Sebuah mobil sport berhenti di depan gedung perusahaan Dominic saat sosok Alexa keluar dari mobil tersebut tidak lama kemudian. Tanpa ragu, Alexa tersenyum saat karyawan lain yang mengenali kehadirannya segera menyambutnya dengan sangat sopan. Alexa langsung memasuki lift khusus menuju kantor Dominic karena dia telah membuat janji dengan suaminya itu terlebih dahulu sebelum ini. Ketika Alexa keluar dari lift, wanita itu langsung dihadapkan dengan Jasper yang tampaknya baru saja hendak turun untuk menyambut kedatangannya.
"Dominic sudah menunggu?" tanya Alexa pada Jasper. Pria itu mengangguk. "Dia sudah menunggumu di dalam, dan tidak memiliki kegiatan apa pun untuk beberapa jam ke depan," ujarnya untuk meyakinkan Alexa. Alexa mengangguk saat dia melanjutkan langkahnya kembali. Begitu dia memasuki ruang kerja suaminya yang sunyi, Alexa langsung disuguhkan dengan pemandangan suaminya yang tengah menatap laptop di depannya dengan dahi sedikit berkerut.
"Aku pikir Jasper sudah memberi tahuku bahwa kamu akan senggang untuk beberapa jam ke depan. Sekarang, ada apa dengan ekspresi seriusmu itu, Dom?"
Dominic akhirnya melepaskan pandangannya dari laptop ketika Alexa menyapanya dengan suara lembut. Dominic menghela nafas panjang, sebelum tangannya memberi tanda agar Alexa duduk di pangkuannya sehingga dia bisa melepas stres karena pekerjaan yang dia lakukan selama ini.
Walaupun Alexa dibesarkan sebagai seorang tentara yang tidak diajarkan cara bersikap lembut pada seseorang, kehidupannya bersama Dominic mengubah wanita itu untuk lebih toleran terhadap sikap manja Dominic yang kadang muncul ketika pria itu tengah kelelahan. Alexa dengan murah hati menghampiri Dominic, sebelum dengan patuh duduk di pakuan pria itu ketika dia mengusap wajah suaminya dengan hati-hati.
"Aku sudah berhasil menemukan Freya, Alexa."
Sebelum Alexa sempat menanyakan apa pun pada Dominic, pria itu sudah terlebih dahulu menyampaikan berita yang menjadi alasan mengapa dia meminta Alexa untuk datang ke kantornya hari ini. Alexa mengangkat kedua alisnya ketika dia mendengar berita itu. Penemuan Freya merupakan berita yang bagus, Alexa tidak mengerti mengapa suaminya sampai harus memasang ekspresi berat saat dia menyampaikan berita bagus itu.
"Kamu seharusnya menyampaikan berita ini langsung pada Vano bukan? Kenapa kamu ragu-ragu? Apa ada sesuatu yang salah dalam penemuanmu Dom?"
Dominic menenggelamkan kepalanya di ceruk leher sang istri saat dia sedikit ragu untuk menyampaikan perasaan beratnya. Dominic tidak ingin menjadi ayah pengatur yang membatasi pergaulan anaknya sendiri. Tapi Freya.....
Dominic membuang nafas panjang, sebelum dia akhirnya bicara juga.
"Sayang, aku tidak yakin....... Bahwa Vano bertemu dengan Freya lagi merupakan ide yang bagus. Aku tahu aku tidak sepantasnya bicara begini karena aku tidak tahu apa yang kalian lalui sebelum kita bertemu lagi waktu itu. Tapi Freya Maddison, gadis itu tidak memiliki kehidupan yang baik semenjak menghilang sepuluh tahun yang lalu Alexa."
Alexa dengan sabar menunggu Dominic menjelaskan semua alasannya sebelum kembali bicara. Wanita itu menunggu Dominic menunjukan sesuatu dari laptopnya, sebelum bicara lagi dengan nada yang sangat hati-hati.
"Gadis itu....... Ibunya meminjam uang dalam jumlah besar pada rentenir tidak lama setelah dia kabur dari rumah sakit. Setahun kemudian, ibunya meninggal dan entah bagaimana Freya mulai bekerja pada perusahaan rentenir tersebut untuk membayar semua hutang-hutangnya. Aku bisa saja melunasi hutang-hutang keluarga itu dan membiarkannya bebas setelah itu. Tapi perusahaan rentenir itu...... Terhubung dengan mafia yang mencelakai anak kita dua minggu yang lalu Alexa."
"Tunggu, tunggu. Mafia?"
Alexa ikut berubah serius saat nama anaknya mulai terseret dalam masalah yang lebih rumit saat ini. Alexa sudah mengerti apa yang Dominic maksud dengan kata-katanya tadi. Vano dirampok karena mengejar Freya ke gang-gang yang sempit. Freya bekerja di tempat yang terhubung dengan dalang perampokan itu. Dan Dominic, mulai mencurigai Freya ada kaitannya dengan perampokan yang sampai melukai tubuh anaknya pada saat itu.
"Dimitri, dia mafia yang menguasai daerah kumuh di kota ini. Reputasinya terkenal di kalangan pebisnis seperti kami. Dia tidak segan-segan menekan perusahaan-perusahaan besar yang tidak memiliki back up, hanya agar mereka mendapatkan 'biaya pengamanan' per bulannya yang akan digunakan untuk 'mendanai' perusahaan-perusahaan kecil yang ingin bekerja sama dengannya. Dia juga menguasai beberapa tempat hiburan di kota besar. Apa pun yang terjadi, aku tidak ingin keluargaku berhubungan dengan orang-orangnya Dimitri, Alexa."
"Jika menekan perusahaan besar.... Apa itu berarti...."
"Aku tidak mungkin membiarkan dia mengacau dalam bisnisku, Sayang. Kamu tahu bahwa keluargaku telah menjalani bisnis ini sejak jaman kakek nenekku bukan? Koneksi kami tidak kalah kuat, dia tidak pernah berani macam-macam dengan bisnisku sampai sejauh ini."
Alexa kembali terdiam saat Dominic mengerutkan alisnya saat memikirkan orang yang dicari anaknya ternyata merupakan bagian dari salah satu kelompok mafia yang sangat tidak dia sukai. Orang-orang Dimitri adalah orang-orang jahat yang berbahaya. Dominic tidak akan mungkin bersedia membiarkan anak satu-satunya sampai berteman dengan orang seperti itu. Dominic takut Dimitri akan menyadari salah satu kelemahan Dominic, dan menggunakannya untuk melawan Dominic di masa depan.
Di sisi yang lain, Alexa merasa tidak tega jika dia harus mengabaikan Freya begitu saja setelah semua yang terjadi selama ini. Alexa merasa dia harus bertanggung jawab karena telah membunuh ayah Freya walaupun tindakannya hanya dihitung sebagai pembelaan diri pada saat itu. Dia tidak bisa menyelamatkan gadis malang itu sekali, mengapa dia harus mundur kali ini hanya karena gadis itu menjadi bagian dari dunia yang tidak mereka sukai sekarang?
Alexa tahu Freya dan ibunya pasti memiliki alasan yang kuat sampai harus berhubungan dengan kelompok semacam itu. Gadis itu kini sendiri, Alexa yakin mereka masih bisa menolong gadis itu kembali ke jalan yang benar jika mereka memang bersungguh-sungguh ingin menyelamatkan gadis itu.
Alexa mengelus pipi suaminya perlahan, sebelum mengarahkan Dominic agar melihat langsung ke wajah tenang Alexa.
"Dom, Freya mengingatkanku pada hidupku sendiri ketika dia masih kecil. Harus berjuang setiap harinya hanya untuk bertahan hidup, matanya bahkan memancarkan perasaan yang sama saat aku terakhir kali melihatnya waktu itu. Kamu tahu bahwa aku telah membunuh ayahnya sepuluh tahun yang lalu bukan? Aku merasa aku harus bertanggung jawab untuk itu Dom. Dia hanya seorang gadis manis, aku tahu pasti dia tidak akan berniat melukai Vano dengan sengaja tidak peduli apa indentitasnya untuk saat ini. Lagipula, kamu melihat sebahagia apa anak kita saat dia melihat teman masa kecilnya lagi bukan? Berikan Freya kesempatan untuk membuktikan dirinya padamu bahwa dia layak menjadi teman Vano oke? Aku percaya padanya, dan anakmu Vano juga percaya padanya Dominic."
Alis Dominic masih tidak berhenti berkerut saat dia mendengar sang istri mencoba membujuknya dengan suara lembut. Dominic selalu berpikir bahwa keselamatan keluarganya merupakan hal yang paling penting dibandingkan apa pun juga. Vano terluka sedikit saja sudah menjadi mimpi buruk tersendiri bagi Dominic. Sekarang, bagaimana bisa dia membiarkan anak itu masuk ke kandang singa hanya karena teman masa kecilnya tersebut?
"Dom, Vano akan baik-baik saja. Kita semua akan baik-baik saja oke?"
Alexa berusaha membujuk Dominic lagi saat suaminya itu menolak untuk mengatakan apa pun bahkan setelah dia mencoba merayu suaminya itu. Alexa tahu Dominic selalu mengembangkan perasaan takut yang berlebihan jika menyangkut urusan keluarganya. Tapi Alexa ingin Dominic melawan rasa takut itu, dan fokus percaya pada keluarganya sendiri mulai saat ini.
"Begini saja. Aku akan memberimu hadiah spesial jika kamu mau memberi Vano dan Freya kesempatan untuk bertemu kembali. Kamu bisa melakukan apa pun, dan aku berjanji tidak akan protes sedikit pun. Tapi itu hanya berlaku untuk kali ini saja. Aku akan membiarkanmu mendapatkan apa yang kamu inginkan asal kamu mau mengalah untukku tentang masalah ini."
Dominic mulai melirik Alexa saat wanita itu tiba-tiba memberinya sebuah tawaran yang sangat menarik. Jujur saja, tawaran Alexa saat ini memang sangat menggiurkan untuk ditolak begitu saja. Tapi jika menyangkut keselamatan anaknya, Dominic memilih untuk tetap kukuh pada pendiriannya dan berpura-pura terus tidak mendengar tawaran lezat dari Alexa saat ini.
Alexa sendiri tidak marah saat dia harus menghadapi sifat keras kepala yang dimiliki oleh suaminya itu. Alexa tersenyum kecil, saat dia sedikit membungkukan tubuhnya untuk berbisik seksi tepat di telinga suaminya itu.
"Dan kamu bisa melakukannya satu minggu penuh di berbagai tempat mulai hari ini. Bagaimana Dom? Apa kamu tetap ingin pura-pura tidak mendengar suaraku?"
Alexa tertawa kecil sebelum Dominic tiba-tiba saja memeluk erat pinggangnya dengan satu tangan lalu mencium bibir Alexa untuk mengekspresikan kekesalannya. Ciuman mereka terlepas saat keduanya sama-sama telah kehabisan nafas. Dominic menatap puas istrinya yang terengah-engah, sebelum menanamkan ciuman di bibir Alexa untuk sekali lagi.
"Dua minggu mulai sekarang, dan aku akan mengijinkan Vano bertemu dengan Freya secara bebas asalkan Jasper atau Flora ikut bersamanya setiap kali dia mengunjungi gadis itu," tawar Dominic licik. Tapi demi anaknya, Alexa tidak keberatan sama sekali ketika wanita itu mengangguk kecil. "Deal," ucapnya pelan sebelum Dominic mulai bermain dengannya tanpa peduli pada pekerjaannya lagi.
*****
"Fiuh......"
Vano menghela nafas lega saat dia sudah bisa menggerakan tangannya tanpa membuat bahunya terlalu sakit belakangan ini.
"Kerja bagus, Tuan Muda."
Di belakang remaja itu, Flora yang sedari tadi mengamati Vano langsung maju untuk menyerahkan segelas air minum setelah Vano selesai dengan kegiatannya. Vano menerima gelas itu dengan senang hati, sebelum dia berterima kasih dengan suara pelajaran lalu duduk untuk meminum air di gelas tersebut secara perlahan-lahan.
"Mama ke mana, Bibi Flora?" tanya Vano dengan penasaran. Sebelumnya Vano pikir ibunya situ tengah tidur siang dan belum juga bangun sampai sekarang. Tapi Vano hafal ibunya tidak pernah tidur siang lebih dari tiga jam setiap harinya. Ini sudah lebih dari lima jam, Vano mulai curiga ibunya tidak berada di rumah saat ini.
"Nona Alexa pergi untuk mengunjungi kantor Bos siang tadi. Mereka mungkin akan kembali sebentar lagi, karena Nona Alexa telah berpesan bahwa mereka akan kembali sebelum waktu makan malam nanti."
Vano menghela nafas panjang saat dia mendengar ibunya ternyata benar-benar pergi berkendara sendiri lagi hari ini. Entah mengapa, Vano selalu merasa khawatir saat sang ibu pergi sendirian seperti sekarang. Mengingat cara berkendara ibunya membuat Vano tanpa sadar begidik karena ngeri. Mungkin setelah ini, Vano akan mempertimbangkan cara untuk membujuk ayahnya agar ibunya tidak diijinkan berkendara nekat seperti biasanya.
Clek
"Selamat datang kembali, Tuan Dominic, Nona Alexa."
Berbicara tentang orang tuanya, dan orang tuanya benar-benar kembali saat ini. Wajah bahagia Vano langsung berubah saat dia melihat sang ibu berada dalam gendongan ayahnya. Ibunya itu tampaknya tengah tidur dengan nyenyak, karena pria itu langsung memberi tanda agar orang-orang tidak berisik ketika dia membawa Alexa ke kamar tidur mereka.
Khawatir pada ibunya, Vano mengekori sampai ayahnya itu selesai menidurkan Alexa di tempat tidur besar mereka. "Papa, Mama kenapa?" tanya remaja itu sambil setengah berbisik pada Dominic.
"Dia hanya kelelahan. Kami berolahraga sebelum ini dan Papa membuatnya terlalu lelah."
Vano langsung membuang nafas lega saat dia melihat Dominic menunjukan ekspresi puas saat menjawab pertanyaannya. Tidak perlu bertanya lebih jauh, Vano sudah tahu apa yang baru saja orang tuanya lakukan dari ekspresi senang yang ditunjukan ayahnya. Vano memilih untuk keluar dari kamar tanpa bertanya apa pun lagi, saat Dominic malah menahan tangannya lalu menatapnya dengan wajah yang serius.
"Papa sudah berhasil menemukan rumah Freya, Vano," ujar Dominic memberitahu. Wajah Vano seketika berubah semangat, ketika dia kembali berbalik tanpa ragu-ragu.
"Benarkah? Freya..... Bisakah aku mengunjunginya Pa?" tanya Vano dengan semangat. Dominic tersenyum masam saat reaksi anaknya benar-benar seperti yang dikatakan oleh Alexa. Dominic menghela nafas panjang, sebelum tersenyum lalu melepaskan pegangan tangan anaknya dengan berat hati.
Janji adalah janji. Dominic harus mengijinkan Vano bertemu dengan Freya mulai saat ini.
"Jika kamu ingin menemuinya....... Ajaklah Jasper atau Flora untuk ikut bersamamu. Mereka tahu harus menbawamu kemana."
Grep
"Terima kasih Pa!"
Dominic tersenyum kecil saat Vano tiba-tiba memeluknya erat seperti saat anak itu masih muda. Dominic dengan lembut balas memeluk remaja itu, sebelum membalas ucapan Vano dengan suara pelan.
"Sama-sama Nak. Sama-sama," ujarnya dengan sedikit lesu.
To be continued