Sherry hampir tersandung di anak tangga terakhir. Kakinya bergerak lebih cepat dari pikirannya, terburu-buru, seperti ada magnet yang menariknya ke bawah. Jantungnya berdebar bukan karena takut pada Ivana atau tuduhan pencurian, tapi karena dua sosok kecil yang berdiri di dekat pintu kaca cafe, di bawah lampu yang masih menyala temaram.
David. Aleta.
Wajah mereka panik. David berdiri sedikit di depan Aleta, seperti perisai, satu tangannya memegang pergelangan adiknya erat-erat. Aleta di belakangnya, hanya setengah wajah yang terlihat, mata besar itu basah dan merah.
"Kak." David memanggil begitu Sherry cukup dekat.
Sherry bergegas menghampiri, kedua tangannya langsung meraih bahu David, lalu beralih ke pipi Aleta yang dingin terkena angin malam. Matanya memindai wajah mereka bergantian, mencari luka, mencari memar, mencari tanda-tanda kekerasan.
"Kenapa kalian ke sini?" Suaranya meninggi, tidak bisa disembunyikan. Nada khawatir yang begitu sangat kentara.
David menatap Sherry. Matanya yang biasanya penuh dengan kebanggaan remaja yang tidak mau kalah, kini tampak gelisah. Ia menoleh ke arah pintu kaca, ke arah jalan gelap di luar, lalu kembali ke Sherry.
"Kak, jangan pulang sekarang."
Sherry mengerjap. "Kenapa tidak boleh pulang?" Ia mencondongkan tubuh, mencoba membaca wajah adik laki-lakinya. "Apa yang sebenarnya terjadi di rumah?"
David membuka mulut, tapi kata-katanya tertahan. Matanya yang sedari tadi berusaha tegar kini beralih ke sesuatu di belakang Sherry.
Sherry menoleh.
Ivana dan Berta sedang menuruni anak tangga terakhir. Langkah mereka pelan, anggun, tidak terburu-buru. Ivana berjalan di depan, Berta di belakang, seperti dua bayangan yang bergerak seirama.
Sherry kembali menatap David. Tangannya menyentuh lengan adiknya, lembut, tapi tegas. "Ayo kita pulang. Aku ingin lihat apa yang terjadi di rumah."
Tapi David menarik tangannya. Bukan melepaskan, tapi menahan.
"Jangan, Kak!" Suaranya lebih keras kali ini, hampir memerintah. "Pokoknya jangan pulang ke rumah malam ini."
"Apa yang terjadi?" Suara Ivana masuk ke dalam percakapan mereka, lembut tapi penuh rasa ingin tahu. Ia berdiri tidak jauh dari mereka, tangan bersilang di depan d**a, kepala sedikit miring.
Sherry tidak menoleh. Matanya masih pada David, tapi rahangnya mengeras.
"Maaf, Nyonya. Tolong jangan ikut campur dalam masalah keluarga saya."
"Lihat adikmu, Sherry." Ivana tidak bergeming. Suaranya masih lembut, tapi ada nada yang tidak bisa diabaikan. "Mereka tampak sangat khawatir. Pasti ada sesuatu yang tidak beres."
Sherry menatap David. David menatap balik. Lalu, pelan, kepalanya mengangguk.
Sherry merasakan kepalanya berdenyut. Sakit. Seperti ada palu kecil yang memukul dari dalam pelipisnya. Satu masalah belum selesai, tuduhan pencurian, ancaman pemecatan, tawaran jahat Ivana yang masih belum dia iyakan, dan kini masalah baru datang. Masalah yang entah apa, yang membuat kedua adiknya menyusul ke cafe di malam hari, yang membuat David melarangnya pulang.
Ia memejamkan mata sejenak. Mencoba menarik napas. Mencoba menenangkan pikirannya yang berantakan.
Tapi Ivana tidak memberinya waktu.
Wanita itu melangkah mendekati David. Langkahnya pelan, tidak mengancam, tapi tetap membuat Sherry waspada. Ivana berdiri di hadapan pemuda kurus tinggi itu, menunduk sedikit karena David hampir sama tinggi dengannya, dan tersenyum.
"Apa yang terjadi di rumah?" Suaranya lembut. Lembut seperti seorang ibu yang berbicara pada anak kecil. "Siapa namamu, Nak?"
David menatap Ivana. Ada keraguan di matanya, ia tidak tahu wanita ini, tidak tahu apakah bisa dipercaya atau tidak. Tapi sesuatu di wajah Ivana, mungkin kelembutannya, mungkin cara ia berdiri tanpa menghakimi, membuat David menjawab.
"David." Ia menunjuk ke samping. "Dan ini Aleta, adik bungsu kami."
Ivana tersenyum tipis. Matanya beralih ke Aleta sebentar, lalu kembali ke David.
"Aku Ivana. Bos kakak kalian." Ia berhenti, seperti sedang mempertimbangkan kata-kata berikutnya. "Kami baru saja—"
"Nyonya." Sherry memotong. Suaranya tegang, hampir memohon. "Tolong jangan katakan apa pun pada adik saya. Tolong."
Ivana menoleh. Matanya bertemu dengan mata Sherry. Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara. Hanya tatapan yang saling menusuk, dua wanita yang sama-sama tidak mau kalah.
Lalu Ivana tersenyum lagi. Tapi senyum kali ini berbeda, bukan senyum lembut untuk David, tapi senyum licik yang hanya ditujukan pada Sherry.
"Kalau begitu, bagaimana dengan tawaran aku, Sherry?"
Udara di cafe itu berubah. Menjadi dingin, menjadi tegang, menjadi penuh dengan sesuatu yang tidak terlihat tapi bisa dirasakan oleh semua orang di ruangan itu.
David menatap Sherry. Aleta menatap Sherry. Berta, yang berdiri di belakang Ivana, menatap Sherry.
Sherry terdiam. Wajahnya yang tadi pucat kini memerah, bukan karena malu, tapi karena amarah yang tertahan. Jari-jarinya mengepal di samping paha. Dia benar-benar terjepit sekarang.
Pilihan lagi. Selalu pilihan. Dan setiap pilihan selalu mengarah ke satu tempat yang sama.
Ia sudah memilih dipecat. Tapi Ivana tidak menerima itu. Ivana akan terus menekan, terus menjebak, terus memanfaatkan setiap kelemahannya, termasuk ketakutan di wajah David dan Aleta malam ini.
Sebuah sorot lampu menyapu kaca depan cafe. Semua orang menoleh ke luar.
Mobil hitam itu berhenti tepat di depan pintu masuk. Mesinnya mati, lampu depan padam, dan pintu pengemudi terbuka. Seorang pria keluar, jaket abu-abu, rambut disisir rapi meskipun sudah malam, langkah panjang yang tegas.
Raymond.
Ia berdiri di luar sejenak, menatap ke dalam cafe melalui kaca, matanya bergerak dari Ivana ke Sherry ke dua anak di samping Sherry, lalu kembali ke Ivana. Wajahnya tidak terbaca, tidak marah, tidak terkejut. Tapi ada sesuatu di rahangnya yang mengeras, di cara ia menggenggam kunci mobil di tangannya.
Raymond melangkah masuk. Pintu kaca berderit pelan.
"Ada apa, Iv?" Suaranya datar, tidak tinggi, tapi cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu terdiam. Matanya beralih ke Sherry, lalu ke David dan Aleta. "Ini sudah larut malam. Kenapa masih di sini?"
Ivana tersenyum, senyum yang tidak bisa Sherry artikan. Senyum yang terlihat seperti kemenangan, tapi juga seperti kegelisahan.
"Ada sedikit masalah, Sayang," ucap Ivana pelan. "Tapi aku sedang mengurusnya."
Raymond menatap istrinya. Lalu matanya beralih ke Sherry. Gadis itu berdiri di samping kedua adiknya, tangannya melingkar di bahu Aleta, wajahnya pucat dan tegang.
Sherry menarik napas. Dadanya terasa sesak, tapi ia harus mengambil keputusan. Ia tidak bisa berdiri di sini selamanya, di antara dua dunia yang sama-sama ingin menghancurkannya.
"Kita pulang, Dave." Suaranya pelan, tapi tegas. Ia meraih tangan David.
Tapi David melepaskan. Cepat. Keras. Seperti tangan Sherry adalah bara api.
"Jangan pulang ke rumah, Kak!" Suaranya meninggi, hampir berteriak. Matanya yang tadinya gelisah kini membara, bukan marah pada Sherry, tapi takut. Takut yang begitu dalam hingga berubah menjadi kemarahan.
"Kenapa?" Sherry menatap adiknya, bingung. "Kalau kita tidak pulang, kita mau tidur di mana? Di pinggir jalan?"
David membuka mulut, tapi kata-katanya tertahan. Ia mengepalkan tangannya, berusaha mengendalikan emosi yang menggebu-gebu.
Raymond masih berdiri di dekat pintu, bersandar pada dinding dengan tangan bersilang di d**a. Wajahnya tidak terbaca. Matanya bergerak dari satu orang ke orang lain, mengamati, tidak ikut campur. Belum.
Tapi Ivana tidak bisa diam.
Wanita itu melangkah mendekati David, tidak terlalu dekat, cukup jauh untuk tidak mengancam, tapi cukup dekat untuk menunjukkan bahwa ia peduli. Matanya lembut, suaranya lembut, seperti seorang ibu yang berbicara pada anaknya sendiri.
"Bisa beritahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah, David?" Ivana mengabaikan larangan Sherry tadi. "Mengapa kamu ngotot sekali melarang kakakmu pulang?"
Sherry menatap Ivana sekilas, tajam, penuh peringatan. Tapi ia tidak bisa menyuruh wanita itu pergi. Bukan di tempat ini. Bukan setelah semua yang terjadi.
Matanya kembali ke David. Bergetar.
David menunduk sebentar. Bahunya naik turun, seperti sedang mengumpulkan keberanian. Lalu ia mengangkat wajahnya.
"Ayah membawa temannya ke rumah." Suaranya pelan, tapi jelas. "Ini tidak biasanya. Ayah tidak pernah bawa orang pulang. Tapi aku tahu—" ia berhenti, menelan ludah, "aku tahu apa yang akan mereka lakukan."
Ia menatap Sherry lurus-lurus.
"Karena ayah terus bertanya kapan kamu pulang, Kak." Suaranya hampir pecah, tapi ia menahannya. "Aku tahu pasti ayah sudah menyiapkan rencana buruk padamu. Bersama temannya."
Kedua tangan Raymond, yang semula bersilang santai di d**a, kini mengepal di sisi tubuhnya. Buku-buku jarinya memutih. Wajahnya masih tidak terbaca, tapi ada urat tipis yang berdenyut di pelipisnya.
Ivana menoleh ke arah suaminya. Tatapan mereka bertemu, hanya sebentar, tapi cukup. Matanya berkata, "Kau dengar itu?" Raymond tidak menjawab, tapi rahangnya mengeras.
Sherry merasakan tubuhnya bergetar. Bukan kedinginan. Tapi getaran yang berasal dari dalam, dari dadanya yang terasa seperti diremas-remas oleh tangan tak terlihat. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga ia bisa mendengarnya di telinga, di ujung jari yang dingin.
Itu sebabnya. Pikirannya berputar cepat, mengingat-ingat. Pagi tadi. Tatapan ayahnya. Bukan tatapan heran. Bukan tatapan kagum. Tapi tatapan seorang pria yang sedang menghitung. Menimbang. Merencanakan.
"Jam berapa kamu pulang malam ini?"
"Bagaimana kalau kamu berhenti kerja dan kita kerjasama?"
Sherry merasakan mual menjalar dari perutnya ke tenggorokannya. Ia ingin muntah. Ingin berteriak. Ingin berlari sekencang-kencangnya dan tidak pernah kembali.
Tapi kakinya tidak bergerak.
"Itu mengerikan, David." Suara Ivana lembut, penuh simpati. Matanya beralih pada Sherry, melihat gadis itu yang tampak hancur, wajah pucat, mata kosong, bibir gemetar. "Keputusanmu sudah benar. Datang ke sini, menyelamatkan kakakmu."
Ia berhenti. Menatap Sherry.
"Kalau kalian mau, kalian bisa bermalam di rumahku."
Sherry menatap Ivana. Tatapan yang penuh dengan kekalahan. Ia tahu apa yang ada di balik tawaran itu. Bukan kebaikan hati. Bukan belas kasih. Tapi jerat lain, jerat yang lebih halus, lebih elegan, tapi sama mematikannya.
Tapi aku tidak punya pilihan, pikirnya. Aku tidak bisa membawa David dan Aleta pulang ke rumah yang sama dengan ayah dan temannya. Aku tidak bisa.
"Kak." Suara David memecah lamunannya. "Kak Sherry."
Sherry mengerjap. Menatap adiknya.
"Kita pulang saja." Suaranya keluar lebih tegas dari yang ia rasakan. "Aku akan hadapi ayah."
"Kak—"
"Sherry, jangan sok jadi pemberani!" Suara Ivana lantang, memotong. Matanya menatap Sherry dengan tajam, bukan marah, tapi frustrasi. Seperti orang yang melihat orang lain berjalan menuju jurang dan tidak bisa berbuat apa-apa.
"Aku tahu apa yang Anda inginkan!" Sherry membalas, suaranya naik setingkat. Matanya menatap Ivana dengan penuh tuduhan yang tidak bisa diucapkan di depan David dan Aleta, tapi cukup jelas untuk membuat Ivana terdiam sejenak.
"Tapi lihat adikmu!" Ivana menunjuk ke arah Aleta yang masih gemetar, ke David yang berdiri tegang. "Lihat wajah mereka! Mereka ketakutan, Sherry!"
"Anda jangan ikut campur!" Sherry hampir berteriak sekarang. "Biar aku yang menyelesaikan masalah kami!"
Ivana membuka mulut, hendak membalas. Tapi sebelum kata-kata keluar, sebuah tangan menyentuh pundaknya, pelan, tapi tegas.
Raymond.
Ia tidak bicara. Tidak menatap Ivana dengan marah. Tapi sentuhannya sudah cukup. Diam. Biar aku.
Ivana menutup mulutnya. Mundur selangkah.
Raymond melangkah maju. Matanya beralih dari Sherry ke David ke Aleta, lalu kembali ke Sherry.
"Biar aku antar kalian pulang."
Sherry terkejut. David dan Aleta juga. Mereka menatap Raymond, pria asing yang tiba-tiba menawarkan bantuan, tanpa syarat yang jelas.
"Aku akan memastikan kalian baik-baik saja." Suara Raymond tenang, tidak tinggi, tidak rendah. "Jika ayah kalian melakukan sesuatu yang buruk, aku akan panggil polisi. Aku akan pastikan dia ditahan."
Sherry menatap Raymond. Pria yang sama yang beberapa malam lalu berada di atas tubuhnya. Pria yang sama yang tangannya pernah menjelajahi setiap inci tubuhnya. Tapi sekarang, di bawah lampu cafe yang redup, dengan kedua adiknya di sampingnya, Sherry tidak melihat monster. Ia hanya melihat seorang pria dengan mata lelah dan rahang mengeras, yang mungkin, untuk pertama kalinya malam itu, melakukan sesuatu tanpa pamrih.
Atau mungkin ia hanya terlalu lelah untuk berpikir jernih.
"Kak." David menoleh pada Sherry. "Ayo, pulang."
Sherry tidak menjawab. Ia hanya berbalik, berjalan ke kitchen dengan langkah berat. Di ruang ganti, ia mengambil tasnya dari loker, tas tua yang sudah menemani nya selama tiga tahun bekerja di sini. Jari-jarinya menyentuh gantungan loker sebentar, seperti berpamitan pada sesuatu yang tidak akan kembali.
Lalu ia kembali ke depan.
David dan Aleta masih berdiri di tempat yang sama. Ivana dan Raymond sudah bergeser ke sudut ruangan, berbisik-bisik. Suara mereka tidak terdengar, tapi gerak tubuh Raymond, tangan yang menangkup, kepala yang menggeleng pelan, menunjukkan bahwa mereka sedang bertengkar. Atau setidaknya, tidak sepakat.
Saat Sherry sudah berdiri di samping David dan Aleta, Raymond dan Ivana menghampiri. Wajah Ivana sedikit merah, mungkin karena emosi. Wajah Raymond masih sama, datar, tidak terbaca.
"Ayo, ke mobil." Raymond sudah berbalik, berjalan ke pintu.
Ivana mengikutinya, masuk ke kursi penumpang depan.
Sherry membuka pintu belakang, mempersilakan Aleta masuk lebih dulu, lalu David, lalu ia sendiri duduk di sisi lain. Pintu mobil tertutup dengan bunyi yang berat.
Dari balik kaca, Sherry melihat Berta berdiri di depan cafe. Wanita itu mengunci pintu kaca dengan gembok besar, lalu menarik pintu rolling ke bawah. Bunyi besi bergesekan terdengar samar dari dalam mobil, suara yang menandakan bahwa hari ini benar-benar sudah berakhir.
Mesin mobil menyala. Lampu depan menyorot jalan gelap di depan.
Sherry menatap ke luar jendela, ke cafe yang semakin kecil di kejauhan, ke papan nama Petals & Pour yang lampunya mulai padam satu per satu.
Ia tidak tahu apakah besok ia masih akan kembali ke sini.
Tapi malam ini, ia tidak punya pilihan selain mengikuti pria di kursi depan, pria yang semalam menghancurkannya, dan sekarang, mungkin, berusaha menyelamatkannya.
Atau mungkin hanya membawanya ke lubang yang lain.
Mobil melaju perlahan meninggalkan cafe, menuju rumah yang tidak ingin ia datangi, menuju ayah yang tidak pantas disebut ayah, menuju malam yang masih panjang dan penuh ketidakpastian.
Di kursi belakang, Aleta memejamkan mata, kepalanya bersandar di bahu Sherry. David duduk tegang, matanya menatap lurus ke depan, sesekali melirik ke arah Raymond dengan tatapan tidak percaya.
Sherry memeluk Aleta lebih erat.
Di kepalanya, satu pertanyaan terus berputar tanpa henti,
Setelah malam ini, akankah ada yang kembali seperti semula?
Atau mungkin, tidak ada yang pernah kembali.