Part 4

1737 Words
"Dia masa lalumu adalah musuhku di masa depan." - Senjana Ratulangi - ©©© Antariksa baru saja memasuki cafe milik Cantika untuk menjemput Senjana yang tadi meminta ijin menemui sahabatnya. Senjana memang jarang berkumpul lagi bersama teman-temannya setelah menikah. Antariksa tidak pernah melarang istrinya itu untuk pergi, sama sekali tidak. Bahkan dia juga pernah menyuruh Senjana untuk pergi bersenang-senang dengan teman-temannya asal tidak lupa akan waktu dan kewajibannya sebagai istri. Namun, Senjana yang menolak dengan alasan bahwa dia sudah bukan seperti teman-temannya lagi. Dia sudah menjadi seorang istri dan tidak bisa bersenang-senang lagi semau dia sekarang. Dia tidak ingin menjadi istri yang boros dengan menghabiskan uang suami. Alasan itulah yang membuat Antariksa harus memaksa istrinya berbelanja sesekali bahkan kalau perlu dia temani. Dia menghargai Senjana yang berusaha menjadi istri terbaik, tetapi dia juga tidak ingin istrinya itu merasa tertekan karena harus berada di rumah terus. Antariksa melihat sekeliling ruangan cafe namun tidak ada tanda-tanda Senjana ada disana. Dia melepaskan kancing jas yang terkait di perutnya. Dasinya sudah dia lepas sejak tadi di mobil. Dia kembali berjalan lebih dalam ke cafe untuk mencari Senjana, tapi yang dia temukan justru wanita lain berdiri di hadapannya berjarak satu meter. "Antariksa?" Mendengar namanya disebut, Antariksa mengerutkan keningnya. "Saya tidak kenal dengan anda." jawabnya. "Aku Aurora, masih inget aku?" "Ah, lo Aurora yang dulu nge-bully Senjana kan?" tanya Antariksa mengingatnya. "Iya, aku benar-benar minta maaf soal itu. Waktu itu aku terlalu sombong dan berlagak seperti seorang jagoan. Sekarang aku benar-benar menyesal waktu inget tentang itu." "Emang udah seharusnya lo menyesal. Waktu itu, gue juga mungkin terlalu kasar sama lo. Sorry." "Enggak, kalau kamu gak ngelakuin itu mungkin aku masih jadi Aurora yang dulu." ujar Aurora tersenyum "Oh ya?" "Iya, terus hubungan kamu sama Senjana gimana? Masih sampai sekarang?" "Kami udah menikah sekitar dua bulan yang lalu." "Wah kalau gitu selamat ya? Semoga cepat dikasih momongan." "Aamiin, semoga aja." jawab Antariksa tersenyum saat mendengar doa itu. Sejak awal, Antariksa memang yang paling ingin mendapatkan anak sesegera mungkin. Dia ingin sekali melihat hasil buah cintanya bersama dengan Senjana. Dia ingin melihat ada seseorang yang mempunyai duplikat antara dirinya dan juga Senjana. Membayangkannya membuat Antariksa menjadi tersenyum lagi. "Ekhem!" Suara deheman yang cukup keras membuat bayangan Antariksa menghilang. Dia melihat ke arah samping kanannya dan disana sudah berdiri istri kesanyangannya. "Hei, sayang." ujar Antariksa. Senjana melirik ke arah suaminya lalu bergantian pada wanita di depan Antariksa. Dia sudah melihat interaksi keduanya saat dia turun dari lantai dua. Perlahan dia mendekati suaminya sampai berdiri di samping lelaki itu namun Antariksa tidak menyadarinya sama sekali. "Seru banget ngobrolnya sampai gak sadar kalau aku udah disini." "Hm? Enggak kok, cuma ngobrol biasa." "Kamu siapa? Kenal sama suami saya?" tanya Senjana pada Aurora dengan sinis. "Oh kamu Senjana, aku Aurora. Inget gak sama aku?" Senjana mengerutkan kening, "Aurora?" "Iya, dulu kita pernah satu sekolah." "Ah iya, aku inget. Kamu yang dulu marah-marah karena Antariksa dekat sama aku kan? Gimana aku bisa lupa, memori yang kamu kasih ke aku sangat membekas." sindir Senjana. "Soal itu, aku benar-benar minta maaf Sen. Aku harap kamu mau maafin aku." "Kamu pikir gampang melupakan kejadian itu? Coba aja kamu yang ada di posisi aku. Dilecehkan seperti waktu itu." "Aku benar-benar menyesal, Sen. Tolong maafin aku." ujar Aurora dengan wajah menyesalnya. "Sayang, itu udah masa lalu. Lagipula kita udah dewasa, masa sih kamu bakal terus gak mau maafin dia?" sahut Antariksa. "Aku udah maafin dia, tapi aku gak akan pernah bisa lupa dengan apa yang dia lakukan dulu." jawab Senjana menatap Antariksa. Aurora melihat Senjana tidak enak, apalagi dia melihat wanita itu sangat tidak