Rencana Yura

975 Words
"Jaga ya mulut lo! Kalo pun gua mau cari cowo buat gua tidurin. Gua gak bakal mau tidur sama pecundang kaya lo." wanita itu balik menghina Raymond. "B*NGS*T!" Raymond hendak melayangkan tamparan ke wanita tersebut. Tetapi saat tangan Raymond hampir mendarat di pipi mulus wanita itu, tiba-tiba ada tangan seseorang yang menahan nya. TAP "Jangan maen kasar sama cewe bro." tegur pria yang sedang berdiri dibelakang wanita itu. "Siapa lo ? Jangan ikut campur urusan gua!" hardik Raymond sambil berusaha menarik tangannya. "Kalo lo kasar sama perempuan itu berarti jadi urusan gua." pria itu tidak gentar dengan hardikan Raymond. Sedangkan wanita yang sedang dibela itu kita menghadap kebelakang sambil memperhatikan wajah tampan pria yang sedang membelanya. Lalu dengan kasar pria itu melepaskan tangan Raymond dengan kasar dan mendorongnya. Raymond menatap nyalang kearah pria tersebut, tapi dia tidak berani bertindak apa-apa. Akhirnya Raymond meninggalkan wanita dan pria itu dengan kesal. "Koq gak lo hajar sih tuh orang ?" tanya Jay heran. Biasanya Raymond akan menghabisi semua orang yang mengganggu kesenangannya. "Hahahaha mana berani dia ngabisin tuh cowo." sindir Roy. "Lho emank dia siapa sampe seorang Raymond gak berani ngabisin dia ?" tanya Jay lagi. "Dia itu Albert Xander. Seorang pengusaha sukses. Dia punya banyak perusahaan yang bergerak diberbagai macam industri. Club ini adalah miliknya. Bahkan katanya dia adalah pemilik kampus kita." kata Roy memberikan penjelasan. "Pantesan lo gak berani ngehajar tuh orang. Rupanya lo takut bokap lo di pecat. Hahahaha" ledekan Dino disambut tawa oleh teman-temannya. "Diem lo *nj*ng!" Raymond kesal bahkan dia sampai mengebrak meja. Akhirnya dia meninggalkan teman-temannya dan pergi meninggalkan klub. ***** Disisi lain Xander yang sedang bersama kedua temannya didatangi oleh seorang wanita cantik dan seksi. Tanpa segan dan malu wanita itu langsung duduk di sebelah Xander. "Hai! Ganggu gak ?" tanya nya lembut sambil menyilangkan kedua kakinya, sehingga membuat paha putih dan mulusnya terlihat. Gala dan Ben saling bertukar pandang sambil senyum-senyum. Padahal smua orang yang ada di club ini tidak akan ada yang berani mendatangi mereka, kecuali mereka yang memintanya. Tetapi wanita yang kini ada dihadapan mereka, dengan berani datang dan langsung duduk di samping Xander tanpa ijin. Tapi anehnya Xander hanya membiarkannya. "By the way. Tadi thank you ya, lo udah nolongin gua dari cowo brengsek." kata wanita itu sambil menatap Xander intens. Sedangkan Xander hanya fokus dengan ponselnya. "Boleh gua tau nama lo ? Nama gua Yura." Yura memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya kehadapan Xander. Xander menoleh kearah Yura tanpa bicara ataupun menyambut tangan dari Yura. "Better lo ulang dan ganti baju. Baju lo itu yang bikin lo digangguin sama cowo." kata Xander tiba-tiba sambil memasukan ponselnya kesaku celana. "Gua balik duluan bro." Xander malah berpamitan ke Gala dan Ben. Dan pergi meninggalkan mereka bertiga. "Lho ini koq lo anggurin." teriak Gala. Dan Xander hanya menjawabnya dengan lambaian tangan tanpa menoleh kebelakang. "Lo baru ya disini ?" tanya Ben ke Yura, yang saat ini hanya bisa melongo karena ditinggalkan begitu aja oleh Xander. "Ya baru pertama kali sih gua dateng ke club ini." jawab Yura santai sambil mengambil gelas kosong yang ada di atas meja dan menuangkan minuman yang tersedia di sana tanpa permisi. "Pantes aja lo gak kenal sama kita-kita." "Emank nya kalian seterkenal itu ya ?" tanya Yura sambil memutar-mutar gelas yang berisi alkohol itu. "Gua Archie Galaxy lo bisa panggil gua Gala atau sayang. Yang ini Benedict Joe lo bisa manggil dia Ben. Dan yang tadi itu namanya Albert Xander pemilik club ini." jelas Gala kepada Yura. "Lo masih perawan ?" "Uhuk... uhuk..." Gala yang tadi sedang minum tersedak mendengar pertanyaan Ben. Untung saja yang dia minum saat ini air biasa, jika dia sedang minum alkohol pasti besok dia harus ke THT untuk berobat. Sementara Yura yang mendapat pertanyaan itu hanya tersenyum sinis. "Emank kenapa ?" jawab Yura santai. "Klo lo mau ngegoda Xander lo harus bisa menghasilkan ASI." "Uhuk... uhuk..." Kali ini Gala tersedak kentang goreng yang sedang dia makan tadi. Sepertinya dia harus berhenti makan dan minum jika masih mau sehat. Dia akan melanjutkan makan dan minumnya nanti setelah Ben dan Yura selesai mengobrol. "Kenapa gitu ?" tanya Yura masih santai. "Karena Xander sedang butuh orang untuk bisa memberikan ASI." Yura mengangguk-angguk kecil mendengar penjelasan dari Ben. Walaupun dia sedikit bingung tapi sepertinya dia punya ide untuk bisa mendekati Xander. Dia akan cari tau mengenai Xander dan akan melakukan apapun agar Xander bisa jadi miliknya. ***** Pagi harinya aku bangun dengan kepala yang berat. Dengan asih memejamkan mata, aku beringsut kebelakang agar bisa bersandar sebentar ke dipan ranjangku. Dan saat aku membuka mataku aku hanya bisa menghela nafas panjang dengan pakaian yang saat ini menempel di badanku. 'Apa tadi malam dia pergi ke club malam lagi ?' batin nya. Lalu aku mengambil ponsel yang ada diatas nakas, dan membaca pesan yang selalu aku dapat setiap pagi. [Yura : Semalam gua bertemu dengan Raymond di club malam, dan sepertinya dia menganggap gua ini lo. O iya sorry karena semalem gua minum sedikit. Lo masih butuh uang kan buat pengobatan bokap lo ? Klo lo masih butuh uang itu, hari ini lo harus pergi kedokter buat cari tau gimana caranya lo bisa ngeluarin ASI. Gua jamin setelah ini lo bakal dapat uang banyak buat pengobatan bokap lo. Jadi lo harus ikutin rencana gua. Gak terima bantahan.] Aku mengeryitkan dahi membaca pesan dari Yura. Aku memang butuh uang untuk pengobatan Ayah. Tapi apa hubungannya dengan ASI ? Apa kalo aku bisa mengeluarkan ASI aku bisa menjualnya ? Emank pernah denger sih mengenai orang-orang yang menjual atau menyumbangkan ASI nya untuk anak-anak yang ibunya tidak bisa produksi ASI. Tapi.... Tok... Tok... Tok... "Yuna. Bangun sayang. Sarapan sudah siap." teriak Ayah dari luar kamarku. "Iya yah. Nanti aku kedepan." Akhirnya aku memutuskan untuk mengabaikan pesan dari Yura. Aku harus bersiap-siap untuk kekampus dan bekerja. Walaupun kehidupan aku sepertinya sulit tapi aku bahagia karena ada ayah yang selalu bersamaku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD