Pintu kayu jati di ruang kerja Raymond terbuka dengan keras, tanpa ketukan, tanpa permisi. Gagang pintu menabrak dinding dengan bunyi debam yang membuat Raymond mengangkat kepalanya dari tumpukan berkas di meja.
Cynthia melangkah masuk. Tumit tingginya berdetak di lantai marmer, rok pensil hitamnya membatasi langkahnya yang tegas, wajahnya sudah terpasang ekspresi yang sulit dibaca. Tidak ada kemarahan atau khawatir. Tapi seperti orang yang sudah tahu jawaban dari pertanyaan yang belum ia ajukan.
Raymond mendecak kesal. Rahangnya mengeras, jari-jarinya berhenti di atas kertas yang tidak benar-benar ia baca. Tapi ia tidak bisa mengusir sepupunya. Cynthia bukan orang sembarangan, dia adalah keluarga, dan yang lebih penting lagi dia menikahi seorang pejabat kota, sehingga memiliki hak istimewa yang tidak dimiliki orang lain. Seperti membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Cynthia menarik kursi di depan meja Raymond. Kayu berlapis kulit itu bergeser di lantai dengan suara yang pelan tapi mengganggu. Ia duduk, menyilangkan kakinya, menaruh tas tangan di pangkuan, dan menatap Raymond lurus-lurus.
"Aku lihat gadis itu." Suaranya datar. "Gadis yang menjadi korban kegilaan istrimu."
Raymond meletakkan pena yang sedari tadi ia pegang. Matanya naik dari kertas ke wajah Cynthia. Satu jari telunjuknya terangkat, menunjuk ke arah sepupunya, bukan dengan marah, tapi dengan peringatan.
"Ingat, dia sahabatmu."
Ia hanya menatap Cynthia sekilas, lalu kembali menunduk ke berkas di hadapannya. Kertas-kertas itu berisi angka-angka yang tidak ia pahami pagi ini. Isi di kepalanya terlalu berantakan untuk mencerna laporan keuangan. Yang ia lihat di atas kertas putih itu bukan grafik dan kolom, tapi wajah, wajah dengan rambut basah, mata terpejam, dan bibir terbuka.
"Aku sudah peringatkan dia, Ray." Cynthia mengangkat bahu, gerakan kecil yang terlihat santai tapi sebenarnya defensif. "Tapi dia tidak mau dengar."
Raymond menghela napas. Jari-jarinya mengetuk meja membuat irama tidak sabar yang sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil. Setiap ketukan terdengar seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang tidak bisa ia hindari.
"Sudah telat, Cyn." Ia berhenti mengetuk. "Kami sudah melakukannya."
Kata-kata itu menggantung di udara. Cynthia tidak terkejut, mungkin ia sudah menduga sejak awal. Tapi ada perubahan kecil di wajahnya, di sudut matanya yang menyipit, di bibirnya yang mengerucut.
Raymond melempar pena ke atas meja. Pena itu menggelinding, jatuh ke lantai, tapi ia tidak memungutnya. "Sial!" Satu kata, penuh frustrasi.
Cynthia mencondongkan tubuh ke depan. "Apa itu membuatmu kesal? Kupikir kamu akan menyukainya, seperti yang dikatakan Ivana."
Raymond tertawa. Bukan tawa bahagia, tapi tawa sinis, pendek, dan getir. Ia menyandarkan punggung di kursi, menatap langit-langit ruangan yang tinggi. Lampu di langit-langit itu berkedip pelan, seolah ikut bingung dengan situasi ini.
"Siapa yang tidak suka, Cyn?" Suaranya pelan, hampir berbisik. "Istri memberi izin suaminya bercinta dengan wanita lain. Bahkan seorang gadis perawan." Ia menoleh, menatap Cynthia dengan mata yang tajam. "Hanya istri bodoh yang melakukan itu."
Cynthia bergeming. "Jadi kamu mengatai istrimu bodoh?"
"Ya." Raymond tidak ragu. "Persetan dengan traumanya." Kata-kata itu keluar lebih keras dari yang ia duga. Ia menggenggam ujung meja, jari-jarinya mencengkeram tepi kayu. "Dia harus tahu, jika dia sudah membuat suaminya yang tidak punya keinginan untuk berkhianat, kini memiliki hasrat yang tidak disukainya."
Kata hasrat terasa berat di lidahnya. Ia mengepalkan tangan, membayangkan malam itu lagi. Sherry di bawahnya. Rambut basah. Mata terpejam. Suara-suara kecil yang lolos dari bibirnya. Tubuhnya yang merespons setiap sentuhan.
Ia menggeleng cepat, mencoba mengusir bayangan itu. Tapi bayangan itu menempel seperti lem.
"Itu sudah menjadi risiko Ivana." Cynthia tidak terpengaruh oleh ledakan emosi Raymond. Suaranya tetap tenang, rasional, seperti pengacara yang membela kliennya. "Jadi untuk apa kamu pusing? Toh, dia sendiri yang sudah memberi peluang padamu untuk berkhianat."
Raymond menatap sepupunya. Ada jeda yang panjang, cukup panjang untuk mendengar detak jam dinding di belakangnya.
"Apa menurutmu Ivana akan memintanya lagi?" tanya Cynthia.
Raymond mengerjap. Pertanyaan itu persis seperti yang mengganggu pikirannya sejak ia bangun pagi. Sejak ia melihat Ivana tersenyum di sampingnya di ranjang. Sejak ia merasakan tubuhnya sendiri merindukan sesuatu yang seharusnya tidak ia rindukan.
"Dia bilang hanya satu kali saja," jawabnya pelan. "Dan itu sudah cukup untuk memenuhi rasa penasarannya."
Cynthia tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata, senyum yang sudah sering Raymond lihat di wajah sepupunya saat ia tahu sesuatu yang orang lain belum tahu.
"Kenapa aku tidak yakin, ya?"
Raymond menghela napas. "Kamu sahabatnya. Tanyalah padanya, Cyn."
Tapi kemudian ia mencondongkan tubuh ke depan. Sikunya bertumpu di meja, wajahnya mendekat ke wajah Cynthia. Matanya menatap mata sepupunya lekat, serius.
"Jika ini terjadi pada dirimu," suaranya turun menjadi bisikan, "apa kamu akan melakukan hal yang sama? Melihat suaminya bercinta dengan wanita lain tepat di depan matamu?"
Cynthia tidak mundur. Matanya bertemu dengan mata Raymond.
"Tentu saja tidak." Suaranya tegas. "Itu gila. Aku bisa saja mengamuk."
Raymond menyandarkan punggungnya ke kursi lagi. Ia tersenyum, senyum yang mirip dengan senyum Cynthia tadi, tipis, getir, tidak sampai ke mana-mana.
"Ya." Ia mengangguk pelan. "Itulah temanmu. Dia gila."
Cynthia terdiam sejenak. Jari-jarinya bermain dengan penutup tas di pangkuannya, buka-tutup, buka-tutup, suara kecil yang mengganggu di ruangan yang sunyi.
"Tapi, Ray." Suaranya pelan sekarang. Tidak lagi tegas seperti pengacara, tapi lebih seperti seorang teman yang mencoba memahami. "Dia punya trauma masa lalu. Dia tidak bisa melupakannya. Trauma itu terus mengganggunya hingga akhirnya dia nekat melakukan itu."
Raymond menatap Cynthia. Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara. Hanya detak jam dinding yang terus berdetak, mengingatkan mereka bahwa waktu tidak pernah berhenti, bahkan untuk orang yang sedang hancur.
"Aku tahu, Cyn." Suaranya pelan, lelah. "Aku tahu. Ide bodoh itu lahir dari trauma sialannya."
Ia menunduk, menatap tangannya yang terkepal di atas meja. Di ujung matanya, ada bayangan, bukan Sherry kali ini. Tapi Ivana, istrinya, yang menangis di pangkuannya malam pertama mereka menikah, bercerita tentang masa lalu yang kelam, tentang tangan-tangan yang tidak seharusnya menyentuhnya, tentang luka yang tidak kunjung sembuh meski sudah bertahun-tahun.
Ia mencintai Ivana. Ia benci apa yang Ivana lakukan pada mereka berdua. Tapi ia tidak bisa membenci Ivana.
Dan itu yang paling menyakitkan.
Cynthia berdiri. Kursinya bergeser ke belakang. Ia merapikan roknya, dan berjalan ke pintu. Di ambang pintu, ia berhenti.
"Ray."
Raymond mengangkat kepala.
"Jaga hatimu." Cynthia tidak menoleh. "Karena aku tidak yakin Ivana bisa."
Pintu tertutup di belakangnya. Suara tumitnya berdetak menjauh, lalu menghilang.
Raymond duduk sendirian di ruangan besar itu. Di atas meja, berkas-berkas masih berantakan, pena masih tergeletak di lantai. Ia menatap semuanya tanpa melihat.
Dan di kepalanya, dua bayangan terus muncul secara bergantian, Ivana dengan air mata di malam pertama pernikahan mereka, dan Sherry dengan rambut basah di atas seprai putih dan tubuh polosnya.
Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan.
Mungkin keduanya.
***
Ivana berhenti di anak tangga terakhir. Tangannya masih memegang pegangan kayu yang dingin, tumitnya masih setengah menggantung di udara, tapi matanya sudah tertambat pada satu sosok di ruang utama.
Sherry.
Gadis itu berjalan di antara meja-meja dengan nampan di tangan, menuju meja nomor empat yang baru saja didatangi dua pelanggan baru. Gerakannya cepat, efisien, seperti biasa. Tapi ada sesuatu yang berbeda.
Ivana mengamati dari kejauhan. Matanya mengikuti setiap gerakan Sherry, cara ia meletakkan gelas, cara ia menulis pesanan, cara ia berbalik dan berjalan kembali ke kitchen.
Saat Sherry hendak menuju pintu kitchen, ia berpapasan dengan Ivana. Jarak mereka hanya satu langkah. Sherry menunduk, cepat, dalam, seperti membungkuk pada bangsawan, tanpa menghentikan langkahnya, dan terus berjalan melewati Ivana. Pintu kitchen terbuka dan tertutup di belakangnya.
Ivana hanya tersenyum.
Ia ingat pagi ini tidak menemukan Sherry di kamar tamu. Pelayan yang membersihkan kamar tamu melaporkan bahwa gadis itu sudah pergi sebelum sarapan, tanpa pamit, tanpa pesan.
Dia pasti malu, pikir Ivana. Tapi dia akan terbiasa.
Ia melangkah keluar dari cafe, memberi isyarat pada Berta yang berdiri di dekat konter. "Handle cafe, Berta. Aku pulang."
Berta mengangguk.
Di kitchen, Sherry meletakkan nampan kosong di rak cucian. Tangannya sedikit gemetar. Ia bisa merasakan tatapan Ivana di punggungnya saat ia berjalan tadi, tajam, hangat, aneh. Seperti belaian yang tidak ia inginkan.
"Sherry."
Suara di sampingnya membuatnya tersentak. Berta berdiri di sana, sedekat yang tidak ia sadari, dengan wajah datar khasnya.
"Ya?" Suara Sherry keluar lebih tinggi dari biasanya.
"Nyonya Mueller bilang, kamu boleh ambil makanan yang masih layak untuk dibawa pulang setelah habis shift." Berta berbicara seperti mesin, tanpa jeda, tanpa ekspresi. "Tidak perlu makanan sisa. Dan kamu harus bekerja sesuai shift."
Sherry mengerjap. Ia tidak mengerti. Makanan layak? Bukan sisa? Itu berarti ... makanan yang masih bisa dijual? Makanan yang masih segar?
"Oh?" Hanya itu yang bisa ia ucapkan.
Sam mendekati mereka dari belakang. Tangannya menyentuh pundak Sherry, bukan dengan mesra, tapi dengan sokongan seorang senior yang peduli pada bawahannya.
"Itu bagus sekali, Berta." Sam menatap Sherry dengan senyum tipis. "Kurasa Sherry kurang istirahat jika terus-terusan mengambil jatah dua shift. Sekarang dia bisa pulang lebih cepat."
Berta mengalihkan tatapannya ke Sam. "Sam, kamu harus pantau dia. Jika tidak, Nyonya Mueller akan marah."
Sam mengangguk cepat. "Tentu saja, Miss Vardes."
Berta berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Sherry dan Sam di kitchen yang mulai sepi karena sore mulai berganti malam.
Sherry menatap punggung Berta yang menjauh. Di kepalanya, pertanyaan yang sama terus berputar, Kenapa? Kenapa dia memberiku ini?
Tapi ia tidak bertanya. Karena takut jawabannya akan membawanya kembali ke malam itu.
Di Rumah Mueller
Sore itu, Ivana tiba di rumah dengan langkah ringan. Cahaya matahari sore menyinari halaman depan, membuat rumput hijau terlihat seperti permadani emas. Dari kejauhan, ia sudah mendengar suara tawa kecil.
"Mommy!"
Anna berlari kecil menyambutnya, rambut kepangnya bergoyang-goyang, gaun biru mudanya berkibar ditiup angin sore. Ivana membungkuk, mencium pipi putrinya yang gembul, dua kali, tiga kali, sampai Anna tertawa cekikikan.
"Mom, tadi aku menggambar kucing!"
"Kucing? Warnanya apa?"
"Oranye! Besar!"
Ivana menggandeng tangan kecil itu, merasakan hangatnya jari-jari mungil yang melingkar di tangannya. Mereka berjalan masuk ke dalam rumah bersama, melewati lorong yang dingin, menuju ruang keluarga di mana buku gambar dan krayon masih bertebaran di karpet.
Tapi kehangatan itu tidak bertahan lama.
Pintu depan terbuka. Langkah kaki berat memasuki ruang tamu.
Raymond pulang.
"Dad-dy!" Anna melepaskan tangan Ivana dan berlari ke arah ayahnya. Raymond membungkuk, mengangkat putrinya tinggi-tinggi, membuat Anna tertawa keras. Ia mencium pipi Anna, lalu menurunkan gadis kecil itu pelan.
Keluarga kecil yang sangat bahagia. Ayah, ibu, dan anak. Rumah besar, halaman luas, semua kebutuhan terpenuhi.
Tapi tidak ada yang tahu bahwa di dalam rumah mewah ini, di antara senyum dan tawa, ada luka yang sedang menganga.
Suasana makan malam terasa hangat. Anna duduk di kursi tingginya di antara Raymond dan Ivana, sesekali menyuap brokoli ke mulutnya dengan ekspresi tidak suka yang membuat Raymond tertawa. Ivana memotong steak untuk suaminya, meletakkannya di piring Raymond dengan senyum yang terasa begitu alami.
Mereka berbicara tentang hari Anna di sekolah. Tentang gambar kucing oranye. Tentang teman Anna yang bernama Shasa. Tentang segala hal yang aman dan tidak menyakitkan.
Usai makan, Ivana menemani Anna tidur. Ia membacakan dongeng sambil membelai rambut halus putrinya. Matanya mengawasi wajah Anna yang mulai sayu, kelopak mata yang mulai berat.
"Mommy," bisik Anna, setengah sadar. "Aku sayang Mommy dan Daddy."
Ivana mencium keningnya. "Mommy juga sayang Anna."
Setelah Anna benar-benar terlelap, Ivana memberi isyarat pada Denise yang sudah menunggu di pintu. Pengasuh itu melangkah masuk, duduk di kursi di samping ranjang, mengambil alih tugas menjaga.
Ivana melangkah keluar. Di lorong, ia melepas jepit rambutnya, membiarkan rambutnya tergerai ke bahu.
Di kamar utama, lampu sudah redup. Ivana membersihkan diri, mengganti pakaiannya dengan gaun tidur tipis berwarna merah marun, bahan sutra yang jatuh lembut di bahu dan berakhir di pangkal paha. Di cermin, ia melihat bayangan seorang wanita yang tahu persis apa yang ia inginkan.
Raymond masuk beberapa menit kemudian. Dasinya sudah dilepas, kemeja atas terbuka, rambutnya sedikit berantakan.
Mereka berjalan saling menghampiri. Jarak menyusut. Lengan Raymond melingkar di pinggang Ivana. Tangan Ivana naik ke d**a Raymond.
Bibir mereka bertemu.
Ciuman itu hangat, basah, familiar. Lidah mereka bermain seperti tarian yang sudah beratus kali dipraktikkan. Raymond menekan Ivana ke tubuhnya, dan untuk sesaat, ia hampir melupakan segalanya.
"Apa kamu lelah?" bisik Ivana di antara ciuman. Tangannya membelai d**a bidang suaminya, d**a yang semalam ia lihat telanjang di atas tubuh wanita lain.
"Tidak." Napas Raymond mulai memburu. "Kenapa?"
"Bagaimana di kantor?" Ivana bertanya lagi, matanya menatap Raymond dari bawah bulu matanya.
Raymond mengangkat bahu sedikit. "Seperti biasa. Sibuk dan ... melelahkan."
Ivana tersenyum. Ia meraih tengkuk Raymond, menariknya ke bawah, dan menciumnya lagi, lebih dalam, lebih lama, lebih penuh tuntutan kali ini.
Raymond membalas. Tangannya meremas pinggang Ivana, menariknya mendekat, lalu memindahkan mereka ke ranjang.
Seprai putih yang dingin menyentuh punggung Ivana. Raymond di atasnya, membuka menarik gaun tidurnya hingga lepas, mencium setiap inci kulit yang terbuka. Mulutnya turun ke leher, ke tulang selangka, ke dadanya.
"Oh, Ray ...." Jari-jari Ivana mencengkeram rambut Raymond saat mulut suaminya menghisap putingnya. Kepalanya menengadah ke belakang, matanya terpejam, bibirnya terbuka.
Mereka bercinta malam itu. Cepat. Tanpa banyak kata. Seperti orang yang sedang berlari dari sesuatu, atau seperti orang yang mencoba melupakan sesuatu.
Setelah puncak tercapai, mereka berbaring bersebelahan. Napas mereka tersengal-sengal, d**a mereka naik turun, keringat membasahi seprai di bawah mereka.
Ivana bergerak, mencium pipi Raymond. Tangannya membelai d**a suaminya yang basah oleh keringat, merasakan detak jantung yang masih berdebar kencang di balik tulang rusuk.
"Kamu selalu luar biasa, Sayang." Suaranya lembut, penuh pujian.
Raymond hanya bergumam. Matanya terpejam. Tenggorokannya bergerak, menelan ludah, atau mungkin menelan sesuatu yang lain.
Ivana mengangkat kepalanya. Siku kanannya bertumpu di ranjang, menopang berat tubuhnya. Matanya menatap wajah suaminya, wajah yang teduh, yang sulit ia baca malam ini.
"Aku yakin kamu bisa merasakan bedanya saat kamu bercinta dengan Sherry."
Raymond membuka matanya.
Tatapan mereka bertemu. Ruangan yang tadi hangat kini terasa dingin. Atau mungkin hanya perasaan Ivana.
"Benar, kan?" desaknya.
Raymond menatap istrinya. Di matanya, ada sesuatu yang bergerak, sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan, meskipun ia sudah berusaha.
"Ya."
Satu kata. Tapi kata itu cukup untuk membuat Ivana merasakan dadanya berdebar. Bukan cemburu. Bukan sakit hati. Tapi sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih gelap, lebih berbahaya.
Ia bisa merasakan debaran jantung Raymond di bawah telapak tangannya. Kencang. Cepat. Tidak seperti debaran jantung pria yang baru saja bercinta dengan istrinya sendiri.
Dia memikirkannya. Dia menginginkannya lagi.
Ivana tersenyum. Senyum yang sama seperti yang ia lihat di cermin pagi ini, saat ia memikirkan malam itu.
"Apa kamu menginginkan dia lagi?" tanyanya. Suaranya hati-hati, seperti orang yang berjalan di atas kaca.
Raymond tidak menjawab.
Matanya kembali terpejam. Tangannya yang semula memeluk Ivana kini jatuh lemas di samping tubuhnya. Ia membuang napas panjang, begitu panjang hingga Ivana bisa merasakan dadanya mengempis di bawah telapak tangannya.
Ivana tidak menunggu lebih lama. Jarinya naik ke d**a Raymond, menggambar lingkaran kecil di kulit yang masih basah.
"Jika kamu mau, aku bisa mengurusnya."
Kalimat itu keluar begitu saja. Ringan. Seperti menawarkan secangkir kopi. Seperti membicarakan cuaca.
Raymond masih diam. Tapi di bawah telapak tangan Ivana, jantungnya berdebar lebih kencang.
Lalu, dengan mata yang masih terpejam, Raymond menghela napas lagi. Tangannya yang lemas di samping tubuh kini mengepal, hanya sebentar, lalu melemas lagi.
"Ya. Lakukan."
Dua kata. Suaranya pelan, nyaris tak terdengar. Tapi di ruangan yang sunyi itu, kata-kata itu terdengar seperti guntur.
Ivana tersenyum.
Ia mencium d**a Raymond sekali lagi, lalu merebahkan kepalanya di bahu suaminya. Matanya menatap langit-langit kamar yang tinggi, lampu gantung yang berkedip pelan.
Satu kali saja, katanya dulu.
Tapi sekarang, satu kali tidak akan cukup. Tidak untuk Raymond. Tidak untuk dirinya sendiri. Tidak untuk hasrat aneh yang mulai menggerogoti mereka berdua seperti api yang membakar dari dalam.