15. Tuduhan Itu Datang

2409 Words
Sherry mengangkat gelas terakhir dari rak pengering, meletakkannya di atas meja, lalu jarinya berhenti. Ada yang mengganjal di tengkuknya, bukan nyeri, bukan pegal. Tapi sensasi aneh seperti ada mata yang menatap dari belakang. Ia menoleh perlahan. Teddy duduk di sofa tua ruang tamu, di tempat yang sama pria itu tidur. Posisinya tidak berubah, tubuhnya yang sedikit berisi bersandar di sandaran yang sudah robek, satu kaki disilangkan di atas lutut, tangan kiri menggantung lemas di samping. Tapi matanya. Matanya terbuka lebar, menatap ke arah dapur. Ke arah Sherry. Sherry mengerjap. Ini aneh. Biasanya di jam segini, ayahnya masih tertidur pulas dengan dengkuran keras yang menggema di seluruh rumah. Kadang ia terbangun saat Sherry hendak berangkat kerja, itupun hanya untuk meminta kopi atau uang rokok. Tapi pagi ini, Teddy sudah terjaga sejak Sherry mulai menyiapkan sarapan. Dan sejak itu, matanya tidak berhenti mengawasi. Mengawasi. Bukan sekadar melihat. Ada kata lain yang lebih tepat, tapi Sherry tidak mau memikirkannya. David menoleh. Mengikuti arah pandang Sherry, matanya tertumbuk pada sosok ayah mereka yang duduk di ruang tamu. Rahang pemuda itu mengeras. Sendok di tangannya berhenti bergerak. "Jangan dilihat, Kak." Suaranya pelan, tapi ada nada yang mengeras. Ia kembali menoleh pada Sherry. "Jangan layanin." Sherry tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala pelan, lalu kembali ke meja makan, mengambil piring kotornya, dan berjalan ke dapur. Tapi ia bisa merasakan tatapan itu masih menempel di punggungnya. Setelah sarapan, David dan Aleta bersiap berangkat ke sekolah. Aleta memasukkan buku-buku ke dalam tas, David mengikat tali sepatunya di teras. Suasana pagi yang biasanya riuh dengan tawa Aleta dan omelan David kini terasa lebih hening. Teddy bergerak dari sofa. Ia berjalan ke meja makan. Ia duduk di kursi yang baru saja ditinggalkan Aleta, mengambil sisa roti lapis di piring, dan mulai mengunyah perlahan. David berdiri di pintu, tas sudah tersampir di bahu. Aleta sudah di sampingnya. Tapi David tidak bergerak. "Aku akan berangkat nanti." Suaranya tegas. Sherry menoleh. "Kenapa?" Aleta ikut menatap kakak laki-lakinya, bingung. David menatap ke arah ayahnya sekilas, lalu kembali ke Sherry. "Aku khawatir padamu, Kak." Suaranya turun, hanya cukup untuk didengar berdua. "Lihat sendiri, ayah seperti tidak biasanya." Sherry menatap adik laki-lakinya. Di wajah David yang masih belia, ia melihat sesuatu yang berat, beban yang seharusnya tidak dipikul anak seusianya. Ia menepuk pundak David pelan, tangannya berusaha terlihat tegas meskipun jari-jarinya sedikit gemetar. "Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja, Dave." Ia tersenyum, senyum yang ia harap meyakinkan. "Sekarang berangkat sekolah. Aku tidak mau kalian terlambat." "Tapi, Kak—" "Aku janji akan menjaga diri." David terdiam. Matanya menatap Sherry lama, mencari-cari keraguan di wajah kakaknya, mencari-cari alasan untuk tidak pergi. Tapi Sherry sudah memasang ekspresi terbaiknya, wajah tenang yang tidak menunjukkan apa pun. Akhirnya David menghela napas panjang. "Baiklah." Suaranya berat. "Kami berangkat, Kak." Aleta melambaikan tangan kecilnya. "Dah, Kak Sherry!" Sherry berdiri di teras, memandangi kedua adiknya berjalan bersisian di jalan kompleks yang masih sepi. David berjalan di samping Aleta, sesekali menoleh ke belakang, menatap Sherry, menatap rumah, menatap ayah mereka yang mungkin masih duduk di meja makan. Dua sosok itu berjalan semakin jauh. Semakin kecil. Hingga akhirnya menghilang di tikungan. Sherry membuang napas panjang. Udara pagi yang segar masuk ke paru-parunya, tapi tidak cukup untuk menenangkan detak jantungnya yang mulai tidak karuan. Ia menoleh ke dalam rumah. Dari teras, ia bisa melihat meja makan yang masih berantakan, piring kotor Aleta, gelas bekas s**u David, sisa roti yang diambil Teddy. Dan di balik dinding dapur, ia bisa mendengar suara samar. Ia harus masuk. Harus membereskan rumah. Harus mencuci piring. Harus melakukan rutinitas pagi seperti biasa. Tapi kakinya terasa berat, seperti tertanam di tanah. Jangan paranoid, bisiknya pada diri sendiri. Dia ayahmu. Bukan orang asing. Tapi bukankah ayah yang baik tidak akan mendorong istrinya hingga patah tulang ekor? Bukankah ayah yang baik tidak akan menghabiskan uang untuk judi dan minuman? Bukankah ayah yang baik tidak akan memandang putrinya dengan mata seperti itu? Sherry menggigit bibirnya. Jika dia melakukan sesuatu, pikirnya, menggenggam tangannya sendiri, aku akan membalasnya. Aku tidak akan diam. Aku akan— Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan. Tapi ia harus percaya bahwa ia bisa. Ia melangkah masuk. Meja makan masih berantakan, tapi Teddy tidak ada di sana. Hanya piring kotor dan gelas bekas kopi yang tersisa, mengotori taplak meja plastik yang sudah pudar warnanya. Dari balik dinding, terdengar suara air mengucur dari toilet sebelah dapur. Sherry menghela napas lega, lega karena tidak harus bertatap muka dengan ayahnya dulu. Ia bergegas mengambil piring dan gelas kotor itu, membawanya ke wastafel, dan menyalakan keran. Ia mencuci piring dengan cepat. Tangannya bergerak otomatis, menggosok, membilas, meniriskan. Tapi pikirannya tidak di sini. Pikirannya melayang ke David, ke Aleta, ke kata-kata David yang masih terngiang: "Lihat sendiri, ayah seperti tidak biasanya." Pintu toilet terbuka dengan bunyi derit. Teddy keluar, mengusap-usap tangannya ke celana panjang lusuh yang ia kenakan, aneh, biasanya ayahnya tidak berganti pakaian sampai siang. Hari ini ia sudah memakai celana panjang dan kemeja lengan panjang meskipun kusut. Seperti ada acara. Atau seperti ada niat. Sherry hanya meliriknya sekilas. Tapi Teddy tidak pergi. Ia bersandar pada meja dapur, tepat di sebelah rak piring, tepat di jalur yang harus Sherry lewati jika ia hendak keluar dari dapur. Tangannya bersilang di d**a, satu kaki menyilang di depan yang lain, dan matanya masih menatap Sherry. "Kamu masih bekerja sebagai pelayan di cafe itu?" Suaranya terdengar lebih jernih dari biasanya. Tidak serak. Tidak terganggu oleh sisa alkohol tadi malam. Sherry meneguk ludah. Matanya tetap pada piring terakhir yang ia gosok. "Ya." "Jam berapa kamu pulang malam ini?" Piring terakhir. Sherry membilasnya, meletakkannya di rak pengering, dan mengambil lap untuk mengelap tangannya. Gerakannya ia buat sibuk, ia buat lambat, agar tidak harus menjawab terlalu cepat. Tapi Teddy menunggu. "Sherry." Suaranya naik sedikit. "Ayah bertanya padamu." Sherry meletakkan lap. Ia masih membelakangi ayahnya, matanya tertuju pada wastafel kosong, pada tetesan air yang masih menetes dari keran. Setiap tetes terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur. "Untuk apa ayah tanya?" Suaranya keluar lebih dingin dari yang ia duga. "Kenapa tidak boleh?" Teddy terdengar santai, tapi ada nada lain di baliknya, nada yang membuat Sherry merinding. "Kamu tinggal katakan saja jam berapa kamu pulang. Apa susahnya?" Sherry memejamkan mata sejenak. Jari-jarinya menggenggam tepi wastafel. "Jam sebelas." Ia berbalik, berusaha melewati ayahnya untuk keluar dari dapur. Tapi Teddy tidak bergerak. Tubuhnya masih bersandar di meja, kakinya masih menyilang, menghalangi setengah jalan. "Itu cukup larut." Teddy mengangguk pelan, seperti sedang menghitung sesuatu di kepalanya. "Kamu bekerja sangat keras, Sherry." Sherry tidak menjawab. Ia hanya berdiri di hadapan ayahnya, berjarak satu lengan, menunggu pria itu bergerak, menunggu celah untuk lewat. "Bagaimana kalau kamu berhenti kerja?" Teddy tersenyum. Senyum yang tidak pernah ia tunjukkan pada anak-anaknya. Senyum yang seharusnya hangat, tapi terasa memuakkan. "Dan kita bisa kerjasama?" Sherry menatap ayahnya. Matanya mencari-cari lelucon di balik kata-kata itu. Tapi tidak ada. Wajah Teddy tampak serius dengan cara yang salah, serius dengan cara yang membuat perut Sherry mual. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia melangkah. Kakinya berjalan cepat, melewati Teddy yang masih bersandar di meja dapur, melewati ruang tamu dengan sofa tua yang kusam, hingga akhirnya ia sampai di depan pintu kamarnya. Ia masuk. Menutup pintu. Memutar kunci. Suara anak kunci yang terkunci terdengar begitu keras di telinganya. Ia bersandar pada pintu, punggungnya menekan kayu tipis yang lapuk. Dadanya naik turun cepat. Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia bisa merasakannya di pelipis, di leher, di ujung jari. Ia menutup matanya. Dia ayahku. Dia tidak akan— Tapi ia tidak bisa menyelesaikan kalimat itu. Karena ia tidak yakin. Karena ia tidak percaya. Karena tatapan Teddy tadi pagi, tatapan yang sama seperti tatapan Raymond malam itu, tatapan seorang pria yang melihat seorang wanita, bukan tatapan seorang ayah pada putrinya. Sherry menggigil. Ia meluncur perlahan, punggungnya masih menempel di pintu, hingga ia akhirnya duduk di lantai semen yang dingin. Tangannya memeluk lututnya, menariknya ke d**a, mengecilkan tubuhnya menjadi bola sekecil mungkin. Di luar kamar, ia bisa mendengar langkah kaki, pelan, berat, berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Lalu berhenti. Hening. Lalu langkah kaki itu menjauh. Menuju ke pintu depan. Pintu terbuka. Tertutup. Teddy pergi. Sherry masih duduk di lantai, memeluk lututnya, menahan napas yang terasa terlalu berat untuk dihirup. Ia harus keluar dari sini. Harus pergi ke cafe. Harus bekerja. Harus melakukan sesuatu yang normal. Tapi kakinya belum bisa bergerak. Tubuhnya belum siap. Dan di kepalanya, satu pertanyaan terus berputar tanpa jawaban, Apa yang ayahku rencanakan? Ia tidak tahu. Tapi ia takut untuk mengetahuinya. *** Berta berdiri di sudut ruangan, ponsel di tangan, matanya tidak berkedip mengamati Sherry yang sibuk merapikan meja-meja. Gadis itu bergerak cepat, mengangkat piring-piring kotor, menyusunnya di nampan, menyeka tumpahan kopi dengan kain lap, lalu berjalan ke kitchen dengan langkah efisien. Tidak ada gerakan yang terbuang. Tidak ada kesempatan untuk mencari-cari kesalahan. Berta menggigit bibirnya. Dia sudah setengah jam berdiri di sini, mengamati, menunggu celah. Tapi Sherry seperti dinding bata, rapi, tertutup, tidak ada yang bisa disusupi. Ivana menunggu di lantai dua, mungkin di balik Venetian blind, mungkin sedang mengamati dari balik kaca. Berta bisa merasakan tekanan itu di pundaknya, meskipun bosnya tidak terlihat. Kenapa dia tidak langsung memecat saja? pikir Berta. Sherry sudah melanggar aturan, double shift, makanan sisa. Itu cukup untuk pemecatan. Tapi Ivana tidak menginginkan itu. Ivana menginginkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang Berta tidak sepenuhnya mengerti, tapi cukup tahu untuk tidak bertanya. Matanya beralih ke sudut lain ruangan. Nova sedang duduk di kursi dekat konter, ponsel di tangan, scrolling tanpa tujuan. Wajahnya terlihat bosan, tapi sesekali matanya melirik ke arah Sherry dengan ekspresi yang tidak ramah. Berta tersenyum tipis. Ide. Jam menunjukkan pukul enam sore. Cafe mulai ramai, suara mesin kopi, suara gelas berdenting, suara tawa pelanggan yang baru saja tiba setelah seharian bekerja. Pelayan keluar masuk kitchen seperti semut yang membawa makanan ke sarangnya. Sherry mengantar pesanan ke meja nomor tujuh, berbalik, dan hampir menabrak Sam yang berdiri di belakangnya. "Sherry, kamu bisa ambil jam istirahatmu lebih dulu." Sam menunjuk ke arah ruang belakang dengan ibu jarinya. Sherry mengangguk. "Baik." Ia meletakkan nampan kosong di atas meja stainless, berjalan ke belakang menuju ruang ganti, dan duduk di kursi plastik dekat loker. Dari dalam tasnya, ia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil, roti isi cokelat yang ia beli tadi pagi di supermarket. Ia menggigitnya pelan, mengunyah tanpa rasa, pikirannya melayang ke tempat lain. Ayah. Tatapannya. Pertanyaannya. "Jam berapa kamu pulang malam ini?" "Bagaimana kalau kamu berhenti kerja dan kita kerjasama?" Ia menggigit rotinya lebih keras, seperti bisa melumat kenangan itu bersama cokelat di mulutnya. "Sherry, tolong bantu di depan." Sherry tersentak. Berta berdiri di ambang pintu, wajah datarnya tidak terbaca. Sherry tidak tahu sejak kapan wanita itu ada di sana, atau apakah ia melihat lamunan Sherry. "Iya, Miss Vardes." Sherry bangkit, merapikan celemeknya, dan berjalan keluar meninggalkan sisa roti yang masih setengah. Pukul Sembilan Malam Lampu-lampu cafe diredupkan sedikit, menciptakan suasana yang lebih santai. Pengunjung mulai berkurang, beberapa meja sudah kosong, hanya menyisakan pelanggan yang menikmati kopi terakhir mereka sambil mengobrol pelan atau scrolling ponsel. Sherry berdiri di dekat konter bersama Sam dan kepala koki. Percakapan mereka ringan, yang diselingi dengan tawa pelan. Tapi dari sudut matanya, ia melihat Ivana turun dari lantai dua. Wanita itu melangkah pelan, gaun sutranya jatuh lembut di tubuhnya, tas tangan kecil tergantung di lengan. Biasanya, Ivana sudah pulang jam lima sore. Tapi malam ini, ia masih di sini. Sherry menelan ludah. Ia memalingkan wajah, berpura-pura mendengarkan cerita Sam tentang kucingnya yang hilang dua hari lalu. Lalu suara itu pecah. "Ada yang mencuri ponselku!" Semua orang menoleh. Nova berdiri di dekat pintu ruang ganti, wajahnya merah padam, mata melotot ke segala arah. Tangannya yang kanan masih memegang tas terbuka, tangan kirinya menggenggam kosong, seperti baru saja menyadari ada sesuatu yang hilang. "Ponselku hilang!" teriaknya lagi, lebih keras. Suasana cafe yang tadinya santai berubah tegang. Beberapa pelanggan menoleh, ada yang berbisik, ada yang berhenti makan dan mulai mengamati. Ivana, yang baru saja hendak melangkah keluar, berhenti di tengah jalan. Alisnya naik. Ia berbalik, melangkah mendekati kerumunan kecil yang mulai terbentuk di dekat ruang ganti. "Apa yang terjadi?" suaranya tenang, tapi jelas. Semua orang langsung terdiam. Nova menunjuk-nunjuk ke arah loker. "Ponsel saya hilang, Nyonya. Saya simpan di loker sebelum shift, sekarang tidak ada!" Sam melangkah maju, mencoba menenangkan. "Siapa pencurinya? Apa ada bukti kalau ponselmu dicuri? Jangan-jangan kamu lupa di tempat lain." "Tidak mungkin!" Nova membanting tasnya ke meja. "Aku ingat persis aku taruh di loker. Dan tidak ada orang lain yang boleh buka loker selain pemiliknya!" Sherry diam di tempatnya. Jari-jarinya dingin. "Sekarang," Nova menatap Sam, matanya menyipit, "coba panggil nomorku. Mungkin setelah itu kita tahu di mana ponselku berada." Sam menghela napas, tapi ia mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor Nova. Semua orang diam. Suara panggilan keluar dari speaker. Tidak ada suara dering dari mana pun. Nova mendengus. "Tuh kan! Sudah dimatikan!" "Atau mungkin baterainya habis," coba Sherry pelan. Nova menatapnya tajam. "Baterainya masih penuh sebelum shift, Sherry. Aku baru charge tadi siang." Keheningan kembali menyelimuti ruangan. "Bisa kita cek loker masing-masing?" Nova melontarkan usul. Matanya menyapu semua orang, Sam, Sherry, dua pelayan lain, bahkan Berta. "Aku yakin pencurinya masih ada di sini. Belum sempat kabur." Ivana mengangguk pelan. Dia melirik ke arah Berta, hanya sekilas, tapi cukup. Berta mengangguk balik, lalu melangkah maju. "Biar saya periksa." Suaranya datar, tidak memihak. "Jika ada yang mengambil ponsel rekan kerjanya, akan mendapatkan sanksi. Bisa saja dikeluarkan dari pekerjaan." Sherry merasakan dadanya berdebar. Ia tidak mengambil ponsel siapa pun. Ia yakin itu. Tapi kenapa jantungnya berdetak seperti orang bersalah? Berta mulai memeriksa loker satu per satu. Loker pertama, milik Sam. Hanya berisi kaus dan celemek. Tidak ada ponsel. Loker kedua, milik Cloe, pelayan shift malam. Berisi jaket dan bungkusan plastik berisi makanan. Tidak ada ponsel. Loker ketiga, kosong. Loker keempat, milik Nova. Berta mengangkat bahu, tidak perlu diperiksa. Loker kelima. Berta membuka pintu loker itu, berhenti sejenak, lalu tangannya masuk ke dalam. Ketika keluar, di tangannya ada sebuah ponsel, ponsel merah muda dengan casing berkilauan bertabur berlian imitasi. "Loker nomor lima." Suara Berta masih datar, tapi matanya kini tertuju pada satu orang. "Loker milik siapa?" Semua orang menoleh. Sherry merasakan semua tatapan itu, tajam, menusuk, seperti ribuan jarum yang menusuk kulitnya. Wajahnya memucat. Tangannya yang tadi dingin kini gemetar. "Itu ..." Suaranya serak. "Itu loker saya." "Dasar pencuri!" Nova langsung berteriak, jari telunjuknya menunjuk ke arah Sherry. "Aku tahu kamu iri padaku! Tapi mencuri? Dasar rendah!" "Aku tidak—" Sherry mencoba bicara, tapi suaranya tertelan oleh suara lain. "Sudah, jangan cari alasan!" Nova terus berteriak. "Biar Nyonya Mueller yang memutuskan!" "Aku bukan pencuri," ucapnya lirih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD