Matahari belum sepenuhnya naik ketika Sherry membuka mata. Biasanya, pagi hari adalah saat paling berat, ketika tubuhnya masih lelah, ketika selimut tipis terasa begitu hangat, ia harus memaksa dirinya bangun untuk menghadapi hari yang sama seperti kemarin. Tapi pagi ini berbeda. Ia bangun dengan jantung berdebar. Bukan karena semangat. Tapi karena ketidakpastian yang menggantung di kepalanya seperti kabut tebal, tidak bisa ia usir, tidak bisa ia lihat jelas. Sherry mengusap wajahnya, berdiri, dan melangkah ke dapur. Di dalam tas yang tersimpan rapat di bawah ranjang, amplop coklat itu masih utuh. Ia sudah menghitung isinya tiga kali semalam. Cukup untuk tiga bulan kebutuhan, jika ia hemat. Cukup untuk sepatu baru Aleta yang sepatunya sudah kekecilan. Cukup untuk membayar sisa utang pen

