Anyelir mau menyentuh leher suaminya, tapi Dirga langsung mundur satu langkah. “Mana sih, gak ada ah.”
“Ada kok.”
Soraya dan Dirga berdebar satu sama lain. Mata Anyelir masih menelisik tubuh Dirga, dilihatnya dari atas sampai bawah. Anyelir seperti memastikan sesuatu.
“Kok bau karbol ya! Kamu tumpahin lagi, Mas?”
Soraya dan Dirga bernafas lega. Dirga langsung menepuk dahinya. “Kesenggol, Sayang.”
“Kebiasaan deh kamu.”
Mereka bertiga duduk di meja makan. Kaki Dirga disenggol oleh Soraya. Dirga masih diam saja. Anyelir juga masih sibuk dengan kebab dan cemilannya. Kaki Soraya semakin naik ke atas paha Dirga. Anyelir dan Soraya duduk hadap-hadapan, dan Dirga berada di tengah sendirian.
Soraya tersenyum pada Anyelir. “Gimana kak, enak kan?”
“Iya enak.”
Kaki Soraya kini sudah masuk ke dalam celana kolor Dirga. Dirga tidak bisa menelan kebab, sampai terbatuk-batuk, gara-gara kaki Soraya sudah menyentuh bagian intimnya.
“Uhuk-uhuk.”
Soraya membiarkan Anyelir memberi minum pada Dirga. Sedangkan dia tetap minum red velvetnya dengan santai.
“Aduh Mas, kamu kenapa sih?”
“Keselek.”
Soraya menekan kakinya, itu membuat Dirga terbatuk lagi. Jari-jari kaki Soraya memutar di area situ, itu membuat Dirga semakin cemas.
“Kamu pulang aja deh, Soraya. Kita harus istirahat, karena lusa kan kita terbang.”
Anyelir menepuk bahu suaminya. “Mas!”
Soraya tersenyum kikuk. “Emm gak apa-apa kok, Kak. Benar juga kata Pak Dirga, kita harus istirahat, karena kita akan terbang selama satu minggu.”
Dirga sempat melongo mendengar Soraya bicara, tapi dia buru-buru mengendalikan ekspresinya. Padahal jadwalnya hanya terbang selama 18 jam.
“Hah? Lama sekali? Rutenya ke mana aja.” Anyelir menatap suaminya.
“Ke luar negeri Sayang,” jawab Dirga berbohong pada istrinya.
“Gitu ya.” Anyelir tampak sedih.
“Kalau gitu, aku balik dulu ya Kak Anyelir.”
“Iya deh, maafin Dirga ya. Dia memang suka begitu. Kamu yang betah ya kerja sama dia, jangan dimasukin ke hati kalau dia ceplas ceplos.” Anyelir menggenggam tangan Soraya di depan pintu.
Soraya mengangguk. “Pak Dirga selalu memberi arahan, meski sedikit mengomel. Itu justru buat junior kayak aku lebih mengerti. Terimakasih ya Kak, besok-besok kalau ada waktu aku ke sini lagi ya.”
“Tentu saja, pintu rumah ini selalu terbuka lebar buat kamu, Soraya.”
Anyelir menutup pintu gerbangnya setelah memastikan Soraya telah pergi. Anyelir masuk ke dalam, dia mendapati suaminya sedang packing koper di dalam kamar. Anyelir merasa bingung dengan jadwal terbang suaminya.
“Mas Dirga, kamu kok terbangnya lama banget satu minggu full.”
“Sebenarnya bukan full, tapi ada jeda beberapa hari di luar negeri, dan itu gak bisa langsung pulang ke Indonesia, harus nunggu jadwal lagi.”
Dirga sangat semangat mempacking baju-bajunya. Anyelir menyadari itu. “Kamu semangat banget Mas mau ninggalin aku.”
Dirga berhenti, dia mendekat pada istrinya. “Lalu bagaimana dong, harusnya kamu juga ikut seneng kalau aku dapat jam terbang banyak begini.”
“Iya tapi–” Anyelir kemudian menyadari sesuatu lagi di tubuh suaminya. “Apa ini, Mas?”
Mata Dirga langsung tertuju pada bekas lipstik yang menempel di kaosnya. “Eh gak tau apa ya ini.” Dirga pura-pura bodoh, dan mengusap-usap noda lipstik itu. “Aduh, kaos mahal-mahal malah kena noda saus.”
Dirga melirik istrinya sebentar memastikan ekspresi wanita itu. Dirga dengan cepat melepas kaosnya dan melemparnya ke tempat sampah.
Anyelir mau mengambil kaos Dirga, tapi pria itu menarik tangan istrinya. “Biarin aja, Sayang. Itu kotor.”
“Itu bukan noda saus, Mas. Aku mau lihat dulu.”
Dirga menelan salivanya, dia menarik tangan Anyelir keluar kamar. “Jalan-jalan yuk sebelum aku terbang.”
Anyelir mengernyitkan dahinya. Menyadari perubahan istrinya, Dirga mengendur. “Itu cuma noda, Sayang. Kenapa harus kamu pikirin. Aku gak mau pakai baju bekas saus begitu. Dicuci pun percuma, itu tetap akan membekas.”
“Itu bekas lipstik, Mas!” bentak Anyelir.
Dirga sangat terkejut mendengar bentakan istrinya. Pasalnya Anyelir tidak pernah bersuara tinggi padanya.
Anyelir masuk lagi ke dalam kamar, dia mengambil kaos yang tadi dibuang suaminya. Anyelir melihatnya dengan teliti, dia benar-benar yakin kalau itu adalah bekas noda lipstik.
“Aku gak punya lipstik warna merah begini, dan itu lehermu kenapa?” Tatapan Anyelir seperti ingin menikam suaminya. Bola mata sejernih air itu kini memerah perlahan.
“Bukan Sayang, itu bukan lipstik.”
Dirga mulai terpojok, dia mencoba membela diri. Jantungnya memompa lebih cepat dari biasanya, dia tidak pernah berada di situasi seperti ini.
“Ini lipstik! Dan itu di lehermu bekas cipok!”
Dirga terbelalak mendengar ucapan istrinya. Kedua lengan wanita berkulit putih itu digenggam erat oleh Dirga.
“Kamu ngomong apa sih, Yang. Itu bukan lipstik.”
Ini pertama kalinya Anyelir memberontak, dan menghempaskan tangan suaminya. “Dan kamu! Kamu bau pejuh!” teriak Anyelir tepat di depan wajah suaminya. “Di belakang pintu! Ada cairan lengket!”
Dirga berulang kali mencerna setiap ucapan yang dikatakan istrinya. Dirga ketahuan, dia benar-benar jatuh ke dalam jurang kali ini. Perselingkuhan yang ditutupi selama ini telah terungkap karena kebodohannya.
“Soraya kan?” Anyelir bertanya dengan nada rendah.
“Bukan Sayang, kamu salah sangka.” Wajah Dirga mulai panik, dia sangat cemas, takut kalau Anyelir meminta cerai padanya.
“Maafkan aku belum bisa kasih kamu anak, aku tau kamu ingin menghamili Soraya, kamu sangat menginginkan anak. Tidak apa-apa Mas.” Suara Anyelir kini melemah, tidak meledak seperti tadi. Justru itu membuat Dirga kalang kabut, dia semakin takut.
“Tidak seperti itu, Sayang. Aku mana punya pikiran kayak gitu ke kamu.” Dirga sangat mencintai Anyelir, tidak bisa dipungkiri, cintanya pada Anyelir itu sangat besar. Dia benar-benar sedang ketakutan sekarang, takut kehilangan sosok istri seperti Anyelir.
Anyelir merapikan baju-baju yang akan dibawa Dirga terbang selama seminggu. Dengan air mata yang terus berjatuhan, Anyelir menyiapkan segalanya dengan telaten. Hatinya sangat remuk, karena dia tau perselingkuhan itu terjadi di rumahnya sendiri.
Dirga menghentikan kegiatan Anyelir. Tetapi Anyelir tetap kaku, dia tetap merapikan koper dan tas suaminya.
“Nanti aku packing sendiri, Sayang. Aku gak ngapa-ngapain sama Soraya.” Dirga masih tetap membela dirinya.
“Aku bukan anak kecil, Mas. Aku bisa membedakan bau pejuh, dan cairan lengket wanita. Aku bisa membedakan mana lipstik, mana saus, dan juga bekas cipok itu.”
Jantung Dirga seperti akan meledak mendengar semua pernyataan istrinya.
“Sejak kapan?” tanya Anyelir. “Sejak kapan kamu dengan Soraya?”