2. Sherry

2011 Words
Di usia dua puluh empat tahun, Sherry merasa hidupnya telah jauh mendahului waktu. Tubuhnya mungkin masih muda, tetapi bebannya telah membuatnya merasa seperti berusia empat puluh. Tiga tahun telah berlalu sejak kematian ibunya, tetapi napasnya tetap sesak oleh tuntutan hidup. Saat ibunya sakit keras dulu, dialah, sebagai anak sulung, yang menjadi penyangga utama, berlari ke sana kemari mencari biaya pengobatan. Sang ayah? Bagi Sherry, pria itu sudah mati sejak peristiwa mengerikan itu terjadi, ketika ia mendorong istrinya hingga tulang ekornya patah. Kini, ayahnya hanyalah siluet pengganggu yang muncul sesekali, hanya untuk meminta uang dan menambah beban yang sudah tak tertanggungkan. Apakah segalanya membaik setelah ibunya tiada? Mustahil. Gaji pas-pasan yang dia dapatkan sebagai pelayan harus ia bagi dengan cermat bagai seorang ahli bedah, sebagian untuk melunasi sisa hutang pengobatan, sebagian untuk biaya sekolah kedua adiknya, dan sisanya untuk bertahan hidup sebulan ke depan. Seringkali, di tengah malam yang sunyi, kepalanya terasa seperti akan retak oleh tekanan yang tak berkesudahan. Namun, Sherry tidak punya pilihan selain terus melangkah. Hari itu, seperti biasa, ia berusaha memusatkan seluruh perhatian pada pekerjaannya di Petals & Pour. Kafe milik Ivana Mueller itu cukup besar, dan gajinya sedikit lebih menjanjikan. Dulu, biasanya usai shift di kafe, ia masih sempat mengasuh anak atau menemani lansia. Sayang, kedua pekerjaan sampingan itu hilang karena mensyaratkan waktu penuh, sementara jadwalnya sudah dikunci oleh kafe. Suasana siang itu cukup ramai. Sherry mencoba menenggelamkan segala pikiran buruk dengan melayani pesanan pelanggan. Tiba-tiba, suara seorang pria bersetelan rapi memotong konsentrasinya. "Nona, meja itu kenapa dibiarkan kotor? Piring-piring itu mengganggu," ujarnya dengan nada tak puas. "Oh, maaf, Tuan. Saya segera tindak lanjuti." Sherry segera bergegas ke meja yang dimaksud, mengangkut piring dan gelas kotor ke dalam baki. Begitu tiba di balik pintu dapur, kepala pelayan, Samuel, sudah menunggunya dengan ekspresi tak senang. "Sherry, membersihkan meja bukan tugasmu. Itu bagian Nova." "Ada pelanggan yang mengeluh, Sam. Dia tampak kesal. Aku hanya ingin meredam situasi," jawab Sherry berusaha tenang. Sam menghela napas panjang, lalu menoleh ke arah Nova yang sedang asyik dengan ponselnya di pojok ruangan. "Nova! Perhatikan tugasmu! Lihat, Sherry sampai harus turun tangan!" Nova menatap Sherry. Bukan rasa malu yang terpancar dari sorot matanya, melainkan seberkas kebencian. Sherry hanya bisa menarik napas dalam-dalam. Rasanya, satu masalah baru saja teratasi, tetapi mungkin telah membuka pintu bagi masalah lain yang lebih rumit. ~.~ Jam di dinding ruang ganti menunjukkan pukul empat sore. Seharusnya shift Sherry sudah berakhir tiga puluh menit lalu. Tapi di luar, suara gelas dan percakapan masih terdengar ramai. Jumat malam selalu begini, pengunjung berdatangan setelah lelah bekerja sepanjang minggu, mencari secangkir kopi atau segelas minuman ringan sebelum pulang. Sherry menarik napas, lalu mengencangkan kembali ikatan celemeknya. Dari balik loker, ia mendengar bisikan yang tidak begitu keras tapi masih bisa ditangkap oleh telinganya. "Lihat, dia ambil double shift lagi." Suara Nova. Pasti. "Biarkan saja." Suara lain, Beth, mungkin. "Dia lebih membutuhkannya. Ayo, pulang." Derap sepatu menjauh. Pintu belakang berderit, lalu tertutup. Sherry memejamkan mata sejenak. Telinganya masih bisa menangkap bisikan-bisikan seperti itu setiap hari. Awalnya perih. Sekarang? Hanya lelah. Ia melangkah keluar ruang ganti, kembali ke area dapur. Tumpukan piring kotor menunggu di dekat kitchen sink, bukan tugasnya, tapi seseorang harus membersihkannya. Sherry meraih baki teratas. "Biarkan di sana, Sherry!" Suara Sam memotong. Kepala pelayan itu berdiri di ambang pintu dapur, kedua tangan di pinggang. Wajahnya lelah, tapi matanya tajam. "Itu bukan tugasmu." Sherry menurunkan baki perlahan. Ia mundur selangkah, lalu selangkah lagi, hingga punggungnya menyentuh dinding dingin di belakang. Jari-jarinya meremas ujung celemek yang masih terikat di pinggang, meremas hingga kain itu berkerut. Sam mendekat. Suaranya turun, tidak lagi keras, tapi tetap tegas. "Jika Nyonya Mueller tahu kamu selalu ambil double shift, beliau pasti akan memberimu peringatan." Ia berhenti. "Bisa saja kamu dipecat." Sherry menunduk. Matanya jatuh ke ujung sepatu, sepatu yang sudah usang, solnya mulai mengelupas di bagian depan. Ia mengamatinya terlalu lama. "Kamu tidak akan melaporkan itu pada Nyonya Mueller, kan, Sam?" Suaranya kecil. Seperti anak kecil yang takut dihukum. "Jelas tidak." Sam menghela napas. "Tapi cepat atau lambat beliau akan tahu dari catatan pegawai, Sherry. Itu urusan lain." Sherry mengangkat wajah. Di matanya, ada sesuatu yang pecah, bukan tangis, tapi lebih seperti pasrah. "Aku butuh pekerjaan ini, Sam." Sam menatapnya. Beberapa detik. Lalu ia berkata, "Semua juga butuh pekerjaan, Sherry. Siapa yang tidak?" Ya. Sherry tahu itu. Semua orang butuh pekerjaan. Tapi tidak semua orang punya dua adik yang menunggu di rumah. Tidak semua orang punya ayah yang lebih sering duduk di depan meja judi daripada mencari kerja. Tidak semua orang harus memilih antara beli sepatu baru atau bayar listrik. Sam menghela napas lagi. Tangannya terulur, menepuk bahu Sherry pelan. "Aku tahu kamu lelah. Ambil waktu lima belas menit. Setelah itu lanjutkan pekerjaanmu." Ia berbalik, lalu keluar dari ruangan. Pintu dapur berayun pelan di belakangnya. Sherry tetap di tempatnya. Bersandar di dinding, memandangi tumpukan piring yang bukan tugasnya, mendengar suara ramai dari ruang utama yang tidak akan berhenti hingga beberapa jam lagi. Lima belas menit. Ia memejamkan mata. Di balik kelopaknya, yang muncul bukan istirahat, tapi wajah David dan Aleta. Adik-adiknya. Yang menunggu di rumah. ~.~ Satu jam sebelum cafe tutup, pengunjung mulai berkurang. Sherry menyapu lantai, membersihkan meja-meja yang sudah ditinggalkan, menata kembali kursi-kursi. Gerakannya otomatis, sudah begitu sering dilakukan hingga tangan bekerja sendiri sementara pikiran melayang entah ke mana. Di ruang ganti, ia melepas celemek, melipatnya, menyimpannya di loker. Seragam kerja diganti dengan kaos lusuh dan celana panjang hitam yang sudah pudar warnanya. Cermin di dinding menunjukkan wajahnya yang kuyu, lingkar hitam di bawah mata, rambut yang sedikit berantakan. Ia menyisirnya dengan jari, lalu menyerah. Sebelum keluar, ia berhenti di dapur belakang. Kantong plastik sudah disiapkan oleh koki malam, makanan sisa yang tidak terjual. Beberapa potong roti, lauk yang masih layak, kue-kue kecil yang akan basi besok. Sherry mengambilnya, menggenggam erat tali plastik itu. Di rumah, makanan ini akan dihangatkan pagi hari. Untuk dinikmati saat sarapan dan makan siang mereka bertiga. Pintu belakang cafe tertutup di belakangnya. Udara malam menyergap, tidak dingin, tapi lembab. Jalanan mulai sepi. Hanya beberapa kendaraan yang masih melintas di jalan, beberapa toko kelontong yang masih buka dengan lampu temaram. Sherry berjalan cepat. Kakinya sudah hafal setiap lubang di trotoar, setiap lampu jalan yang mati, setiap tikungan yang harus diwaspadai. Pintu rumah dibuka hampir tengah malam. Lampu ruang tamu masih menyala, lampu 5 watt yang hanya memberi cahaya secukupnya untuk tidak tersandung kursi. Di balik pintu kamar, tidak ada suara. Tapi begitu Sherry masuk, sosok kecil muncul dari balik pintu. Aleta. Adik nomor dua. Matanya masih sayu, rambutnya berantakan karena baru bangun. "Kak." Suaranya serak. Sherry meletakkan kantong plastik di meja. Ia menepuk kepala Aleta pelan. "Kalian sudah makan?" Aleta mengangguk, menggosok matanya dengan punggung tangan. "Sudah, Kak. Tadi kami dapat roti dari Bu Agnes." Sherry berhenti. Ia menoleh, menatap adiknya. "Roti?" "Iya. Bu Agnes kasih. Katanya sisa dari acara ulang tahun anaknya." Aleta menguap. "Enak, Kak. Ada selai stroberi." Sherry tidak menjawab. Ia membuka kantong plastik yang dibawanya, mengeluarkan isi satu per satu. Roti, yang sama seperti roti yang mungkin diberikan Bu Agnes. Lauk sayuran. Kue-kue kecil. Ia memindahkannya ke piring-piring di meja dapur. "Ya, sudah lanjutkan tidur, Letta. Besok kamu sekolah." Aleta mengangguk, tapi tidak segera beranjak. Ia berdiri di ambang pintu kamar, menatap kakaknya yang masih sibuk di dapur kecil. "Kakak belum makan?" "Nanti. Kakak mandi dulu." Aleta mengangguk lagi. Kali ini ia berbalik, masuk ke kamar, menutup pintu pelan. ~.~ Matahari belum sepenuhnya naik ketika Sherry membuka mata. Cahaya kelabu merayap masuk melalui celah tirai tipis di jendela kamarnya, kain lusuh yang dibeli dari pasar loak dua tahun lalu, masih cukup untuk menghalangi silau tapi tidak cukup untuk menahan dinginnya pagi. Ia duduk di tepi kasur. Tubuhnya terasa berat, seperti ada yang menarik setiap tulang ke bawah. Tapi tidak ada waktu untuk menikmati rasa malas. Ada dua mulut yang harus diisi di meja makan. Dapur kecil di rumahnya ini hanya selebar tiga langkah. Kompor gas satu tungku, lemari papan lapuk, wastafel yang airnya kadang mengalir kadang tidak. Sherry membuka lemari es mengambil piring-piring yang berisi sisa makanan dari cafe. Roti lapis dengan isian yang sudah sedikit layu, beberapa potong muffin cokelat, dan dua kotak s**u yang masih tersegel. Ia memanaskan s**u di panci kecil. Roti-roti itu ia tata di piring pecah di satu sisi. Bukan sarapan mewah, tapi cukup untuk membuat perut tidak keroncongan hingga siang. "Aroma coklat!" Suara cempreng dari balik pintu kamar. Aleta muncul dengan seragam sekolah biru navy dan rok lipit yang sudah dipendekkan dua kali karena tubuhnya terus tumbuh. Rambutnya diikat ekor kuda dengan pita pudar. Matanya yang masih mengantuk langsung berbinar begitu melihat meja. "Wah! Kita sarapan enak, Kak." Sherry tersenyum. Tangannya terulur, mengusap puncak kepala adiknya. Rambut Aleta halus, wangi sampo murah yang harus diencerkan dengan air agar tahan lama. "Makan yang banyak, ya. Besok belum tentu ada." Aleta duduk, langsung meraih satu muffin dan menggigitnya besar. "Kakak tidak makan?" "Nanti. Kakak tunggu David dulu." Sherry menoleh ke arah pintu kamar satunya, pintu kayu lapis dengan cat mengelupas di sudut-sudutnya. "David!" panggilnya. Tidak ada sahutan. Ia menghela napas, lalu melangkah. Di ambang pintu, ia bersandar pada kusen. Kamar itu sempit, hanya cukup untuk satu kasur single, satu meja kecil yang penuh tumpukan buku, dan lemari jati tua yang pintunya miring. Di atas kasur, David masih meringkuk. Selimut tipisnya hampir jatuh ke lantai. "David!" panggilnya lagi, lebih keras. Remaja lima belas tahun itu bergerak. Menggerutu sesuatu, lalu terduduk dengan mata masih terpejam. Tangannya menggaruk-garuk kepala, rambut ikalnya berantakan, berdirinya ke segala arah. "Iya, aku bangun." "Mandilah. Cepat. Sarapan sudah siap." "Ya." Sherry menatapnya beberapa detik. David membuka sebelah mata, melihat kakaknya masih di pintu, lalu membuka mata satunya. "Aku bangun, Kak. Sungguh." Sherry tersenyum kecil, lalu berbalik. Satu jam kemudian, selesai sarapan David dan Aleta masih duduk di meja makan sambil mengenakan sepatu masing-masing. Tas sekolah David penuh dengan buku, ia siswa yang rajin meski jarang bicara soal nilai. Tas Aleta lebih kecil, bergambar karakter kartun yang sudah pudar. Sherry berdiri di sebelah meja. "Jaga adikmu, David. Antar dia sampai ke kelasnya." David memasang wajah malas. "Kak, aku bisa telat kalau harus ke kelas dia. Gedungnya beda." "Tidak apa-apa, Kak. Aku bisa ke kelas sendiri." Aleta mengikat tali sepatunya, cara mengikat yang diajarkan Sherry setahun lalu, masih agak kendur. Sherry menatap Aleta. Wajahnya serius. "Apa anak-anak itu masih mengganggumu?" Aleta mengedikkan bahu. Gerakan kecil yang berusaha terlihat santai. "Kadang-kadang." "'Kadang-kadang' itu berapa sering?" desak Sherry. Sebelum Aleta menjawab, David menyela. "Kalau mereka ganggu kamu, bilang aku langsung, Leta." Ia menatap adiknya tegas. "Aku hadapi mereka." Aleta tersenyum kecil. "Iya, Dav." Tiba-tiba—BAM! Pintu rumah terbuka dengan keras, membentur dinding. Ketiganya menoleh bersamaan. Seorang pria paruh baya melangkah masuk. Kemejanya kusut, kancing terpasang salah. Rambut acak-acakan, mata merah dan sayu. Ia berjalan sempoyongan, bahu membentur kusen pintu, lalu jatuh lunglai ke sofa—sofa tua yang setiap pegasnya berteriak menahan beban. Bau alkohol menyengat. Bercampur keringat dan asap rokok. Sherry diam. David diam. Aleta diam. Selama beberapa detik, tidak ada yang bergerak. Hanya suara dengkur kasar dari sofa yang mulai terdengar. David menghela napas panjang, bukan lega, tapi lelah. Ia menyampirkan tasnya, meraih tangan Aleta. "Ayo, Leta. Berangkat." Aleta menurut. Ia melangkah, tapi matanya masih melirik ke sofa. Ke sosok di sana. Lalu ia menatap Sherry. Sherry tersenyum. Senyum tipis yang tidak mencapai mata. "Pergilah. Nanti telat." Aleta mengangguk kecil, lalu mengikuti David keluar. Sherry mengantar mereka hingga teras. Ia berdiri di sana, menatap dua punggung yang berjalan menjauh di sepanjang jalan kompleks yang masih sepi. David menggandeng tangan Aleta saat mereka menyeberang di ujung jalan. Baru setelah kedua adiknya menghilang di tikungan, Sherry berbalik. Pintu rumah masih terbuka. Dari ambang pintu, ia bisa melihat sosok di sofa. Mendengar dengkur kasar yang memenuhi ruang sempit. Bau alkohol masih menusuk hidung. Sherry melangkah masuk. Melewati sofa tanpa menoleh. Menuju dapur kecil. Mangkuk dan piring kotor dari sarapan menunggu di wastafel. Ia membuka keran. Air mengalir lambat. Tangannya mulai menggosok piring, gerakan mekanis, tanpa ekspresi. Dari ruang tamu, dengkur itu terus terdengar. Sherry menggosok piring lebih keras. Lebih keras. Sampai tangannya terasa perih. Tapi ia tidak berhenti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD