Meja makan pagi itu terasa lebih panjang dari biasanya.
Raymond duduk di ujung, seperti biasa. Anna di sampingnya, seperti biasa. Ivana di seberang mereka, seperti biasa.
Tapi tidak ada yang biasa dari keheningan yang mengisi ruangan itu.
Raymond menyuapkan telur orak-arik ke mulutnya, mengunyah perlahan, lalu tersenyum pada Anna yang sedang sibuk memotong pancake dengan garpu mungilnya. "Bagaimana tidurnya, Sayang?"
"Nyenyak, Daddy. Aku mimpi naik kuda."
"Wah, kuda warna apa?"
"Putih! Besar sekali."
Raymond tertawa kecil. Tangannya mengusap rambut Anna. "Nanti Daddy ajak naik beneran, ya."
Mata Ivana tidak lepas dari suaminya. Ia memperhatikan setiap gerakan, cara Raymond menyendok telurnya, cara ia mengelap mulut dengan serbet, tapi ia sama sekali tidak menoleh ke arahnya.
Sejak dua hari lalu, sejak malam itu, sejak kata-kata itu keluar dari mulutnya, Raymond seperti berubah menjadi orang asing. Seorang yang sulit digapai.
Pulang telat. Berangkat pagi. Di rumah hanya untuk tidur, dan sama sekali tidak ada sapaan seperti biasanya. Jika berpapasan di lorong, hanya anggukan kecil. Jika terpaksa bicara, hanya satu dua kata.
Seperti sekarang.
Ivana memegang garpunya, menusuk sepotong roti, tapi tidak memakannya. Ia hanya memindahkan roti itu dari satu sisi piring ke sisi lain. Jantungnya berdetak tidak karuan. Sesak. Seperti ada yang meremas-remas dari dalam.
Seharusnya ia tidak bilang.
Seperti kata Cynthia. "Ray pasti akan membencimu."
Benar. Atau setidaknya, ia sedang membencinya sekarang.
Tapi di sisi lain, jika dia tidak bilang, rasa tidak nyaman itu akan terus ada. Seperti kerikil dalam sepatu, kecil, tapi setiap langkah terasa. Dan sekarang, setelah mengatakannya, kerikil itu berubah jadi batu besar yang menimpa dadanya.
"Habiskan sarapanmu, Sayang."
Suara Raymond membuat Ivana tersentak. Garpu di tangannya hampir jatuh.
Ia menoleh cepat. Raymond sudah berdiri, kursinya bergeser sedikit di lantai marmer. Pria itu menunduk, mencium puncak kepala Anna, lembut, penuh kasih, seperti biasa.
"Daddy berangkat, ya. Belajar yang rajin, Sayang."
Anna mengangguk ceria. "Bye, Daddy!"
Raymond berbalik. Untuk sesaat, matanya bertemu dengan Ivana. Sekejap. Lalu ia berlalu, melangkah menuju pintu depan.
Ivana tidak berpikir dua kali. Ia bangkit, kursinya berderit di lantai.
"Anna, tunggu di sini bersama Denise. Mommy antar Daddy ke mobilnya."
Anna mengangguk, sudah kembali fokus pada pancake-nya. Denise, pengasuh yang berdiri di dekat dinding, mengangguk patuh.
Ivana berjalan cepat. Tumitnya berdetak di lantai marmer lorong, di teras, hingga ke halaman depan. Udara pagi masih sejuk, tapi ia tidak merasakannya. Matanya hanya tertuju pada satu sosok, punggung lebar dengan jas navy, yang hampir mencapai pintu mobil.
"Ray!"
Panggilannya memecah kesunyian halaman.
Raymond berhenti. Tepat di samping pintu pengemudi, tangannya sudah memegang gagang pintu.
Ia berbalik. Perlahan.
Wajahnya dingin. Bukan marah yang meledak-ledak, tapi sesuatu yang lebih menusuk, ketidakpedulian. Seolah Ivana adalah orang asing yang kebetulan memanggilnya di jalan. Ivana tidak suka sikap suaminya saat ini.
Ivana menghentikan langkahnya tepat di hadapan suaminya. Jarak mereka hanya satu langkah. Ia bisa mencium aroma parfum Raymond, aroma yang biasa ia hirup setiap malam, yang kini terasa begitu asing.
"Kamu marah padaku?" Suaranya kecil. Hampir tidak terdengar di antara kicau burung.
Raymond menatapnya. Beberapa detik. Lalu, "Tidak."
"Tidak?" Ivana mengulang. Satu kata, tapi penuh selidik.
"Aku hanya lelah. Dan sibuk dengan urusan kantor." Suaranya datar. Seperti tidak ada yang terjadi.
Ivana meraih tangannya, tangan yang sedari tadi menggantung di samping tubuh. Begitu jari-jarinya menyentuh kulit Raymond, pria itu sedikit menegang.
"Kamu marah padaku, kan?" Ivana mendesak. Matanya mencari mata suaminya, tapi Raymond menoleh sedikit, menghindar. "Akui saja, kamu—"
"Ya!"
Suara Raymond memotong. Keras. Tiba-tiba.
Ia menarik tangannya dari genggaman Ivana. Matanya kini menatap tajam, dingin yang tadi berubah jadi api.
"Aku sama sekali tidak mengerti dengan keinginan bodohmu itu!" Urat di lehernya menegang. Rahangnya mengeras. "Apa kamu tidak bisa menghargaiku sebagai suamimu?"
Ivana mundur setengah langkah. Bukan takut, tapi terpukul. "Apa aku menghinamu?" Suaranya naik, bercampur sengit dan sakit hati. "Aku hanya jujur tentang—"
"Bukan menghina?" Raymond menyela. Tawanya pendek, getir. "Kamu memintaku bercinta dengan wanita lain di hadapanmu. Itu gila, Iv. Kamu sakit!"
Kata terakhir itu melayang di antara mereka. Menggantung. Berat.
Raymond berbalik, membuka pintu mobil.
Ivana tidak menyerah. Ia mengejarnya, meraih lengan suaminya. "Ray, dengar—"
"Lepas, Iv." Raymond menatap tangannya di lengan bajunya. Suaranya rendah. Peringatan.
Ivana menggenggam lebih erat. "Kita bisa bicarakan ini—"
"Tidak ada yang perlu dibicarakan." Raymond melepaskan genggamannya dengan gerakan kasar, tidak menyakitkan, tapi cukup untuk membuat Ivana kehilangan pegangan. Ia masuk ke mobil, menutup pintu.
Mesin menyala.
Ivana berdiri di samping mobil, tangannya terkulai. Di balik kaca film, ia bisa melihat siluet suaminya, duduk diam di balik kemudi, menatap lurus ke depan.
Mobil itu mulai bergerak mundur.
Ivana tidak beranjak.
Mobil melaju perlahan melewatinya, keluar dari halaman, membelok di ujung jalan, lalu menghilang.
Dedaunan kering beterbangan ditiup angin kecil.
Ivana masih berdiri di tempat yang sama. Di tengah halaman rumah mewahnya. Dengan gaun tidur yang masih ia kenakan. Dengan perasaan hancur yang tidak bisa ia jelaskan.
Di ambang pintu, Denise muncul. "Nyonya? Anna bertanya—"
Ivana mengangkat tangan, memberi isyarat. "Sebentar."
Denise mengangguk, lalu masuk kembali.
Ivana menatap jalan kosong di depan rumahnya. Jalan yang ditelan mobil Raymond beberapa detik lalu.
Ia menggigit bibirnya. Keras. Hingga hampir berdarah.
Cynthia benar. Aku seharusnya tidak bilang.
Tapi sudah terlanjur.
Dan sekarang, ia harus menghadapi konsekuensinya.
Angin pagi bertiup lagi. Membawa aroma bunga dari taman tetangga. Tapi Ivana tidak mencium apa-apa selain bau kekalahan.
Perlahan, ia berbalik. Melangkah kembali ke rumah.
Di dalam, Anna masih asyik dengan pancakenya, tidak tahu apa-apa tentang perang dingin yang baru saja meletus di halaman depan.
Ivana duduk di kursinya. Memandangi sarapan yang sudah dingin.
Ia tidak lagi merasa lapar.
***
Jam di dinding bar menunjukkan pukul sepuluh lewat. Lampu-lampu redup menerangi ruangan, cahaya kuning yang jatuh lembut di meja-meja kayu gelap. Beberapa pengunjung masih duduk di sudut, suara mereka samar tenggelam dalam aliran musik jazz pelan.
Raymond duduk di kursi bar favoritnya, di paling ujung, menghadap rak-rak botol kaca yang berkilau diterangi lampu dari belakang. Gelas wiski di tangannya sudah hampir habis. Ia memutarnya pelan, melihat cairan amber itu bergerak-gerak di dasar gelas.
"Sudah lewat jam sepuluh, Ray. Masih mau di sini?"
Steve duduk di sampingnya. Sahabat sejak kuliah itu meletakkan gelasnya sendiri, bir impor yang selalu ia pesan. Di wajahnya, ada senyum kecil yang mencoba bersahabat, tapi matanya menunjukkan kekhawatiran.
Raymond hanya bergumam. Tidak menjawab.
Steve menatapnya beberapa detik. Lalu, "Masih belum berbaikan sama Ivana?"
Raymond diam. Jari-jarinya terus memutar gelas.
"Serius, Ray." Suara Steve turun, lebih pelan. "Sejauh ini aku lihat kalian adalah pasangan paling romantis. Serius. Teman-teman pada iri." Ia berhenti, menyesap birnya. "Sekalinya bertengkar, kayak perang dingin yang berlangsung lama. Ada apa, sih, sebenarnya?"
Raymond mengangkat gelas, meneguk sisa wiski di dalamnya. Cairan hangat itu meluncur di tenggorokan, meninggalkan rasa pahit yang menetap. Ia meletakkan gelas dengan bunyi pelan.
"Aku masih tidak habis pikir dengan keinginannya, Steph." Suaranya serak, sedikit mulai terbuka setelah selama ini hanya memendam.
Steve mengangkat alis. "Keinginan?"
Raymond menatapnya. Beberapa detik. Lalu menghela napas. "Dia ingin ...." Ia menggeleng sendiri. "Sudahlah. Tidak penting."
"Hei, kita teman sejak kapan, Ray? Apa pun itu, kamu bisa bilang." Steve mencondongkan tubuh.
Raymond terdiam lama. Lalu, dengan suara lebih pelan, "Dia ingin lihat aku bercinta dengan wanita lain. Di depannya."
Steve tertegun. Matanya membelalak sejenak. Lalu tiba-tiba ....
Steve tertawa. Bukan tawa mengejek, tapi tawa kaget bercampur geli. "Wah, gila juga ya."
"Aku tahu."
"Tapi, kenapa tidak kamu coba dulu, Ray?" Steve mengangkat bahu. "Mungkin dia cuma ingin memercik api dalam hubungan intim kalian. Itu hal yang—" ia mencari kata—"menarik. Dia puas, kamu puas. Dan entah siapa wanita itu, pastinya juga akan merasa puas. Tidak ada yang dirugikan."
Raymond menoleh, menatap sahabatnya tajam. "Tidak, ya, Steph. Aku bukan pasangan gila seperti itu. Aku normal."
Steve mengangkat kedua tangan, tanda menyerah. "Tidak ada yang menyebut kamu gila, Ray. Santai." Ia menyesap birnya. "Maksudku, ini cuma keinginan liar istrimu. Mungkin sekali, dua kali, biar rasa penasarannya terbayarkan. Setelah itu mungkin sudah, dia nggak bakal minta lagi, karena tidak penasaran lagi."
Raymond menggeleng pelan. Matanya kembali ke gelas kosong di depannya. "Jika aku mau, mungkin aku sudah tidur dengan beberapa wanita, Steph." Suaranya datar, tanpa nada sombong. "Bukan berarti aku tidak bisa. Hanya saja aku tidak mau. Dan aku tidak ingin mengkhianati Ivana."
Steve diam. Ia menatap sahabatnya lama.
"Aku tidak mengerti, Ray." Suaranya tulus. "Kenapa dia menginginkan itu? Apa kamu tahu penyebabnya?"
Raymond mengangkat bahu. Satu gerakan lelah. "Entahlah. Mungkin ...." Ia berhenti, berpikir. "Mungkin dia mengalami sesuatu di masa lalu. Sesuatu yang buruk."
Mereka diam. Musik jazz terus mengalun pelan.
***
Pukul dua belas lewat ketika mobil Raymond memasuki halaman rumahnya. Lampu-lampu taman sudah mati, hanya menyisakan cahaya temaram dari lampu teras. Rumah besar itu tampak seperti istana tidur, sunyi, megah, tapi hampa.
Raymond melangkah masuk. Pintu depan terkunci, tapi ia punya kunci cadangan. Di dalam, hanya lampu malam yang menyala di lorong-lorong. Ia melewati ruang tamu, ruang keluarga, lalu menaiki tangga menuju lantai dua.
Setiap langkahnya terasa berat.
Di depan pintu kamar utama, ia berhenti. Tangan di kenop pintu. Ia menarik napas, lalu menekan gagang itu.
Pintu terbuka pelan.
Cahaya bulan masuk melalui jendela besar, menyinari sebagian ruangan dengan warna perak pucat. Di ranjang, Ivana duduk. Matanya terbuka lebar, menatapnya sejak pintu mulai bergerak.
Sejak tadi dia tidak tidur. Menunggu.
Raymond tidak mengatakan apa-apa. Ia melangkah masuk, melewati ranjang, menuju sofa dekat jendela. Di sana ia duduk, membuang jasnya ke samping, lalu menatap istrinya dari kejauhan.
Cahaya bulan jatuh di tubuh Raymond, membuatnya tampak seperti patung, dingin dan tak tersentuh. Garis-garis wajahnya keras, tidak terbaca.
Ivana bangkit terduduk. Rambutnya tergerai, gaun tidur sutra putihnya tampak pucat di bawah sinar bulan. Ia menatap suaminya. Menunggu.
Keheningan mengisi ruangan. Panjang. Hingga hampir tak tertahankan.
Lalu Raymond berbicara. Suaranya datar. Dingin. Tanpa emosi.
"Ayo lakukan."
Ivana mengerjap. "Apa?"
"Kamu mau lihat aku bercinta dengan wanita lain, kan?" Raymond menatapnya. Matanya kosong. "Jadi mari lakukan."
Ivana diam. Ia bisa mendengar jantungnya sendiri berdetak. Keras. Cepat.
Ini yang ia minta. Ini yang ia inginkan.
Tapi kenapa rasanya seperti ditusuk dari dalam?
Raymond tidak bergerak dari sofa. Ia hanya duduk di sana, diterangi bulan, menatap istrinya dengan tatapan yang tidak bisa Ivana artikan.
"Aku setuju, Iv." Suaranya masih datar. "Kamu mau itu? Kamu akan dapat itu."
Ivana membuka mulut, ingin berkata sesuatu. Tapi tidak ada suara yang keluar.
Di luar, angin malam bertiup pelan, menggoyangkan dedaunan di taman.
Di dalam, pernikahan mereka memasuki babak baru.
Babak yang tidak akan pernah bisa mereka kembalikan.