suka dengan keberadaannya. "Yaudah kalau gitu, aku pergi dulu. Bagi aku yang terpenting Senjana udah maafin aku. Senang bertemu dengan kalian lagi." ujar Aurora tersenyum lalu pergi. Senjana menatap punggung Aurora dengan sinis. Dia tidak suka harus bertemu dengan wanita itu lagi. Dunia sebesar ini tetapi kenapa dia harus bertemu lagi dengan wanita bernama Aurora itu. "Aku gak senang tuh!" gerutu Senjana "Sayang..." "Apa? Mau marahin aku?" tanya Senjana dengan santai tetapi tatapannya terlihat tajam menyorot Antariksa. "Ng-gak sayang, aku kan mau ngajak kamu pulang. Udah sore..." jawab Antariksa meringis. "Alasan! Bilang aja senang habis ketemu mantan." Setelah mengatakan itu, Senjana berjalan lebih dulu keluar cafe menuju mobil Antariksa yang terparkir. Sementara Antariksa ikut menyusul Senjana di belakang gadis itu. Dia meringis mendengar sindiran dari istrinya itu. Senjana berhenti tepat di pintu penumpang. Dia tahu kalau suaminya berada tepat di belakangnya, tapi dia tidak ingin berbalik. Dia masih membelakangi Antariksa tanpa mengucapkan sepatah katapun. "Senjana, Kamu marah?" tanya Antariksa ragu. "Oh habis ketemu mantan sekarang gak mau panggil sayang lagi yah?" "Eng-enggak, sayang." jawab Antariksa gugup. "Halah gak usah sayang-sayang!" "Tadi... Gak dipanggil sayang, marah. Giliran panggil sayang, marah juga." lirih Antariksa. "Apa? Ngomong yang keras?! Gak usah bisik-bisik tetangga kayak begitu." "Enggak, sayang." "Iiihh ngomong enggak lagi, aku plester mulut kamu! Itu mulu jawabannya. Senang yah buat aku marah?!" "Engg.... I-iya, say..." "APA?!" "M-maaf, tadi katanya aku gak boleh jawab enggak lagi." "Iiihhh kesel! Ini mobilnya dibuka dulu kuncinya! Aku gak bisa masuk dari tadi." ujar Senjana gemas sekaligus kesal. "I-iya, maaf." "Ngomong maaf lagi!" "M-maaf, say....." "Atar!!" "Iya iya, ini mau masuk mobil. Yuk, pulang yah?" Antariksa membukakan pintu untuk Senjana dengan cekatan. Senjana masuk dengan wajah masih cemberut bahkan melirik suaminya. Setelah melihat sang istri masuk, Antariksa menghembuskan nafasnya panjang. Ini akan menjadi pertengkaran pertamanya setelah menikah dengan Senjana. Semoga saja dia kuat menghadapi sikap galak istrinya yang baru kali ini dia temui. ©©© "Ngapain senyum-senyum!" Antariksa menghentikan senyumannya saat Senjana menyindirnya. Malam ini, mereka sudah bersiap untuk tidur. Senjana mengambil posisi cukup jauh dari Antariksa yang duduk di salah satu sisi tempat tidur sambil menyenderkan punggungnya di kepala ranjang. Tadinya, Antariksa berharap kemarahan Senjana sudah selesai. Namun nyatanya sekarang, Senjana masih sinis pada dirinya. Antariksa melihat Senjana bergerak untuk merebahkan tubuhnya membelakangi dirinya. Antariksa menghela nafasnya sambil mengusap wajahnya frustasi. "Sayang? Kok tidurnya kayak begitu?" "Biarin." ketus Senjana. "Jangan marah terus dong, Sen. Program Antariksa juniornya gimana?" "Program aja sana sendiri! Atau kerja sama aja sama mantan, siapa tau langsung gol!" "Kok ngomongnya gitu? Kamu emangnya mau aku beneran ngelakuin itu?" Mendengar perkataan Antariksa, Senjana langsung bangkit dari tidurnya. Dia duduk menghadap Antariksa dengan kedua tangan berada di samping pinggangnya. Matanya melotot menatap Antariksa yang terkejut melihat dirinya seperti itu. "Coba aja kalau berani! Siap-siap kamu dapet surat cinta dari pengadilan!" "J-jangan, sayang. Aku gak serius, lagian kamu duluan yang bilang kayak begitu. Gak baik, Sen." "Iiihhh aku kesel sama kamu! Kesel! Kesel! Kesel!" teriak Senjana sambil memukuli Antariksa dengan bantalnya. "Senjana, aku itu gak sengaja ketemu sama dia, bukannya di sengaja." jelas Antariksa menghindar dari pukulan Senjana. "Iya, kalau di sengaja udah aku penyet kamu!" ujar Senjana berhenti memukul dengan nafas terengah sekarang. "Aku gak tau dia disana, lagipula aku kesana buat jemput kamu." "Tapi senang kan ketemu mantan?!" "Dia bukan mantan aku, Senjana. Mantan aku cuma kamu yang sekarang udah jadi istri aku." "Bohong! Jujur, siapa lagi mantan kamu selain dia?!" "Sumpah! Aku gak punya, sayang." jawab Antariksa menaikkan dua jari peace pada Senjana. "Oke, mantan gak punya. Tapi gebetan kamu segudang, iya kan?" "Astagfirullah, enggak Senjana." "Argh sebel! Kamu tidur diluar sana! Aku males tidur sama kamu." Antariksa menangkap bantal yang di lempar oleh Senjana ke arahnya. Dia memasang wajah memelasnya pada Senjana. Hanya pada wanita itu dia sama sekali tidak bisa berkutik. Dia tidak mungkin membentak Senjana. Dia tidak akan tega melihat Senjana sedih karena bentakannya. Lebih parah lagi sampai menangis. Dia lebih baik membiarkan Senjana marah-marah padanya. Dia akan menerima itu daripada harus melihat wanitanya menangis. "Kamu beneran ngusir aku?" "Iya, kenapa? Gak mau? Yaudah aku aja yang tidur diluar." "Jangan! Biar aku aja, nanti Papa sama Mama gimana kalau liat kamu tidur di luar? Aku aja yang keluar." Dengan perlahan Antariksa turun dari tempat tidur sambil membawa bantal miliknya. Dia tidak langsung keluar dari kamar, melainkan memutari tempat tidurnya dan berdiri di samping Senjana yang masih duduk di atas kasur. Antariksa mengulurkan tangannya mengelus kepala Senjana dengan lembut. "Aku gak pernah punya perasaan apapun ke wanita lain selain kamu dari dulu. Emangnya penantian aku selama 6 tahun lebih masih belum cukup buat kamu percaya kalau kamu satu-satunya buat aku, hm?" Senjana hanya diam mendengar pertanyaan itu. Kemarahan yang tadi masih bergumul di dalam dirinya seakan padam begitu saja. Dia memang kesal, apalagi saat melihat Antariksa dan Aurora saling tersenyum seperti tadi sore. Sekarang dia jadi bertanya-tanya, apakah dia sudah keterlaluan sampai mengusir Antariksa? Padahal lelaki itu juga tidak berencana bertemu Aurora. Seharusnya itu bukanlah salah Antariksa, tetapi salahnya. Coba saja kalau dia tidak keluar ke cafe Cantika, pasti Antariksa tidak akan menjemputnya dan bertemu wanita itu. Selagi dia memikirkan itu, Antariksa mengecup keningnya cukup lama. Senjana tidak menolaknya, dia jadi merasa bersalah sekarang. "Selamat tidur, wanitaku, istriku, calon ibu anak-anakku. I love you." Setelah mengatakan itu, Antariksa melangkah menuju pintu untuk keluar. Baru saja tangannya terulur untuk menyentuh gagang pintu, sebuah pelukan erat terasa melingkari perutnya. Antariksa tersenyum tipis, tanpa perlu menebaknya dia tahu kalau yang memeluknya adalah istri kesayangannya. "Maafin aku, jangan keluar." ujar Senjana dengan isak tangisnya. "Katanya gak mau tidur bareng sama aku?" "Aku yang salah marah-marah sama kamu. Aku minta maaf, jangan tinggalin aku." sahut Senjana masih dengan tangisannya. "Tapi tadi kamu yang usir aku keluar." ujar Antariksa berlagak polos. "Iya aku minta maaf, jangan keluar! Jangan tinggalin aku!" Antariksa tersenyum lebar lalu berbalik menghadap Senjana. Dia menangkup kedua pipi istrinya yang sudah basah dan memerah karena menangis. Antariksa terkekeh melihatnya, dia maju mengecup seluruh wajah istrinya bergantian. Dimulai dari kening, kedua mata Senjana, pipinya, hidungnya, lalu terakhir adalah bibirnya sekilas. Setelah itu, Antariksa membawa Senjana ke pelukannya sambil mengelus rambut panjang istrinya. "Sayang, cup cup! Jangan nangis lagi. Aku gak akan tinggalin kamu. Cengeng banget sih, padahal tadi marah-marah." ujar Antariksa tertawa kecil. "Kamu gak akan pergi ketemuan sama dia lagi kan?" tanya Senjana masih terdengar sisa dari isak tangisnya. "Tergantung, kalau kamu yang nyuruh kayak tadi mungkin aku ketemuan lagi sama dia." "JANGAAAANNN!! GAK BOLEEEHH!!" teriak Senjana kembali menangis. Antariksa tertawa puas saat mendengar teriakan dari Senjana. Dia semakin memeluk wanitanya menenangkan agar tangisnya berhenti. Dia mendusel ke rambut Senjana gemas. Mempunyai istri cengeng yang gampang sekali di goda itu bagi Antariksa sangatlah menyenangkan. Dia tidak akan pernah bosan menghadapi sikap Senjana yang seperti ini. Dia senang melihat istrinya bermanja-manja padanya, apalagi kalau sedang seperti ini. Saatnya dora berkata, berhasil! Berhasil! Horeeee. Batin Antariksa. ©©© TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD