Part 2

1728 Words
"We're falling like the stars. Falling in love." - James Arthur - ©©© Antariksa baru saja bangun pagi ini, dia melihat ranjangnya bagian kanan. Antariksa mengerutkan keningnya, dia celingak-celinguk ke kanan dan kiri mencari seseorang yang harusnya masih berada disampingnya. Tangannya bergerak mengusap kedua matanya sambil menguap. Dia duduk di atas ranjang dengan selimut terkumpul di pangkuannya, menampakkan tubuh bagian atasnya yang terlihat sangat terjaga. "Sayang?" panggil Antariksa. Tidak ada jawaban dari siapapun. Melihat kamarnya yang tampak lenggang, Antariksa melirik jam di dinding. Satu alis Antariksa terangkat, ternyata dia bangun terlalu siang. Sekarang sudah pukul delapan pagi, pantas saja Senjana sudah tidak ada di kamar. Wanita itu pasti tengah di dapur membantu Ibunya memasak. Hari ini adalah weekend, dan biasanya yang menyiapkan sarapan pagi adalah Ibunya, Riana dan Senjana. Setiap weekend sebisa mungkin keluarga akan berkumpul untuk sarapan di taman belakang di selingi dengan berbagai macam obrolan. Antariksa bangun dari duduknya mengambil kaosnya semalam lalu pergi keluar kamar. Dia berpapasan dengan Yudhis yang tengah menelepon di balkon. Antariksa melihat gerakan gelisah dari lelaki itu. Dia mengerutkan kening saat mendengar kata yang aneh keluar dari mulut saudaranya itu. "Temukan dan habisi dia!" Yudhis terlihat menutup teleponnya secara kasar. Lelaki itu berbalik dan melihat Antariksa berdiri tidak jauh dari dirinya. Tatapan Antariksa terlihat datar. Lelaki itu tidak menunjukkan ekspresi apapun pada Yudhis. "Lo masih belum menyerah?" "Gue udah lupain dia kalau itu yang lo takutin. Cuma ini yang bisa gue lakuin buat ngelindungin dia." "Oke. Terserah lo Yud. Lakuin apa yang menurut lo benar." Setelah mengatakan hal itu, Antariksa pergi meninggalkan Yudhis. Daripada dia mengurusi tingkah saudaranya yang sulit ditebak itu, lebih baik dia mencari istri kesayangannya saja. Antariksa menuju taman belakang, namun di sana hanya ada Riana tengah menata beberapa piring serta makanan di meja sedangkan Rivaldi di sana hanya mengganggu istrinya itu. Antariksa menggelengkan kepala melihat kedua orang tuanya. "Dasar orang tua, masih genit aja. Pantesan gue nurun jadi genit begini ke Senjana. Bokap gue aja begitu." gumam Antariksa. Dia berbalik menuju dapur, masih dengan edisi mencari istri kesayangan. Antariksa melangkah menuju dapur sambil menguap. Di sana dia melihat Senjana tengah membelakangi dirinya menuangkan sayur ke dalam mangkuk besar. Antariksa tersenyum lebar saat menemukan istri tercintanya. "Morning, Wifey." ujar Antariksa memeluk Senjana dari belakang. Senjana menoleh sebentar ke arah Antariksa lalu tersenyum saat suaminya bersandar pada bahunya. "Morning, hubby." "Masak apa sih? Kok kayaknya baunya enak banget?" tanya Antariksa menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Senjana. "Masak sop daging, mau cicipin gak?" tawar Senjana. "Nanti aja bareng sama yang lainnya. Sayang, ini weekend loh, kita pergi yuk?" "Mau kemana?" tanya Senjana sambil menuangkan sopnya ke dalam mangkuk. "Kemana enaknya?" "Terserah, ke ujung dunia aja aku mau asal perginya sama kamu." ujar Senjana lalu terkekeh. "Ceilehhh gombal-gembel istri aku. Gemesss banget sih!" sahut Antariksa lalu mengusel pipi kiri Senjana gemas. "Ataar kamu belum cuci muka! Iler kamu nempel di pipi aku nanti." "Gapapa. Abisnya kamu bikin gemes pagi-pagi." "Terus jadinya mau pergi kemana?" Antariksa menumpukkan dagunya di bahu Senjana sambil berpikir. "Ke mall aja! Kamu jarang banget belanja selama jadi istri aku. Bulan ini aja aku baru tau kamu belanja satu kali, itu aja cuma beli tas, sepatu, sama beberapa potong baju. Dua kartu yang aku kasih gak cukup buat kamu belanja emangnya?" "Astaga! Itu justru lebih dari cukup, sayang. Aku cuma males aja belanja hal yang gak penting, kalau emang gak butuh ngapain di beli? Buang-buang uang aja." "Ya gak gitu, Sen. Aku kan juga pengen