"Awan mendung bergulung, bagai ikut bersedih. Melihat diriku yang menderita. Derasnya air hujan, bagai air mataku. Yang menangis meratapi nasibku. Malangnya nasibku." *********************** "Duduklah, Aisha!" Aydin menarik kursi, dan mempersilakan wanita itu untuk duduk. Aisha mendudukkan tubuhnya. Ia masih gemetar, tak tahu apa yang harus dibicarakan pada sosok pria itu. Aydin beralih ke kursi lantas segera mendudukkan bokongnya. Posisi mereka saat ini saling berhadapan. Namun Aisha masih menghindari kontak mata dengannya. Seorang pelayan cafe datang dan menawari mereka beberapa menu. "Aisha, kau ingin pesan apa?" tanya Aydin. "Kau saja. Aku tidak perlu," jawabnya dingin. Aydin menatap pelayan cafe. "Buatkan kami dua coffee expresso!" Pelayan itu berjalan pergi setelah mengang

