12. Tidak Sama Lagi

2669 Words
Cahaya pertama menyelinap masuk melalui celah gorden, tipis dan temaram, tidak cukup terang untuk membangunkan, tapi cukup untuk mengusik tidur Sherry. Matanya terbuka perlahan. Bulu matanya berkibar beberapa kali sebelum akhirnya fokus pada langit-langit tinggi yang tidak ia kenal. Lukisan dinding berbingkai emas. Plafon dengan ukiran halus yang tidak pernah ia bayangkan ada di rumah seseorang. Ia masih di kamar itu. Bukan kamar rumahnya yang sempit dengan dinding retak dan plafon bocor. Tapi kamar mewah kediaman Nyonya Mueller. Kamar yang semalam menjadi saksi bisu kejatuhannya. Tubuh Sherry terlonjak duduk. Selimut putih yang menutupinya melorot ke pangkuan, memperlihatkan tubuhnya yang polos, tanpa bra, tanpa pakaian, tanpa apa pun kecuali kulitnya sendiri yang pucat di bawah cahaya pagi dan beberapa tanda merah di sekitar dadanya. Ia buru-buru menarik selimut, menggenggam erat ujung kain, lalu menutupi seluruh tubuhnya hingga ke dagu. Dadanya naik turun cepat. Matanya memindai ruangan dengan panik, sofa dekat jendela, meja kaca dengan gelas kosong yang semalam berisi racun, karpet tebal yang menyerap suara langkah kaki, pintu kamar mandi yang masih terbuka sedikit. Sunyi. Tidak ada siapa pun. Tapi aroma mereka masih ada. Aroma keringat, aroma seks, aroma sesuatu yang basah dan hangat yang menguar dari seprai di sekelilingnya. Mengingat kejadian tadi malam, Sherry kembali menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Seprai dingin menyentuh punggungnya yang telanjang. Ia menarik selimut lebih tinggi hingga menutupi seluruh wajahnya, bersembunyi di balik kain putih itu seperti kepompong yang berusaha melindungi ulat di dalamnya dari dunia yang kejam. Tapi tidak ada perlindungan di sini. Tidak ada yang bisa melindunginya dari ingatan yang perlahan merayap masuk, satu per satu, seperti racun yang kembali mengalir di darahnya. Ia teringat bagaimana Raymond menjamahnya. Tangan-tangan besar yang bergerak dengan percaya diri di tubuhnya, seolah ia berhak atas setiap inci kulitnya. Ia teringat bagaimana pria itu menguasainya, bukan dengan kekerasan, tapi dengan sesuatu yang lebih membuatnya malu, dengan keahlian. Pria itu tahu persis di mana harus menyentuh, kapan harus berhenti, kapan harus mempercepat. Seolah tubuh Sherry adalah buku yang sudah ia baca berkali-kali. Ia teringat suaranya sendiri. Desahan. Erangan. Tangisan kenikmatan yang keluar dari bibirnya tanpa izin. Ia teringat bagaimana tubuhnya merespons setiap sentuhan Raymond, bagaimana pinggulnya terangkat saat hujaman itu bergerak cepat, bagaimana jari-jarinya mencengkeram punggung pria itu seperti orang yang tenggelam memegang pelampung. Ia teringat puncaknya. Sensasi itu masih terasa di ingatannya, gelombang panas yang menyapu dari ujung rambut hingga ujung kaki, membuatnya melengkung seperti busur, membuatnya kehilangan kendali sepenuhnya, membuatnya menjerit di mulut Raymond yang berusaha membungkamnya. Itu adalah hal luar biasa yang tidak pernah ia rasakan seumur hidupnya. Dan itu membuatnya mual. "Tidak!" Suaranya pecah di bawah selimut. Kepalanya menggeleng cepat, rambutnya bergesekan dengan bantal. "Itu tidak akan terjadi lagi. Nyonya Mueller meminta hanya satu kali saja. Sudah cukup!" Ia mengulanginya seperti mantra, seperti doa, seperti sesuatu yang akan menjadi kenyataan jika diucapkan cukup keras. Sudah cukup. Satu kali saja. Tidak akan terulang. Tapi di dalam hatinya yang paling dalam, ia tahu ada sesuatu yang berubah. Sesuatu yang tidak bisa ia kembalikan. Bukan hanya selaput daranya yang hilang. Tapi bagian lain dari dirinya yang lebih penting, mungkin harga dirinya, mungkin kepolosannya, mungkin kemampuan untuk melihat dirinya sendiri di cermin tanpa merasa malu. Sherry membuka selimut. Udara dingin menyentuh kulitnya yang telanjang, membuat bulu-bulu di lengannya berdiri. Ia duduk di tepi ranjang, kaki telanjang menyentuh karpet tebal. Di lantai, tidak jauh dari kakinya, dress ungu pupus itu masih tergeletak dan sudah kering sekarang, tapi kusut, tidak akan pernah kembali seperti semula. Ia harus pergi. Sudah terlalu lama ia meninggalkan David dan Aleta. Ia membayangkan mereka bangun pagi ini tanpa dirinya di dapur, tanpa aroma telur dadar, tanpa suara Sherry yang membangunkan mereka dengan lembut. Bu Agnes mungkin sudah datang, mungkin sudah memberi mereka sarapan. Tapi itu tidak sama. Tidak akan pernah sama. Ia berdiri. Kaki telanjangnya melangkah pelan di karpet. Dia berjalan ke lemari. Tangannya membuka pintu lemari, mengambil pakaian paling sederhana yang ia temukan, sebuah rok panjang dan blus putih, bukan dress mewah, bukan gaun floral yang terlalu cantik untuknya. Pakaian yang membuatnya terasa lebih seperti dirinya sendiri. Di Kamar Utama Cahaya pagi di kamar utama lebih terang. Gorden tebal berwarna krem sudah dibuka setengah, membiarkan sinar matahari masuk dalam garis-garis keemasan yang jatuh di atas ranjang besar. Raymond masih tertidur. Posisinya menelungkup, satu tangan terlipat di bawah bantal, rambutnya yang agak panjang berantakan menutupi sebagian wajahnya. Punggung bidangnya naik turun pelan mengikuti napas yang teratur. Selimut putih hanya menutupi separuh tubuhnya, memperlihatkan otot-otot punggung yang mengeras saat ia tidur, dan bekas-bekas garis merah di kulitnya, bekas kuku Sherry. Ivana duduk di samping suaminya. Jari-jarinya yang lentik bergerak pelan di atas punggung Raymond, membelai dari bahu ke pinggang, lalu kembali naik ke tengkuk, bermain-main dengan rambutnya yang sedikit basah oleh keringat. Ia menikmati pemandangan ini. Suaminya yang kelelahan setelah semalam bercinta dengan wanita lain. Wanita pilihannya sendiri. Ini yang aku inginkan. Tapi di sudut pikirannya, ada bisikan lain yang mulai merayap. Bisikan yang mengatakan bahwa sekali saja tidak cukup. Bahwa rasa penasaran yang sudah terpuaskan itu kini berubah menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih berbahaya. Sesuatu yang mirip dengan kecanduan. Dia menginginkannya lagi. Raymond menggeliat pelan di bawah sentuhannya. Sehelai rambut jatuh ke wajahnya. Ia mengerjap sekali, dua kali, lalu matanya terbuka. Di sampingnya, Ivana tersenyum. Senyum yang hangat, senyum yang familiar, senyum istri yang menyambut suaminya di pagi hari. "Pagi, Sayang." Raymond membalas dengan senyuman khas bangun tidur, masih setengah sadar, bibir sedikit miring, mata masih sayu. Ia menggosok wajahnya dengan telapak tangan, lalu menatap Ivana lagi. "Apa kamu puas?" Suaranya serak, masih berat karena baru bangun. Ivana mengangguk. Senyumnya melebar. "Sangat puas. Dan aku sudah tidak penasaran lagi." Tapi sepertinya aku akan meminta lagi. Kata-kata itu tidak ia ucapkan. Ia hanya menyimpannya di dalam hati, di tempat paling gelap, di mana ia menyimpan semua keinginan yang tidak pantas diucapkan. Tapi di matanya, ada kilatan kecil yang mungkin tertangkap oleh Raymond. "Baguslah." Raymond menghela napas, memejamkan mata lagi. "Aku senang kamu puas." Ia kembali tenggelam dalam kelelahannya. Tapi di balik kelopak matanya yang tertutup, bukan wajah Ivana yang ia lihat. Bukan. Yang ia lihat adalah sepasang mata cokelat yang membelalak kaget saat pertama kali ia masuk. Rambut basah yang menempel di pipi. Bibir yang tergigit hingga hampir berdarah. Tubuh kecil yang gemetar di bawahnya. Suara-suara yang lolos dari sela-sela jari yang menutup mulut. Dan puncaknya. Saat Sherry melengkung di bawahnya, saat matanya