16. Pilihan Tak Terduga

2160 Words

David berdiri di ambang pintu kamarnya, satu tangan memegang gagang, satu tangan lagi tergantung kaku di samping tubuh. Matanya tidak berkedip, menatap dua sosok yang duduk di ruang tamu, ayahnya, dan seorang pria asing yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Pria itu duduk di sofa tua yang biasanya hanya ditempati Teddy. Posturnya sedikit lebih tegap, pakaiannya lebih rapi, kemeja lengan panjang berwarna abu-abu meskipun kusut di beberapa bagian, rambut disisir rapi, dan yang paling mencolok, ia tidak bau alkohol seperti ayahnya. Atau setidaknya, tidak sebanyak ayahnya. Teddy mengeluarkan botol bir dingin dari kantong plastik transparan, meletakkannya di atas meja kayu yang tergores-gores. Botol-botol itu berjejer, empat, lima, enam. Uap air mengembun di permukaan kaca, menetes kecil di

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD