Opo?” jawab Gadis itu.
“Kamu tinggal di mana?” tanya Glen.
“Di rumah, lah,” jawab Kayla asal.
Glen mencubit pipi Kayla, gadis itu langsung menepis tangan Glen.
"Serius, Kay,” kata Glen.
“Rumah gue deket, kok. Mau main?” tawar Kayla. Sepontan membuat Glen mengangguk.
“Emang boleh?” tanya Glen. Kayla mengangguk.
Cewek segalak ini, bisa ramah juga, memang ajaib, batin Glen.
*****
Sesuai janji, Glen datang ke rumah Kayla. Sangat mudah menemukan rumah Kayla. Dari tugu KM0 Kajen, lalu belok kiri, lurus aja, sudah sampai. Glen memandang, rumah sederhana, dengan cat berwarna hijau toska. Rumah, tampak sepi. Seperti tak berpenghuni. Pemuda itu mengetuk pintu. Tak, lama kemudian sang empunya datang, dan segera membuka pintu.
“Hay, udah dari tadi?” sapa Kayla.
“Baru aja, kok,” jawab Glen ramah.
Kayla mempersilahkan Glen untuk masuk.
“Maaf, ya. Rumah gue jelek, dan berantakan,” kata Kayla canggung. Takut, jika Glen merasa risih dengan keadaan rumahnya. Namun, itu semua tak masalah bagi Glen. Kayla mempersilahkan Glen untuk duduk, gadis itupun ikut duduk.
“kamu tinggal sendiri?” tanya Glen. Karena, memang sejak tadi Glen tak melihat ada tanda-tanda manusia lain selain Kayla. Kayla tersenyum mengerti maksud Glen.
“Bentar, ya,” kata Kayla kemudian meninggalkan Glen.
Tak lama kemudian, datang Kayla membawa seseorang yang duduk di kursi roda. Glen mengreyit, apakah itu ibu Kayla? Pikir Glen.
“Hay, Glen. Ngalamun aja. Ini nyokap gue,” ujar Kayla.
Dan, benar dugaan Glen. Wanita itu adalah ibu Kayla.
“Saya Mifta, mama Kayla,” ujar Mifta. Glen bangkit, dan segera mencium tangan Mifta. Kayla tersenyum, melihat tingkah Glen.
“Ada temannya,, kok gak dibuatkan minum? Kamu ini,” ucap Mifta.
Kayla menggaruk tengkuknya, merasa bodoh. Karena, memang jarang sekali ada tamu ke rumahnya. Membuat dirinya hilang peka, harus membuat ini, dan menyugguhkan itu. Berbeda jika Alfa yang datang, Kayla jarang, bahkan tidak pernah membuat suguhan untuk Alfa. Malah, justru Alfa yang membawakan makanan ketika bertamu.
Beberapa menit kemudian, Glen dan Mifta yang sedang asik ngobrol dikejutkan dengan suara ketukan pintu. Ternyata Alfa datang. Membawa tentengan plastik, yang berisikan martabak. Alfa mengreyit ketika ada Glen yang duduk di kursi.
“Assalamualaikum, tante,” ucap Alfa, kemudian mencium punggung tangan Mifta. Mifta tersenyum, dan mempesilahkan Alfa untuk duduk.
Kini Alfa duduk di samping Glen, sambil melirik.
“Eh, curut. Lu ngapain di sini?” tanya Alfa to the point.
“Apel calon pacar gue, lah,” jawab Glen asal. Membuat Alfa menjitak kepalanya.
“Anjir... Terus lu ngapain ke sini?” tanya Glen.
“Gue ke sini setiap hari, lah. Yang jagain Kayla kan gue,” jawab Alfa.
Belum sempat Glen menjawab, Kayla datang dengan membawa nampan yang berisi secangkir kopi.
“Eh... Ada bojo,” kata Kayla menyapa Alfa. Alfa hanya tersenyum menanggapi.
“Eh... Bentar, ya? Gue mau nganter nyokap ke kamar dulu,” kata Kayla. Diiringi anggukan Glen, dan Alfa.
“Tante tinggal istirahat dulu, ya? Kalian yang akur,” kata Mifta.
“Siap tante,” jawab Alfa.
Tak butuh waktu lama, kini Kayla nampak, dan duduk di samping Alfa. Mereka berdua asik bercanda, hingga Glen kini terlupakan. Lelaki itu mulai panas, dan kesal. Bisa-bisanya dia tak di anggap.
‘bener-bener, ya. Si Alfa, ngerusak acara pdkt gue,' batin Glen.
“Kay... Gue, pamit pulang, ya. Salam buat nyokap, lu,” kata Glen. Sebelum bangkit meninggalkan dua curut yang sedang bercanda.
“Oh... Cepet banget pulangnya. Ntaran, dulu, lah. Belum juga ngobrol,” ujar Kayla.
‘Gimana mau ngobrol? Orang dari tadi lu berdua asik sendiri,' batin Alfa menjawab.
“Ah... Dasar curut rumahan. Baru jam segini udah balik aja, kaga asik lu,” kata Alfa. Glen memandang wajah sang sahabat dongkol, dan segera menghampiri Alfa.
“Bangke, lu. Ngerusak pdkt gue,” kata Glen setengah berbisik.
“Langkahin dulu mayat, gue,” balas Alfa.
Akhirnya, Glen pulang dengan perasaan kesal. Alfa memang sangat menyebalkan, dan merusak segalanya.
?????