membulat, saat suaranya pecah menjadi tangisan dan erangan dalam waktu bersamaan. Raymond menggigit bibirnya. Tangannya yang terlipat di bawah bantal mengepal. Hanya sekali. Sudah janji. Tapi tubuhnya menginginkan lain. Dan itu yang membuatnya takut. Ivana masih membelai punggungnya, tidak tahu apa yang sedang terjadi di kepala suaminya. Ia pikir semuanya sudah selesai. Ia pikir rasa penasarannya sudah terbayar. Ia pikir pernikahannya akan kembali seperti semula. Tapi di ranjang yang sama, di bawah sinar matahari yang sama, dua orang yang sama-sama berbaring diam-diam memendam keinginan yang tidak bisa mereka ucapkan. Raymond menginginkan Sherry lagi. Dan Ivana juga menginginkan hal yang sama. Bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk dilihatnya. Untuk dinikmatinya. Untuk hasrat aneh yang mulai menggerogoti dirinya dari dalam. Dua orang yang sama-sama jatuh ke dalam lubang yang sama. Hanya saja, satu dari mereka belum menyadarinya. Dan satu lagi sudah terlalu malu untuk mengakuinya. Di kamar lain, di seberang lorong yang panjang, Sherry sedang berdiri di depan cermin, merapikan blus putihnya. Wajahnya di cermin masih pucat, matanya masih sembab, bibirnya masih sedikit bengkak. Ia tidak mengenali dirinya sendiri. Dan ia tidak yakin apakah ia ingin mengenalinya lagi. Ia menarik napas, menguatkan hati, lalu melangkah ke pintu. Di luar, matahari sudah meninggi. Dunia terus berputar seolah tidak ada yang berubah. Tapi yang sebenarnya terjadi adalah, tiga kehidupan telah berubah selamanya. *** Sherry membuka pintu rumahnya dengan gerakan lambat, seperti orang yang terlalu lelah untuk mengangkat tangan. Pintu kayu lapuk itu berderit pelan, suara yang sudah ia kenal sejak kecil. Terdengar seperti sambutan, seperti rumahnya berkata, "Kamu kembali." Rumah itu sempit. Dinding-dindingnya tipis, catnya mengelupas di sudut-sudut, lantainya dingin di telapak kaki. Tapi ini miliknya. Ini rumahnya. Bukan rumah mewah dengan marmer mengilap dan kamar mandi lebih besar dari ruang tamunya. Bukan tempat di mana ia diracun, dilucuti, dan dijadikan tontonan. Sherry melangkah masuk. Ia membuka pintu kamarnya. Ruangan sempit dengan kasur single, lemari jati tua yang pintunya miring, dan cermin retak di sudut. Di bawah kasur, tangannya meraba-raba hingga menemukan sesuatu yang sudah ia sembunyikan di sana. Amplop coklat itu. Ia duduk di tepi kasur, jari-jarinya membuka lipatan amplop dengan hati-hati, meskipun ia sudah tahu persis isinya. Uang itu masih utuh, dan sudah terpakai beberapa lembar. Ia menghitungnya lagi. Cukup untuk tiga bulan kebutuhan. Cukup untuk melunasi utang pada tetangga. Ini sedikit melegakan. Tapi uang itu adalah ... Ini harga diriku. Ia menggenggam uang itu erat-erat. Kertasnya terasa licin di tangannya yang kasar, seperti sesuatu yang tidak pantas ia pegang. Seperti sesuatu yang seharusnya tidak pernah ia miliki dengan cara ini. "Aku harus ke bank," ucapnya pelan, seperti berbicara pada dirinya sendiri. Rumah ini tidak aman. Ayahnya bisa datang kapan saja, mabuk, dan mengambil uang itu jika menemukannya. David bisa saja iseng membongkar kamarnya. Atau pintu yang tidak pernah bisa dikunci dengan benar bisa dibuka oleh siapa saja. Ia memasukkan uang itu kembali ke amplop, menyelipkannya di dalam tas kecil, dan beranjak. Satu jam kemudian, Sherry keluar dari bank dengan rasa lega yang aneh. Uang itu kini sudah berada di rekening miliknya. Bukan jumlah besar, tapi cukup untuk membuatnya merasa sedikit lebih aman. Setidaknya jika ada apa-apa, uang itu tidak akan hilang. Ia mampir ke supermarket di seberang jalan. Bukan supermarket besar dengan pendingin berlapis kaca dan lampu terang, tapi toko kelontong tua yang sudah ada sejak ia kecil, dengan lantai ubin hitam putih dan rak-rak kayu yang penuh dengan barang-barang kebutuhan sehari-hari. "Sherry, sudah lama sekali tidak melihatmu." Suara itu membuat Sherry berhenti. Jari-jarinya yang sedang meraih kemasan mie instan membeku di udara. Ia menoleh. Jake Owen berdiri di ujung lorong, keranjang belanja di tangannya hanya berisi sekotak s**u dan beberapa bungkus mi instan. Kemeja kotak-kotaknya lusuh, rambutnya sedikit panjang di bagian belakang. Di wajahnya, senyum lebar yang biasa ia lihat saat pria itu berkunjung ke rumah Cassie, tetangganya. "Hai, Jake." Sherry tersenyum kaku. "Apa kabar?" "Baik." Jake melangkah mendekat, terlalu dekat untuk kenyamanan Sherry. "Bagaimana denganmu?" Sherry mundur selangkah, berpura-pura melihat barang di rak sebelah. "Aku? Sibuk bekerja." "Pantas aku hampir jarang melihatmu kalau aku berkunjung ke rumah Cassie." Sherry hanya mengangguk. Jari-jarinya mengambil mie instan, memasukkannya ke keranjang, lalu berbalik. "Aku harus mencari barang-barang yang lain. Hati-hati di jalan, Jake." Tapi Jake tidak pergi. Ia malah mengikuti langkah Sherry, keranjangnya bergoyang di tangannya. "Mungkin aku bisa membantumu," katanya, seperti itu adalah hal paling wajar di dunia. Sherry merasakan ketidaknyamanan menjalari tengkuknya. Selama ini ia selalu menghindari pria itu, bukan karena Jake jahat, tapi karena ia sudah memiliki pasangan. Cassie adalah tetangganya, wanita baik yang sering membagi makanan saat Sherry sedang kesusahan. Dan Jake, dengan segala kebaikannya, adalah tunangan Cassie. Sherry tidak mau jadi masalah. Tidak mau jadi bahan gosip. Tidak mau kehilangan satu-satunya tetangga yang masih peduli padanya. "Terima kasih, tapi aku bisa sendiri," ucapnya pelan, sedikit mempercepat langkah. Tapi Jake tetap di sampingnya, sesekali mengambil barang dari rak dan memberikannya pada Sherry seperti mereka adalah pasangan yang sedang berbelanja bersama. Sherry mengambil barang-barang itu dengan ragu, memasukkannya ke keranjang, dan berdoa dalam hati agar tidak ada tetangga lain yang melihat. ~.~ Jam dua siang, Sherry sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Ia akan kembali bekerja. Walau Ivana mungkin terkejut melihatnya. Walau ia sendiri tidak yakin bisa menatap wanita itu lagi tanpa mengingat semalam. Tapi ia harus bekerja. Karena uang di bank itu tidak akan bertahan selamanya. Karena ia masih punya dua adik yang harus ia biayai. Karena hidup tidak berhenti hanya karena ia menjual tubuhnya. Setelah mengunci pintu rumah, ia berbalik dan hampir menabrak Agnes yang baru keluar dari rumahnya. "Sherry, kamu sudah kembali?" Agnes memandangnya dengan mata bercampur lega dan khawatir. Sherry tersenyum. Senyum yang lebih hangat dari senyumnya pada Jake tadi. "Hai, Bu Agnes. Aku ingin berikan ini untuk Ibu." Ia menyodorkan kantong plastik berisi makanan, roti dari supermarket tadi, beberapa bungkus pasta, dan sepotong kue bolu kemasan yang mungkin akan disukai Agnes. "Oh, repot-repot sekali, Nak." Agnes menerima kantong itu dengan tangan gemetar karena usia. Matanya berbinar. "Kamu baik sekali." Sherry menggeleng. "Tidak, Bu. Aku yang berterima kasih. Karena Ibu sudah menjaga David dan Aleta." Ia berhenti sebentar, menelan ludah. "Mereka baik-baik saja?" "Baik, baik. Davidnya rajin belajar, Aletanya juga. Mereka makan, mandi, tidur tepat waktu." Agnes mengelus kantong belanjaan di tangannya. "Kamu tidak usah khawatir." Sherry menghela napas lega. "Baiklah kalau begitu, aku akan pergi ke cafe." "Kamu akan kembali bekerja?" Agnes terkejut. "Bukankah kamu baru saja pulang?" Sherry menggeleng pelan. Kakinya sudah mulai melangkah menjauh dari Agnes. "Aku punya pekerjaan lain, Bu. Tapi itu sudah selesai. Dan sekarang, ini pekerjaanku." Agnes menatap punggung Sherry yang menjauh dengan tatapan yang sulit diartikan. Tapi ia hanya mengangguk dan berkata, "Hati-hati, Sherry." Sherry melambaikan tangan tanpa menoleh. Cafe Petals & Pour terlihat seperti biasa. Pintu kacanya mengilap, aroma kopi menyambut begitu pintu terbuka, suara mesin espresso dan percakapan pelanggan bercampur menjadi satu suasana yang sudah begitu familiar. Sherry masuk melalui pintu belakang, seperti biasa. Langkahnya cepat, kepalanya menunduk, ia tidak ingin bertemu siapa pun sebelum ia siap. Di ruang ganti, ia membuka lokernya. Seragam masih tergantung di sana, kemeja krem yang sudah ia setrika, rok hitam yang sedikit longgar di pinggang, celemek dengan tali yang langsung dia kenakan. Ia berganti pakaian dengan cepat, merapikan rambutnya di depan cermin kecil di dalam loker, lalu menarik napas panjang. "Sherry, kemana saja kamu?" Suara itu. Tajam. Menusuk. Sherry menoleh. Nova berdiri di ambang pintu ruang ganti, celemek sudah terlepas dari pinggangnya, tas selempang di bahu. Shift-nya sudah selesai. Tapi matanya masih cukup tajam untuk menusuk. "Kupikir kamu dipecat." Nova menyeringai, matanya mengamati Sherry dari ujung rambut ke ujung kaki. Dia bisa melihat penampilan Sherry yang agak berbeda. Sherry menatapnya dingin. "Sayang sekali, pikiranmu salah." Ia melangkah melewati Nova tanpa menoleh. Bahunya hampir bersentuhan, tapi ia tidak peduli. Biarkan Nova membenci. Biarkan semua orang membenci. Ia sudah terlalu lelah untuk peduli. Di ruang utama, sore itu cukup ramai. Beberapa meja sudah terisi, pelanggan memesan kopi dan camilan, pelayan lain sibuk mondar-mandir. Sherry mengambil buku pesanan di konter, melipat celemeknya, dan mulai bekerja. Tapi saat ia berjalan kembali ke konter, matanya tanpa sengaja tertuju ke tangga di sudut ruangan. Ivana sedang turun. Wanita itu melangkah pelan, satu tangan memegang pegangan tangga, gaun sutra hitamnya jatuh lembut di tubuhnya. Rambutnya tergerai rapi, wajahnya segar dengan riasan tipis. Dari atas sana, matanya menyapu ruangan pada meja-meja, pelanggan, pelayan dan berhenti pada satu titik. Pada Sherry. Tatapan mereka bertemu. Hanya sekejap. Tapi cukup untuk membuat Sherry merasakan dadanya sesak. Ia ingat malam itu. Ingat bagaimana Ivana duduk di sofa dekat pintu, menonton, tangannya di dadanya sendiri, suara desahannya bercampur dengan erangannya sendiri. Sherry menunduk. Ia membungkuk sedikit, bukan karena hormat, tapi karena ia tidak sanggup menatap wanita itu lebih lama. Lalu ia berbalik, melangkah cepat ke kitchen, mendorong pintu dengan bahu, dan menghilang di baliknya. Di kitchen, ia bersandar di dinding dingin. Dadanya naik turun cepat. Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar kencang. Koki sedang sibuk di depan kompor, tidak memperhatikannya. Koki lain sedang memotong sayuran di meja stainless. Suara panci dan pisau dan desis minyak mengisi ruangan, dunia kecil yang tidak tahu apa yang terjadi di luar sana. Sherry membuka matanya. Ia merapikan celemeknya, menarik napas panjang, dan berjalan ke konter pesanan. Ada orderan baru. Ia menulis pesanan itu di kertas kecil, menempelkannya di antrian, dan menunggu. Seperti biasa. Seperti sebelum semuanya terjadi. Tapi tidak ada yang bisa kembali seperti biasa. Dan Sherry tahu itu. Setiap kali ia melihat bayangan Ivana di sudut ruangan, setiap kali ia mengingat malam itu, setiap kali ia merasakan tubuhnya bergidik. Ada yang berubah. Dan perubahan itu tidak akan pernah bisa ia kembalikan. Ia hanya bisa terus melangkah. Terus tersenyum. Terus melayani pelanggan. Terus menjadi Sherry yang mereka kenal. Padahal di dalam, ia sudah bukan Sherry yang sama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD