"Kak Gilang. Mau ap~eeuhhmm." Bibir Rania dibungkam dengan bibir Gilang.
Ciuman keduanya. Rania membolakan matanya. Ciuman Gilang lebih menuntut dan memaksa. Gilang memasukkan lidahnya. Mengajak si manis berperang lidah didalam sana.
Lagi lagi Rania merasa kakinya melemas. Ia mencengkeram kerah kemeja Gilang untuk sekedar tetap bertahan berdiri. Ciuman panas masih berlanjut dan tangan Gilang yang semakin liar.
Rania terus melenguh dan mendesah diantara ciumannya, rasanya benar benar membuat Gilang tergila gila. Ini pengalaman pertama baginya. Juga tidak pernah menonton drama yang mengajarkan hal semacamnya.
Rania mendesah keras saat tangan Gilang entah bagaimana bisa masuk ke celananya.
Kini ciuman Gilang beralih ke leher putih Rania. Menjilatnya kembali. Menciuminya dan memberikan tanda dengan ganas.
Rania semakin mencengkeram kerah Gilang. Kepalanya mendongak, membuat Gilang semakin bebas mengeksplor leher si manis.
Ia menjilat leher Rania mengikuti bentuk lehernya. Membuat Rania semakin melenguh tertahan sambil menggigit bibir bawahnya. Gilang menyeringai, ia tahu titik lemah si manis sekarang.
Gilang semakin menjadi jadi. Celana Rania kini sudah ditanggalkannya.
"Keluarkan saja, sayang." Gilang menggeram, tak sabar ingin mendengar desahan pamungkas si manis.
Kaki Rania benar benar lemas. Namun sebelum dia jatuh terduduk, Gilang sudah terlebih dahulu menggendongnya dan menidurkannya di kasur.
Rania pikir ini sudah selesai dan ia boleh tidur, sebelum sang tuan dengan mudah merobek sweaternya. Membuat tubuhnya terekspos sempurna. Memperlihatkan kulit mulus putih seperti bayi miliknya. Benar benar menggoda untuk dimakan.
"Kak!" Rania yang sudah memejamkan mata langsung membuka matanya kembali hanya untuk mendapati Gilang yang sudah sepenuhnya tidak memakai pakaian juga, sama seperti dirinya.
Ia menutup matanya dengan satu lengan. Namun, ia kembali teringat pesan sang mama saat merasa milik sang tuan mulai menyentuhnya.
"Kak Gilang, jangan!"
Gilang menggeram marah. Ia sudah tak sabar namun ditahan oleh empunya sendiri. Gilang merendahkan badannya, membuat wajahnya benar benar dekat dengan Rania hingga hidung mereka bersentuhan.
"Siapa kau sampai punya hak melarangku?" Rania menegang. Ucapan dari Gilang bagaikan nada nada kematian jika ia langgar.
Tanpa aba aba, Gilang memasukkan miliknya ke lubang Rania. Membuat Rania berteriak sambil mencengkeram bantalnya kuat kuat. Ia menangis, sakit. Sangat sakit. Tubuhnya serasa dibelah dua.
Gilang menggeram seiring gerakan gerakan yang dia lakukan.
"Aahh. Kau sempit, baby."
"Aaaarghh. Sshhh-sakit. Hiks."
Gilang seperti tuli, tak mau menunggu si manis untuk menyesuaikan didalam sana. Ia memaju mundurkan miliknya. Membuat Rania mendesah hebat dibawahnya.
Gilang meraup bibir Rania. Membungkamnya agar tak terlalu merasakan sakit. Melumatnya bergantian dari bibir bawah dan bibir atas.
"Mendesahlah terus. Aku butuh desahanmu. Euhmmm." Gilang beralih ke n****e Rania. Menghisap n****e kanannya sedangkan n****e kirinya dimainkan dengan tangan.
Rania tak henti mendesah. Ia merasa gila. Di satu sisi ada rasa sakit, namun disisi lain ada rasa ingin meminta lebih. Setiap sentuhan dari sang tuan memabukkan untuknya.
"Pipis. Mauuhhh pipisshhh" Rania sampai untuk kesekian kalinya. Tubuhnya terasa lemas sekarang, ia ingin tidur.
Gilang menggeram. Tangannya bergerak menampar pipi Rania.
"Kau tidak boleh menutup matamu sebelum aku sampai! Tetap buka matamu atau kau akan ku siksa dengan kejam!"
Rania ketakutan. Ia menjaga matanya agar tak hilang kesadaran. Mulutnya terus mengeluarkan desahan desahan tak tertahankan. Apalagi saat Gilang mempercepat temponya. Menghasilkan suara penyatuan kulit mereka yang terdengar bercampur aduk mengisi kamar.
Plakk!!
Lagi lagi Gilang menamparnya. Lebih keras. Tangis Rania semakin menderas. Ini menyiksa. Sangat menyiksanya.
Rania merasa milik Gilang membesar didalam sana. Gilang semakin mempercepat tempo. Rania rasa, milik Gilang menusuk terlalu dalam hingga mengenai perutnya berkali kali.
"Aaahhhh. Aku akan sampai-aahhhh."
"Jangan, Jangan kak" Rania menggeleng tak karuan. Ingin mengatakan sesuatu, namun bibirnya tak bisa mengeluarkan kalimat apa apa lagi selain desahan.
Gilang sampai bersamaan dengan desah pamungkas keduanya yang bercampur. Ia menanamkan dalam dalam semua spermanya ke dalam tubuh Rania. Seakan spermanya terlalu berharga untuk dibuang sia sia.
Rania merasa perutnya hangat dan penuh. Rania belum berhenti mengeluarkan air matanya. Peluh membanjiri sekujur tubuh mereka. Gilang sedikit melumat kembali bibir Rania yang semakin memerah karena ciumannya, ia tak peduli dengan air mata yang ikut disela kegiatannya.
"Bibirmu sangat manis. Kau sangat cocok jadi jalang."
Gilang melepas penyatuan mereka. Membuat Rania sedikit mendesah lagi. Bahkan setelah dilepas sperma Gilang tampak tumpah di kasur. Gilang mengambil sperma dengan jarinya, lantas dimasukkan kembali ke lubang Rania. Rania sendiri hanya pasrah. Tubuhnya benar benar lemas sekarang.
"Spermaku jauh lebih berharga dari pada harga dirimu. Jadi jangan sampai sperma sperma ini tumpah lagi." Setelah mengatakan itu, Gilang keluar dari kamar. Ia memutuskan untuk tidur di kamar tamu saja. Meninggalkan Rania yang sudah ada di ambang sadarnya.
"Mama.. Hiks.. Maaf.." Setelahnya Rania tenggelam dalam gelap.
***
Kini Dina dan Azka sedang berjalan mengelilingi Jakarta, setelah menikmati makan malam mereka di kemang. Tidak ada tujuan pasti, hanya sekedar berkeliling menyatu dengan mobil mobil lain di jalanan ibu kota. Dan sesekali berhenti di toko toko yang sekiranya menarik. Lalu, pulang ke penthouse Azka.
"Tumben sekali mau mengabaikan tugas tugas yang selalu menumpuk itu." Ucap Dima heran. Biasanya, pacarnya satu ini walau termasuk tipe bucin sangat tidak bisa dijauhkan dari berkas berkas kantornya.
Azka terkekeh, lantas mengusak surai sang kekasih.
"Sebenarnya Kak Gilang yang menyuruh."
"Kak Gilang? Tuh kaaannn. Kalau Rania kenapa napa di rumah gimana coba?" Dina menyebik kesal.
"Maaf. Kamu tau sendiri kan, kalau setiap kata dari kakak kamu itu isinya perintah dan larangan mutlak? Aku tak mau kalau harus di larang bertemu dengan kamu sebulan lagi, seperti yang lalu."
Azka menggenggam tangan kanan Dina dan mengelus telapak tangannya lembut dengan ibu jari. Dina sendiri hanya bisa menghela nafas. Yang dikatakan Azka tidak ada salahnya sama sekali. Tidak ada seorang pun yang bisa dan boleh membantah Gilang. Yaahhh, kecuali ayah dan ibu.
Azka memberhentikan mobilnya dipinggir jalan. Membuka sedikit kaca dari sisi Dina. Angin ikut menyibak rambut Dina. Membuatnya terlihat lebih manis dimata Azka. Hening. Hanya ada Dina yang memejamkan mata menikmati angin dan Azka yang sibuk memandangi wajah Dina.
"Lagi pula aku rindu cara bermainmu di ranjang." Azka buka suara. Tangannya mulai bermain main di paha Dina. Menimbulkan sensasi geli dan kupu-kupu di perut yang lebih muda.
"Sayang.."
"Mau main disini atau di ranjang?"
Dina menunduk. Pipinya terasa panas dan terlihat merona. Azka terkekeh lantas mengecup pucuk kepala sang kekasih gemas. Bergegas kembali menyalakan mobil dan menjauh dari sana. Ia ingin cepat cepat sampai ranjang. Ah. Maksudnya cepat cepat sampai rumah.
***