Bagian 4

875 Words
Hana merasa aneh dengan Kayla. Karena sejak pagi hingga jam istirahat, Kayla hanya diam. Seperti memiliki tekanan beban. Bahkan, Kayla mengambil makanan yang ia pesan. Kayla memang sedang stres, banyak sekali ia berhasil, terutama Alfa. Karena, lelaki itu masih saja mendiamkannya. Berulangkali Hana bertanya, tapi Kayla hanya menjawab, "nggak papa." Alvin datang bersama dengan Glen. Kayla yang masih fokus dengan pikirannya hingga tak sadar menghadiri Alvin dan Glen. "Cie ... berduaan aja, nih," kata Alvin. Alvin duduk di samping Hana. Glen duduk di samping Kayla. Alvin menatap Kayla yang sejak tadi diam. "Dia kenapa?" bisik Alvin ke Hana. Hana hanya mengedikkan bahu, pertanda tak tahu. "Kay, lu kenapa si? Dari tadi diem mulu? Ngambek lu ama gua?" tanya Hana. Namun, Kayla tak menjawab. Membuat Hana dengan bengkelnya satu ini. "KAYLA," bentak Hana. Kayla menggebrak meja, dengan raut wajah marah. Alvin, Hana, dan Glen sampai terkejut. "Apa sih, Han? Gue lagi cowok banget tau gak, sih?" jawab Kayla tak kalah sengit, kemudian pergi. Hana hanya melengos, tidak seperti Kayla yang disukai seperti itu. "Lagi pms, kali," kata Alvin. "Entahlah," jawab Hana. Glen berdiri, berusaha mengejar Kayla. Jauh dilubuk kemenangan, Glen meraasa tertarik akan sosok Kayla. "Lu mau ke mana?" tanya Alvin. "Ada urusan mendadak," jawab Glen. Glen berlari dengan ritme yang cepat, mencari sosok Kayla. Seutas senyum tercipta, ketika lelaki itu mendapati seseorang yang ia cari masuk ke ruangan musik. Kini Glen sudah berada di belakang Kayla. Gadis itu menoleh, ketika melihat Glen berada di belakangnya. "Ngapain ngikutin gue?" tanya Kayla dengan nada cuek. Glen hanya tersenyum, seraya menjawab,”Cuma mau memastikan, kalo kamu aman." Kayla tersenyum kecut, seakan hapal, sikap lelaki, yang mendekatinya hanya ingin modus. “Emang lu siapa? Gue bisa jaga diri sendiri,” ujar Kayla sengit. "Cewek itu aneh ya? Selalu jutek tanpa alasan. Em... Tapi ada yang bilang, sih. Cewek bersikap kaya gitu, karena gengsi buat memulai,” ucap Glen. Kayla semakin malas, mendengar omong kosong yang diucapkan Glen. Namun, gadis itu tak ada niat untuk menjawab ucapan lelaki yang sekarang berdiri di sampingnya. "Ke kelas, yuk! bentar lagi masuk," ajak Glen. "Kelas kita beda. Lu, aja duluan," jawab Kayla setengah menolak. "Okey! Nanti pulangnya gua anter ya?" kata Glen kemudian meninggalkan Kayla. Kayla hanya melongo. ‘udah gila kali itu cowok.’ Kayla membatin sambil menggeleng. "Carikan, satu gadis perawan. Gue bakal bayar mahal." Seseorang berbicara kepada Gina. "Wani piro?" "Tiga puluh juta? Wani? Yang penting perawan." "Gak gampang. Lagi musim ujian, anak-anak gak mau main dulu. Takut kesiangan," jawab Gina, sang g***o atau mucikari. Lebih tepatnya operator p*****r. "Ya udah, gue tunggu, deh. Yang penting carikan perawan. Tiga puluh juta. Kalo dia mainnya lincah di ranjang, gue tambahin. Jadi tiga puluh lima juta." Gina melotot, Sekaligus takjub. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. "Oke, tunggu. Satu atau dua minggu lagi. Pasti ada barangnya." Gina semangat. Waktu sudah menunjukkan 11 malam. Club semakin ramai. Kayla sedang menata dirinya di toilet. Hari ini ia memakai bra berwarna pink, dan celana hot pens. Dengan sepatu heels tinggi. Rambutnya terurai indah. Ia memoles gincu berwarna merah di bibirnya. Setelah dirasa cukup. Ia keluar dari toilet. Meminum pil antimo, dioplos dengan kopi hitam. Ia teguk, hingga tandas. Sorak-sorak bergemuruh. Semua memanggil nama Kayla. Di sana lah Kayla menjadi Queen of b***h. Sekaligus penari striptis yang banyak penggemarnya. Terutama p****************g. Ia mulai menaiki panggung. Dj memutarkan lagu morena. Kayla mulai meliuk-liukan tubuhnya. Ada 5 penari striptis di atas sana. Namun, Kayla lah yang menjadi sumber sorotan mata. Gila! Goyangan Kayla membuat semua pengunjung bersorak. Lekuk tubuhnya yang nyaris sempurna, membuat Kayla terlihat sangat menonjol. Ada lelaki dengan nekat naik ke atas panggung, menghampiri Kayla. Ia memeluk Kayla. Kayla nampak biasah saja. Kayla malah mengalungkan tangannya ke lelaki itu. Gara-gara menelan pil kancing sialan itu. Kayla agak kehilangan kesadarannya. Kepalanya berdenyut, Ia seperti terhipnotis, pasrah dengan semuanya. Kayla ditarik oleh lelaki itu. Entah, mau dibawa kemana. Kayla pasrah. Lelaki itu merangkul Kayla. Membawanya ke mobil. Kayla mengantuk, akhirnya tertidur di mobil. Lelaki itu melihatnya intens. Tak berkedip. Birahinya muncul. Saat ini Kayla masih menggunakan pakaian yang sangat minim. Mengenakan Bra, dan celana gemas. **** Kayla tersadar, ia membuka matanya perlahan. Ia meringis, kepalanya masih berdenyut. Merasa asing. Ia mulai panik. Ia membuka selimut yang masih membalut di tubuhnya. Masih utuh. Dia bersyukur. Namun, ia masih merasa asing dengan ruangan itu. Ia hendak bangun. Namun, ia mengurungkan niatnya. Kepalanya sangat terasa sakit. Namun, rasa penasaran masih menerpa dirinya. Siapa gerangan yang telah membawanya ke sini. “Hay, sayang,” kata seorang lelaki. Kayla mendelik ketika melihat lelaki itu. “Om Waluyo? Om yang bawa aku ke sini?” tanya Kayla. Lelaki yang bernama Waluyo itu menganguk. Namun, Kayla bersyukur karena pakaianya utuh, pertanda Waluyo tidak berbuat macam-macam. “Maaf, ya? Lagian kamu, sih. Om telpon gak diangkat, dichat gak dibalas. Terpaksa, deh,” ujar Waluyo tanpa merasa berdosa. Kayla memutarkan bola matanya. Kini Waluyo duduk di samping Kayla. Menatap Kayla, dengan wajah mupeng. Kayla menatap Waluyo waspada. “Om, pingin mantap-mantap,” kata lelaki itu. “Ah... Gak ah. Aku masih mens.” Alasan klasik Kayla ketika diajak berhubungan badan. Akhirnya, membuat Waluyo pasrah. “Yaudah, oral aja, gimana?” tanya lelaki itu. Kayla nampak berpikir, akhrinya setuju. “Tapi dengan syarat! Om harus tambah uang jajan aku,” jawab gadis itu. "Ashiap. Bosku, ”jawab Waluyo tak bertanggung jawab.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD