"Evan," Silvia memanggil namanya dengan lembut. Evan berbalik. Kembang api meledak di atas kepala, memancarkan cahaya terang ke seluruh taman. Evan melirik ke arah tempat ia mengira melihat Miranti, tetapi Miranti sudah pergi. Dalam kerlip cahaya dan bayangan, Miranti telah menyelinap ke kerumunan. Berkedip, Evan mengamati area itu, raut wajahnya yang tajam menegang karena khawatir saat ia mencari tanda-tanda keberadaan Miranti. Silvia memperhatikan Evan melihat sekeliling dan ikut melirik, bingung. "Evan, apakah kau melihat seseorang yang kau kenal?" "Tidak," jawabnya datar. Tepat saat itu, seorang pedagang kaki lima datang membawa sekeranjang mawar, penampilannya terlatih dan ceria. "Pak, mawar-mawar ini segar malam ini. Mawar melambangkan kecantikan yang langka—kenapa tidak m

