Suara dari ujung telepon membuat Sherry sedikit lega. Bukan lega yang sebenarnya, lebih seperti napas yang tertahan lama akhirnya bisa keluar, meski dadanya masih terasa sesak. Dia baru saja menelepon Bu Agnes mencari tahu keadaan dua adiknya.
David sudah cukup dewasa, pikirnya. Lima belas tahun. Bukan anak-anak lagi. Ia bisa menjaga Aleta, bisa memasak mi instan, bisa mengunci pintu kalau ayahnya pulang dalam keadaan mabuk.
Tapi itu yang mengganggu pikirannya. Ayahnya.
Sherry mengingat terakhir kali ia tidak ada di rumah. Itu dua tahun lalu, ketika ia harus menginap di rumah teman karena ada acara cafe. Waktu itu David masih tiga belas. Ayahnya pulang larut malam, mabuk, dan entah apa yang terjadi, Sherry hanya tahu ketika ia pulang keesokan harinya, David duduk di teras dengan mata merah dan buku-buku jari tangan kanannya mengelupas. Ada bekas darah di kusen pintu.
David tidak pernah cerita apa yang terjadi. Tapi sejak itu, Sherry tidak pernah lagi meninggalkan rumah semalaman.
Dan sekarang? Sekarang ia tidak ada di sana. Tidak ada yang meredam jika ayahnya pulang dalam keadaan mabuk. Tidak ada yang menahan bahu David ketika emosinya mulai memuncak. Ia membayangkan adiknya berdiri di ruang tamu sempit itu, tubuhnya yang masih kurus karena gizi pas-pasan, berhadapan dengan sosok yang seharusnya menjadi ayah.
Jangan berulah. Tolong jangan berulah.
Ia hanya bisa berharap. Hanya itu yang bisa ia lakukan.
Sore itu, langit di luar jendela mulai berubah warna. Sherry sudah mandi dan kini berdiri di depan lemari. Jari-jarinya menyentuh satu per satu gantungan baju, dress dengan berbagai warna dan model yang menggantung rapi, semuanya dalam ukuran yang pas untuk tubuhnya. Seperti Ivana sudah mempersiapkan semuanya. Seperti semua ini sudah direncanakan jauh sebelum Sherry tahu bahwa ia adalah bagian dari rencana itu.
Ia memilih dress berwarna ungu pupus. Modelnya sederhana, potongan A-line, lengan pendek, garis leher yang tidak terlalu rendah. Bukan dress yang mencolok, bukan dress yang dirancang untuk menggoda. Tapi saat ia memakainya, kain itu jatuh lembut di bahunya, melingkari pinggangnya, berakhir tepat di atas lutut. Dress itu pas. Terlalu pas. Seolah-olah dijahit khusus untuk tubuhnya.
Sherry menatap bayangannya di cermin. Wanita dengan rambut bergelombang lembut, kulit yang bersih dan bercahaya, gaun ungu yang membuatnya terlihat lembut dan cantik. Wanita yang tidak ia kenali.
Ini bukan aku.
Tapi ini yang Ivana inginkan. Ini yang diminta oleh amplop coklat di dalam tasnya. Ini yang harus ia berikan.
Pintu terbuka tanpa ketukan.
Sherry menoleh, jantungnya berdetak lebih cepat, tapi yang muncul adalah Julie, pelayan yang semalam membawakan makan malam. Wanita itu tersenyum ramah, membawa nampan perak kecil berisi gelas tinggi dengan sirup merah dingin, es batu mengambang di permukaan, tetesan air menggantung di dinding gelas. Di piring kecil, beberapa potong kue tartlet dengan taburan buah-buahan segar.
Julie meletakkan nampan di atas meja kaca dekat sofa, mengatur posisi gelas dan piring dengan gerakan terlatih, lalu menatap Sherry dengan senyum ramah.
"Saya bawakan camilan untuk Anda, Nona."
Sherry berjalan mendekat. Matanya tidak tertuju pada camilan, tapi pada Julie. Ia menyentuh tangan wanita itu, gerakan spontan yang membuat Julie sedikit terkejut.
"Nyonya Mueller baru saja keluar," kata Julie cepat, seolah mengantisipasi pertanyaan yang belum sempat dilontarkan. "Beliau tidak memberi tahu kapan akan kembali."
Sherry mengangguk. Tangannya melepaskan pelan.
Lalu ia melanjutkan, suaranya lebih pelan.
"Dan Tuan Mueller akan segera menemui Anda, Nona."
"Oh."
Satu suku kata. Keluar lebih berat dari yang ia bayangkan. Jauh lebih berat.
Sherry merasakan udara di ruangan itu berubah. Ia menelan ludah, mencoba menenggelamkan sesuatu di tenggorokannya yang tidak bisa ia kenali, takut, mungkin. Atau mual. Atau keduanya.
Julie menunduk sopan. "Silakan dinikmati camilannya, Nona. Saya akan tinggalkan Anda."
Sherry tidak menjawab. Ia hanya berdiri di tengah ruangan, mendengar langkah kaki Julie menjauh, mendengar pintu tertutup pelan. Dan tetap memandangi pada pintu yang tertutup itu.
Ia berjalan ke sofa di dekat jendela dengan langkah berat. Ia duduk, punggungnya tegak, tangannya di pangkuan, matanya keluar jendela.
Langit di luar telah berubah. Jingga keemasan bergeser menjadi jingga kemerahan. Awan-awan kecil bergerak lambat, tidak terburu-buru, tidak seperti detak jantungnya yang semakin cepat setiap menit.
Ia meraih gelas sirup merah di meja. Tangannya sedikit gemetar saat membawanya ke bibir. Sirup itu dingin, terlalu dingin, membuat giginya ngilu sebentar. Tapi rasa manisnya mengalir di tenggorokan, membasahi kekeringan yang tidak ia sadari sejak tadi. Ia meneguk pelan, lalu menaruh gelas kembali, jari-jarinya masih menggenggamnya sebentar sebelum melepaskan.
Sherry menatap ke luar, tapi tidak benar-benar melihat apa pun. Pikirannya melayang pada kedua adiknya. Pada ayahnya yang menjadi kekhawatirannya.
Apakah ayah pulang? Apakah mereka baik-baik saja?
Ia tidak tahu. Dan rasa tidak tahu itu menggerogoti dadanya perlahan, seperti ulat yang memakan daun dari dalam.
Terdengar suara ketukan pintu yang membuat Sherry tersentak.
Tubuhnya menegang. Jari-jarinya yang tadi santai di pangkuan kini menggenggam erat kain dress ungunya. Ia tidak berbalik. Ia tidak bisa berbalik. Matanya masih tertuju pada jendela, pada langit malam yang semakin pekat, pada lampu-lampu taman yang menyala tenang di kejauhan.
Pintu kembali diketuk. Dua kali lagi. Lebih jelas kali ini. Lebih dekat.
Sherry menarik napas. Dalam. Panjang. Udara masuk ke paru-paru, tapi tidak cukup untuk menenangkan apa pun. Ia masih tegang, masih menggenggam dress-nya, masih menatap ke luar jendela dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
***
Raymond sudah sampai di rumah sejak sore. Mobilnya memasuki garasi tepat saat matahari mulai bergeser ke barat, meninggalkan bayangan panjang di halaman. Ia keluar dari balik kemudi dengan gerakan lambat, jas sudah dilepas dan tersampir di lengan, dasi kendur melingkar di leher. Bukan karena lelah setelah seharian bekerja, tapi karena sesuatu yang lebih berat menggelayut di pikirannya.
Di ruang minum, ia duduk di sofa yang sama seperti semalam. Botol wiski masih setengah penuh, gelasnya masih di tempat yang sama. Tapi ia tidak segera menuang. Ia hanya duduk dengan punggung membungkuk, kedua siku bertumpu di lutut, menatap kosong ke meja kaca di depannya.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Ivana, "Aku keluar sebentar. Sherry sudah bersedia. Dia menunggumu di kamar tamu lantai atas."
Raymond membaca pesan itu sekali. Dua kali. Tiga kali. Setiap kali, kata sudah bersedia terasa semakin berat, semakin aneh, semakin tidak masuk akal. Bersedia untuk apa? Untuk dipaksa? Untuk ditukar dengan uang? Untuk dijadikan alat pemuas hasrat istrinya?
Dengusan kasar keluar dari bibirnya. Ia meletakkan ponsel di meja, menuang wiski ke gelas, dan meneguknya dalam satu tarikan. Cairan hangat itu mengalir di tenggorokan, meninggalkan rasa pahit yang menetap. Tapi tidak cukup untuk mematikan pikirannya.
Ia menuang lagi. Meneguk lagi. Lalu menatap gelas kosong di tangannya.
Ini salahku. Aku seharusnya tidak setuju.
Tapi ia sudah setuju. Karena Ivana menangis. Karena Ivana mengatakan bahwa ini satu-satunya cara. Karena ia lelah melihat istrinya terus-menerus gelisah, terus-menerus tidak puas, terus-menerus memendam sesuatu yang bahkan tidak bisa ia mengerti.
Ia meletakkan gelas. Berdiri. Dan melangkah keluar dari ruang minum.
Lorong utama rumah itu panjang dan sunyi. Langkah kakinya yang berat terdengar di lantai marmer, bergema pelan di antara lukisan-lukisan abstrak yang menghiasi dinding.
Ia menaiki tangga ke lantai atas. Di ujung lorong lantai atas, pintu kamar tamu berwarna putih. Seseorang baru saja keluar dari sana, Julie, pelayan yang sudah bekerja di rumah ini sejak sebelum ia menikah. Wanita itu sedikit terkejut melihatnya, matanya membulat sejenak sebelum dengan cepat menunduk sopan.
"Tuan." Julie mengangguk pelan, lalu berjalan cepat melewatinya.
Raymond berdiri di depan pintu itu. Papan kayu putih polos dengan gagang kuningan mengilap. Di balik pintu ini, seorang gadis sedang menunggu. Gadis yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Gadis yang istrinya pilih untuk ... untuk apa?
Ia mengangkat tangan. Jari-jarinya menggenggam udara kosong sejenak, lalu mengetuk.
Dua ketukan.
Tidak ada sahutan.
Ia mengetuk lagi.
Masih tidak ada suara dari dalam. Hanya keheningan yang tebal, seperti udara sebelum badai.
Tangannya bergerak sendiri, mencapai gagang pintu, memutarnya perlahan, mendorong.
Pintu terbuka.
Di dalam, cahaya lampu meja menyala redup, menciptakan lingkaran kuning hangat yang jatuh di atas sofa dekat jendela. Di sofa itu, seorang gadis duduk dengan punggung menghadap pintu. Rambutnya bergelombang lembut di pundak, gaun ungu pupus membalut tubuhnya yang kecil. Ia tidak bergerak. Tidak menoleh. Matanya tertuju ke jendela, ke langit malam yang mulai gelap, seolah berharap dunia di luar bisa menelannya.
Raymond masuk. Langkah kakinya pelan di karpet tebal. Ia menutup pintu di belakangnya, bunyi pintu tertutup terasa terlalu nyaring di ruangan yang sunyi, tapi tidak membuat gadis itu menoleh.
Ia memilih sofa di dekat pintu. Bukan dekat dengan gadis itu. Ada jarak beberapa meter di antara mereka. Cukup untuk bernapas, cukup untuk berpikir, cukup untuk tidak membuat segalanya terasa seperti eksekusi.
Ia duduk. Menatap punggung gadis itu. Punggung yang tegang, bahu yang sedikit membungkuk, tangan yang menggenggam erat ujung gaun ungunya.
"Sherry, kan?" Suaranya keluar lebih pelan dari yang ia duga.
Gadis itu bergerak. Tidak banyak, hanya sedikit menggeser tubuhnya, seperti mempertimbangkan sesuatu. Lalu suaranya keluar, kecil dan parau.
"Benar, Tuan."
Raymond menatap punggung itu. Rambut bergelombang yang jatuh lembut, leher ramping yang sedikit menunduk. Ia tidak bisa melihat wajahnya. Hanya siluet yang samar di bawah cahaya redup.
"Apakah pantas berbicara membelakangi lawan bicaramu?" Suaranya tidak keras, tapi ada nada yang membuat gadis itu membeku sejenak.
Sherry menggigit bibirnya. Ia bisa merasakan detak jantungnya di telinga, di leher, di ujung jari. Perlahan, ia menoleh.
Wajahnya tersapu cahaya lampu meja, pipi yang masih sedikit kemerahan karena perawatan tadi, mata yang besar dengan bulu mata lentik, bibir yang tergigit hingga hampir pucat. Tatapannya bertemu dengan Raymond untuk beberapa detik. Cukup lama untuk melihat bahwa pria itu tidak seperti yang ia bayangkan. Tidak ada nafsu di matanya. Hanya kelelahan.
Sherry memutus kontak mata lebih dulu. Matanya beralih ke depan, ke ranjang tidur di tengah ruangan, ke seprai putih yang terhampar rapi, ke bantal-bantal yang berderap di kepala ranjang.
"Maaf atas ketidaknyamanan yang kamu alami, Sherry." Suara Raymond pelan, seperti orang yang berbicara pada hewan yang ketakutan. "Dan, kamu harus tahu, aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Merasa tidak nyaman dalam situasi ini."
Sherry mengerjap. Kata-kata itu tidak ia duga. Ia membuka mulut, menutupnya lagi, lalu akhirnya bertanya dengan suara yang nyaris berbisik.
"Kenapa Anda mau mengabulkannya?"
Raymond menatapnya. Di matanya, ada sesuatu yang bergerak, bukan kemarahan, bukan juga frustrasi. Tapi semacam kepasrahan yang dalam.
"Karena aku mencintainya." Suaranya pelan, seperti orang yang mengakui dosa pada dirinya sendiri. "Aku sudah memberikan segalanya untuk membuatnya bahagia. Aku selalu memastikan hidupnya sempurna. Tapi ada sesuatu yang mengganggunya. Sesuatu yang sejak pertama kami menikah dia pendam. Tidak berani dia ungkapkan. Dan ketika dia sudah tidak sanggup lagi memendamnya ..." Ia berhenti. "Akhirnya dia ungkapkan."
Sherry mendengarkan. Kata-kata itu mengisi ruang di antara mereka, berat dan aneh. Ia mencoba memahami, seorang istri yang meminta suaminya tidur dengan wanita lain karena ia mencintai suaminya. Atau karena ia sakit? Atau karena keduanya?
"Apa itu semacam gangguan?" tanya Sherry perlahan. "Seperti ...."
"Ya." Raymond memotong, seolah takut mendengar kata itu diucapkan. "Kamu benar. Itu seperti trauma masa lalu. Yang menjadi gangguan mental seseorang. Dia mengalami itu."
Sherry ingin bertanya lebih lanjut. Tapi Raymond membalas lebih cepat, suaranya lebih pendek, seolah menutup pintu yang belum sepenuhnya terbuka.
"Entah. Hanya dia yang tahu."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Sherry menunduk, memandangi tangannya sendiri yang masih menggenggam erat ujung gaun. Ia mencoba mencerna semua yang baru saja didengar, tentang trauma, tentang gangguan, tentang sesuatu yang dipendam sejak awal pernikahan. Tapi pikirannya terlalu kacau untuk memahami apa pun selain satu fakta, ia di sini, di ruangan ini, dengan pria ini, dan tidak ada jalan keluar.
Lalu sesuatu berubah.
Rasanya dimulai dari perutnya yang tiba-tiba hangat, aneh, seperti ada cairan panas yang mengalir perlahan ke bawah. Sherry bergerak gelisah di sofa. Ada rasa panas yang mulai menyebar di dadanya, di lehernya, di belakang telinganya. Tidak seperti demam. Lebih seperti ... seperti ada api kecil yang menyala di bawah kulitnya.
Ia mengusap lehernya. Tangan yang tadinya dingin kini terasa hangat menyentuh kulit yang semakin panas. Napasnya memburu, tiba-tiba, tanpa sebab yang bisa ia pahami. Dadanya naik turun cepat, dan di bagian tubuh yang paling intim, ada kedutan aneh, berdenyut, basah, tidak bisa ia kendalikan.
Ada apa dengan tubuhku?
Ia memejamkan mata. Panas itu semakin menjadi, merambat dari perut ke d**a, ke leher, ke wajah. Ia bisa merasakan pipinya memerah, napasnya semakin pendek, jantungnya berdebar begitu kencang hingga ia yakin Raymond bisa mendengarnya.
Ia menggigit bibirnya lebih keras, mencoba menahan sesuatu yang tidak ia mengerti. Tangannya yang sedari tadi di pangkuan kini bergerak naik, menggenggam ujung gaun di dadanya, meremasnya erat. Dadanya naik turun cepat, terlalu cepat, dan setiap tarikan napas terasa seperti menghirup udara panas.
Raymond memperhatikan dari tempatnya duduk.
Ia melihat gadis itu mulai gelisah, awalnya hanya gerakan kecil, menggeser posisi di sofa, mengusap lehernya. Tapi perlahan, gelisah itu berubah menjadi sesuatu yang lain. Wajah Sherry yang tadi pucat kini memerah, pipinya terlihat kemerahan bahkan di bawah cahaya redup. Napasnya memburu, dadanya naik turun cepat, dan tangannya menggenggam ujung gaun di dadanya seperti orang yang kehilangan kendali.
Alis Raymond berkerut. Sesuatu tidak beres.
Ia mengamati lebih dekat. Mata Sherry terpejam, bibirnya tergigit, dan tubuhnya, seluruh tubuhnya, bergerak tidak nyaman, seperti ada sesuatu yang membakar dari dalam. Bukan gairah. Bukan rasa malu. Tapi sesuatu yang lebih ... dipaksakan.
Pandangan Raymond beralih ke meja kaca di samping Sherry. Gelas sirup merah, hampir habis, hanya sisa es batu yang mencair. Ia mulai paham.
Keningnya mengeras. Rahangnya mengeras. Ia mengepalkan tangan di pangkuan, mencoba mengendalikan sesuatu yang mulai mendidih di dadanya.
Di sofa seberang, Sherry menggigil. Tubuhnya terasa seperti terbakar dan membeku dalam waktu bersamaan. Ia tidak mengerti apa yang terjadi. Ia hanya tahu bahwa ada sesuatu di dalam tubuhnya yang tidak ia kenali, sesuatu yang membuatnya ingin melarikan diri dari kulitnya sendiri, sesuatu yang membuatnya ingin menjerit.
Tapi ia tidak bisa menjerit. Ia hanya bisa duduk di sana, di sofa mewah di rumah orang asing, dengan gaun yang bukan miliknya, dengan tubuh yang tidak lagi bisa ia kendalikan, menunggu sesuatu yang tidak pernah ia inginkan.
Dan di seberang ruangan, Raymond duduk diam. Tangannya menggenggam erat, matanya menatap gelas kosong di meja, dan di dalam dadanya, amarah yang tidak bisa ia tunjukkan perlahan-lahan membakar apa pun yang tersisa dari kesabaran yang selama ini ia paksakan untuk bertahan. Saat dia mengangkat kepalanya, tatapan matanya bertemu dengan sepasang mata Sherry yang tampak sayu dan memohon.