1. Keinginan Gila
"Lebih cepat, Ray!" erangan Ivana pecah di tengah ruangan yang hanya diterangi cahaya temaram dari jendela. Suaminya memenuhi tuntutan itu, menghujam lebih dalam, lebih keras, dari posisi belakang yang membuatnya kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.
Napas Raymond memburu di belakang telinganya. Telapak tangannya yang besar mencengkeram pinggul Ivana, lalu sesekali mendarat di bokongnya dengan tamparan basah yang meninggalkan jejak merah di kulit putihnya. Setiap tamparan membuat Ivana menarik napas tersengal, campuran antara perih dan nikmat yang sulit dijelaskan.
Hingga akhirnya puncak itu datang.
Raymond menghentak sekali lagi, dalam, sebelum akhirnya terhenti. Kepalanya terkulai ke belakang, urat-urat di lehernya menegang. Suara erangan panjang keluar dari mulutnya yang terbuka, suara kepuasan yang begitu primitif, begitu nyata.
Di depannya, tubuh Ivana hampir ambruk. Hanya cengkeraman Raymond di pinggulnya yang menahannya tetap tegak selama beberapa detik.
Perlahan, Raymond melepaskan diri. Ivana merasakan kekosongan begitu dia pergi, dan tubuhnya akhirnya ambruk ke kasur dengan suara jatuh yang pelan. Wajahnya setengah tenggelam di bantal, napasnya masih tersengal-sengal.
Raymond merebahkan diri di sampingnya. Keduanya berbaring dalam keheningan yang hanya diisi oleh suara napas yang perlahan mulai teratur. Keringat membasahi tubuh mereka, bercampur dengan aroma khas yang memenuhi ruangan.
Ivana bergerak mendekat. Tangannya merayap naik, mengusap lembut d**a bidang suaminya dengan gerakan melingkar yang sensual. Ujung jarinya menyusuri kontur otot di sana, seolah ingin mengingat setiap detailnya.
"Kamu selalu hebat, Hon." Suaranya berbisik, hampir seperti desahan. "Aku selalu terpuaskan."
Raymond tertawa pelan, suara dalam yang bergetar di dadanya. Ia menoleh, lalu mengecup kening Ivana dengan lembut, kontras dengan caranya beberapa menit lalu yang begitu kasar. "Apapun untukmu, Sweetheart."
Tak lama kemudian, Raymond kembali berbaring telentang. Matanya terpejam, bibirnya membentuk senyum kecil yang puas. Napasnya mulai teratur dalam ritme seorang yang akan segera terlelap.
Ivana tidak tidur.
Ia menatap suaminya dari samping. Wajah itu teduh dalam tidurnya. Lalu pandangannya beralih ke langit-langit kamar yang tinggi. Satu helaan napas panjang keluar dari hidungnya. Dia menggigit bibir bawahnya, menggigit lama, hingga meninggalkan bekas.
Di dalam kepalanya, sesuatu terus berputar. Sebuah keinginan yang sudah lama terpendam. Sesuatu yang terlalu sering ia bayangkan, terlalu sering ia rahasiakan. Juga terlalu menakutkan untuk diungkapkan.
Pagi di Kafe
Matahari baru saja naik separuh ketika Ivana duduk di kursi favoritnya di The Daily Grind, sebuah cafe di tengah kota. Tangan kanannya memutar-mutar sendok di dalam cangkir latte, menciptakan pusaran kecil di permukaan busa. Wajahnya kosong, pikirannya melayang entah ke mana.
"Kenapa wajahmu seperti itu, Iv?"
Ivana mengangkat kepala. Cynthia sudah berdiri di hadapannya, meletakkan tas branded-nya di kursi kosong di seberang. Wanita itu selalu tahu. Mungkin karena mereka berteman sejak SMA, atau karena Cynthia memang terlalu jeli.
Cynthia duduk, menatap Ivana tajam. "Ray tidak sedang perjalanan bisnis, kan?" Nada suaranya hati-hati, seolah takut mendengar jawabannya.
Ivana tersenyum tipis. Hanya sekedar mengangkat sudut bibir, tanpa binar di mata. "Dia ada."
"Lalu?" Cynthia mencondongkan tubuh ke depan, kedua sikunya bertumpu di meja.
Ivana menunduk, lalu kembali menatap sahabatnya. Jari-jarinya berhenti memutar sendok. "Kamu tahu, Cyn. Aku terus memikirkannya."
Cynthia mengerjap. "Memikirkannya? Apa?"
Ivana memutar bola mata, gerakan frustrasi yang sudah sering Cynthia lihat sejak mereka remaja. "Ingat? Keinginanku. Tentang suamiku."
Untuk beberapa detik, Cynthia diam. Lalu ia menghela napas panjang. "Oh, Ivana, jangan gila. Ray pasti akan membencimu."
"Atau dia akan menyukainya." Ivana menyandarkan punggung di kursi. "Pria biasanya begitu, iya kan? Lihat suamimu sendiri."
Cynthia menggeleng pelan. Suaranya turun satu oktaf ketika menjawab. "Memang. Tapi kecuali Ray. Dia pria setia, Iv. Dia tidak akan mau." Ada jeda. "Percayalah padaku. Aku mengenalnya lebih dari yang kamu tahu."
Kata-kata terakhir itu menggantung di udara.
Ivana menatap Cynthia. Ada sesuatu di mata sahabatnya itu, sesuatu yang tidak bisa ia terjemahkan. Pengetahuan? Peringatan? Atau mungkin kekhawatiran yang terlalu dalam untuk diucapkan?
Sendok di tangannya jatuh pelan ke atas meja. Suara dentingnya terdengar terlalu nyaring di telinganya sendiri.
.
.
Mobil Ivana melaju pelan sebelum berhenti tepat di depan Petals & Pour. Gedung dua lantai dengan papan nama beraksen emas itu berdiri anggun di antara deretan ruko lain, hadiah pernikahan dari Raymond lima tahun lalu. Dulu hanya impian, kini menjadi nyata yang setiap pagi ia sambut dengan secangkir kopi di tangan.
Ivana melangkah masuk. Aroma biji kopi yang baru digiling menyambutnya, bercampur dengan wangi kue-kue yang baru keluar dari oven. Beberapa pelanggan menoleh sekilas, lalu kembali pada obrolan mereka. Para pelayan menyapanya dengan anggukan hormat.
Dia naik ke lantai dua, memasuki ruangan pribadinya. Begitu pintu tertutup, Berta, asistennya yang setia, sudah menunggu dengan setumpuk kertas di tangan.
"Laporan mingguan, Nyonya." Berta meletakkan kertas-kertas itu di atas meja. "Stok biji kopi untuk espresso mulai menipis. Pemasok menawarkan varian baru, sample-nya sudah dikirim. Juga, dua pelayan meminta perubahan jadwal karena urusan keluarga."
Ivana duduk di kursi kerjanya, jari-jarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja sambil mendengarkan. "Terima kasih, Berta. Saya akan lihat nanti."
Berta sedikit membungkuk, lalu berbalik dan meninggalkan ruangan. Pintu tertutup dengan bunyi pelan.
Sendirian, Ivana berdiri. Ia berjalan ke jendela besar di sisi ruangan, jendela yang selalu tertutup rapat oleh Venetian blind berwarna krem. Dua jarinya menyibak sedikit bilah-bilah horizontal itu, cukup untuk sepasang mata mengintip ke luar.
Dari ketinggian lantai dua, ia bisa melihat seluruh area kafe. Para pelayan hilir mudik membawa nampan. Di bagian dapur, terlihat asap tipis mengepul dari celah pintu. Seorang pelanggan tertawa keras karena sesuatu yang lucu.
Lalu matanya tertambat pada satu titik.
Seorang gadis dengan seragam kafe, rambut diikat rapi, celemek hitam melingkar di pinggang, bergerak cepat di antara meja-meja. Ia menerima pesanan dari satu meja, berlalu ke meja lain untuk mengambil piring kotor, lalu melesat ke arah dapur. Gerakannya efisien, tanpa waktu terbuang.
Sherry.
Ivana mengingat nama itu. Gadis yang selalu mengambil shift tambahan. Yang sering terlihat membawa bungkusan plastik saat pulang, makanan sisa yang seharusnya dibuang. Yang matanya selalu sembab meski bibirnya tersenyum pada pelanggan.
Ivana terus mengamati. Ada sesuatu yang menarik dari cara gadis itu bekerja. Seperti orang yang terus dikejar sesuatu. Atau seperti orang yang sedang melarikan diri dari sesuatu.
"Mommy!"
Suara kecil memecah konsentrasinya. Ivana menoleh ke bawah. Dari pintu masuk kafe, seorang gadis kecil berlari masuk, rambut dikepang dua, tas sekolah biru masih tersampir di bahu. Di belakangnya, seorang pengasuh muda berusaha mengejar.
Ivana tersenyum. Ia segera melepas pegangan dari blind, berbalik, dan melangkah turun.
"Sayang!" Ivana membuka kedua tangannya.
Anna, putri semata wayangnya, melompat ke pelukannya. Tangan mungil itu melingkar erat di leher Ivana, mencium pipi ibunya dengan suara nyum yang nyaring.
"Kok sudah di sini? Bukannya tadi sekolah?" Ivana menggendongnya sebentar, lalu menurunkannya pelan.
"Aku ingin bertemu Mommy di sini."
Ivana menggandeng tangan kecil itu, membawanya ke salah satu sofa kosong di sudut kafe. Begitu duduk, Anna langsung merebahkan kepalanya di pangkuan ibu.
"Mau minum, Sayang?"
Anna mengangguk.
Ivana menengok ke sekeliling. Matanya mencari-cari, lalu berhenti pada satu sosok yang sedari tadi sibuk di dekat dapur.
"Sherry."
Gadis itu menoleh. Wajahnya sempat menunjukkan keterkejutan, lalu segera berubah menjadi senyum sopan. Ia mendekat, tangannya memegang buku pesanan kecil.
"Ya, Nyonya Mueller?"
"Tolong ambilkan jus buah untuk Anna." Ivana mengelus rambut putrinya. "Yang segar. Dan camilan, mungkin puff pastry yang tadi baru keluar dari oven. Ingat, jusnya tanpa gula."
Sherry mengangguk cepat. "Baik, Nyonya." Ia mencatat, lalu berbalik dan berjalan cepat menuju kitchen. Dari belakang, Ivana melihat betapa cepat langkahnya. Efisien. Selalu efisien.
"Bagaimana sekolahnya, Sayang?" Ivana kembali fokus pada putrinya. Ia membetulkan pita di kepang rambut Anna.
Anna mengangkat wajahnya dari pangkuan Ivana. Matanya berbinar. "Seru, Mom. Aku meninju temanku."
Ivana mengerjap. "Hah?"
"Aku meninju anak laki-laki."
Ivana menahan tawa, tapi sudut bibirnya naik. "Kenapa kamu meninju, Sayang? Apa yang dia lakukan?"
"Dia ambil s**u kotak milik Shasa." Wajah Anna mengeras, seolah masih marah mengingatnya. "Shasa nangis. Aku nggak suka."
Ivana menggeleng pelan. Tangannya mengusap-usap pipi gembul putrinya. "Lain kali bilang ke bu guru, Sayang. Jangan main tangan."
"Tapi dia laki-laki, Mom. Laki-laki harus dipukul kalau nakal." Anna berkata dengan keyakinan penuh, seolah itu hukum alam.
Kali ini Ivana tertawa pelan. Ia menarik Anna ke dalam pelukannya, mencium puncak kepala yang masih wangi sampo anak-anak.
Malam itu, di kediaman Mueller.
Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Ivana baru saja keluar dari kamar Anna, gadis kecil itu sudah tertidur pulas setelah dibacakan dua dongeng dan satu lagu pengantar tidur. Lampu di lorong temaram, hanya diterangi oleh beberapa lampu dinding yang memberi cahaya hangat.
Ivana melangkah ke kamar utama. Begitu pintu terbuka, ia melihat Raymond baru keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih basah, setengah disisir ke belakang. Handuk tersampir di bahu, dan ia hanya mengenakan celana panjang rumah. d**a bidangnya yang masih basah oleh sisa-sisa air memantulkan cahaya redup dari lampu kamar.
Raymond menoleh, dan senyum langsung terukir di wajahnya.
"Hai, Sweetheart." Ia mendekat, mengecup puncak kepala Ivana, tempat yang sama seperti yang dicium Ivana pada Anna beberapa menit lalu. Lalu bibirnya turun, menyentuh bibir Ivana dalam kecupan lembut. Masih terasa aroma pasta gigi.
Ivana melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya. Jari-jarinya bermain-main dengan rambut Raymond yang masih lembap. "Kamu tahu apa yang dilakukan putrimu hari ini?"
Raymond mengangkat alis. Tangannya secara otomatis melingkar di pinggang Ivana, menariknya lebih dekat. "Apa lagi yang dia lakukan? Jangan bilang dia memanjat pohon lagi."
"Dia meninju anak laki-laki."
Raymond tertawa. Bukan tawa kecil, tapi tawa dalam yang menggetarkan dadanya. "Wow! Putri kecilku?" Ia menunduk, menatap Ivana dengan mata berbinar. "Aku yakin dia punya alasan. Benarkan?"
Ivana mengangguk, ikut tersenyum. "Teman sekelasnya, laki-laki, mengambil s**u kotak milik Shasa, teman mainnya. Shasa menangis. Anna, sebagai teman baik, tidak tinggal diam. Katanya, laki-laki harus dipukul kalau nakal."
"Oh, ya ampun. Anakku." Raymond tertawa lagi, lalu menarik Ivana ke dalam pelukan erat. Dagunya bertumpu di puncak kepala istrinya. "Dia tahu cara membela yang lemah. Seperti siapa, ya?"
"Seperti ayahnya," gumam Ivana, wajahnya terbenam di d**a Raymond.
Raymond tersenyum. Tangan kanannya mengusap-usap punggung Ivana dengan lembut. Untuk beberapa saat mereka hanya diam, berpelukan di tengah kamar, dengan hanya suara detak jam dinding yang menemani.
Di luar, malam semakin larut. Tapi di dalam pelukan Raymond, Ivana merasakan kehangatan yang membuatnya lupa sejenak pada segala sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Hanya sejenak.
Kehangatan pelukan Raymond masih terasa di sekujur tubuhnya, tapi pikiran itu, pikiran yang sama yang selalu datang di saat-saat seperti ini, kembali merayap masuk. Ivana merasakannya seperti hawa dingin yang tiba-tiba menyusup di antara mereka.
Perlahan, ia meregangkan pelukannya. Tangannya yang tadi melingkar di leher Raymond terulur, mendorong tubuhnya mundur satu langkah. Lalu satu langkah lagi.
Raymond mengerjap. Alisnya naik, setengah bertanya.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Suara Ivana keluar lebih pelan dari biasanya.
Raymond menunduk sedikit, mencoba menangkap mata istrinya. "Aku akan mendengarkan, Sayang."
Ivana berbalik. Ia berjalan beberapa langkah menjauh, menuju jendela kamar yang gelap. Punggungnya menghadap Raymond. Di cermin di sudut ruangan, Raymond bisa melihat wajahnya, ekspresi yang berubah-ubah, bibir yang digigit, jari-jari yang gelisah meremas ujung blus tidurnya.
"Sayang ...." Raymond memanggil pelan. Ada nada tanya yang mengambang di suaranya.
Ivana berbalik. Matanya menemukan mata Raymond. Dan di dalam tatapan itu, Raymond melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya, ketakutan. Bukan ketakutan biasa, tapi ketakutan yang dalam, yang membuat bola mata Ivana sedikit bergetar.
"Apa yang terjadi?" Wajah Raymond berubah. Garis-garis di keningnya mengerut. Tangannya terulur sedikit, seolah ingin meraih, tapi ragu. "Kamu sakit? Atau ada apa dengan Anna?"
"Bukan." Ivana menggeleng cepat. "Bukan itu."
"Lalu?"
Ivana menarik napas. Dalam. Lalu lebih dalam lagi. "Aku sudah lama memikirkan ini."
"Memikirkan apa?" Raymond melangkah maju satu langkah. "Katakan saja, Iv. Apa pun itu."
"Ini memalukan, Ray." Suara Ivana hampir berbisik. Matanya melejit ke lantai, ke dinding, ke mana saja kecuali ke wajah suaminya. "Sangat memalukan."
Kali ini wajah Raymond mengeras. Bukan marah, setidaknya belum, tapi otot-otot di rahangnya menegang. Dadanya yang tadinya santai kini naik turun dalam ritme yang berbeda. Ada sesuatu yang berubah di ruangan itu. Udara terasa lebih berat.
"Apa ada pria lain?" Suara Raymond jatuh datar. "Yang kamu cintai?"
Ivana mengangkat wajahnya cepat. Matanya membelalak. "Tidak!"
Ia melangkah mendekat, mendekat, hingga hanya beberapa inci memisahkan mereka. Kedua tangannya terulur, meraih wajah Raymond. Telapak tangannya yang hangat menempel di pipi suaminya yang mulai mengeras. Ia menarik wajah itu ke bawah, mendekat, lalu mencium bibir Raymond.
Bukan ciuman biasa. Ciuman itu lama, dalam, basah, seperti ingin membuktikan sesuatu. Seperti ingin berkata, "Ini milikmu. Hanya milikmu."
Ketika bibir mereka berpisah, Ivana masih dekat. Napasnya hangat di bibir Raymond.
"Tidak ada pria lain selain dirimu, Sayang." Bisikannya nyaris tanpa suara. "Hanya kamu. Selalu kamu."
Raymond menatapnya lama. Tangannya yang sempat terkulai kini kembali naik, memegang pinggang Ivana dengan cengkeraman yang lebih erat. Tidak menyakitkan, tapi pasti.
"Lalu?" desaknya. Satu kata, tapi penuh tuntutan.
Ivana menelan ludah. Ia bisa merasakan tenggorokannya kering. Jantungnya berdetak begitu kencang, ia yakin Raymond bisa mendengarnya.
"Aku ... aku punya keinginan." Ia berhenti. Mencari kata-kata. "Keinginan gila. Tentang kita."
Raymond menunggu. Matanya tidak berkedip.
"Apa 'keinginan gila' itu, Sweetheart?"
Ivana menatap suaminya. Lekat. Menembus. Ia menggigit bibir bawahnya, menggigit hingga hampir terasa perih. Udara di ruangan itu terasa menipis. Jari-jarinya yang masih di pipi Raymond merasakan otot-otot di bawah kulit yang mulai menegang.
"Aku ..." Napasnya tersendat. "Aku ingin melihatmu bercinta dengan wanita lain. Di hadapanku."
Kata-kata itu menggantung di udara.
Raymond diam.
Wajahnya yang tadinya mengeras kini berubah menjadi sesuatu yang lain. Otot-otot di rahangnya menegang lebih kencang. Matanya yang sedari tadi menatap Ivana dengan campuran cinta dan keingintahuan, kini gelap. Tidak bisa dibaca.
Tangannya yang memegang pinggang Ivana tidak bergerak. Tapi juga tidak mengendur.
Keheningan mengisi ruangan. Bukan keheningan yang nyaman, tapi keheningan yang tebal, yang membuat Ivana ingin menarik kembali kata-katanya, menelannya kembali, berpura-pura tidak pernah mengucapkannya.
Tapi sudah terlambat.
Ekspresi wajah Raymond kembali mengeras. Kali ini berbeda. Bukan keras karena cemas atau khawatir.
Tapi keras karena sesuatu yang lebih dalam.
Sesuatu yang mulai menyerupai kemarahan.