Warning! 21+ Area
***
Sherry menggenggam ujung sofa dengan sekuat tenaga, buku-buku jarinya memutih. Tapi genggaman itu tidak membantu. Rasa panas terus merambat dari perut ke d**a, dari d**a ke leher, dari leher ke seluruh permukaan kulit. Ada gelombang demi gelombang yang menyapu tubuhnya, membuatnya bergerak tanpa sadar, pinggulnya bergeser di sofa, pahanya merapat lalu terbuka, tangannya naik ke leher lalu turun ke d**a.
Ia tahu apa yang terjadi.
Ia bukan gadis bodoh. Bukan anak kecil yang tidak mengerti. Tiga tahun bekerja di cafe, mendengar cerita-cerita pelanggan mabuk yang bicara terlalu keras, melihat pasangan-pasangan yang tak bisa menahan diri di sudut-sudut gelap. Ia tahu.
Minuman itu.
Sepasang matanya menajam, menatap gelas kosong di meja kaca. Sisa sirup merah masih menggenang tipis di dasar, es batu sudah mencair, tetesan air menggantung di dinding gelas seperti keringat dingin di kulitnya.
Ia ingin memaki. Ingin berteriak. Ingin melempar gelas itu ke dinding dan melihatnya pecah berkeping-keping seperti harga dirinya. Tapi lidahnya kelu. Yang keluar justru sesuatu yang lain, lenguhan panjang, rendah, keluar dari tenggorokannya tanpa izin.
Tidak. Jangan. Tahan.
Ia menggigit bibirnya, menggigit hingga hampir berdarah, mencoba menelan suara-suara yang mengancam akan keluar. Tapi tubuhnya semakin menggila. Kedutan di bagian paling intimnya berdenyut tidak karuan, basah dan panas, dan ia tidak bisa berbuat apa-apa selain meremas ujung sofa lebih erat dan berharap semuanya berakhir.
Ia mencoba menghindari tatapan Raymond. Tapi matanya terus tertarik ke arah pria itu. Seperti ada magnet di antara mereka. Seperti tubuhnya sudah tidak mendengarkan perintah otaknya.
Raymond masih duduk di sofa seberang. Masih menatapnya. Ekspresinya tidak bisa ia baca, seolah tidak ada nafsu di sana, tidak ada kemenangan. Tapi ada sesuatu yang membuat Sherry semakin panas, semakin tidak bisa berpikir jernih.
Jangan lihat aku. Tolong, jangan lihat aku.
Tapi Raymond berdiri.
Kaki-kaki panjang itu melangkah menghampirinya. Satu langkah. Dua langkah.
Sherry menggeleng. Kepalanya bergerak dari sisi ke sisi, pelan di awal, lalu semakin cepat. Rambutnya yang basah oleh keringat menempel di pipi.
"Tidak." Suaranya keluar parau, nyaris tak terdengar di antara ruangan kamar yang sunyi.
"Aku tahu apa yang terjadi padamu." Suara Raymond datar, tapi bukan kemarahan, tapi sesuatu yang mirip dengan ... kepedihan?
Sherry mencoba mengabaikannya. Ia memalingkan wajah, menatap jendela, menatap langit malam yang gelap, menatap apa pun selain pria itu. Tapi tubuhnya terus membuatnya gelisah. Tangannya bergerak naik ke leher, mengusap-usap kulit yang terasa terbakar. Kakinya bergeser di sofa, pahanya bergesekan, dan itu hanya membuat rasa panasnya semakin menjadi.
Ia menggigit bibir lebih keras. Hingga dia bisa merasakan rasa asin itu. Bibirnya berdarah.
Raymond tidak bisa diam lagi. Ia meraih tangan Sherry, bukan dengan lembut, tapi juga tidak kasar. Cengkeramannya erat, hangat, dan saat kulit mereka bersentuhan, Sherry merasakan ledakan kecil di ujung jarinya. Ia menarik tangannya, tapi Raymond tidak melepaskan.
"Tidak! Jangan—"
"Aku akan membawa kamu ke kamar mandi."
Sherry menggeleng cepat, panik. Tapi Raymond sudah menarik tangannya, memaksanya berdiri. Kakinya terasa lemas, seperti tak bertulang. Ia berjalan sedikit tertatih, setengah diseret, setengah berlari kecil, menyusuri ruangan menuju pintu kamar mandi yang terbuka.
Ubin dingin menyentuh telapak kakinya yang telanjang, sepatunya entah lepas di mana. Raymond mendorong pintu kaca bilik shower, menyalakan keran, dan ribuan butir air langsung mengucur deras dari kepala shower besar di langit-langit.
"Masuk ke bilik!" Suara Raymond tegas, seperti perintah.
Sherry menggeleng lagi. Kepalanya terasa berat, pusing bercampur panas yang tak kunjung reda. Air dari shower mulai memercik ke lantai, membasahi ubin di sekitar kakinya.
Raymond tidak menunggu lagi. Tangannya mendorong tubuh Sherry cukup tegas membuatnya kehilangan keseimbangan. Ia terhuyung mundur, lalu bahunya menyentuh dinding bilik yang dingin. Air dari shower langsung mengguyur tubuhnya dari kepala hingga ujung kaki.
Dress ungu pupus itu basah dalam sekejap. Kain ringannya menempel di kulit, menjadi transparan, menyetak setiap lekuk tubuhnya, bahu yang kecil, p******a yang terangkat di bawah kain basah, pinggang yang ramping, pahanya yang sedikit gemetar.
Raymond tidak masuk ke bilik. Ia berdiri di ambang pintu, di luar jangkauan air, tapi tetap basah karena percikan. Kemejanya basah di bagian lengan dan d**a, beberapa helai rambutnya menempel di kening. Tapi ia tidak bergerak. Ia hanya berdiri di sana, menatap.
Sherry memeluk tubuhnya sendiri. Tangannya melingkar di d**a, berusaha menutupi apa yang kini terlihat jelas di balik kain basah. Air mengalir di wajahnya, bercampur dengan sesuatu yang hangat, air mata, atau mungkin hanya air. Ia tidak tahu lagi.
Ia menggigil. Bukan karena dingin, airnya hangat, kamar mandinya hangat. Tapi ada getaran di tubuhnya yang tidak bisa ia hentikan. Panas di dalam dirinya belum reda. Justru semakin menjadi. Kedutan di antara pahanya berdenyut lebih kuat, lebih basah, dan air yang mengalir di tubuhnya tidak bisa mendinginkan apa pun.
Kenapa dia masih di sini? Kenapa dia tidak pergi?
Raymond seharusnya pergi. Ia tahu itu. Gadis ini bukan urusannya. Ia sudah melakukan cukup, membawanya ke kamar mandi, membiarkan air dingin mendinginkan racun dalam tubuhnya. Tapi kakinya tidak bergerak. Matanya tidak bisa beralih dari gadis itu.
Sherry berdiri di bawah guyuran air, basah kuyup, menggigil, bibirnya gemetar. Mulutnya terbuka sedikit, dan dari sana keluar suara-suara kecil, lenguhan pelan, desahan, erangan yang tidak sengaja lolos dari tenggorokannya. Suara-suara yang seharusnya membuatnya malu, tapi ia tidak punya kekuatan untuk menahannya lagi.
Suara itu menusuk telinga Raymond. Menjalari tulang belakangnya. Mengirimkan sinyal ke bagian tubuh yang seharusnya tidak merespons dalam situasi seperti ini.
"Persetan!" umpatnya kasar, suaranya teredam oleh derasnya air.
Ia melangkah masuk ke bilik shower. Satu langkah. Dua langkah. Air hangat langsung membasahi seluruh tubuhnya, tapi ia tidak peduli.
Tangannya meraih bahu Sherry, mendorongnya mundur hingga punggung gadis itu kembali membentur dinding ubin yang dingin. Sherry tersentak, matanya membelalak, tapi sebelum ia sempat berkata apa pun, Raymond sudah menciumnya.
Ciuman itu kasar. Bukan ciuman penuh kasih sayang, bukan ciuman perkenalan yang lembut. Tapi ciuman yang lahir dari desakan, dari racun yang mengalir di darah Sherry, dari amarah yang membakar d**a Raymond, dari sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan.
Bibir Raymond menekan bibir Sherry dengan keras, lidahnya masuk tanpa izin, tangannya menekan pinggang gadis itu ke dinding. Sherry mendorong d**a Raymond, tangan kecilnya menekan bidang d**a yang basah, mencoba menciptakan jarak. Tapi dorongannya lemah, terlalu lemah. Dan sialnya, jari-jarinya yang semula mendorong perlahan-lahan berubah menjadi melingkar.
Tangannya naik ke pundak Raymond. Meremasnya. Menariknya mendekat.
Ia membalas ciuman itu.
Bibirnya membuka lebih lebar, lidahnya menyambut lidah Raymond, dan dari tenggorokannya keluar suara yang tidak pernah ia dengar dari dirinya sendiri, erangan panjang, basah, penuh hasrat. Tubuhnya yang sejak tadi gelisah kini menemukan apa yang ia cari. Panas di dalam dirinya tidak lagi menyiksa, kini menjadi bahan bakar yang membuat ia semakin mendekat, semakin menekan, semakin kehilangan kendali.
Raymond menarik tubuh Sherry dari dinding. Tangannya yang basah melingkar di pinggangnya, mengangkatnya sedikit, membawanya keluar dari bilik shower. Air masih mengucur deras di belakang mereka, tapi mereka tidak lagi merasakannya.
Keduanya berhenti sejenak di ambang pintu kamar mandi. Tatapan mereka bertemu. Sherry menggigil, bukan lagi karena racun, tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih mengerikan. Sesuatu yang kian mendesak.
Raymond kembali menciumnya. Kali ini lebih dalam, lebih liar, tangannya meremas pinggang Sherry dengan cengkeraman yang meninggalkan bekas.
Tangannya yang lain naik, meraih ujung dress ungu yang basah, dan dengan satu tarikan, kain tipis itu terlepas dari tubuh Sherry seperti kulit yang dikelupas.
Dress itu jatuh di lantai kamar mandi yang basah, tergeletak di antara kakinya, ungu pupus yang kini tampak kusam di bawah cahaya lampu.
Sherry menggigil. Tapi ia tidak mengambilnya. Ia hanya berdiri di sana, setengah telanjang, setengah sadar, setengah rela, atau setengah dipaksa? Ia tidak tahu lagi.
Yang ia tahu, tubuhnya tidak lagi mendengarkan akal sehatnya.
Dan Raymond yang sedari tadi berusaha menjadi pria baik-baik, kini sudah terlalu jauh untuk kembali.
~.~
Raymond mengangkat tubuh Sherry dari lantai kamar mandi yang basah. Kedua tangan Sherry refleks melingkar di pundaknya, bukan karena ingin, tapi karena takut jatuh. Atau mungkin karena tubuhnya yang sudah tidak bisa lagi membedakan antara keinginan dan kepasrahan.
Bibir mereka tidak pernah putus. Ciuman itu basah, panas, dan setiap kali lidah Raymond menyapu bibirnya, Sherry merasakan gelombang listrik menjalari tulang punggungnya. Racun dalam darahnya masih bekerja, mengaburkan batas antara sadar dan linglung, antara benar dan salah.
Raymond melangkah keluar dari kamar mandi. Sherry merasakan tubuhnya melayang, kemudian punggungnya sudah menyentuh sesuatu yang lembut.
Ranjang.
Raymond membaringkannya di atas seprai putih yang dingin. Rambut Sherry yang basah menyebar di atas kasur seperti karang di dasar laut. Dress ungunya sudah tidak ada lagi, tertinggal di lantai kamar mandi, tergeletak basah di samping genangan air. Kini hanya bra dan celana dalam yang tersisa, keduanya basah, transparan, menempel di kulitnya seperti lapisan tipis yang tidak menyembunyikan apa pun.
Bibir mereka masih bertaut. Lidah mereka masih bermain. Tidak ada kata-kata, hanya suara napas yang memburu dan desahan kecil yang lolos dari sela-sela ciuman.
Tangan Raymond turun. Dengan satu gerakan cepat, celananya terbuka. Kain mahal itu melorot ke pergelangan kakinya, dan ia menyepaknya tanpa peduli di mana jatuhnya.
Sherry bisa merasakan kehangatan tubuh Raymond di atasnya, beratnya menekan, dan di sela-sela pahanya, ada sesuatu yang keras dan panas yang mencari jalan masuk.
Tangannya gemetar saat bergerak naik ke d**a Raymond. Jari-jarinya membuka satu per satu kancing kemeja pria itu, tanpa sadar. Kemeja putih yang sudah basah itu terbelah, memperlihatkan d**a bidang dengan bulu-bulu tipis yang basah oleh air dan keringat.
Raymond dengan cepat melepaskan kemeja itu dari tubuhnya, lalu kembali menekan Sherry ke ranjang.
Bibir Raymond meninggalkan bibir Sherry, turun ke leher, ke tulang selangka, ke d**a yang tertutup bra basah. Giginya menggigit kain tipis itu, menariknya ke bawah, dan untuk pertama kalinya malam itu, udara dingin menyentuh puncak payudaranya.
Sherry memejamkan mata. Kepalanya menengadah ke belakang, rambut basah menempel di pipi.
Lalu Raymond masuk.
Satu dorongan. Keras. Dalam.
Sherry menjerit. Rasa sakit dan nyeri akibat sesuatu, tapi sakit itu tenggelam dalam gelombang lain yang lebih besar, lebih kuat, lebih menguasai. Tangannya yang semula lemas di samping tubuh kini mencengkeram sprei, jari-jarinya menarik kain putih itu hingga kusut.
Raymond berhenti sejenak, memberinya waktu. Tapi racun dalam darah Sherry tidak mengizinkan jeda. Pinggul Sherry bergerak sendiri, mengangkat, mencari, meminta.
Raymond menghela napas kasar, lalu mulai bergerak.
Hujaman demi hujaman. Dalam. Setiap dorongan disertai desahan dari bibir Sherry yang tidak bisa ia tahan. Suara-suara kecil itu keluar dari tenggorokannya seperti udara yang dipaksa keluar dari balon yang bocor.
Satu tangan Sherry naik ke mulutnya. Telapak tangannya menutupi bibirnya, berusaha membungkam suara-suara yang terus lolos. Tapi semakin keras Raymond menghujam, semakin sulit ia menahan diri. Erangan itu keluar dari sela-sela jarinya, terdengar seperti tangisan yang tertahan.
Mulut Raymond turun ke dadanya. Bibir pria itu melumat puncak payudaranya, lidahnya bermain dengan p****g yang sudah keras, menggigitnya pelan, membuat Sherry melengkung seperti busur.
Tangan Sherry yang satu masih di sprei, yang satu masih di mulut. Kukunya yang baru dihias indah dengan warna merah muda menggores seprai putih, meninggalkan bekas lengkung yang tidak akan bertahan lama, tidak seperti bekas yang ditinggalkan malam ini di tubuh dan pikirannya.
Hujaman itu semakin keras. Semakin cepat. Raymond menggenggam pinggang Sherry dengan kedua tangan, membantunya bergerak seirama dengan dorongannya. Suara tubuh mereka bertabrakan terdengar basah, ritmis, mengisi setiap sudut ruangan.
Sherry melenguh di balik tangannya. Matanya terpejam rapat. Dunia di sekitarnya runtuh menjadi satu titik, hanya rasa, hanya panas, hanya hujaman demi hujaman yang membuatnya kehilangan dirinya sendiri.
Raymond menciumnya lagi. Tangannya meraih tangan Sherry yang menutup mulut, menariknya perlahan, lalu bibirnya menekan bibir Sherry, membungkam suara-suara yang masih tersisa.
Di balik kelopak matanya yang terpejam, Sherry tidak melihat apa pun. Hanya gelap. Hanya rasa.
Tapi kemudian, sesuatu di ruangan itu berubah.
Ada kehadiran lain. Napas lain. Bukan napas mereka yang memburu, tapi napas yang lebih pelan, lebih terkontrol, lebih ... menikmati.
Sherry membuka matanya.
Kepalanya yang terkulai ke samping saat Raymond menghujamnya dari atas membuat sudut pandangnya miring. Tapi cukup jelas.
Di sofa dekat pintu, seorang wanita duduk dengan kaki disilangkan. Gaun sutra ungu tua. Rambut tergerai ke satu sisi. Mata yang terbuka lebar, menatap ke arah ranjang, ke arah mereka.
Ivana.
Sherry merasakan jantungnya hampir lepas dari d**a. Bukan karena terkejut, ia tahu wanita ini yang menginginkan ini. Tapi karena tatapan Ivana. Bukan tatapan marah. Bukan tatapan cemburu.
Tatapan nikmat.
Ivana duduk di sana, dadanya naik turun cepat. Tangannya berada di dadanya sendiri, meraba-raba di atas kain sutra, mengusap p****g yang mencuat di balik pakaian. Suara-suara rendah keluar dari bibirnya yang setengah terbuka, desahan, erangan kecil, suara seorang wanita yang sedang terangsang hanya dengan menonton.
Dia menonton suaminya menggauli wanita lain. Dan dia menikmatinya.
Sherry mendorong d**a Raymond. Kedua telapak tangannya menekan bidang d**a yang basah oleh keringat, mencoba menciptakan jarak.
"Tidak—" bisiknya. Suaranya pecah di tengah desahan yang masih lolos dari bibirnya.
Tapi Raymond menangkap kedua tangannya. Jari-jari besarnya melingkar di pergelangan tangan Sherry, menahannya di atas kepala. Bukan dengan kasar, tapi cukup kuat untuk membuat Sherry tidak bisa bergerak.
Kepala Raymond menggeleng pelan.
Matanya menatap Sherry, tidak dengan amarah. Tapi dengan sesuatu yang lebih rumit. Mungkin permintaan maaf. Mungkin kepasrahan. Mungkin keduanya.
"Aku tahu," bisiknya. Suaranya pelan, hanya untuk mereka berdua. "Tahan saja."
Sherry menatap pria di atasnya. Keringat menetes dari dagu Raymond ke pipinya. Napas mereka bercampur di udara sempit di antara.
Di kejauhan, di sofa dekat pintu, Ivana menggigit bibirnya. Tangannya yang semula di d**a kini turun ke pangkuannya, masuk ke sela-sela pahanya. Matanya tidak berkedip, menatap suaminya yang masih di atas Sherry, yang masih tertanam di dalam Sherry, yang masih bergerak perlahan meskipun gadis di bawahnya sudah sadar ada penonton.
Suara Ivana, desahan panjang, rendah, memenuhi ruangan di antara bunyi tubuh Raymond dan Sherry yang bertabrakan.
Sherry memejamkan mata.
Ia tidak bisa melihat Ivana lagi. Tapi ia bisa mendengarnya. Dan entah karena racun yang masih mengalir di darahnya, atau karena tubuhnya sudah terlalu jauh terlena, ia tidak bisa lagi membedakan apakah suara itu membuatnya mual atau ... membuatnya semakin panas.
Raymond melepaskan tangannya dari pergelangan Sherry. Tangan Sherry jatuh lemas ke samping, lalu perlahan, tanpa sadar, naik lagi, melingkar di leher Raymond, menariknya mendekat.
Bibir mereka bertemu lagi dalam ciuman yang penuh hasrat.
Dan di atas ranjang putih yang dingin itu, di bawah tatapan mata Ivana yang terbakar hasrat, Sherry menyerah.
Bukan pada Raymond.
Tapi pada tubuhnya sendiri yang sudah tidak bisa ia kendalikan.
Pada malam yang sudah terlalu jauh untuk diputar kembali.
Pada segalanya yang tidak pernah ia inginkan, tapi tidak bisa ia tolak.
Raymond bergerak lebih cepat. Lebih dalam. Dan Sherry membiarkan suaranya keluar tanpa lagi ditahan. Erangannya menggema di ruangan itu, bercampur dengan desahan Ivana dari kejauhan, menjadi satu simfoni kacau yang tidak akan pernah bisa ia lupakan.
Seprai putih di bawahnya basah oleh air dari rambutnya, oleh keringat dari tubuhnya, oleh sesuatu yang lain yang tidak ingin ia pikirkan.
Dan di atasnya, Raymond terus bergerak.
Dengan mata yang tertutup.
Dengan hati yang entah di mana.