7. Sempurna

1437 Words
Sherry duduk di kursi putar menghadap cermin besar. Di sekelilingnya, tiga wanita dengan seragam putih sibuk menyiapkan alat-alat yang tidak ia kenal. Rambutnya sudah terurai, karet hitam yang mengikatnya seharian penuh akhirnya dilepas. Ia menatap bayangannya di cermin. Wajahnya pucat, matanya sayu, lingkaran hitam di bawah mata terlihat jelas di bawah lampu terang. Di sampingnya, di kursi lain, tergeletak jubah putih lembut yang harus ia kenakan. "Kamu beruntung," kata salah satu wanita sambil membuka botol berisi cairan berwarna krem. "Nyonya Mueller sangat jarang membawa orang ke sini. Apalagi sampai meminta perawatan lengkap." Sherry tidak menjawab. Ia menatap tangannya di pangkuan, tangannya yang kasar, dengan kuku pendek yang tidak pernah sempat ia rawat. Ia teringat amplop coklat di bawah ranjang. Uang yang sudah ia terima sebelum melakukan apa pun. "Kamu bisa ambil sekarang. Aku akan memberimu lagi saat pekerjaannya selesai." Ia menggenggam tangannya sendiri. Dingin. "Apa ini menyakitkan?" tanyanya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh suara mixer di belakang. Wanita itu tertawa kecil. "Sama sekali tidak. Santai saja. Nanti kamu akan mendapati dirimu dengan versi yang berbeda, cantik dan memukau." Sherry menatap cermin lagi. Melihat bayangannya yang lusuh, yang lelah, yang tidak pernah cukup tidur. Itik buruk rupa. Ia menggigit bibirnya. Di kepalanya, pertanyaan yang sama berputar lagi dan lagi. Pekerjaan apa yang menungguku setelah ini? Tapi ia tidak bertanya. Ia hanya duduk diam, membiarkan tangan-tangan asing menyentuh wajahnya, membiarkan mereka mengubah dirinya menjadi sesuatu yang tidak ia kenal. ~.~ Setelah melakukan perawatan rambut, wajah, dan pijat, kini dia dibawa ke sebuah ruangan khusus. Ia tidak pernah membayangkan bahwa ada bak mandi sebesar ini, lebih seperti kolam kecil daripada bak mandi biasa. Permukaannya berbuih lembut, warna putih s**u dengan kelopak-kelopak bunga mawar merah dan putih yang mengapung di permukaan. Wangi s**u dan bunga memenuhi ruangan, lembut, menenangkan, seperti mimpi yang tidak pernah ia miliki. "Turun perlahan, ya. Biarkan tubuhmu terendam semua." Petugas salon itu, seorang wanita muda dengan rambut disanggul rapi dan senyum yang selalu tersungging, membantunya duduk di pinggiran bathtub sejenak. Air s**u itu hangat, menghangatkan kakinya yang dingin, merambat naik ke betis, ke lutut. "Lepas ini," kata wanita itu, jari-jarinya sudah meraih ujung jubah mandi putih yang membalut tubuh Sherry. Sherry menahan. Tangannya mencengkeram kerah jubah, menariknya erat ke d**a. Wajahnya terasa panas meski ruangan ber-AC dingin. "Jangan," ucapnya terbata. "Saya malu." Wanita itu tersenyum. Bukan senyum mengejek, tapi senyum yang sudah terbiasa dengan kegugupan klien-kliennya. "Jangan sungkan. Ini biasa dilakukan saat treatment. Tidak ada yang aneh. Ayo, tubuhmu akan terasa segar setelah ini." Sherry menggigit bibir. Ia tahu ia tidak punya pilihan. Lagipula, ia sudah sampai sejauh ini. Ia sudah membiarkan mereka memotong rambutnya, melulur wajahnya dengan berbagai cairan yang baunya asing, memijat tangannya hingga terasa ringan seperti kapas. Ia melepaskan jubahnya. Udara dingin menyentuh kulitnya. Tubuhnya terekspos untuk sesaat, kulitnya yang tidak pernah mendapat perawatan, bekas luka kecil di lutut karena jatuh saat kecil, tangan yang kasar karena pekerjaan. Ia buru-buru melangkah masuk ke dalam bathtub, membenamkan tubuhnya hingga air s**u itu menutupi bahunya. Kelopak-kelopak bunga menempel di lengannya, di dadanya, mengambang di sekelilingnya. Ia duduk diam, merasakan kehangatan merambat masuk ke pori-pori, melelehkan ketegangan yang selama tiga tahun ia kumpulkan di pundak. Ia memejamkan mata. Air s**u itu hangat. Wangi bunganya lembut. Tangannya kini tergeletak santai di tepi bathtub, direndam dalam air yang terasa seperti kemewahan murni. Ia hampir lupa di mana ia berada. Hampir lupa mengapa ia ada di sini. Hampir. Tapi di sudut pikirannya yang paling gelap, pertanyaan itu masih berbisik. Pekerjaan apa yang menunggunya setelah ini? Ia membuka mata. Melihat kelopak bunga mawar mengambang di sekitar dadanya. Di dinding seberang, cermin besar memantulkan bayangan wajah yang mulai berubah, rambut yang sudah tidak kusut, kulit yang mulai bersih. Ia seakan tidak mengenali dirinya. Beberapa jam kemudian setelah melewati berbagai macam perawatan kini Sherry berdiri di tengah ruangan yang diterangi lampu-lampu lembut. Kakinya sedikit gemetar di atas sepatu hak tinggi yang baru pertama kali ia kenakan. Gaun yang membalut tubuhnya terasa asing, kainnya lembut, terlalu lembut, seperti belaian yang tidak biasa ia terima. Ia sudah menjalani semuanya. Perawatan rambut, perawatan wajah, lulur, masker, pijat, hingga detail terkecil yang tidak pernah ia pikirkan. Kuku-kukunya kini dihias indah dengan warna merah muda lembut, mengilap di ujung-ujung jarinya. Seorang pegawai salon berlutut di hadapannya, merapikan ujung gaun yang jatuh di mata kakinya. "Sempurna," gumam wanita itu, lalu berdiri dan mundur selangkah. Sherry berdiri di depan cermin besar, tapi cermin itu masih tertutup kain putih. Ia hanya melihat bayangan samarnya di kain itu, siluet yang tidak ia kenal. Rambutnya yang dulu diikat asal kini tergerai lembut, bergelombang di pundak. Tubuhnya yang dulu tersembunyi di balik seragam kafe kini terbungkus gaun yang jatuh indah mengikuti lekuk tubuhnya. "Pejamkan matamu," bisik pegawai salon di belakangnya. Sherry menurut. Ia memejamkan mata. Jantungnya berdetak cepat. Ia mendengar gesekan kain tirai yang ditarik. Langkah kaki pelan menjauh. Lalu keheningan. "Sekarang buka." Suara itu bukan dari pegawai salon. Suara yang lebih familiar. Suara Ivana. Sherry membuka matanya. Kain putih itu sudah tidak ada. Di depannya, cermin besar memantulkan seorang wanita yang tidak ia kenal. Rambutnya jatuh lembut dalam gelombang teratur, wajahnya bersih tanpa lingkaran hitam, kulitnya terlihat halus dan bercahaya. Gaun berwarna krem muda membalut tubuhnya dengan sempurna, mengikuti lekuk pinggang, jatuh indah di paha, berakhir tepat di atas lutut. Sepatu hak tinggi berwarna senada membuat kakinya tampak lebih panjang, lebih ramping. Sherry menatap bayangan itu. Bayangan itu menatap balik. Siapa ini? Ia menggerakkan tangannya. Bayangan itu menggerakkan tangan yang sama, dengan kuku-kuku indah berwarna merah muda. Ia mengedip. Bayangan itu mengedip balik. Ini dirinya. Tapi bukan dirinya yang ia kenal. Ia tidak cantik. Ia tahu itu. Tapi sekarang, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat sesuatu di wajah itu, sesuatu yang tidak pernah ia sadari sebelumnya. Mungkin kecantikan. Atau setidaknya, bayangan tentangnya. Di belakangnya, di cermin, ia melihat dua sosok wanita duduk di sofa. Ivana Mueller dengan mata yang sedikit membelalak, bibir yang setengah terbuka. Dan di sampingnya, seorang wanita lain yang tidak ia kenal, berpakaian elegan, rambut pendek bergaya, dengan ekspresi yang lebih rumit. Ivana menatap gadis di depannya. Rambutnya yang dulu kusut dan diikat asal kini bergelombang lembut di pundak. Wajahnya yang dulu pucat dan lelah kini bersih dan berseri. Kulitnya yang dulu kusam kini tampak halus, bercahaya. Dan gaun itu gaun yang dipilih tim Alexa, jatuh sempurna di tubuhnya, mengubah seorang pelayan yang lelah menjadi sesuatu yang ... memukau. Dia hampir tidak mengenali Sherry. "Dia sangat menawan," gumam Ivana, suaranya nyaris tanpa sadar keluar. Matanya tidak berkedip. "Ray pasti akan menyukainya." Di sampingnya, Cynthia mendekat. Wajahnya serius, tidak ikut terpukau seperti Ivana. Ia mencondongkan tubuh, bibirnya mendekati telinga Ivana, suaranya turun menjadi bisikan yang hanya bisa didengar berdua. "Dan kamu harus bersiap untuk segala sesuatunya, Iv." Ivana menoleh. Menatap sahabatnya. Ada sesuatu di mata Cynthia seperti peringatan, atau mungkin kekhawatiran yang membuat senyum di bibir Ivana sedikit memudar. Ia kembali menatap Sherry. Gadis itu masih berdiri di depan cermin, menatap bayangannya sendiri dengan ekspresi yang sulit diartikan. Bukan kebanggaan. Bukan kebahagiaan. Tapi semacam kebingungan, seperti orang yang tersesat dan tidak tahu bagaimana ia bisa sampai di sana. Ivana berdiri. Ia berjalan mendekat, tumitnya berdetak di lantai marmer. Di belakangnya, Cynthia tetap duduk, memegang gelasnya, menatap punggung sahabatnya dengan mata yang tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran. "Sempurna," kata Ivana, berdiri di samping Sherry, menatap bayangan mereka berdua di cermin. Dua wanita, satu kaya dan anggun, satu lagi yang baru saja diubah menjadi sesuatu yang belum ia pahami. "Kamu sempurna, Sherry." Sherry menatap Ivana dari cermin. Matanya bertanya, pertanyaan yang sama yang sudah mengganggunya sejak amplop coklat itu masuk ke dalam tasnya. Tapi ia tidak bertanya. Ia hanya berdiri di sana, di atas sepatu yang membuat kakinya sakit, di dalam gaun yang terasa seperti kulit orang lain, menatap bayangan yang tidak ia kenal. "Apa ..." Sherry membuka mulut, suaranya keluar parau. "Apa saya sudah boleh tahu sekarang, Nyonya? Pekerjaan apa yang harus saya lakukan?" Ivana tersenyum. Tangan wanita itu terangkat, jari-jari halusnya menyentuh ujung rambut Sherry, merapikan satu helai yang jatuh ke pipi. Gerakannya lembut, hampir seperti seorang ibu pada anaknya. Tapi ada sesuatu di balik lembut itu yang membuat bulu kuduk Sherry berdiri. "Nanti malam," bisik Ivana. Matanya menatap Sherry di cermin, dan di balik senyumnya, ada sesuatu yang tidak bisa Sherry baca. "Kamu akan tahu nanti malam." Sherry menggenggam ujung gaunnya. Kain halus itu terasa dingin di jari-jarinya yang masih gemetar. Di cermin, ia melihat tiga orang, dirinya yang tidak ia kenal, Ivana yang tersenyum, dan di kejauhan, wanita lain yang duduk di sofa dengan tatapan yang tidak bisa ia artikan. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti malam. Tapi ia sudah terlalu jauh untuk mundur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD