'Keinginanmu, adalah keterpurukanku . Pertemuan singkat ini Lipat hatiku untuk memilikimu. Dan, cinta ini. Jatuh kepadamu. Takan menyerah, walau kau menolakku , '
Gadis itu menyesap minuman yang ada di tangan kirinya. nampak itu adalah minuman berakohol. Tangan kanannya memegang sepucuk rokok. Bisa kalian simpulkan, sungguh bajingannya dia. Dia adalah Kayla, gadis cantik, namun keindahannya ia manfaatkan untuk hal yang tidak baik. Demi sesuap nasi, dia rela menjadi penari striptis. Miris, begitulah. Dan, memang itu disetujui.
Bekerja sebagai perempuan penggoda adalah suatu yang dilakukan oleh seorang Kayla. Mau bagaimana lagi? Saat ini, hanya dia yang bisa diandalkan, dan hanya menjadi jalanglah cara instannya. Sementara ia tahu, itu yang dilakukannya adalah hal yang tidak baik. Namun, sekali lagi. Ini adalah keterpaksan yang ia lakukan. Dan, belum banyak yang mengetahui profesi Kayla saat ini.
Malam itu, di klub malam sedang ramai pengunjung. Kayla bersama teman sedang mengencani seorang pria usianya sekitar 40 tahun. Kayla bergelayut manja di lengan pria berpakain kemeja merah maroon. Sementara Lia, teman Kayla menemani pria berkaos hitam.
Mereka terlihat sangat gembira, lebih senang tahu, itu mendukung kali ini bukan orang biasa. Seperti orang yang ada dan banyak uang.
Kayla menuangkan minuman keras ke dalam gelas pria yang ada di sebelahnya. Sekali, dua kali, bahkan lima kali tegukan. Nampak, pria berkemeja merah marun mulai loyo.
"Mas, minta uang dong," goda Kayla. Sekarang ia mengubah posisinya, dan duduk di pangkuan pria bongkotan itu. Kayla Buka kancing kemeja pria di bawahnya. Mengelus d**a pria.
"Oh ...." Pria itu mendesah.
"Minta uang dong, mas." Kayla semakin ganas. Kini tangan nakalnya mulai memijit bagian intim pria itu. Seperti terhipnotis, sangpria mengambil dompet, dan memberikan kepada Kayla. Ini peluang bagus, untuk menguras dompet pria bongkotan itu. Kayla tak tinggal diam, ia tersenyum kompilasi melihat isi dompet tersebut.
Nominalnya sangat banyak. Kira-kira ada 10juta lebih. Ia ambil, tanpa ada satupun yang tersisa. Setelah dirasa cukup ia mengembalikan dompet tersebut kepada sang empunya. Ia mencium ganas pria di bawahnya sebagai bonus, karena telah memberikan uang yang jumlahnya lumayan.
Kayla menggerakan pinggulnya, dan menarik tangan pria itu menuju payudaranya. Gadis itu tersenyum, ketika merasakan ada sesuatu yang menegang di bawahnya. Seketika ia turun, dan pergi meninggalkan pria yang tadi ia kencani.
***
Alfa, Alvin, dan Glen, ketiga pria tampan, yang sedang duduk santai di kantin. Alfa mengotak-atik laptopnya. Ternyata ia sibuk bermain game Free Fire. Nampak antusias, dan nampak serius.
"Booyah," terik lelaki itu memekik telinga. Membuat, para pengunjung di kantin kaget. Pasang mata melihat, dan melirik Alfa. Namun, lelaki itu tak perduli.
"Kampret, lu." Alvin menjitak kepala Alfa.
“Sialan,” tambah Glen.
"Santai ae bro, hahah. Mau mabar kagak?" tanya Alfa, kepada kedua temannya.
"Kagak lah, males," balas Alvin.
Kini Alfa memandang Glen, dengan pandangan memohon, namun Glen menghiraukan sahabatnya itu.
Alfa menghela napas, akhirnya mengakhiri gamenya, dan membuka Youtube.
"Ngomong-ngomong, lu udah punya pacar lagi, Glen?" tanya Alfa.
Kini Glen jadi badmood, pertanyaan Alfa sungguh membuat emosinya sedikit terkuras, dan mengingatkan tentang masalalunya yang menyakitkan.
"Pacar? Buat apaan. Gue gak butuh cewek,” jawab Glen. Alfa tertawa, melihat temannya sedikit agak marah. Begitu juga dengan Alvin.
"Move on lah, lihat. Dia udah bahagia." Alfa menepuk bahu sahabatnya.
"Butuh waktu." Glen tersenyum miris.
"Bro, udah satu tahun. Lu masih belum bisa move on? Astaga," sindir Alvin.
Glen menatap kedua sahabatnya malas.
"Rena, tetep ada di hati gue. Lagian, lu ngomong begitu, emang lu udah punya cewek, Fa?" tanya Glen balik.
Alfa menggaruk tengkuknya, merasa salah tingkah. Tak pernah terlintas di pikirannya untuk memiliki pacar.
Selama ini, dia hanya fokus menjaga dan menemani Kayla. Ah... Mengingat Kayla, Alfa jadi kepikiran dengan gadis itu. Sudah beberapa hari Alfa tak mengunjungi, dan menemuinya. Tapi, rasa kesal dan marah masih menerpa dirinya. Mengingat, tentang kejujuran Kayla yang menjadi p*****r.
"Hahahah... Serius lu tanya Alfa kaya gitu? Dia mah gak punya pacar juga gak rugi, lagi pula ada Kayla. Kayla kan bini Alfa,” ujar Alvin. Spontan membuat Alfa melemparkan gorengan ke arahnya.
Mendengar Alvin menyebut Kayla, Glen jadi teringat dengan gadis itu. Meskipun, dalam hati ia merasa tak menyukai gadis manapun, tapi jika melihat dan mengingat Kayla, hatinya terasa adem. Glen juga tak tahu, apakah lelaki itu menyukai Kayla atau sekadar naksir.
Sangat kebetulan sekali, Kayla dan Hana, baru saja datang, dan duduk di belakang ketiga lelaki itu. Alvin menyadari kehadiran kedua gadis itu. Alvin tersenyum, melihat Hana, begitu juga Hana, gadis itu membalas senyuman sang kekasih. Kini, Alvin menghampiri Hana.
“Uh, cuyung aku,” kata Hana sambil mencubit pipi Alvin, lelaki itu meringis.
Kayla meringis melihat tingkah kedua temannya. Sedikit akur, sedikit marahan. Namun, Kayla juga senang melihat temannya senang. Apalagi ketika melihat Hana. Nasibnya nelangsa, dan Kayla merasa miris, meskipun kisah hidupnya jauh lebih rumit dibanding Hana. Namun, gadis itu tak suka melihat temannya sedih.
Kayla sudah menganggap Hana layaknya saudara. Kayla adalah tempat curhat Hana, dan pendengar yang baik. Tapi, tak pernah sedikitpun Kayla menceritakan kisah hidupnya yang selalu membuat batinya tersiksa kepada orang lain. Terkecuali dengan Alfa.
Di kain sisi mata Glen seperti berbinar, pupilnya membesar ketika melihat Kayla datang. Kini Glen menghampiri Kayla, duduk di samping gadis itu. Alfa yang melihat tingkah Glen, hanya menggelengkan kepala. Padahal, baru saja dia bilang, tak bisa move on dari mantannya. Tapi, giliran lihat yang bening sedikit lansung nyamber.
“Dasar kadal, gak konsisten sama omongan,” ujar Alfa sendirian.
"Kayla," sapa Glen.lelaki itu, duduk di samping gadis yang bernama Kayla. Kayla terlihat cuek. Malah sibuk memainkan ponselnya.
"Udah beberapa hari, kamu gak masuk sekolah, kamu sakit?" Jiwa perduli Glen muncul. Namun, Kayla masih saja cuek, dan diam.
"I love you." Sungguh Glen tidak tahan didiamkan seperti ini. Ia mencium pipi Kayla secepat kilat. Gadis itu melongo, meresapi apa yang baru saja terjadi. Setelah sadar ia menampar lelaki yang kini duduk di sampingnya.
"b******k, bisa gak sih. Gausah ganggu gue?" bentak Kayla. Ia benar-benar emosi. Glen hanya menanggapinya dengan tersenyum. Sedangkan Alvin dan Hana meringis melihat aksi barbar Kayla yang menampar Glen. Alfapun begitu, lelaki itu terkejut, sekaligus merasa darahnya naik. Alfa tak suka jika Kayla diperlakukan seperti itu.
Kayla bangkit, dan segera meninggalkan teman-temannya.
Melirik sebentar Alfa, kemudian buang muka lagi. Alvin tertawa melihat temannya ditolak oleh seorang gadis.
"Mampus lu, hahaha. Itu yang katanya gak bisa pindah dari mantan? Liat yang bening aja langsing nyosor. Hahah," ujar Alvin.
"Bangke! Ini gue lagi usah buat buat, lu gak usah ketawa, deh, ”jawab Glen.
"Heh ... Lu mau dapetin Kayla? Langkahin dulu mayat babang Alfa, ”celutuk Hana.
'Cuma melirik? Ah ... Menyenangkan kamu kelihatan baik-baik, aja. Itu udah buat aku lega, 'batin Alfa.