Kalau kamu butuh orang untuk merusak hubungan pertemananmu, maka Samudera Aidil Sitradivari adalah orang yang tepat. Laki-laki pindahan dari Los Angeles itu sukses membuat Garnet, Endah, Gendis, dan Bianda jadi nggak percaya lagi sama Allegra. Aktingnya itu meyakinkan, Allegra yang jujur itu malah mati kutu dibuatnya.
Curhat dong ma (5)
Garnet Anetta:
Le, jangan suka bohong lagi.
Bianda Serphanie:
Au ah, laen kli knalin sm Oceandera
Endahhhh:
Sapa le nma aslnya? Samudera bkn?
Gendis Anumerta V.:
Jgn galak galak sm Samudera ganteng. Tabok lu y kalo galak galak.
Allegra mendesah panjang lalu menutup aplikasi Line di ponselnya. Ada perasaan kecewa dalam d**a Allegra, like ... seriously kalian lebih percaya dia dari pada gue?
Gadis yang rambutnya diikat satu itu menuju meja belajarnya--yang ada di dekat jendela--,mengambil beberapa buku, dan mulai fokus.
No limit in the sky that i won't fly for you,
No many tears on my eyes that i won't cry for you,
Every breath that i take,
I want you to share that air with me.
Thats no promise that i won't keep.
I climb a mountain theres none to steep.
Suara indah Justin Bieber beradu dengan alunan EDM milik David Guetta. Allegra melirik jam dinding, Ini orang gila mana yang buka lagu EDM kenceng-kenceng jam 7 malam begini?
Orang gila mana lagi kalau bukan bule ganteng bernama Samudera itu? Allegra merengut dan berkacak pinggang, di seberang sana Samudera sedang duduk di balkonnya, lengkap dengan set pengeras suara mini.
"Matiin nggak! Gue mau belajar!" teriak Allegra. Tak dihiraukan. Samudera malah menutup matanya dan menggeleng-gelengkan kepala menikmati irama.
Allegra naik pitam. Dia mengambil ponselnya lalu menancapkan kabel speaker di salah satu lubang ponsel. Allegra benar-benar tidak mau kalah. Apalagi pada seseorang seperti Samudera.
neo mwonde jakku saenggakna ....
Allegra tersenyum licik. Lagu terbaru group kesayangannya lah yang jadi tim sukses Allegra malam ini. Sama kerasnya seperti Allegra, Samudera menaikkan volume speaker-nya. Setelahnya Allegra juga melakukan hal yang sama. Mereka menaikkan volume hingga tujuh kali banyaknya. Sampai akhirnya tiba-tiba Samudera mematikan lagu yang diputarnya.
Allegra tersenyum menang, "Ah cupu! Pasti volume speaker lo udah maksimal kan makanya lo matiin!"
"Aahhh!" Allegra memekik begitu telinganya ditarik.
"Kamu ini gila ya? Malem-malem gini buka lagu keras-keras?!" itu suara Mama. Allegra ditarik keluar, hal terakhir yang dia lihat adalah Samudera yang melambaikan tangannya sembari tersenyum menang.
***
Nenek dulu pernah bilang, kalau merengut pagi-pagi itu bisa bikin muka cepat tua, rezeki takut mau datang, apalagi jodoh. Kalau biasanya tiap pagi senyum aja Allegra masih aja jomblo, apalagi kalau merengut kayak sekarang.
Tapi gimana mau nggak merengut? Samudera itu ya ... udah bikin teman-teman Allegra jadi nggak percaya, semalam bikin speaker Allegra disita juga. Kurang s****n apa?
Jangan bayangin Mama cuma nyita begitu tanpa ngoceh apa-apa. Udah jelas Allegra diocehin sepanjang-panjangnya sampai telinganya panas. Bahkan sampai nggak jadi belajar lho. Dan kalau membunuh itu halal, maka Samudera sudah Allegra bunuh sejak kemarin. Menikam, mencincang, dan merebus daging Samudera begitu menyenangkan dalam bayangan Allegra. Ya, Allegra jadi se-psikopat itu gara-gara Samudera.
"Allegra."
Allegra yang daritadi udah uring-uringan makin kesel waktu namanya dipanggil dari belakang.
"APA-an sih?" Allegra tadinya mau meledak dan jawab-jawab jutek gitu. Tapi batal begitu tau siapa yang manggil. Itu lho, Si Tetangga Ganteng. Mas Riksa kesayangannya Allegra.
Diam-diam Allegra berdoa agar Antariksa tidak menyadari nada jutek di dua suku kata pertama tadi. Kan bisa aja Antariksa ilfeel, ya kali cogan dijutekin.
"Eh iya, Bang Riksa? Ada apa?" tanya Allegra semanis mungkin.
"Mau nanya aja, kamu SMA 33 kan ya?" tanya Antariksa. Allegra mengangguk cepat. "Kamu pulang jam berapa?"
Allegra bingung, apa jangan-jangan gue mau dijem-ah nggak mungkin!
"Jam 3, Bang," jawabnya.
Setelahnya Antariksa tersenyum lalu berkata, "Om, hari ini Allegra pulang sama saya aja."
-put.
***
Antariksa itu bagaikan malaikat yang diutus turun ke bumi oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk menyelamatkan hari Allegra. Setidaknya hari ini. Gara-gara mau dijemput Antariksa, Allegra sudah nggak peduli lagi soal kontroversinya dan Samudera.
Ia tak menggubris orang-orang yang bertanya, tak peduli pada nyinyiran teman-temannya. Malah tersenyum sepanjang waktu.
Garnet dan Bianda sibuk sikut-sikutan sambil bertukar pandang. Takut kalau-kalau Allegra kerasukan penghuni sekolah, saking stres-nya.
"Le, Lo nggak kesambet kan?" tanya Bianda.
Allegra mengangkat bahunya. Ia kemudian tersenyum lagi sambil membaringkan kepala di atas meja. Memang memahami orang yang sedang kasmaran itu bisa dikatakan hampir mustahil.
Belum juga puas Allegra bermain-main di alam imajinasinya, tiba-tiba punggungnya ditepuk pelan. Allegra menoleh, mendapati Aksara berdiri di depannya.
"Hah? Iya? Kenapa?" tanya Allegra.
"Boleh minta waktu lo sebentar?" tanya Aksara balik.
Teman-teman syaiton Allegra memberi tatapan menggelitik. Seolah sedang menggoda Allegra meski tanpa kata.
"O-oke," jawab Allegra.
Allegra kemudian mengikuti Aksara. Langkah kakinya dituntun ke perpustakaan, dimana Aksara kemudian mengeluarkan gulungan karton berukuran dua puluh kali delapan sentimeter dari dalam saku celana abu-abunya.
Ia kemudian membuka gulungan yang ternyata berisikan tulisan Hanzhi Mandarin itu. Huruf-hurufnya ditulis horizontal. Allegra yang memang tidak begitu jenius soal Bahasa Mandarin, hanya bisa membaca satu huruf pertama. San alias tiga.
"Menurut lo gimana? Apa yang kurang?" tanya Aksara.
"Ini tugas kita bukan?" Allegra mengkonfirmasi.
Aksara mengangguk. "Iya. San Guo Yan Yi. Baru sampel, nanti gue bakal tulis di media yang lain."
"Wah, gimana lo bisa nulis secantik dan serapi ini?" puji Allegra tulus.
Kalau dibandingkan dengan tulisan Mandarin Allegra yang mirip cakar ayam ya jelas jauh. Allegra mengacungkan dua jempolnya, "Menurut gue ini bagus sih. Perfect score!"
Aksara tersenyum lebar. Seolah lega karena mendengar pujian bukannya komentar.
"Gue juga udah cari materinya. Tinggal gue kirim aja ke Tata," ucap Allegra.
Memang, sesuai kesepakatan kemarin, Aksara bertugas menulis Hanzhi, Allegra mencari materi, Tata membuat slide plus presentasi, dan Leon yang--sialnya--kebetulan ada kompetisi hari itu, hanya akan bertindak sebagai tim doa jarak jauh. Tidak sepenuhnya tim doa sih, Leon juga bantu cari materi. Hanya saja materi yang dia kirimkan seperti dikerjakan dengan setengah hati. Acak-acakan dan bikin Allegra kerja dua kali.
"Oke sip, nanti gue bakal tunjukin lagi kalau udah jadi," kata Aksara.
***
Memang ya, dunia ini terus berputar. Nggak selamanya yang di bawah terus di bawah, begitu pula untuk yang di atas. Ada saatnya kamu iri dengan apa yang orang lain punya, tapi ada juga saat dimana kamu jadi bintangnya dan berujung dengan orang-orang yang melemparkan tatapan iri.
Dan sekarang gadis yang sedang berlari tergesa-gesa itu yakin bahwa siswi sesekolahan akan iri padanya. Terutama empat teman syaiton-nya yang daritadi sudah mengekor ikut berlari-lari. Eh? Lupa ya? Hari ini kan Allegra mau dijemput cowok ganteng. For the first time in forever.
Sebelum sampai di gerbang depan, Allegra memperlambat langkahnya lalu mengatur napas. Dia merapikan rambutnya yang berantakan akibat berlari lalu mengelap mukanya dengan tisu. Ya kali, mau ketemu cowok ganteng tapi dianya dekil begini.
"Kok berhenti, Le? Lo pasti bohong lagi ya?" curiga Bianda.
Allegra tak menjawab malah menengadahkan tangan pada Gendis, "Ndis, minta parfum dong."
"Apaan sih lo gak modal banget," gerutu Gendis tapi tetap memberikan parfumnya yang sebotol berharga lebih dari 400 ribu itu. Duh kalau Allegra mah boro-boro harga segitu, beli yang 30 ribuan aja rasanya udah kemahalan. Lagi pula kalau boleh jujur, Allegra kurang suka bawa-bawa parfum, bedak, atau t***k bengek ala cewek itu. Ribet.
Cess. Cess. Allegra menyemprotkan parfum di sekujur tubuhnya. Gendis melotot tidak terima, "Anjir, itu mahal ya, Le!".
Allegra nyengir dan mengembalikan parfum pada Gendis, "Nih, makasih."
Allegra nyelonong seraya menyunggingkan senyum percaya diri. Setelahnya tau apa yang terjadi? Allegra hampir pingsan! Itu, si Antariksa udah pose ganteng--kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana--di depan mobil SUV-nya. Jangan lupakan sunglasses yang bertengger di hidungnya dan kemeja hitam yang digulung sedikit lengannya. Mana Antariksa senyum pula begitu Allegra muncul, kan makin manis. Ya Allah, terima kasih atas nikmat yang Kau berikan.
"Udah lama, Bang?" tanya Allegra.
"Ah nggak lama kok." Antariksa melepas sunglasses-nya.
Sedangkan Gendis, Endah, Garnet, dan Bianda cuma bisa melongo di depan gerbang, tidak percaya kalau temannya yang jomblo itu sekarang dijemput cowok! Ganteng pula!
Klek!
Antariksa membukakan pintu untuk Allegra. Layaknya tokoh utama pria dalam drama memperlakukan wanitanya. Duh, gimana Allegra nggak makin terbang?
"Bye, Guys!" bisik Allegra sambil melambaikan tangan pada keempat temannya. Gadis itu kemudian masuk ke dalam SUV hitam milik Antariksa.
Sesudah menebar senyum dan tundukan ramah pada teman-teman Allegra, Antariksa duduk di balik kemudi. Tak lupa dia mengingatkan soal seat belt pada Allegra yang membuat gadis itu merutuki dirinya sendiri. Ya, harusnya kan tadi Allegra pura-pura nggak bisa masang seat belt-nya biar bisa modus minta dipasangin Antariksa kayak di drama-drama gitu.
Jalan satu kilometer, Antariksa membuka radio sayup-sayup memecah keheningan. Duh, padahal ini waktu yang tepat untuk lebih mengenal Antariksa. Tapi kok malah bibir Allegra mingkem kayak habis dilem pakai lem besi begitu. Sebenarnya bukan Allegra tidak mau bicara, hanya saja tidak bisa. Segala skenario pembicaraan yang dia siapkan sepanjang hari tiba-tiba musnah begitu saja. Kebiasaan. Tiap dekat sama seseorang yang dianggapnya sebagai 'doi', pasti Allegra mendadak kehilangan perbendaharaan katanya.
Allegra malah sibuk melihat urat-urat di tangan Antariksa yang looks so manly, Sist. Seksi banget! Saking seksinya mungkin bisa bikin anak perawan bunting.
"Laper nggak, Le?" tanya Antariksa waktu mobil yang mereka tumpangi memasuki Jalan Gajah Mada.
Kruyukkk. Belum sempat Allegra berbicara, perutnya sudah terlebih dahulu menjawab. Antariksa tertawa kecil, menyipitkan matanya yang memang sudah sipit itu. Membuat jantung Allegra jumpalitan nggak karuan. Aduh ini manusia apa malaikat? Kok gantengnya nggak ketulungan!!!
"Kita makan dulu, ya? Masak saya mulangin kamu dalam keadaan perut kosong begini," ucap Antariksa. Allegra mah nurut-nurut aja. Jangankan cuma dibawa ke tempat makan, ke KUA sekarang asal sama Antariksa mau aja kayaknya.
"Mau makan apa, Le?" tanya Antariksa.
"Makan bubur ikan enak kali ya?" jawab Allegra sembari berpikir. Lagi-lagi Antariksa tertawa. Allegra mengerutkan dahinya, "Ada yang lucu ya, Mas?"
"Iya, lucu. Biasanya kan perempuan kalau ditanya mau makan apa jawabannya terserah. Tapi kamu enggak. Apa jangan-jangan kamu bukan perempuan?" ledek Antariksa.
Allegra mengerucutkan bibirnya sebal, "Kan aku beda, Bang."
Antariksa memutar arah, menuju kedai yang menjual bubur ikan di seberang sana. Dia ingat pernah sekali ke sini bersama salah seorang teman--yang sama-sama dosen--waktu jam makan siang beberapa hari lalu.
"Makan di sini aja, Le. Enak," kata Antariksa lalu turun dari mobil.
Iya, Bang. Kalau sama kamu makan batu rebus juga enak.
Allegra mengekor Antariksa dan duduk di salah satu pojok kedai ini. Asik, mojok.
"Bubur ikan dua porsi ya, Pak. Eh mau minum apa?" kata Antariksa pada si penjual dan Allegra secara bergantian.
"Teh hangat aja."
"Sama teh hangat dua, Pak."
"Lihat kamu pakai seragam gini, saya jadi ingat masa SMA saya dulu," tutur Antariksa.
"Eh? SMA-nya di luar negeri kan ya, Bang?"
Direspon oleh sebuah anggukan oleh Antariksa, "Ya, di Los Angeles. Dan di sana nggak pakai seragam. Jadi saya suka iri sama murid negara-negara lain kayak Indonesia, Jepang, atau Korea. Saya pengin banget pakai seragam waktu sekolah."
Allegra menggeleng tak mengerti. Kalau Antariksa kepengin pakai seragam, maka berbanding terbalik dengan murid-murid di Indonesia yang malah berpikir kalau seragam itu merepotkan dan sama sekali 'nggak gaya'. Apalagi murid-murid di Kota Khatulistiwa--yang notabene seragamnya agak lain dari murid di Pulau Jawa--ini. Seragam di kota ini biasanya terdiri dari baju dan celana panjang. Ya, perempuan juga pakai celana panjang. Bedanya, kalau laki-laki baju harus dimasukkan dan perempuan dikeluarkan. 'Biasanya' lho ya, ada juga sekolah-sekolah yang tidak seperti itu. Kembali lagi ke kebijakan sekolah masing-masing.
Seragam mungkin memang nggak segaya baju-baju yang dipajang di mall itu, tapi satu yang perlu kita ingat, bahwa seragam itu punya makna di baliknya. Seragam itu identitas sekaligus gengsi. Ada tanggung jawab yang kita pikul di kedua bahu waktu memakai seragam.
"Temen-temen aku malah banyak yang pengen pake baju bebas kayak di luar negeri gitu, Bang."
Antariksa tertawa. Serius ya, Allegra merasa nggak ada yang lucu dari perkataannya. Apa mungkin hobi Antariksa ini emang ketawa?
Drrt. Drrt. Ponsel Antariksa bergetar. Otomatis tangan laki-laki itu bergerak untuk mengangkatnya.
"Halo?"
"...."
"Lagi mau makan sama Allegra. Kenapa?"
"...."
"Hah? Belum makan nih. Nanti deh. Nggak lama kok."
"...."
"Iya deh iya."
Tut. Anta memutuskan sambungan telepon. Pemuda itu lalu menaruh senyum simpul di wajah tampannya, "Le, dibungkus aja ya? Ini Samudera suruh cepet balik soalnya."
Allegra tersenyum getir dan mengangguk terpaksa. Emang dasar, setan nggak bisa lihat manusia bahagia!