Mobil melaju pelan di jalan beraspal halus, melewati gerbang besi hitam yang terbuka otomatis. Di balik gerbang itu, halaman luas terbentang dengan rumput hijau yang terawat sempurna, air mancur kecil di tengah, dan di ujung jalan setapak, sebuah rumah berdiri megah dengan arsitektur modern yang elegan.
Sherry menatap keluar, matanya tidak berkedip. Rumah ini lebih besar dari apa pun yang pernah ia lihat di kehidupan nyata. Dulu ia hanya melihat bangunan seperti ini di majalah-majalah yang tertinggal pelanggan di cafe, atau di ponsel murahnya saat ia menyelipkan waktu untuk bermimpi di antara dua shift kerja.
Kini ia berada di sini. Di dalam mobil mewah. Mengenakan gaun yang harganya mungkin setara dengan pendapatannya setahun. Menuju rumah yang bahkan tidak berani ia impikan.
Kenapa aku di sini?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya sejak mobil meninggalkan salon. Ivana tidak bicara banyak di perjalanan. Wanita itu hanya sesekali menatap ponselnya, tersenyum tipis membaca pesan masuk, lalu menyandarkan kepala di jok kulit yang empuk seolah perjalanan ini adalah hal paling biasa di dunia.
"Apakah ini rumah Anda, Nyonya?" Suara Sherry keluar lebih pelan dari bisikan.
Ivana menoleh. Ia tersenyum.
"Ya. Ayo, turun."
Ivana membuka pintu mobilnya sendiri, melangkah keluar dengan anggun seperti seseorang yang sudah ribuan kali melakukan hal yang sama. Sherry mengikuti, tapi kakinya terasa berat. Setiap langkah di atas rumput halus itu terasa seperti melangkah di dunia yang bukan miliknya.
Ia menatap bangunan di depannya. Dua lantai, dengan jendela-jendela besar dari lantai ke langit-langit, pintu utama dari kayu jati gelap dengan ukiran sederhana namun mahal. Lampu-lampu taman menyala lembut, menerangi jalan setapak menuju pintu. Di kejauhan, ia bisa melihat kolam renang berkilau di bawah sinar bulan.
Pikirannya kosong. Benar-benar kosong. Tidak ada satu pun skenario di kepalanya yang bisa menjelaskan mengapa bosnya mengajak seorang pelayan cafe ke rumah mewahnya pada malam hari, setelah menghabiskan satu hari penuh untuk mempercantiknya seperti boneka.
Tapi langkahnya terus berjalan. Kaki-kakinya bergerak sendiri, mengikuti Ivana yang melangkah dengan percaya diri di depannya.
Dia dibimbing ke ruang makan yang luas hingga gema langkah kaki Sherry terdengar di dinding-dinding tinggi. Meja panjang dari kayu gelap mampu menampung dua belas kursi, tapi malam ini hanya satu kursi yang ditarik untuknya. Seorang pelayan berseragam putih dengan gerakan terlatih menarik kursi, memberi isyarat pada Sherry untuk duduk.
"Silakan duduk, Nona."
Sherry duduk dengan kaku. Di atas meja, piring-piring berlapis emas terhampar rapi. Sendok dan garpu berderet di sisi kanan, serbet putih dilipat rumit di tengah piring. Beberapa menu sudah tersedia, sup krim dengan taburan peterseli, roti hangat dalam keranjang anyaman, sepiring pasta dengan saus yang masih mengepulkan uap tipis.
Ivana tidak duduk. Ia berdiri di sisi meja, menatap Sherry yang masih diam.
"Kamu pasti lapar." Suara Ivana lembut. "Tubuhmu terlalu kurus, Sherry. Kamu harus banyak makan."
Sherry menunduk, memperhatikan tubuhnya sendiri. Di bawah gaun mahal itu, tulang selangkanya masih terlihat menonjol, lengannya masih terlalu kurus untuk ukuran wanita seusianya. Ia tidak pernah cukup makan.
Tapi bukan itu masalahnya.
Ia mengangkat wajah, hendak bertanya. Tapi pelayan itu sudah berdiri di sampingnya, mengisi gelas dengan air mineral dari botol kaca, lalu mundur ke belakang dengan diam.
"Nyonya Mueller bilang Anda harus makan yang banyak, Nona." Pelayan itu tersenyum ramah, lalu melangkah mundur ke pintu, menghilang ke dapur.
Sherry menatap makanan di depannya. Aroma sup hangat menguar, menggelitik perutnya yang sejak tadi pagi hanya diisi setengah potong roti. Ia ragu. Tangannya menggenggam sendok, melepaskannya, menggenggam lagi.
Makan saja. Tidak ada salahnya makan.
Ia menyuap sup pertama ke mulutnya. Hangat. Gurih. Krimnya lembut di lidah. Rasa itu membuat matanya terasa panas, bukan karena sedih, tapi karena ia lupa kapan terakhir kali makan semewah ini.
Setelah piring sup habis, ia beralih ke pasta. Setelah pasta, ia mengambil dua potong roti. Setelah kenyang, ia baru sadar bahwa Ivana sudah tidak ada di ruangan itu.
Pelayan itu muncul lagi. "Ikuti saya, Nona. Saya akan mengantarkan Anda ke ruang tamu."
Sherry berdiri. Kaki yang tadi terasa berat kini terasa ringan karena perut yang terisi. Tapi pikirannya masih kosong. Masih buntu. Masih berputar di pertanyaan yang sama.
Kenapa aku di sini? Apakah aku benar-benar akan diserahkan ke mucikari?
Kamar itu luas. Ranjang king size dengan seprai putih bersih dan bantal-bantal berderap rapi. Lemari besar di sudut, terbuat dari kayu dengan ukiran halus. Di dekat jendela, satu sofa empuk untuk bersantai. Tirai dari kain tebal setengah tertutup, memperlihatkan taman belakang yang diterangi lampu-lampu taman.
Sherry berdiri di tengah, tidak tahu harus duduk atau berdiri atau lari.
"Nyonya Mueller akan segera menemui Anda, Nona." Pelayan itu berbalik hendak pergi.
"S—sebentar." Sherry menahan tangan wanita itu. Tangannya menggenggam pergelangan tangan pelayan dengan kekuatan yang tidak ia sadari. "Apa yang sebenarnya saya lakukan di sini?"
Pelayan itu mengernyit. Wajahnya menunjukkan kebingungan tulus. "Saya pikir Anda tamu Nyonya Mueller, Nona. Beliau jarang membawa tamu ke rumah. Apalagi sampai mempersiapkan kamar seperti ini."
Sherry menatapnya. Matanya memohon, meminta jawaban yang tidak dimiliki pelayan itu.
Pelayan itu tersenyum kecil, melepaskan genggamannya dengan lembut. "Maaf, Nona. Saya tidak tahu lebih banyak." Ia membungkuk, lalu keluar. Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi yang pelan.
Sherry berdiri di tempatnya. Dadanya naik turun cepat. Ia mulai memindai ruangan, setiap sudut, setiap benda. Ini bukan kamar tamu biasa. Ini kamar yang terlalu pribadi. Terlalu ... intim.
Ia berjalan ke jendela. Di luar, taman itu indah. Bunga-bunga bermekaran di bawah sinar bulan, air mancur kecil mengalirkan air jernih, bangku taman dari besi tempa terletak di bawah pohon rindang. Semua terlihat seperti lukisan.
Tapi ia tidak bisa menikmatinya. Perutnya yang kenyang kini terasa mual.
Pekerjaan apa yang menungguku di sini?
Pintu kamar terbuka.
Sherry menoleh cepat. Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia bisa mendengarnya di telinga.
Ivana melangkah masuk. Wanita itu sudah berganti pakaian, bukan gaun yang ia kenakan di salon, tapi pakaian rumah yang elegan, bahan sutra berwarna ungu tua yang jatuh lembut di tubuhnya. Rambutnya tergerai ke satu sisi. Di tangannya, tidak membawa apa pun.
Ia menutup pintu di belakangnya. Suaranya pelan, tapi bagi Sherry, bunyi itu seperti genta yang menandai sesuatu yang tidak bisa kembali.
Ivana berdiri di tengah ruangan. Jarak mereka sekitar tiga meter. Ia menatap Sherry, gadis yang sudah ia ubah dari pelayan kumuh menjadi sesuatu yang indah. Dan di matanya, ada sesuatu yang rumit. Bukan kemenangan. Bukan kegembiraan. Tapi sesuatu yang lebih dalam, yang bahkan mungkin tidak bisa ia jelaskan pada dirinya sendiri.
"Aku yakin kamu sudah sangat penasaran." Suara Ivana tenang, terkendali. "Tentang pekerjaan khusus yang aku minta."
Sherry tidak menjawab. Ia hanya berdiri di dekat jendela, jari-jarinya mencengkeram ujung gaunnya yang halus. Dadanya naik turun tidak teratur. Tak bisa dipungkiri jika rasa penasarannya sudah hampir mencekik lehernya.
"Ya, Nyonya." Suaranya pecah di tengah kalimat. "Bisakah Anda memberi tahu saya sekarang?"
Ivana menarik napas. Ia melangkah ke salah satu sofa di dekat pintu, duduk perlahan, lalu menunjuk sofa di hadapannya. "Duduk."
Sherry tidak bergerak.
"Duduk, Sherry." Suara Ivana sedikit lebih tegas.
Sherry melangkah. Kakinya terasa seperti membawa beban satu ton. Ia duduk di sofa yang ditunjuk, di ujung ranjang, tepat berhadapan dengan Ivana. Jarak mereka cukup jauh satu atau dua meter, tapi Sherry merasa seolah ruangan ini terlalu sempit.
Ivana duduk dengan punggung tegak, kedua tangannya bertautan erat di pangkuan. Jari-jari wanita itu saling meremas, sesuatu yang tidak pernah Sherry lihat sebelumnya. Ivana Mueller selalu tenang, selalu terkendali. Tapi malam ini, di kamar tamu rumahnya sendiri, ia tampak ... gugup.
Mereka saling berhadapan dalam diam. Lampu samping meja menyala redup, menciptakan bayangan yang bergoyang pelan di dinding.
"Aku ingin kamu tidur dengan suamiku."
Kalimat itu keluar begitu saja. Tanpa basa-basi. Tanpa pembukaan. Jatuh di tengah ruangan seperti batu yang dijatuhkan ke kolam tenang.
Sherry tidak bergerak. Tidak berbicara. Tapi sepasang matanya terbelalak lebar, wajahnya berubah pucat dalam sekejap. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Seolah kata-kata itu telah membekukan seluruh sel dalam tubuhnya.
"Apa ..." Suaranya keluar parau, seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk. "Apa maksud Anda, Nyonya?"
Ivana menatapnya. Matanya tidak berkedip. "Ya. Kamu tidak salah dengar, Sherry. Aku ingin kamu bercinta dengan suamiku."
Sherry berdiri. Tubuhnya gemetar, bukan karena dingin, tapi karena sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang membuat dadanya terasa seperti akan meledak.
"Anda gila?!" Suaranya meninggi, pecah di ujung kalimat. Tangannya mengepal di sisi tubuh. "Anda ... Anda ...!"
Ia tidak bisa menemukan kata-kata. Pikirannya berputar terlalu cepat. Amplop coklat. Perawatan sehari penuh. Gaun mahal. Makan malam mewah. Semua itu mengerucut menjadi satu titik, satu pemahaman yang membuat perutnya mual.
Ia membeliku. Seperti barang. Seperti ....
"Sherry." Ivana berdiri. Suaranya masih tenang, tapi ada nada yang mengeras. "Ingat. Kamu tidak bisa mundur. Ingat apa yang sudah kita sepakati."
Sherry membeku. Kata-kata itu menusuk lebih tajam daripada kemarahan. Tidak bisa mundur.
Ia ingat amplop itu. Uang yang sudah ia terima. Yang sudah ia gunakan untuk membeli telur, untuk memberi uang saku lebih pada David dan Aleta, untuk membayar Bu Agnes. Uang yang sudah ia terima sebelum tahu apa yang harus ia lakukan.
Ia ingat kata-katanya sendiri di ruang kerja Ivana. "Ya, Nyonya. Saya setuju."
Ia tidak tahu. Ia sama sekali tidak tahu.
Tapi itu tidak akan menjadi alasan yang cukup. Tidak di dunia ini. Tidak untuk orang sekaya Ivana Mueller. Tidak untuk seorang pelayan cafe yang hidupnya tidak berarti apa-apa di mata hukum.
Sherry menggigil. Tangannya yang mengepal kini menggenggam ujung gaunnya, meremas kain halus itu hingga kusut. Matanya berkaca-kaca, tapi ia menahan air mata itu. Ia tidak mau menangis di sini. Tidak di depan wanita ini.
Ivana berdiri di hadapannya. Jarak mereka hanya beberapa langkah. Wanita itu membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu, mungkin permintaan maaf, mungkin alasan, mungkin ancaman lain. Tapi tidak ada yang keluar. Ia hanya berdiri di sana, menatap Sherry yang hancur di hadapannya, dengan tangan yang masih bertautan di depan tubuh, jari-jari yang saling meremas semakin erat.
Sherry menunduk. Rambutnya yang baru ditata indah jatuh menutupi wajahnya. Ia tidak ingin Ivana melihat matanya. Tidak ingin wanita itu melihat apa yang ada di sana, ketakutan, kemarahan, rasa malu yang membakar.
Ia hanya berdiri di tengah ruangan mewah itu, dengan gaun yang tidak pernah ia pilih, di rumah yang tidak pernah ia inginkan, menunggu sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan.
Pintu masih tertutup. Tidak ada jalan keluar. Dan, dia telah masuk ke dalam jebakan.