Part 3

1540 Words
"Dia lelaki dengan sejuta pesona yang membuatku selalu merasa kurang baginya." - Senjana Ratulangi - ©©© "Pak Atar itu benar-benar suami idaman banget gak sih? Udah ganteng, pinter, anak pengusaha, semua kayak di setting sempurna gitu." Salah satu karyawan dari divisi pemasaran yang saat ini berada di kantin kantor tengah asik membicarakan bos mereka yang belum lama ini menjabat. Mereka sangat antusias dengan keberadaan Antariksa yang terlihat tampan dan sangatlah sempurna. Ditambah lagi dengan segala sikapnya yang terlihat berwibawa menjadi seorang pimpinan. Salah satu dari karyawan yang sangat menyukai Antariksa sejak pertama kali lelaki itu masuk kerja adalah Bella. Gadis itu yang paling antusias dengan kedatangan Antariksa. Sejak awal dia sangat gencar ingin mendekati anak dari bosnya itu. Bella sendiri adalah seorang karyawan dari divisi keuangan yang mempunyai banyak penggemar. Sudah banyak karyawan lelaki yang berusaha mendekatinya, namun gadis itu terlalu jual mahal. Gayanya yang sangat menonjol dengan pakaian kerja serba ketat membuat dia cukup dikenal. "Gak usah se-antusias itu kali! Dia udah punya istri!" ujar Nina sinis. "Jaman sekarang itu punya istri dua gak masalah. Lagipula Pak Atar itu punya segalanya, mungkin aja kan dia gak cukup cuma dengan satu istri." jawab Bella percaya diri. "Lo gila yah? Seumur-umur gue baru denger ada orang yang punya cita-cita ngerebut laki orang! Sadar woi, laki-laki diluar sana itu masih banyak. Gak perlu harus ambil yang udah jadi milik orang." ujar Nina. "Gue gak berusaha rebut Pak Atar dari istrinya kok, cukup jadi yang kedua kan gak masalah." "Gak usah mimpi ketinggian deh Bel! Mana mau Pak Atar sama lo, dia tuh cinta banget sama istrinya." sahut Delon yang ada satu meja dengan mereka. "Cih! Gak ada sejarahnya kucing disodorin ikan tuh gak mau. Sama kayak laki-laki, mereka gak akan bisa menolak cewek seksi yang ada di depan mata mereka." "Denger yah Bel, lo kalau dibandingin sama Ibu Senjana itu bedanya jauh. Lo ibaratkan berlian yang diliat sekilas keliatan bagus tapi saat diteliti ternyata palsu. Sedangkan Ibu Senjana, tanpa perlu diteliti lagi udah keliatan kalau dia berlian yang asli, mahal, bagus. Jadi, gue kasih saran ke lo. Sebelum lo malu karena tingkah lo sendiri, lebih baik diam jangan membuat masalah." ujar Nina terlihat sangat tidak suka dengan Bella. "Maksud lo apa sih Nin?! Gue tau dari awal emang lo gak pernah suka sama gue kan?!" bentak Bella kesal. "Udah! Jangan ribut disini, malu diliat orang. Bel, Nin, udahlah gak usah bahas ini lagi, makan aja lagi makan!" lerai Delon. "Gue gak sudi harus makan satu meja sama calon pelakor! Najis!" ujar Nina pergi dari mejanya. Sebenarnya Nina memang sudah lama tidak menyukai tingkah Bella. Dia merasa Bella selalu mencoba tebar pesona pada para kaum adam dikantor untuk kepentingannya sendiri. Seperti memoroti uang lelaki itu lalu kemudian ditinggalkan begitu saja dengan alasan bosan. Tadi saja dia terpaksa duduk satu meja dengan gadis itu karena meja kantin yang lain sudah penuh. "Yee kalau iri ngomong aja! Gak usah pake sok ngejek-ejek gue segala! Dasar sok suci!" teriak Bella mengundang tatapak karyawan lainnya. Delon menggelengkan kepalanya melihat tingkah Bella. Dia menghembuskan nafasnya lelah, cukup tahu dengan segala sifat wanita itu. ©©© Antariksa keluar dari lift saat dia baru saja sampai dilantai dasar. Sore ini dia sengaja ingin pulang lebih awal karena ingin mengajak Senjana untuk makan malam diluar. Dia berjalan sambil melirik jam yang melingkar di tangannya. Tanpa sengaja Antariksa menabrak seseorang yang juga berjalan menuju arahnya. Dia sempat mengerutkan keningnya samar saat melihat siapa yang dia tabrak, atau sebenarnya dia yang sengaja ditabrak, karena walau dia sempat melirik jam namun dia tidak kehilangan fokus pada langkahnya. "Maaf Pak, saya gak sengaja." ujarnya. "Iya, saya juga minta maaf." ujar Antarikaa tanpa ekspresi. "Bapak mau pulang? Tumben pulang lebih awal." "Saya pikir itu urusan saya, bukan urusan kamu." jawab Antariksa hendak melewati gadis itu. "Eh Pak!" Gadia itu menahan lengan Antariksa dengan cara s*****l. Antariksa berbalik dengan tatapan super tajamnya seakan matanya mampu mengeluarkan laser yang bisa membelah gadis di depannya sampai berkeping-keping. "Saya Bella, Pak. Karyawan dari divisi keuangan. Hari ini saya ulang tahun, Bapak mau gak datang ke pesta yang saya buat?" ujar Bella ragu tanpa melepas tangannya. "Oh iya? Pesta seperti apa?" tanya Antariksa cukup tenang. Bella tersenyum mendengar pertanyaan itu, dia memberanikan diri untuk lebih mendekat pada Antariksa sampai tubuh depannya menempel pada lengan lelaki itu. "Kalau Bapak, maunya pesta kayak gimana?" tanya Bella s*****l. "Maksudnya?" "Saya bisa kasih pesta yang khusus buat Bapak seorang. Di apartemen saya, gimana?" Bella benar-benar sudah tidak punya urat malu lagi. Di hadapan banyak karyawan yang masih lalu lalang di kantor, dia berani menggoda direkturnya tanpa rasa takut. Antariksa mendengus mendengar tawaran dari Bella. Dia mendekatkan wajahnya pada Bella, lalu sedetik kemudian dia menarik tangannya keras dari genggaman gadis itu sampai membuat Bella jatuh tersungkur di hadapan Antariksa. Dengan angkuhnya, Atar melihat Bella yang saat ini meringis di lantai sembari menahan malu oleh tatapan karyawan disana yang melihatnya. "Siapa yang menerima w************n sepertimu di perusahaan ini hah?! Apa dia sudah gila!" Bentakan kemarahan Antariksa membuat karyawannya berhenti melakukan kegiatan mereka berlalu lalang. Salah seorang receptionist bahkan tergesa-gesa mendatangi Antariksa berikut security yang melihat kejadian tadi. Selama ini mereka tidak pernah melihat Antariksa memarahi seseorang apalagi sampai di hadapan banyak orang. Memang dia dikenal dengan bos yang tegas dan menyeramkan, tapi itu dikenal lewat beberapa orang yang berhadapan langsung dengan lelaki itu. Sedangkan yang lainnya hanya mendengar rumor itu saja. "Maaf Pak, ada apa?" tanya security yang mendekat. "Panggilkan kepala HRD sekarang juga!! Memangnya bagaimana cara mereka merekrut karyawan sampai mendapatkan satu seperti wanita ini?!" bentak Antariksa dengan kemarahan yang sudah sampai pada puncaknya. "S-saya tidak tahu, Pak." ujar satpam itu dengan gelisah. "Ada apa? Kenapa ribut-ribut kayak begini?" Revan datang dengan tergesa diikuti salah satu receptionist yang tadi memanggilnya. Dia melihat Antariksa penuh amarah dan juga karyawati yang menunduk dengan wajah memerah menahan malu dan tangis. "Pecat dia!" sambar Antariksa "Pak, jangan pecat saya! Maaf, saya salah Pak!" rengek Bella sudah mulai menangis. "Jangan berani menyentuh saya lagi, atau kamu akan tau akibatnya!" ujar Antariksa saat Bella hendak memegang tangannya memohon. "Ini kenapa sih?" tanya Revan bingung. "Gue bilang pecat dia!!" "Iya tapi kenapa?" "Lo mau ngurusin pemecatan dia atau lo yang gue pecat?" "Oke! Dia dipecat, sekarang juga gue kasih tau ke bagian HRD." jawab Revan menghela nafasnya. "Bawa dia pergi dari sini, jangan sampai saya melihat dia ada di kantor ini lagi!" ujar Antariksa pada satpam yang masih disana. "Baik, Pak." Bella masih meraung-raung saat dirinya dibawa paksa oleh satpam ke pintu keluar. Tepat dengan kejadian itu, Senjana terlihat tengah berjalan dari arah pintu masuk menampakkan wajah bingung melihat kejadian Bella diseret satpam. Dia melihat suaminya yang otomatis langsung menampilkan senyum padanya. Melihat senyum suaminya, otomatia Senjana juga tersenyum. Dia melangkah mendekati Antariksa yang sudah menyambutnya dengan antusias. Saat sudah di depan Antariksa, lelaki itu meraih pinggang Senjana lalu mencium kening wanitanya itu. Wajah Antariksa menjauh tapi tidak melepaskan tatapannya pada Senjana. Antariksa bahkan tidak peduli masih dijadikan bahan tontonan oleh karyawannya sendiri. "Kamu apaan sih! Diliatin banyak orang tau gak?!" kesal Senjana. "Oh iya? Aku gak sadar, soalnya dunia aku cuma terpusat sama kamu doang." jawab Antariksa lalu terkekeh. "Gombal! Hai Revan, Itu tadi kenapa? Kok sampai diseret sama satpam gitu?" tanya Senjana sekalian menyapa sahabat suaminya itu. "Tanya sama suami lo tuh, Sen. Gue mau ke bagian HRD dulu, nanti bukannya cewe itu yang dipecat malah gue yang kena pecat." gerutu Revan lalu pergi. Antariksa memutar bola matanya jengah, kemudian tanpa bicara dia memberi kode supaya para karyawannya kembali bekerja dan mereka mengikuti perintahnya. "Kenapa sih?" tanya Senjana penasaran. "Gapapa, sayang. Kita jalan-jalan aja dulu yuk!" "Gak, nanti dulu. Itu yang tadi kenapa? Kasih tau aku!" "Sayang..." "Kenapa?" Antariksa menghembuskan nafasnya, "dia ngelakuin kesalahan, makanya aku pecat." "Kesalahan apa?" "Kesalahan besar." "Iya, apa?" "Gak usah dibahas aja yah?" Kali ini giliran Senjana yang menghembuskan nafasnya jengah. Tanpa harus mendapat jawaban rasanya Senjana sudah tahu. "Dia godain kamu?" "Sayang..." "Emang apa yang dia lakuin ke kamu, hm?" tanya Senjana mengelus lengan Antariksa menenangkan amarah lelaki itu yang masih tersisa. "Sesuatu yang membuat dia pantas mendapatkan perlakuan tadi. Jangan dibahas lagi, aku gak suka inget omongan menjijikan dari w************n itu." "Don't said like that, dia wanita yang cantik." ujar Senjana pelan. "Gak lebih cantik dari kamu." "Dia lebih cantik, Atar." ujar Senjana mulai tidak percaya diri. "Aku gak pernah melihat wanita diluar sana karena bagi aku, kamu adalah wanita paling cantik yang sanggup memenuhi seluruh isi duniaku sampai aku gak sadar kalau ada wanita lain di dunia ini." "Sejak kapan kamu jadi so sweet gini sih?" "Sejak kamu sah jadi milik aku, karena aku so sweet cuma sama kamu." "Ah udah deh, nanti diabetes aku kelamaan digombalin sama kamu." Antariksa tertawa mendengar perkataan Senjana, mereka berjalan menuju pintu keluar dengan beriringan. Sementara karyawan yang melihat mereka dari kejauhan tertegun menyaksikannya. "Lihat itu, baru beberapa menit lalu dia berubah menjadi beruang grizzly yang sangat menyeramkan lalu tiba-tiba dia berubah lagi seperti seekor anak anjinh lucu saat istrinya datang. Benar-benar bucin sejati." ujar Delon. "Bukan bucin, tapi so sweet!" sahut Nina di samping Delon. "Hust! Kamu mau melihat kemarahan beruang Grizzly season 2? Jangan macan-macam, bisa-bisa kamu jadi korban kedua nanti." "Ih emang aku kayak si pelakor gagal itu?! Maaf aja yaa..." ©©© TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD