Vano membuka mata saat suara samar seseorang yang tengah berbicara menggelitik indra pendengarannya. Ketika Vano mencoba untuk bangun dengan menggerakan tubuhnya, remaja itu langsung mendesis karena rasa sakit yang menyengat dari bahu sebelah kanannya. Ketika Vano mencoba mengingat apa yang sebelumnya terjadi, remaja itu akhirnya ingat bahwa seseorang berusaha menusuknya sebelum ini. Karena refleks Vano, dia berhasil menghindari tertusuk di bagian yang vital dan hanya terluka bagian kanan bahunya. Vano tidak tahu harus sedih atau tertawa. Karena nyawanya kali ini berhasil selamat, hanya karena traumanya kembali kambuh di saat yang kurang tepat.
"Vano? Kamu baik-baik saja Sayang?"
Vano langsung merasa bersalah saat ibunya yang semula tengah berbicara fokus dengan dokter akhirnya sadar bahwa Vano sudah sadar saat ini. Dari wajahnya saja, Vano sudah bisa tahu bahwa mamanya itu baru saja habis menangis. Wajahnya yang putih bersemu kemerahan, sementara matanya yang jernih kembali berkaca-kaca saat tangannya dengan lembut membelai wajah anaknya tersebut.
Vano tahu mamanya pasti ketakutan setengah mati sebelum ini. Vano ingat mamanya itu bisa panik hanya karena dia terluka ringan. Tiba-tiba mendapat kabar bahwa anaknya berada di rumah sakit dengan luka tusuk di tangannya, Vano tidak bisa membayangkan sehancur apa perasaan Alexa sebelum ini.
"Ma........ Maafkan aku........"
Vano tidak tahu dia harus mulai meminta maaf dari mana pada Alexa jika wanita cantik itu saja terus terisak saat menatap luka yang dimiliki oleh Vano. Wajah Vano terlihat sangat menyesal, saat dia berpikir mungkin lebih baik jika dia dengan patuh menyerahkan semua barang-barangnya saja sebelum ini.
Hartanya mungkin hilang saat itu. Tapi setidaknya, orang-orang terdekatnya tidak perlu khawatir seperti saat ini.
"Apa yang terjadi Sayang? Kenapa........ Kenapa kamu bisa sampai berada dalam kondisi seperti ini?"
Vano tidak ingin berbohong saat Alexa sudah bertanya begitu padanya. Vano dengan patuh menjelaskan semuanya dari awal dia bertemu Freya, sampai dia mengejar gadis itu dan malah berakhir dikeroyok preman yang mengambil semua barang-barangnya. Vano sengaja melewatkan bagian tentang trauma nya yang tiba-tiba kambuh di tengah pertarungan. Karena dari wajah Alexa saja, Vano sudah tahu bahwa mamanya itu pasti sudah mengerti garis besar apa yang terjadi padanya sebelum dia bahkan memberitahu wanita itu.
Ketika Alexa selesai mendengar penjelasan dari anaknya tersebut, wanita itu menghela nafas panjang saat Alexa mencoba untuk menenangkan emosinya sendiri. Sebenarnya Alexa ingin marah karena anaknya baru saja melanggar aturan dan membahayakan nyawanya sendiri. Tapi melihat wajah menyesal Vano, beserta luka yang diterima anak itu, Alexa akhirnya menyerah dengan niatnya untuk memarahi anak itu.
Apalagi Vano juga berlari untuk mengejar teman masa kecilnya yang hilang selama bertahun-tahun. Alexa juga memiliki teman semacam itu. Jika dia menjadi Vano, Alex yakin dia juga mungkin akan melakukan hal yang sama seperti yang Vano lakukan sebelumnya.
Clek
"Alexa, aku- Hei..... Bagaimana keadaanmu Nak?"
Tidak seperti Alexa yang semula terdengar marah karena tindakannya, Dominic yang baru saja masuk langsung menyapanya dengan lembut ketika pria itu sadar anaknya telah sadar ketika dia keluar tadi. Makanan yang dia bawa Dominic simpan di salah satu meja yang tersedia di ruangan itu, sebelum dia ikut mendekati Vano untuk memeriksa keadaan remaja itu.
"Dom, Vano sudah menjelaskan semuanya padaku. Dia menemukan Freya, orang yang kita cari bertahun-tahun yang lalu."
Dominic langsung terlihat terkejut saat dia mendengar penjelasan itu. Dominic sudah curiga bahwa sesuatu yang mendesak telah terjadi sampai anaknya harus melanggar janjinya untuk langsung pulang dan malah ditemukan tertusuk oleh seseorang dengan luka tusuk di bahu sebelah kanannya. Tapi untuk berpikir bahwa Vano melakukannya karena dia menemukan teman masa kecilnya.........
"Freya? Kamu menemukan Freya Maddison, Vano?" ulang Dominic tidak percaya. Untuk menjawab pertanyaan ayahnya, Vano langsung mengangguk pelan. Seperti reaksi Alexa sebelumnya, Dominic juga menghela nafas panjang setelah dia melihat jawaban Vano. Keduanya terdiam, sampai Vano berinisiatif melanjutkan ucapannya setelah dia terdiam sebentar untuk memikirkan sesuatu.
"Freya........ Dia pergi ke tempat jahat itu Pa. Aku khawatir padanya, karena dia tidak tampak baik-baik saja ketika aku melihatnya saat itu," ujarnya dengan murung. Melihat wajah sedih anaknya, Dominic berinisiatif untuk mengusap lembut kepala putranya sebagai bentuk hiburan kecil. Pria dewasa itu tersenyum kecil, saat dia menghibur anaknya dengan ucapan lain.
"Papa mengerti. Papa akan kembali membuka pencarian untuk Freya jika kamu memang melihatnya hari ini. Jika percariannya sudha dipersempit seperti sekarang, cepat atau lambat Papa yakin kita akan menemukannya. Sekarang kamu bisa fokus untuk memulihkan diri saja, Vano."
"Dan tidak ada lagi pulang sendirian seperti hari ini. Kamu tetap tidak bisa bebas tanpa hukuman apa pun anak muda. Peraturan tetap peraturan. Dan Dom, kamu juga akan ikut menerima sanksi karena sudah mengijinkan Vano pulang sendiri hari ini, Sayang.
"Aku mengerti Ma."
Vano tahu dia salah, jadi dia tidak banyak protes saat Alex menyatakan bahwa dia akan menerima hukuman setelah mereka kembali ke rumah nanti. Hukuman yang Alexa berikan selalu masuk akal, dia biasanya hanya dilarang pergi ke mana-mana dan fokus pada kesehatannya selama dia masih sakit. Tapi hukuman Dominic jelas berbeda dari hukuman Vano. Wajah pria itu langsung berubah, saat Alexa menyinggungnya juga dalam masalah hukuman itu.
Dari senyuman Alexa saja, pria itu sudah bisa menebak hukuman semacam apa yang akan istrinya berikan karena kecerobohannya pada hari ini. Dominic mencoba untuk berkompromi dengan mendekati istrinya dan memegang tangan Alexa dengan lembut. Tapi seperti dugaannya, Alexa bukan tipe wanita yang mudah dibujuk saat wanita itu malah tersenyum dan mengecup pipi Dominic sekilas untuk menyatakan pendiriannya.
"Dom, anak kita bahkan tidak mengeluh saat aku memberikan hukuman ini. Jadilah jagoan dan tahan keinginanmu sampai anak kita sembuh oke?"
Vano tertawa kecil saat papanya mulai berekspresi sedih saat pria itu menyerah dalam rencananya untuk membujuk istrinya. Dengan semangat rendah Dominic mulai menyiapkan makanan yang dia beli sebelumnya, sementara Alexa kembali menatap Vano lalu berucap dengan nada lembut.
"Kita akan menemukannya, jangan khawatir Vano," ucap Alexa dengan nada yakin.
*****
Di sebuah gudang besar yang ada daerah kumuh dengan berbagai orang jahat yang bersembunyi di tempat itu, berhenti sebuah mobil mewah yang tampak mencolok untuk berhenti di lingkungan seperti itu. Beberapa orang yang semula tengah bermain kartu di luar mulai berdiri dengan waspada saat mereka mengamati mobil tersebut sambil menyembunyikan beberapa senjata tajam, sementara yang lain langsung masuk ke dalam gudang untuk memanggil bos yang bertanggung jawab atas gudang tersebut. Suasana berubah semakin mencekam, saat dalam keheningan seorang wanita cantik turun dari mobil tersebut dengan pistol yang wanita itu pegang di tangan kanannya.
"Sinyal terakhir ponsel Tuan Muda berhenti di tempat ini, Bos."
Orang-orang itu semakin waspada saat wanita itu dengan santai bicara pada orang lain yang ada di dalam mobil yang tertutup di belakangnya. Kaca jendela yang gelap beserta penerangan yang kurang memadai di waktu malam membuat mereka tidak bisa melihat sedikit pun sosok yang disebut Bos di dalam mobil. Tapi dari pakaian wanita cantik yang baru saja keluar, banyak dari mereka sudah bisa menebak bahwa orang yang baru saja datang bukan lah berasal dari kalangan yang bisa mereka ganggu.
"Ah...... Tempat ini membawa suasana yang akrab bukan? Kapan terakhir kali kita datang ke tempat seperti ini Kak? Lima tahun yang lalu? Sepuluh tahun yang lalu? Kita tampaknya sudah hidup terlalu damai beberapa tahun ini sampai tidak lagi mengingat tempat busuk semacam ini."
Dari pintu lain, keluar seorang pria yang berbicara sama santainya dengan wanita yang pertama keluar. Tapi dari panggilannya saja, mereka sudah tahu bahwa bos keduanya tetap berada dalam mobil tanpa merasa dia harus keluar sejauh ini.
"Kalian siapa? Ada keperluan apa datang ke tempat ini?"
Penanggung jawab gudang tersebut dengan tergesa-gesa keluar saat salah satu anak buahnya melapor bahwa orang yang berbahaya baru saja datang ke gudang mereka. Bos tersebut tidak pernah menyangka bahwa datang hanya lah sepasang pria dan wanita, dengan pistol yang terlihat dari sela-sela pakaian si pria sementara yang wanita dengan santai memainkan pistolnya di depan mereka semua.
Keduanya mungkin hanya terlihat seperti orang pekerja kantoran biasa dengan jas rapi yang terpasang di tubuh keduanya. Tapi dari cara si wanita memainkan pistol saja, Bos itu sudah tahu bahwa keduanya bukan lah orang biasa yang bisa dia ajak bermain-main.
"Kamu Bos di tempat ini bukan? Maafkan aku, tapi sepertinya kalian salah mencari masalah untuk hari ini."
Sambil mendekat dengan santai, Flora mengokang pistol yang dia bawa sementara yang pria tetap diam di dekat mobil untuk menjaga orang yang memilih untuk tetap diam di dalam mobil. Ketika wanita itu merasa jaraknya sudah cukup dengan orang-orang itu, wajah cantiknya tiba-tiba saja berubah bengis saat dia menatap penanggung jawab tempat itu dengan tatapan dingin.
"Hari ini, salah satu dari kalian baru saja merampok seorang remaja dengan mengambil semua barang-barangnya dan meninggalkannya berdarah di gang sepi begitu saja. Sayangnya, remaja itu merupakan anak Bosku dan dia jelas tidak senang dengan tindakan kalian pada hari ini......."
Beberapa orang dari kelompok itu langsung pucat ketika mereka mendengar wanita itu mulai membicarakan remaja yang mereka lukai hari ini. Tidak ada yang pernah menyangka bahwa remaja kaya yang mereka rampok hari ini akan bertahan setelah mereka tinggalkan di gang sepi itu sebelumnya. Lebih buruknya lagi, remaja itu tampaknya bukan hanya kaya namun berasal dari keluarga yang sangat berpengaruh pula. Tidak ada orang kaya biasa yang bisa masuk ke gudang mereka dengan mudah. Tempat ini memiliki keamanannya sendiri, sehingga orang-orang kaya biasa seharusnya tidak bisa masuk ke tempat ini dengan seenaknya.
Sekarang melihat mereka bisa menerobos dengan semudah ini........ Bahkan bos mereka sudah takut bahwa hidup mereka akan berakhir hari ini.
Tempat mereka disebut Lawless Corner bukan tanpa alasan. Polisi dan pemerintah tidak akan peduli dengan segala jenis kejahatan yang terjadi di tempat ini. Pembunuhan, p*********n, perampokan, semuanya bebas dilakukan di tempat ini. Jika sepasang wanita itu berniat untuk menghabisi mereka saat ini, mereka sadar bahwa orang-orang mungkin hanya akan menyingkirkan mayat mereka tanpa peduli sedikit pun tentang penyebab kematian mereka.
"Apa kamu tahu apa hukuman untuk pembunuhan dan perampokan di negara ini? Hukuman mati, karena orang-orang seperti kalian sudah terlalu banyak menjamur di negara ini. Belum lagi jika aku ikut menghitung kejahatan kalian yang senang memperkosa korban wanita. Kematian yang akan kuberikan, akan terlalu baik untuk orang-orang seperti kalian."
"A, apa kamu tahu siapa keluargaku?! Aku adik dari Marcello! Pemimpin-"
Dor
"s**t!"
Kaki beberapa orang mulai lemas di tempat saat wanita itu tidak berkedip sedikit pun saat dia menembak bos mereka dengan sangat santai. Ekspresinya tetap terlihat ramah, saat dia menatap orang-orang lain dengan senyum kecil yang terpasang di wajah cantiknya.
"Sekarang, silahkan berbaris agar aku bisa membunuh kalian dengan metode berbeda sesuai dengan tingkat kejahatan kalian. Tenang saja, bagi yang belum pernah melakukan kejahatan apa pun, aku akan membiarkan kalian pergi karena walaupun begini, aku hanya pembela kebenaran yang sederhana loh....."
"Omong kosong! Semuanya, serang dia! Dia hanya sendiri sementara kita beramai-ramai! Serang mereka demi hidup kalian sendiri!"
Wanita itu menghela nafas panjang saat dia mendengar teriakan salah satu dari mereka. "Kalian memang keras kepala bukan?" ucapnya sebelum suara tembakan terdengar berkali-kali di gedung besar tersebut. Pria yang ditugaskan menjaga mobil bersiul pelan saat dia melihat kegilaan yang dilakukan oleh kakaknya tersebut. Dia juga sebenarnya ingin ikut bersenang-senang, jika saja sang kakak tidak memerintahkannya dengan tegas untuk tetap diam di dekat mobil untuk melindungi bos mereka.
*****
"Wow, kamu benar-benar tidak menahan diri bukan Kak?"
Flora menoleh saat Jasper mendekatinya dengan gerakan santai setelah dia selesai 'membersihkan' orang-orang tersebut. Beberapa dari mereka masih hidup dan meringkuk ketakutan saat genangan darah sampai ke kaki mereka. Flora menatap mereka sambil tersenyum, sebelum dia fokus menatap Dominic yang akhirnya keluar dari mobil setelah bersusah payah membujuk Alexa dengan video call selama ini.
Tapi dari wajah suram bosnya, Flora sudah tahu bahwa dia tidak bisa membujuk Alexa sekali pun mereka telah berbincang lama bahkan sebelum Flora mulai menghabisi orang-orang di dalam gedung tersebut. Mood Dominic benar-benar buruk saat ini. Jadi dia tidak peduli dengan orang-orang yang masih hidup saat dia malah langsung bertanya pada Flora yang mulai membersihkan tubuhnya dari darah-darah yang menempel di beberapa bagian tubuhnya.
"Di mana barang-barang Vano?"
"Seseorang tengah mencarinya Bos. Kita beruntung penadah barang mereka belum datang untuk hari ini. Barang-barang Tuan Muda, kemungkinan besar semuanya masih ada di gudang ini."
"Ah, itu mereka."
Perhatian Dominic teralih saat beberapa orang datang mendekatinya dengan barang-barang sang anak di tangan bergetar mereka. Jasper tidak membiarkan Dominic mengotori tangannya saat dia mengambil alih tugas untuk memeriksa barang-barang tersebut. Selesai dengan tugasnya, Jasper langsung mengangguk saat dia mengkonfirmasi semuanya pada Dominis yang hanya diam menatap keseluruhan proses dengan wajah suram.
"Ini benar-benar barang-barang Tuan Muda, Bos. Bagian ponselnya memang sedikit hancur, tapi memperbaikinya bukan hal yang sulit Bos."
Dominic mengangguk saat dia mendapat laporan singkat dari Jasper. Setelah semuanya selesai, baru lah Dominic mau peduli dengan orang-orang yang masih hidup di gudang ini. Dia jelas hanya mendapat ijin membunuh kriminal yang hidup di tempat ini. Orang-orang yang baru masuk dan belum melakukan kejahatan apa pun, Dominic juga merasa bahwa tidak ada gunanya juga jika dia sampai membunuh orang-orang seperti itu.
Apalagi di antara mereka, Dominic bisa melihat bahwa remaja-remaja kurus juga termasuk dalam bagian tersebut. Mereka sepertinya bergabung hanya karena tidak ada pekerjaan yang mau menerima orang-orang tidak berpendidikan seperti mereka. Tubuh mereka yang kurus kering bahkan tidak terlalu menarik minat Dominic untuk menghabisi mereka. Perlahan Dominic bergerak untuk mendekati mereka, sebelum berucap dengan nada tenang pada orang-orang tersebut.
"Apa kalian ingin hidup?"
"Te, tentu saja..... Tuan....."
Mendengar pertanyaan Dominic, masing-masing dari mereka segera berlutut dengan tubuh gemetar ketakutan. Sikap ketakutan mereka memang tidak terlalu mengesankan Dominic. Tapi Dominic tetap lah pria yang sama jauh di dalam hatinya. Dia tidak akan meninggalkan anak-anak malang, yang butuh pertolongan ketika dia bisa membantu mereka.
"Jika kalian berjanji untuk setia padaku, aku akan membiayai kalian sampai kalian bisa hidup dengan nyaman di dunia ini. Bagi yang masih memiliki keluarga, minta keluarga kalian untuk setia padaku juga dan aku akan memberi mereka pekerjaan yang layak selama mereka benar-benar serius ingin bekerja. Tawaranku ini, jika kalian benar-benar ingin menerimanya, kalian bisa menghubungi wanita itu jika kalian sudah mantap dengan pilihan kalian. Tapi ingatlah satu hal ini sebelum kalian membuat pilihan. Aku benar-benar membenci seorang pengkhianat, jadi pastikan kalian benar-benar siap menjual hidup kalian jika kalian ingin bekerja untukku."
"Flora, bagikan mereka kartu namamu."
Flora langsung menjalani perintah Dominic saat dengan ramah dia membagikan kartu namanya pada orang-orang yang masih hidup. Wanita itu dengan ceria bahkan mulai membujuk mereka seperti ahli penjualan dalam perusahaan Dominic. Ketika masing-masing dari orang yang masih hidup sudah menerima kartu nama itu, baru lah Dominic keluar dari tempat itu untuk segera kembali ke mobilnya sendiri.
Tanpa perlu Dominic perintah lagi, Jasper segera mengumpulkan tabung-tabung gas yang dia temukan di gudang tersebut untuk dia simpan di tengah gudang ketika Flora memerintahkan yang masih hidup untuk segera menjauh dari gudang tersebut. Ketika gedung itu sudah benar-benar kosong, dari kejauhan Jasper membidik tabung-tabung itu dengan senjata yang khusus dia simpan di bagasi mobil Dominic. Pria itu tersenyum, ketika dia menembak tabung-tabung gas itu sampai menghasilkan ledakan besar yang membakar gudang besar tersebut beserta mayat-mayat yang ada di dalamnya.
"Ini lah alasan mengapa aku selalu menyukai pembersihan instan."
Dengan nada lega, Jasper kembali memasukan senjatanya ke tempat khususnya sementara apa mulai berkobar besar di belakang tubuhnya.
To be continued