liat istri aku belanja pakai uang hasil kerja aku. Pengen liat istri aku seneng beli barang-barang bagus. Itu tuh jadi semacam pacuan buat aku terus kerja keras." ujar Antariksa membalikkan tubuh Senjana. "Iya, tapi aku gak mau boros aja. Kamu udah kerja capek, masa aku cuma bisa ngabisin duit buat belanja." jawab Senjana. "Gapapa, sayang. Lagian aku kerja kan emang buat kamu, bukan buat yang lain. Aku seneng kalau kamu habisin uang aku buat beli apapun yang bisa bikin kamu seneng. Itu juga kalau kamu bisa ngabisinnya." ujar Antariksa lalu terkekeh di akhir. Senjana tertawa mendengar kalimat terakhir dari suaminya. Entah dia harus bahagia, bangga, atau apapun itu yang bisa mewakili perasaannya sekarang. Mendapatkan suami yang seperti Antariksa itu seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Sangat langka dan limited edition, dan seorang Senjana yang bukan siapa-siapa ini sangatlah beruntung bisa menikahi pria langka seperti Antariksa. "Aku mau mandi dulu, setelah sarapan kita langsung pergi ke mall. Hari ini aku temenin kamu buat belanja. Kalau belanja bareng suami itu no hemat-hemat, ngerti? Siapin list belanja kamu buat nanti." Selesai mengatakan itu, Antariksa mengecup bibir Senjana singkat lalu dua berbalik keluar dari dapur. Senjana hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekanakkan suaminya saat bersama dirinya. Baru saja Senjana hendak melanjutkan pekerjaannya, kepala Antariksa kembali menyembul dari pintu dapur yang terbuka. "I love you, sayang." ujar Antariksa. "Love you too." jawab Senjana sambil tertawa melihat tingkah aneh Antariksa. Setelahnya Antariksa benar-benar menghilang ke kamar untuk bersiap pergi sarapan bersama. ©©© Senjana meletakan kembali wedges yang baru saja dia coba. Sepatu itu memang bagus, tapi modelnya hampir sama dengan miliknya yang di rumah walaupun mungkin berbeda sedikit bentuk dan warnanya. Saat ini dia bersama dengan Antariksa memang tengah berada di mall, dan tempat pertama kali yang di kunjungi oleh Senjana adalah brand toko dari Dior. Dan itu karena paksaan dari suami tercintanya. "Kok dibalikin? Kenapa? Gak bagus?" tanya Antariksa. "Bukan, bagus kok." "Terus kenapa dibalikin kalau bagus?" "Aku cuma udah punya aja yang mirip kayak begitu, cuma beda merk sama warna aja. Jadi, mending gak usah dibeli." "Ck! Mba bungkus yang itu!" ujar Antariksa pada salah satu pelayan di toko. "Kok dibeli sih? Aku bilang kan gak usah." "Tapi sepatu itu bagus kan? Di kaki kamu juga keliatan cocok kok. Lagian kamu belum punya yang warna ini kan? Kata kamu yang di rumah itu warnanya gak gini terus beda merk. Ya udah beli aja sepatunya." Senjana melongo mendengar jawaban dari suaminya. Dia melihat Antariksa sudah melenggang ke rak sepatu lain melihat-lihat lagi sepatu wanita untuk Senjana. "Sayang, coba yang ini deh! Bagus warnanya hitam." Senjana menghela nafasnya melihat Antariksa yang lebih antusias berbelanja daripada dirinya. Dia hanya bisa menuruti semua keinginan suaminya untuk mencoba berbagai macam sepatu yang ada. Sudah sekitar tiga macam sepatu yang dibeli, itupun Senjana memaksa untuk sudah saja. Setelah itu mereka pergi ke kasir, dan lagi-lagi dia dibuat melongo saat Mba penjaga kasir menyebutkan nominal total tiga sepatu tersebut. Harganya tertulis sekitar 100 jutaan. Senjana melotot dan hendak membatalkan belanjaannya, namun Antariksa sudah lebih dulu memberikan kartu kreditnya pada kasir. Senjana sekarang menjadi ketar-ketir sendiri. Ini baru satu toko yang di datangi oleh Antariksa dan Senjana. Dia tidak sanggup membayangkan akan ada berapa lagi toko yang bisa di datangi olehnya dengan paksaan suaminya itu. Melihat sepatu yang sudah dibungkus, Senjana jadi sayang untuk memakainya kelak. Tentu saja sangat disayangkan jika sepatu dengan harga puluhan juta harus bergesekan dengan tanah. Dia tidak rela. "Kenapa, sayang? Mukanya malah jadi sedih gitu?" "Gapapa. Itu sepatunya dijadiin pajangan aja kali yah, yang? Sayang banget kalo dipake takut rusak." ujar Senjana berbisik. "Ya kali dipajang, sepatu dibeli buat di pake bukan jadi pajangan. Ada-ada aja kamu." sahut Antariksa terkekeh. Senjana menghembuskan nafasnya, dia harus benar-benar menelan kata hemat jika berbelanja bersama dengan Antariksa. Lihat saja, setelah ke toko sepatu langsung pergi ke toko tas, Senjana memaksa membeli dua tas saja. Lalu dia ditarik lagi ke toko pakaian. Nah disini Antariksa seperti orang yang gila akan belanja. Dia mengambil asal baju yang menurutnya cocok untuk Senjana tanpa melihat harga dari baju itu sendiri. Berkali-kali Senjana mengingatkan untuk Antariksa jangan terlalu banyak mengambil baju, apalagi yang mahal-mahal. Namun seperti halnya nasihat yang masuk ke telinga kanan dan keluar telinga kiri. Lelaki itu tidak mengindahkan semua perkataan Senjana. Akhirnya setelah memutari mall dan berbelanja selama dua jam, mereka memutuskan untuk makan. Senjana melirik ke sekitarnya yang banyak memandang Antariksa dan juga dirinya saat dalam perjalanan menuju restoran di dalam mall. Sepertinya Senjana bisa menebak kenapa mereka melihati dirinya. Antariksa yang membawa tas belanjaan pasti penyebabnya. Kedua tangan lelaki itu penuh akan belanjaan barang-barang Senjana. Orang-orang pasti berpikir kalau Antariksa adalah lelaki bodoh yang mau saja disuruh-suruh oleh kekasihnya. Istilah jaman sekarang disebut dengan kata bucin yang artinya b***k cinta. Senjana yang risih hendak mengambil beberapa tas belanjaan namun tali sepatunya tiba-tiba terlepas karena kaki kanannya menginjak ujung tali sepatu kirinya. Hari ini Senjana memang sengaja tidak memakai sepatu berhak tinggi agar mudah berjalan. "Biar aku aja." ujar Antariksa sudah bersiap membungkuk. "Gak usah! Aku bisa sendiri kok." "Kamu gak suka kalau aku bantuin kamu?" "Bukan gitu! Atar, aku gak mau kamu dicap buruk sama orang lain." ujar Senjana menunduk. "Buruk gimana? Aku perhatian sama kamu, apa itu hal yang buruk?" tanya Antariksa. "Bukan itu, kamu terlalu berlebihan perhatian sama aku. Kamu bawain semua belanjaan aku yang segitu banyaknya, gak biarin aku bawa satupun. Orang-oranh dari tadi liatin kamu sambil tahan tawa gitu, mereka pasti berpikir kamu itu bucin yang disuruh apa-apa sama pasangannya mau. Aku gak suka mereka anggap kamu begitu." jelas Senjana. Antariksa meletakkan belanjaannya di lantai, tangan kanannya mengelus kepala Senjana lalu tubuhnya bergerak memeluk istrinya itu. "Istri aku khawatir banget sama pandangan orang ke aku? Makin sayang nih!" ujar Antariksa. Senjana berdecak lalu melepaskan pelukan Antariksa dengan sebal. Dia menatap jengkel suaminya yang selalu saja menyepelekan kekhawatirannya. "Kamu mah kalau dibilangin kayak gitu! Kesel!" Antariksa tersenyum, "sini dengerin dulu, menurut aku julukan bucin itu gak memalukan kok. Kenapa? Karena itu artinya mereka tau seberapa besar sayang aku ke kamu. Rasa sayang itu gak bisa cuma diucapin lewat mulut, tapi juga diikuti dengan tindakan." "Lagipula aku ngelakuin ini kan bukan karena terpaksa, itu semua karena aku terlalu sayang sama kamu. Aku gak mungkin biarin orang yang aku sayang kesusahan. Kalau gak kayak begitu, rasa cinta aku perlu dipertanyakan ke kamu." lanjutnya. Senjana terdiam, dia tidak tau harus menjawab apalagi saat suaminya berkata semua itu. "Gak perlu pikirin pendapat orang, mereka kan gak tau yang sebenarnya tentang kita. Lagipula tugas suami itu adalah menjaga, melindungi, serta membuat istrinya selalu bahagia. Nah sekarang aku sedang melakukan tugas menjadi suami terbaik buat istriku." "Kamu terus yang buat aku bahagia. Akunya buat kamu bahagia kapan?" ujar Senjana menahan senyumnya. Antariksa tersenyum jahil, dia mendekatkan bibirnya ke telinga Senjana. "Mau tau caranya buat aku bahagia?" Senjana mengangguk. "Temenin aku begadang setiap malem sampai Antariksa junior atau Senjana junior hadir di dalam perut kamu." ©©© TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD