Titisan Dajjal

2002 Words
Kehilangan kepercayaan dari orang-orang terdekat adalah hal paling sulit yang pernah Allegra hadapi. Setidaknya selama 17 tahun Allegra hidup di muka bumi. "Apaan sih lo? Kalau mau bohong kira-kira, Le." "Iya nih! Jujur aja kalau lo hack akunnya. Biarpun gue fans-nya gue nggak bakal marah kok!" "Tau ah Alle!" Tatapan tidak percaya dari teman-temannya itu bak hujan asam sulfur di Planet Venus yang tanpa sengaja menciprati bumi dan mengenai seluruh tubuh Allegra. Panas dan korosif. Melelehkan sel-sel di tubuh Allegra, mengubahnya jadi setitik debu tak berdaya. Allegra berdecih tidak suka. Begini ini yang repot dari 'menjawab-pertanyaan-orang', udah dijelasin panjang-panjang malah nggak percaya. Kan jadi menyia-nyiakan energi. "Gue serius ya, Oceandera-Oceandera itu tetangga gue! Dan gue sama sekali nggak ada niat buat hack akun itu, lagian selama ini gue nggak tau dia itu siapa. Kalian nggak percaya ih!" gerutu Allegra. Serius ya, semenjak kemunculan foto Allegra di akun i********: bule s****n itu, hidup Allegra jadi ribet banget. Mulai dari akun Line-nya penuh notifikasi-notifikasi yang semuanya nanyain tentang Oceandera sampai teman-temannya yang terus menginterogasi dan menjadikan Allegra layaknya tersangka. Udah dijelasin gini malah nggak percaya. Ribet banget nggak tuh? "Nggak, nggak, gue nggak percaya kalau Oceandera itu ngancam-ngancam lo. Someone who very innocent like him ... no! Nggak mungkin!" Endah menjentikkan jarinya. Diikuti angguk-anggukan dari Gendis, Bianda, dan bahkan si bijak Garnet. Innocent gundulmu, batin Allegra. Ini sebenarnya teman mereka itu Allegra atau Oceandera? Mereka bahkan nggak tau nama asli manusia itu. Dan lagi, mereka udah sama-sama Allegra hampir 2 tahun lho! Terus sekarang lebih percaya sama Oceandera? Gila. "Jadi temen kalian ini siapa ih? Gue atau Oceandera?" semprot Allegra kesal. Untung aja keadaan kelas sekarang sepi mamring. Cuma ada beberapa anak laki-laki yang nge-game di belakang kelas. "Iya ... lo sih," cicit Bianda. "Tapi ada benernya juga, kenapa kita lebih percaya sama orang asing daripada temen sendiri? Toh kalau dipikir lagi ya, Allegra itu nggak punya skill hacking. Skill stalking iya," jelas Endah. Yup, kalau soal stalking sih jangan ragu. Ngomong-ngomong tentang stalking, semalam Allegra mengupas tentang Oceandera. i********:, youtube, twitter, ask.fm. Semua platform sosial media Allegra kupas habis. Sampai-sampai jatah kuota Allegra yang harusnya habis besok malah habis kemarin. Entah keahlian ini harus dibanggakan atau malah disembunyikan. Pasalnya stalking media sosial orang diam-diam juga kalau dipikir lagi cukup seram. Terus tau nggak apa hal paling menyebalkannya? Niat Allegra stalking Samudera kan iseng sambil nunggu DM-nya dibalas, tapi apa? Sampai jam 12 tengah malam, Ocendera s****n itu sama sekali nggak balas. Di-read juga enggak loh, Sis. Unfaedah pokoknya Dari hasil stalking-nya, Allegra tau beberapa hal tentang Oceandera. Oceandera ini youtuber yang kerjaannya cover lagu dan dance. Suka main skateboard juga kayaknya. Sejujurnya Allegra kaget, ya kaget aja kalau ternyata pemilik tampang setengil itu bisa punya banyak keahlian. Oceandera juga sering upload vlog kehidupannya mulai dari jalan-jalan, sekolah, dan lain-lain. Tapi Oceandera tidak mengekspos tentang keluarganya. Meskipun keluarganya muncul di beberapa vlognya, wajahnya diblur. Sayang banget, padahal Allegra mau lihat Antariksa. Eh. Isi youtube dia full english, caption-caption dia juga. Pokoknya nggak ada yang Bahasa Indonesia. Orang-orang udah jelas nggak tau kalau dia ini keturunan Indonesia. Kalau dikasih tau pun jelas nggak percaya, orang wajahnya emang medok bule kok! Makanya teman-teman Allegra juga sangsi dan tidak percaya. "Tapi, ngapain juga Oceandera tinggal di sebelah rumah Allegra? Dia ini orang Los Angeles, kalau dia pindah ke Indonesia pun, pasti ke Jakarta. Ngapain pindah ke kota yang panasnya amit-amit dan agak terbelakang kayak Pontianak ini?" Bianda meragukan argumen Endah. Allegra mengerlingkan matanya. Ketimbang sakit hati karena tidak dipercaya, Allegra harus cari cara untuk membalikkan keadaan. Langkah pertama, dia harus membuat teman-temannya percaya. Kalau sudah percaya, siapa tau balas dendam akan jadi lebih mudah? "Oke, kalau lo semua nggak percaya, hari jumat balik sekolah ke rumah gue," ucap Allegra. *** "Hei, Tetangga." Sebuah sapaan dengan nada mengejek yang terdengar sangat-sangat tidak sopan melesat masuk ke gendang telinga Allegra. Gadis yang baru turun dari goncengan Papanya itu langsung mengerutkan dahi. "Eh, Nak Samudera? Masuk dulu yuk," tawar Papa. "Nggak, Om. Di sini aja. Mau ngobrol bentar sama anak Om, hehe," tutur Samudera yang terkesan sok manis di telinga Allegra. Emang ya, kalau udah sebel itu apapun jadi kelihatan salah. Papa masuk, meninggalkan Allegra dan makhluk astral--Samudera--itu di luar pagar. "Gimana? Do you know me now?" sombong Samudera. Allegra melipat tangannya di depan d**a, "Maaf ya, ini Indonesia. Gue tau lo emang blasteran, tapi tolong pergunakan Bahasa Indonesia. Toh lo juga lancar kan ngomong Bahasa Indonesia." "Kenapa? Lo nggak ngerti ya gue ngomong apa?" "Maaf, gue ngerti kok lo ngomong apaan tapi lo udah seharusnya mencintai budaya dan bahasa di tempat lo tinggal," semprot Allegra. "Terus? Apa bedanya sama lo yang kata Mama lo suka sama Korea-Koreaan itu? You didn't love your culture too," ledek Samudera. "Gue emang suka Korea, tapi seenggaknya gue masih pakai Bahasa Indonesia buat sehari-hari sebagai tanda gue menghargai budaya bangsa gue." Allegra membela diri. Ini bukan sekadar pembelaan diri. Dia memang suka Korea dan Oppa-oppa ganteng yang nyegerin mata itu, tapi bukan berarti dia lupa kultur yang mengalir dalam darahnya. Allegra suka kok lagu Jawa, Allegra suka berbahasa Indonesia, Allegra suka pakai batik, Allegra suka nonton wayang. Istilahnya, seimbang. Tidak ada larangan buat belajar bahasa asing dan menyukai musik-musik serta film-film luar negeri, tapi bukan berarti kita bisa seenaknya melupakan budaya sendiri. Harus seimbang. "Oke, gue nggak peduli ya lo mau pakai Bahasa Inggris atau Bahasa Alien, gue cuma mau lo hapus foto gue sekarang juga dari akun lo!" desak Allegra. Samudera berdecih, "Ask forgiveness from me and i will delete your photo, how?" "Nggak! Gue nggak mau minta maaf karena gue nggak salah! Gue beneran nggak niat ngintipin lo waktu itu! Bahkan lo yang harusnya minta maaf sama gue, gara-gara lo hidup gue jadi repot!" tolak Allegra tegas. "It's okay, gue nggak maksa. Tapi perlu lo tau ya, repotnya lo sekarang itu belum seberapa. Just wait and see." Samudera tersenyum lalu masuk ke rumahnya. Kepala Allegra yang daritadi memang kena sinar matahari jadi makin panas. Samudera tidak menyerah, Allegra juga tidak kalah keras kepala. Dasar makhluk astral! *** Allegra mendadak seleb. Followers i********:-nya naik drastis jadi seratus ratus ribu dalam kurun waktu delapan jam. Allegra mau tak mau harus mengunci akun i********: nya. Menghindari fans Oceandera yang ganasnya lebih parah dari singa. Bukan cuma di-follow, fans-fans nya itu mengirimi pesan-pesan pada Allegra. Ada yang bernada mengancam, ada yang bernada menghina. Sungguh neraka. Entah darimana mereka tau username i********: Allegra. Datang tanpa diundang seperti pasukan semut yang keluar ketika hujan. Kekuatan netizen memang jadi kekuatan paling mematikan di era sekarang. Hanya berbekal jari-jari yang lihai mengetik komentar jahat saja, sudah bisa membuat seseorang depresi bahkan sampai bunuh diri. Demi kesehatan mentalnya, Allegra memutuskan untuk log out dari i********: kemudian menjauhkan ponsel dari dirinya. Kalau saja santet itu halal, sudah Allegra kirim santet ke manusia bernama Samudera itu. Santet isi paku, rambut, atau batu-bata sekalian. Allegra berdiri di balkon kamarnya. Menatap kamar seberang penuh kebencian. Seolah takdir yang menyambar bagai petir, Samudera keluar dari kamarnya. Bertemu muka dengan Allegra tanpa sengaja. Allegra memasang tampang judes, seakan-akan hendak mengunyah Samudera mentah-mentah. Samudera tak kalah judes. Matanya disipitkan, melayangkan ultimatum berdarah pada Allegra. "Apa lo lihat-lihat?" ujar Allegra. "Lo duluan yang lihatin kamar gue!" sahut Samudera. "Terserah gue dong! Mata juga mata gue! Nggak minjem mata lo!" pekik Allegra. "Ya terserah gue juga dong, gue juga punya mata!" Allegra mendengus kasar lalu membalik badannya. Memblokir pandangan dari Samudera. Kemudian masuk ke dalam kamar dan menutup jendelanya rapat-rapat. Berdebat dengan Samudera hanya akan membuat tekanan darahnya naik sampai ke ubun-ubun. "Dasar manusia setengah Dajjal!" gerutunya sebal. "Lihat aja, gue bakal balas dendam gimanapun caranya!" *** Disadari ataupun tidak, setiap orang pasti punya hobinya masing-masing. Kebanyakan sih timbul karena lingkungan, misalnya keluarga pemusik biasanya punya anak yang juga hobi di bidang tersebut. Allegra juga nih. Tenggelam dalam hobi penuh dosa akibat lingkungan pertemanannya. Eits, jangan mikir aneh-aneh! Bukan nyebat, clubbing, atau n*****a kok. Apalagi prostitusi. Hobi Allegra cuma sekadar nyinyir. Sebenarnya Allegra ini bukan tipe yang super banyak omong. Sekata, dua kata itu cukup buat Allegra. Tapi semenjak ketemu sama teman-teman iblisnya itu, Allegra jadi terbiasa dengan yang namanya nyinyiran. Perlu kamu tau, nyinyir ini kegiatan setingkat di atas gosip. Kalau diibaratkan obat, dosisnya lebih tinggi. Kadang ada saatnya teman-teman Allegra ini nyinyir. Mulai dari si A sampai si Z. Dari satu sampai sejuta. Semuanya nggak luput dari nyinyir. Kalau diingatin soal dosa, mereka bakal jawab, "Kenyataan kok." yang berujung Allegra jadi tergoda dan juga malah ikut nyinyir. Allegra tau, kegiatan model begini itu salah besar. Tapi mau gimana lagi, enak banget nyinyirin orang. Tapi ... gimana rasanya kalau dinyinyirin balik? Apalagi sama teman-teman yang biasanya nyinyir bareng kamu? Perih, pedih, nyeri, dan serasa ditusuk secara tidak langsung. Kayaknya cuma Allegra yang bisa mendeskripsikannya secara tepat. Karma alias azab. Perempuan itu sudah merengut mirip marmut dan melipat tangannya di d**a sedari tadi waktu teman-temannya nyinyir dan menuding dia berbohong soal Oceandera. Allegra terpojok, seperti maling yang tertangkap basah dan dihakimi warga. "Udah dibilang jujur aja, Le," oceh Garnet yang sedang tengkurap di kasur. "Iya Alle ih! Gue tuh nggak suka dibohongin!" sahut Endah sedangkan tangan dan matanya sibuk memantau ruangan di seberang sana. Iya, jadi keempat syaiton itu sedang ada di rumah Allegra. Apa lagi kalau bukan mau membuktikan perihal Oceandera? Dan sejak Allegra cerita semuanya waktu itu, keempat syaiton ini jadi agak-agak nggak percaya sama Allegra tentang hal apapun. "Tungguin aja ih! Paling juga bentar lagi tuh bule keluar!" sungut Allegra. Dan ya ... benar saja ... "Holy s**t! Cepet ke sini!" perintah Endah pada yang lainnya. Mulut Endah, Gendis, Garnet, serta Bianda menganga lebar. Di seberang sana, orang yang mereka tunggu muncul. Empat remaja perempuan itu heboh nahan gemes begitu tau kalau Oceandera itu lebih ganteng dari fotonya. And you know what? He's shirtless right now. Bikin anak-anak perawan pada nelan ludah masing-masing. Jelas bukan Allegra. Allegra malah jijik. Samudera nampaknya tidak sadar bahwa dia sedang jadi pusat perhatian. Yang dia lakukan hanya menikmati angin semilir di siang hari sambil memejamkan matanya. Setidaknya begitulah yang Allegra kira. "Aduh, Le. Kenalin dong, Le," ujar Bianda sambil senyam-senyum menjijikkan. "Nggak, kalian itu harus tau kebusukannya dia dan gimana dia ngancem gue. Sekarang kalian sembunyi gih. Denger baik-baik, oke? Jangan ketinggalan satu kata pun!" Allegra tersenyum miring, Ini saatnya gue bongkar kebusukan lo di depan fans lo, Samudera. Sedangkan teman-temannya sibuk menunduk di bawah jendela untuk bersembunyi. Allegra maju lalu berteriak, "Woi, Tetangga!" Samudera menatap lurus Allegra lalu tersenyum lebar, "Ya? Kenapa, Le?" Apa? Ini Allegra nggak salah dengar kan? Kok nada Samudera ini jadi lembut banget kayak p****t bayi? Kok nggak terdengar mengejek atau menyebalkan kayak biasanya? Kenapa malah pasang senyum munafik begitu? "Nggak usah sok baik deh lo. Gue minta lo hapus foto gue!" ketus Allegra. "Hapus foto lo? Lho kenapa? Kan kemarin lo yang maksa gue upload, Le. Kok sekarang minta dihapus?" Mata Allegra melebar. Masih untuk bola matanya tidak loncat, saking kagetnya. Samudera si iblis itu sedang memainkan tipuan. Tipuan yang tak pernah terpikirkan oleh Allegra. Sialan. Allegra salah strategi. Samudera si bule itu jauh lebih pintar. Ralat, jauh lebih licik. Dia melihat teman-teman Allegra sebelumnya. Bumerang. Allegra jadi kehabisan kata-kata dan bingung mau ngomong apa. "Banyak komentar negatif, ya? Maaf deh, Allegra. Iya, nanti pasti gue hapus. Gue bakal peringatin orang-orang juga biar nggak ngusik hidup lo. Nggak usah khawatir ya? Gue mau mandi dulu. Good bye, Allegra." Samudera tersenyum mengejek lalu mengacungkan jempol terbaliknya dari kejauhan. Setelah kepergian Samudera, teman-teman Allegra berkacak pinggang sambil memelototi Allegra. Seolah hendak memojokkan dan mendorong Allegra ke dasar jurang yang paling dalam. Allegra kalah telak pada titisan Dajjal alias Samudera. Sudah jelas kan siapa yang lebih mereka percaya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD