"Sen, kapan mau kumpul bareng lagi di kafenya Cantika?"
Senjana mengapit ponselnya di antara bahu dan pipinya. Dia sedang menata makan siang dalam box untuk dibawa ke tempat kerja suaminya. Antariksa selalu meminta untuk diantarkan bekal makan. Katanya kalau bukan makanan dari Senjana maka dia tidak akan makan. Jadi beginilah Senjana, walaupun belum memiliki anak tetapi dia merasa sudah memilikinya. Terkadang dia bingung, sebenarnya Antariksa itu suami atau anaknya?
"Gue sibuk, Ly." jawab Senjana menaruh beberapa lauk.
"Sibuk melulu lo mah! Belum juga punya anak."
"Sekarang gue emang gak bisa, mau nganterin bekal suami gue."
"Yaelah, suami lo masih SD pake dibawain bekal? Lagian dia bos kan di sana? Duitnya banyak. Masa beli makanan aja gak bisa."
"Suami gue manjanya akut! Dia maunya gue bawain dia bekal ke kantornya."
"Lo yakin nikah sama Antariksa? Udah diteliti belum itu Atar? Jangan-jangan dia jin yang mirip Atar lagi."
"Ya kali lo mah!"
"Ya habisnya gue gak percaya. Seorang Antariksa bersikap manja?"
"Udah deh, gue mau berangkat. Nanti telepon lagi."
"Yaudah deh, bye!"
"Bye!"
Senjana menutup teleponnya lalu dia masukkan ponselnya ke dalam saku celana. Dia menaruh semua box itu ke dalam tas tempat makan. Lalu Senjana bergegas menuju kamar mengganti bajunya serta berdandan. Dia harus terlihat cantik di depan karyawan suaminya agar para calon pelakor disana minder saat melihat kecantikannya.
"Pak Danang, tolong siapin mobil yah? Saya mau berangkat." ujar Senjana setelah siap keluar dari kamarnya.
"Siap, Nyonya!"
©©©
Antariksa duduk di kursi kebesarannya, wajahnya tampak serius menatap ke arah laptop di mejanya. Keningnya sampai berkerut melihat beberapa tampilan di layar laptopnya. Sampai pintu ruangannya diketuk membuat konsentrasinya menjadi terganggu.
Tanpa menunggu jawaban, orang yang mengetuk langsung membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan. Antariksa hanya melirik sekilas lalu membiarkan orang itu masuk. Dia tidak kaget lagi saat mengetahui siapa yang menerobos ruangannya tanpa menunggu ijin dari Antariksa untuk masuk.
"Kenapa?" tanya Antariksa tanpa mengalihkan pandangan pada laptopnya.
"Pak Rivaldi minta rancangan real estate yang mau dibangun di Tangerang dikirim ke emailnya."
"Bukannya belum rampung semua? Katanya mau ada tambahan detail lagi?"
"Iya, tapi beliau minta dulu gambarannya. Setengah jadi juga gapapa katanya yang penting dia tau bentuknya kayak gimana."
"Yaudah lo kirim aja, datanya juga ada di lo kan?" jawab Antariksa masih dengan mata menatap laptop.
"Tapi desain terbarunya ada di lo. Gue belum terima kalo yang terbaru."
"Yaudah nanti gue kirim, lagi sibuk."
"Sibuk apaan sih?!" tanya orang itu sambil bergerak ke samping Atar dan menggeser laptopnya.
"Heh!! Dasar karyawan kurang ajar!!" ujar Antariksa menarik kembali laptopnya.
"Astagaaaa Taaarrr!!" teriaknya
"Berisik lo, Van! Ngapain sih masih disini? Pergi sana ah!"
Revan yang melihat kelakuan bosnya hanya bisa melongo. Sedari tadi menatap layar laptop dengan serius, dipikirannya sedang bekerja. Mengurus hal-hal penting perusahaan, akan tetapi setelah tahu. Hasilnya benar-benar mengecewakan.
"LO DARI TADI STALKING ISTRI SENDIRI?! ASTAGA!"
"Ribut lo! Pergi sana balik kerja!"
"Gila! Otak lo udah geser kayaknya Tar. Dari tadi mantengin laptop, gue pikir beneran ada kerja serius. Ternyata ... Zonk!" ujar Revan lalu tertawa.
"Diem lo! Gak usah ikut campur!" ujar Antariksa merengut kesal.
"Gokil sumpah lo, Tar! Lagian udah jadi istri masih aja di stalk. Gak akan ada cowo yang mau deketin cewe bersuami, Tar."
"Who knows? Buktinya gue ketemu akun mantannya Senjana yang masih nge-like foto-fotonya istri gue. Maksudnya apaan coba?"
"Tau darimana lo kalo itu mantannya Senjana?" tanya Revan lalu duduk di seberang meja Antariksa.
"Dari Bimo, gue suruh dia tanya-tanya ke Lily."
"Hahaha ... dasar emang lo yah! Cemburu akut! Sampai Bimo disuruh-suruh tanya ke Lily, parah lo!"
"Kalo gue gak antisipasi, mereka bisa jadi bom buat hubungan gue sama Senjana. Apalagi sama si Rion itu! Tuh cowo masih aja sok akrab sama istri gue!"
"Maklum dong, Rion kan dulu mantan teman kantornya Senjana."
"Mantan kencan butanya Senjana juga waktu kuliah di LN!" balas Antariksa geram.
"Yaelah, santai aja sih, Tar! Jangan terlalu possessive gitu sama istri. Senjana juga kan udah keluar dari kerjaannya sesuai keinginan lo. Jangan curiga terus sama dia." saran Revan.
"Gue gak pernah curiga sama dia. Gue curiga sama cowo-cowo di luar sana yang masih suka ngelirik istri gue!"
"Yaudah sih, lagian Senjana juga cintanya sama lo. Keep calm, Tar!"
Tok
Tok
Antariksa dan Revan menoleh ke arah pintu ruangan yang diketok lagi. Kali ini Antariksa sepertinya bisa menebak siapa yang datang saat melihat jam dinding menunjukkan angka setengah dua belas lebih.
"Istri gue dateng. Pergi lo sana!" ujar Antariksa.
Tepat saat Revan berdiri, Senjana masuk membawa tas kotak makan. Wanita itu tersenyum ceria pada Revan yang juga tersenyum ramah. Dia mendekat ke arah meja suaminya lalu meletakkan makanan itu di sana.
"Lagi ngobrol penting yah tadi?" tanya Senjana.
"Gak kok! Ini udah selesai, gue balik dulu deh," ujar Revan.
"Gak mau makan bareng disini, Van?" tawar Senjana.
"Gak ah! Suami lo galak kayak macan, nanti gue dipelototin sama dia," ujar Revan mendapatkan pelototan dari Antariksa.
"Gak lah! Sini aja makan bareng, makanannya juga banyak."
"Gak usah dipaksa, Sayang. Lagian Revan ada janji makan siang sama pacarnya, ralat mungkin sama adik pacarnya," balas Antariksa tersenyum jahat.
Sementara itu, Revan menatap Antariksa datar. Lelaki itu memang tahu masalah apa yang sedang dialami oleh Revan, jadi sangat mudah membalas Revan dengan kata-kata menusuk bagi lelaki itu. Senjana yang mendengar itu hanya mengerutkan keningnua bingung.
"Iya. Gue ada janji sama pacar gue bukan adik pacar gue." jawab Revan dengan penekanan lalu melangkah keluar ruangan.
Antariksa tertawa melihat Revan menutup pintu ruangannya dengan sangat keras. Sindirannya ternyata berhasil membuat lelaki itu kesal. Sebenarnya, Revan mempunyai pacar sudah satu tahun lebih. Kemudian suatu ketika dia pergi ke rumah pacarnya dan berkenalan dengan adik dari pacarnya yang baru saja pindah ke Jakarta setelah lulus sekolah di Bandung. Dari situlah masalah dalam hidup Revan dimulai. Dia merasa mempunyai perasaan yang salah pada adik dari pacarnya itu.
"Apaan sih kamu?" tanya Senjana mengambil tas kotak makan dan menaruhnya di meja dekat sofa di tengah ruangan kali ini.
Antariksa berdiri dan ikut duduk di sofa tepat di samping Senjana.
"Gak apa-apa. Kamu bawa apa sekarang?" tanya Antariksa memeluk tubuh Senjana dari samping.
"Aku mau siapin makanannya dulu, kalau kayak begini susah." ujar Senjana.
"Suapin aku!" sahut Antariksa menoleh ke arah Senjana yang menatap kotak makan di meja.
"Iya, lepasin dulu." jawab Senjana.
Antariksa tersenyum lalu mencium pipi Senjana sebelum melepaskan pelukannya. Senjana kembali mengeluarkan beberapa kotak makan dan membukanya satu persatu. Selagi Senjana menyiapkan makanan, Antariksa menatap Senjana sambil memikirkan suatu hal untuk membahas tentang mantan-mantan Senjana yang ada di sosial media.
"Sen?"
"Iya?"
"Kamu dulu pernah punya pacar selain aku?" tanya Antariksa.
"Kok tiba-tiba tanya begitu?"
"Ya tanya aja. Emang ada?"
"Ada sih, tapi udah lama banget deh. Waktu awal masuk SMA gitu." jawab Senjana mengambil sendok.
"Siapa aja mantan kamu?"
"Kenapa kamu pengen tau?"
"Pengen aja. Siapa?"
Senjana memberikan satu suapan pada Antariksa sebelum menjawab pertanyaan aneh dari suaminya itu.
"Namanya Randi, dia pacar pertama aku waktu kelas sepuluh. Terus kami putus dua bulan kemudian. Waktu kenaikan kelas sebelas, aku pacaran lagi sama Erik kalau gak salah. Itu aja cuma satu tahun, kelas dua belas kami putus."
"Kamu masih berhubungan sama mereka?" tanya Antariksa setelah menelan makanannya.
"Kalau secara langsung sih enggak, tapi kami masih baik-baik aja kok di instagram." jawab Senjana kembali menyodorkan satu suapan pada Antariksa.
"Kamu punya nomer mereka? Atau mereka pernah kirim pesan ke kamu gitu?" tanya Antariksa sambil mengunyah makanannya.
"Enggak lah buat apa? Cuma di i********: doang kok. Itu aja aku gak follow balik," ujar Senjana terkekeh.
"Baguslah! Jangan di follow balik."
"Apaan sih? Cemburu?"
"Kalau aku gak cemburu berarti aku gak sayang sama kamu. Ini aku lagi menunjukkan sebesar aku sayang sama kamu."
"Uluh uluh manis banget mulutnya bang!" ujar Senjana terkekeh.
"Belum tau semanis apa kan? Makanya cicipin dulu dong." ujar Antariksa mendekatkan wajahnya ke wajah Senjana.
"Idih modus bangeett!!"
"Sama istri sendiri nggak apa-apa, daripada sama cewe lain."
"Nih aku kasih tendangan maut ke kamu kalau berani kayak gitu ke cewe lain!" ujar Senjana mengepalkan tinjunya.
"Bercanda sayang. Bibir kamu yang paling seksi pokoknya buat aku."
"Ih apaan sih! m***m deh, nih makan aja ah!" ujar Senjana memasukkan satu suapan ke mulut Antariksa sambil tertawa.
©©©
TBC