7. Anger

1730 Words
"f**k!" Freya menatap bingung kantor yang sudah berada dalam kondisi kacau saat gadis itu tiba untuk bekerja seperti biasanya. Bukan hanya rekan kerjanya, bahkan sang bos yang biasanya belum datang di pagi hari atau tengah bersenang-senang kini sudah ada di kantornya sambil terus mengumpat tiap beberapa menit sekali. Keadaan kantor kacau balau, seakan-akan badai musiman datang dan menghancurkan seisi kantor sebelum Freya tiba. "Bos." "Ah, Freya. Bagus kamu ada di sini sekarang." Ketika bosnya itu melihat Freya, dia segera memanggil gadis itu untuk mendekat padanya. Gadis itu dengan patuh duduk di bangku yang diminta, sementara pria itu sendiri terus memijat hidungnya karena sakit kepala yang kini dia rasakan. "Ada apa Bos?" Freya takut dia melakukan kesalahan kemarin karena bosnya secara pribadinya memanggilnya ke kantor pria itu untuk hari ini. Walaupun di luar Freya tampak seperti dia baik-baik saja, diam-diam otaknya terus berputar untuk menjadi celah kesalahan yang mungkin dia lakukan kemarin. Freya semakin bingung saat dia tidak menemukan sesuatu yang janggal dalam rutinitasnya kemarin, kecuali pertemuannya dengan Vano yang telah menyeretnya untuk menyelamatkan remaja itu dan menghabiskan seluruh uang sisa yang masih dia miliki. "Dimitri, pria tua itu membuat keributan di seluruh tempat karena gudangnya terbakar bersama adiknya kemarin malam. Yang membuatnya lebih murka lagi, tidak ada satu orang pun yang tahu siapa pelaku dari pembakaran gudang tersebut di sini. Dia datang ke kantorku, menanyai semua orang apa ada orang-orang asing yang berkeliaran di lingkungan ini beberapa hari yang lalu dan mengamuk saat dia tidak bisa mendapatkan jawaban apa pun dari kita. Dimitri bahkan tidak bisa menemukan keluarga dari orang-orang yang semula bekerja untuk adiknya itu. Mereka semua seakan hilang begitu saja, setelah membiarkan Rafael terbakar menjadi arang di gudang besar itu bersama beberapa orang yang lain." Dengan emosi yang yang tersisa, bos Freya menyalakan rokok dengan kesal dan menghembuskannya perlahan tidak peduli bahkan jika asapnya sampai mengenai Freya. Freya masih berusaha kokoh seperti batu, saat pikirannya mulai meliar mengingat Vano sempat memasuki wilayah ini untuk mengejarnya kemarin. Dimitri merupakan mafia yang terkenal di daerah tempat tinggalnya. Pria itu terkenal kejam, dan memiliki banyak koneksi dengan orang-orang pemerintahan sehingga polisi bahkan tidak bisa berbuat banyak saat pria itu membuat ulah di mana-mana. Bosnya saat ini merupakan salah satu bagian dari kelompok yang dilindungi oleh Dimitri. Jadi kapan pun kelompok Dimitri memiliki masalah, kantor mereka juga akan terkena getahnya dan harus bersedia ikut campur dalam masalah itu jika Dimitri memang meminta mereka. "Yang lain sudah berusaha mencari informasi dan menemukan bahwa salah satu anak buah Rafael sempat merampok anak muda kaya di gang biasa saat kemarin sore. Kamu kemarin pulang sekitar waktu tersebut bukan? Apa kamu melihat sesuatu yang janggal? Seperti, ciri-ciri anak yang dirampok itu?" Benar saja, bosnya mulai membawa Vano dalam pembicaraan mereka. Tapi tidak peduli sekeras apa pun Freya mencoba berpikir, Vano yang dia kenal tidak mungkin menjadi dalang dari hancurnya gudang besar tersebut. Ya, dia mungkin memang ahli bela diri seperti ibunya yang gagah. Tapi Freya tahu betul bahwa Vano tidak akan pernah melukai orang dengan kejam seperti yang dikatakan oleh bosnya tadi. Lagipula, Vano terluka jadi remaja itu tidak mungkin bisa pergi ke gudang dan menghabisi semua orang kemarin malam. Orang tua Vano juga tidak masuk hitungan. Karena sejauh yang Freya tahu, ibu Vano sebenarnya sangat membenci kekerasan sementara ayahnya hanya pengusaha yang sangat sukses. Pengusaha yang sangat sukses........ Freya tanpa sadar meneguk ludahnya sendiri dengan susah payah saat dia berpikir ada kemungkinan besar bahwa ayah Vano marah dan membayar seseorang untuk membuat masalah di gudang tersebut kemarin malam. Freya juga hanya sekali bertemu dengan pria itu, namun auranya memang kental sekali dengan sifat dominan yang bisa membuat orang patuh pada keinginannya. Orang dengan aura seperti itu memang biasanya bukan aura orang sembarangan. Apalagi, aura dingin dan kepemimpinan pria itu juga lebih kental dibandingkan petinggi di lingkungan tempatnya bekerja. Freya hanya bertemu dengan Dominic sekali. Tapi karena kesan yang mendalam itu, Freya tetap tidak bisa melupakan pria itu bahkan setelah dia tumbuh dewasa saat ini. Jadi sekarang, jika dia pikirkan lagi, kemungkinan pria itu memang menjadi tersangkanya memang tidak kecil. Tapi tidak peduli apakah dugaannya memang benar atau tidak, sampai kapan pun Freya tidak akan pernah menyampaikan pikirannya itu pada bosnya atau siapa pun juga. Gadis itu menggeleng dengan pelan, berusaha tampil seyakin mungkin di depan bosnya pada saat ini. "Aku memang mendengar bahwa mereka merampok seseorang lagi kemarin sore. Tapi aku tidak tahu siapa korbannya, atau apa yang terjadi padanya setelah itu. Aku pikir semua orang tahu peraturan di sekitar tempat ini. Ikut campur dengan masalah orang hanya akan membuatmu sengsara pada akhirnya." Melihat wajah Freya yang tidak mudah dibaca, bos tersebut menghela nafas panjang saat dia menyerah pada idenya sendiri untuk menyelidiki Freya lebih jauh lagi. Lagipula, dia juga sebenarnya tidak memiliki kewajiban untuk menyelidiki kejadian itu. Selama anggota kelompoknya dinyatakan 'bersih' dari urusan itu, pria itu bisa saja mencuci tangannya dengan pura-pura tidak mengetahui masalah itu dan fokus saja dalam 'usahanya' untuk membantu Dimitri mencari pembunuh adiknya itu. Pria itu juga tidak ingin mengambil resiko, mengetahui bahwa anak buahnya ada yang terlibat dalam pembunuhan itu dan menanggung hukuman yang sama bersama orang bodoh itu. Lagipula, dia akan habis jika salah satu anggotanya terbukti memiliki kaitan dengan pembunuh Rafael. Bos tersebut mencoba mengesampingkan masalah pembunuhan itu, sebelum dia meminta salah satu anak buahnya untuk mengambil file pekerjaan Freya untuk hari ini. "Kamu benar. Namun untuk sementara waktu, aku ingin kalian semua menjauh dari masalah ini. Tidak ada hal baik yang akan datang jika kalian mencari masalah dengan pria itu. Kekacauan kantor pagi ini merupakan hasil dari sedikit kemarahannya. Dan Freya, aku ingin kamu bekerja ekstra untuk hari ini. Dimitri ingin bayarannya untuk bulan ini dipercepat. Ck, aku benar-benar ingin menghajar siapa pun yang menyebabkan kekacauan ini sebelum Dimitri membunuhnya nanti." Freya mengangguk saat dia menerima file yang diberikan rekan kerjanya dengan wajah serius. "Kalau begitu aku akan pergi sekarang Bos," ujar Freya lalu keluar saat bosnya telah memberi ijin dengan melambaikan tangannya. Freya merasa beruntung tidak ada yang menyadari kemana dia pergi kemarin sore. Freya merasa dia sudah menyelamatkan nyawa Vano dua kali sekarang, kini tinggal remaja itu sendiri yang harus mempertahankan hidupnya mulai saat ini. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Freya segera menyiapkan peralatannya sebelum keluar dari kantor lagi saat dia sudah melihat data orang-orang yang harus dia tagih hutangnya untuk hari ini. Dengan pekerjaan tambahan ini, Freya yakin dia bisa mendapatkan uang tambahan yang bisa dia pakai untuk menyambung hidupnya selama beberapa hari ke depan. Freya bertekad untuk menyelesaikan semuanya hari ini juga, karena dia masih memiliki perut lapar untuk diberi makan untuk hari ini. ***** "Hati-hati Sayang." Alexa dengan telaten membantu Vano untuk mengganti pakaian rumah sakitnya dengan pakaian remaja itu sendri saat mereka sudah bersiap untuk pulang setelah Vano dipaksa menginap sehari untuk pemeriksaan lanjutan. Luka Vano tidak begitu parah dan hipotermianya berhasil dihadapi dengan baik. Vano tampak segar seperti biasanya hari ini, jika orang-orang mau mengabaikan perban yang menutupi pundak kanan remaja tersebut. Karena selain rasa sakit yang hanya muncul ketika Vano mengangkat tangan kanannya terlalu tinggi, dia tidak memiliki keluhan lain lagi untuk saat ini. "Ma, Papa tidak menjemput kita?" tanya Vano penasaran setelah dia tidak melihat ayahnya itu sejak kemarin malam. Bukan hanya Dominic, bahkan Flora dan Jasper pun ikut menghilang sejak kemarin malam dengan alasan ada pekerjaan darurat di kantor Dominic. Sejak malam Vano berada di rumah sakit hanya ditemani oleh Alexa. Saat pulang tidak juga melihat tanda-tanda ayahnya, Vano khawatir dia harus pulang dengan sang ibu sebagai pengemudi mobil yang akan mereka naiki. Bukan apa-apa, tapi Vano benar-benar sudah trauma naik mobil yang dikemudikan oleh ibunya itu. Ibunya yang selalu terlihat lembut saat bersamanya ternyata langsung berubah liar jika wanita itu sudah duduk di kursi kemudi. Alexa tidak pernah membawa mobil dalam kecepatan rendah, sampai mereka terkadang harus berurusan dengan polisi karena kecerobohan yang dilakukan oleh ibunya. Dominic sebenarnya sudah melarang Alexa untuk berkendara sendirian lagi. Tapi entah bagaimana, terkadang Alexa masih sering bertindak nakal dengan berkendara tanpa ijin dari Dominic. Dan hari ini, Vano takut ibunya akan nekat berkendara sendiri dengan mobil karena Flora memang meninggalkan mobilnya di parkiran rumah sakit ketika wanita itu memilih untuk naik mobil yang sama saja dengan Dominic kemarin malam. Tapi tanpa Vano duga, ibunya itu malah mengerutkan alisnya lalu menggeleng saat tangannya sibuk membereskan pakaian Vano yang Alexa bawa kemarin saat mendatangi rumah sakit. "Bagaimana bisa Mama berkendara saat Mama membawa pasien sakit di dalam mobil, Vano? Papamu telah berjanji akan datang menjemput kita. Dia sebaiknya tidak telat, atau Mama mungkin akan menambah hukumannya karena lagi-lagi tidak bisa menepati janjinya." Vano tersenyum saat ibunya mulai mengomel dengan wajah kesal. Kebetulan, Alexa bisa mendengar suara langkah yang mendekat tidak lama setelah dia membicarakan suaminya itu. Alexa menatap pintu rumah sakit dengan waspada. Kebiasaan lamanya ternyata tidak bisa hilang saat wajah Alexa berubah serius ketika dia menunggu orang yang tengah mendekat untuk masuk ke kamar rawat anaknya. "Sayang, aku tidak terlambat kan?" Alis Alexa langsung rileks kembali saat Dominic masuk bersama dengan Jasper dan Flora yang mengekor di belakangnya. Alexa mengangguk untuk menjawab pertanyaan Dominic. Wanita itu mendekati Dominic, saat Jasper dan Flora langsung mengambil alih tugasnya untuk menyiapkan kepulangan Vano yang hampir selesai berkemas. "Kalian baru saja mandi sebelum datang kemari," tebak Alexa saat berdiri dekat dengan suaminya. Dominic tersenyum kecil ketika menghadapi kepekaan dari istrinya tersebut. Dominic lega dia memilih untuk mandi terlebih dahulu sebelum datang menjemput keluarganya, atau Alexa mungkin akan mencurigai bau darah dan asap yang menempel di pakaian mereka kemarin malam. "Tentu saja aku mandi terlebih dahulu Sayang. Kamu ingin aku datang kemari tanpa membersihkan diriku terlebih dahulu begitu?" Alexa mengangkat bahunya saat dia menatap Dominic dengan tatapan yang dalam. Dominic tahu Alexa telah melarangnya untuk mendekati bahaya ketika mereka telah memiliki Vano. Tapi Dominic melakukannya demi anaknya juga, walaupun Dominic yakin Alexa akan tetap marah padanya jika wanita itu sampai tahu apa yang baru saja dia lakukan kemarin malam. Dominic bahkan belum selesai dengan masa hukumannya saat ini. Dia tidak ingin Alexa menambah hukumannya lagi. Jadi Dominic berusaha santai saja, saat Alexa sempat menatapnya lama sebelum berbalik untuk membantu putranya turun dari ranjang rumah sakit. Dominic tidak bisa membaca pikiran Alexa karena kemampuan wanita itu dalam menyembunyikan pemikiran aslinya. Tapi diam-diam Dominic berharap, bahwa Alexa tidak menebak apa-apa mengenai ke mana dia pergi sebenarnya kemarin malam. Karena demi apa pun Dominic tidak ingin, dia harus tidur sendirian lagi untuk malam ini. To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD