Sehari Bersama Pak Bos

1473 Words
Menu kedua sudah datang. Setelah menghabiskan ketoprak, Nindy kembali memesan makanan. Kali ini dia memesan bubur ayam. Nindy memang lapar mengingat jika ia hanya makan mie instan semalam. Nindy mengangkat wajahnya saat melihat Raka yang berlari kecil melewatinya. Pria itu tidak menatapnya sama sekali dan terus berlari. Nindy mencibir saat melihat para wanita yang sengaja berlari pelan di belakangnya. "Dih, sok ganteng banget. Pasti dalem hati girang tuh," gumamnya. Raka sudah mengelilingi lapangan sebanyak lima kali dan sepertinya masih belum ingin berhenti. Dasar kaki besi. "Minumnya, Nek." Nindy memberikan botol air mineral pada nenek. Wanita itu sudah menghabiskan bubur ayamnya. Nenek memang hanya memesan bubur, berbeda dengan Nindy yang sudah berpikir untuk makan apa lagi setelah buburnya habis. "Mau nambah, Nek?" tanya Nindy perhatian. Nenek Farah memang membutuhkan perhatian khusus. Sudah dua kali Nindy bertemu nenek dalam keadaan hilang, tentu Raka sebagai cucu sangat mengkhawatirkannya. "Enggak, Nak. Nenek udah kenyang. Kamu makannya banyak ya, Nind?" Nindy menyeringai, "Mumpung dibayarin Pak Bos, Nek." "Raka itu paling nggak bisa yang namanya sarapan. Dari kecil kalau disuruh sarapan itu susah banget. Sampai kebawa gede gini." Nindy mengangguk mengerti. Setelah satu minggu bekerja, dia mulai tahu kebiasaan Raka. Pria itu memang tidak pernah sarapan. Dia hanya memakan buah-buahan untuk mengisi perutnya hingga jam makan siang tiba. Itupun Nindy yang selalu menyiapkannya karena pria itu selalu lupa. Nindy sendiri sampai heran karena meskipun jarang makan, Raka tetap memiliki tubuh yang ideal dan kuat. Mungkin karena kebanyakan ngaduk semen. "Gimana rasanya kerja sama cucu Nenek?" Nindy mendorong mangkok kosongnya menjauh, "Gajinya besar sih, Nek. Tapi mental yang disiapin juga harus besar." Nenek Farah tertawa, "Raka jahat ya kalau di kantor?" Nindy mengangguk tanpa ragu. Dia tidak sungkan membicarakan Raka di depan neneknya secara langsung. Mungkin karena Nindy sudah merasa akrab dengan Nenek Farah dan terbiasa dengan amarah Raka. "Bukan main jahatnya, Nek. Kalau di film, dia itu mirip Thanos." "Thanos?" tanya Nenek Farah bingung. "Hmm beda generasi ya.." Nindy bergumam sambil berpikir, "Mirip ibunya bawang merah sama bawang putih, Nek." Bukannya marah, Nenek Farah malah tertawa. Dia tidak menyangka jika cucunya akan seperti itu saat di kantor. Nenek Farah tahu jika cucunya memang menyukai kesempurnaan, tapi dia tidak tahu jika sifat itu akan berimbas pada orang-orang di sekitarnya. "Yang sabar ya sama cucu Nenek, tapi semenjak punya asisten pribadi, jadwal makannya jadi tepat waktu. Nenek seneng, makasih ya, Nind." Nindy mengangguk, "Iya, Nek. Aku kan juga digaji jadi ya nggak papa," ucapnya terkekeh. "Ya udah, kamu pesen makan lagi sana. Mumpung Raka masih lama olahraganya." "Aku pesen soto boleh, Nek?" tanya Nindy dengan mata yang berbinar. "Boleh." Nindy bertepuk tangan senang dan mulai berdiri, tapi belum sempat berjalan dia kembali duduk. "Kenapa?" tanya Nenek Farah bingung. "Yang jual jauh, Nek." Tunjuk Nindy pada penjual yang berjarak tujuh meter. "Deket kok." Nindy kembali menggeleng, "Nanti Nenek ilang." "Nenek duduk di sini." Nindy kembali menggeleng, "Nggak jadi, Nek. Aku nggak bisa ninggalin Nenek sendiri." Nenek Farah tersenyum dan mengelus lengan Nindy, "Kalau gitu pesen bubur aja lagi." Nindy mengangguk senang. Meskipun Nenek Farah bisa berkomunikasi dengan baik, tapi itu tidak berlaku dengan ingatannya. Nindy bahkan yakin jika wanita itu sudah lupa dengan apa yang ia bicarakan tadi. Bahkan beliau juga bisa lupa dengan menu makanannya tadi. Bukan sekali-dua kali Nindy berbicara dengan Nenek. Saat berada di taman pun, Nindy harus bersabar karena jawaban yang bisa berubah sewaktu-waktu. Seseorang datang menghalangi pandangan Nindy. Pria itu adalah Raka. Nindy mendengkus kesal karena pemandangan para pemuda yang bermain basket di depannya menjadi terhalang. "Nenek sudah makan, Nind?" tanya Raka sambil meminum air mineralnya. "Sudah, Pak." Nindy terpaku saat melihat Raka. Dengan tubuh yang berkeringat, pria itu mulai menghabiskan air minumnya. Nindy merasakan sesuatu yang berbeda. Pria itu seperti bergerak secara lambat, persis seperti model iklan. Seketika Nindy merinding melihat itu. Apa yang terjadi? Nindy menggeleng dan memukul kepalanya pelan. Dia memilih untuk menunduk. "Makan apa tadi?" tanya Raka pada Nindy. Nindy tergagap dan hanya bisa menunjuk gerobak makanan yang ia beli, "Anu.. Pak. Sa—saya tadi makan bapak— eh salah! Maksudnya makan ketoprak sama bubur." Nindy merutuki kebodohannya sendiri. Raka menatap Nindy geli, "Kalau Nenek?" tanyanya "Nenek makan bubur ayam," jawab Nindy cepat. Raka membuka dompetnya dan segera membayar pesanan Nindy dan neneknya. Setelah selesai, dia menghampiri Nindy yang kembali terpesona pada para pemuda yang tengah bermain basket di lapangan. Raka mendengkus melihat itu. Dia masih ingat saat Nindy menatapnya terpesona tadi, tapi sekarang gadis itu juga terpesona dengan pria lain. Dasar buaya betina! "Ayo pulang," ajak Raka cepat. "Pulang, Pak? Bentar lagi deh, lagi nangggung nih." Nindy masih fokus pada pemandangan di depannya. Raka berdecak dan menutup mata Nindy, "Jaga pandangan!" "Pak Raka jangan ganggu deh." Nindy berusaha melepaskan tangan Raka. "Ayo pulang!" Kali ini Raka mulai menarik tangan Nindy. Dengan bibir yang maju, Nindy berdiri dan mulai mengemasi barang-barangnya. Dia berjalan ke arah mobil dengan menggandeng tangan nenek. "Kita ke rumah saya." "Katanya pulang?" tanya Nindy bingung. "Iya, pulang ke rumah saya." Raka mulai melajukan mobilnya. Nindy memasang wajah memelas, "Pak, ini hari libur loh. Masa saya harus potong buah lagi?" Bibir Raka berkedut mendengar itu. Kadang ucapan polos dan frontal Nindy terdengar lucu di telinganya. "Saya mau mandi dulu, habis itu kita ke rumah sakit." "Ngapain, Pak?" "Check-up kesehatan Nenek." Nindy mengangguk mengerti, tapi dia berhenti mengangguk saat tersadar akan sesuatu. "Saya ikut, Pak?" tanya Nindy bingung. "Iya. Kamu nggak mau?" Nindy mencibir, "Apaan, sih? Orang saya nggak ngomong apa-apa. Jangan galak-galak dong, itu wajah udah persis kaya batako. Kaku!" "Kamu!" Raka menggeram dan mengulurkan tangan kirinya ke belakang untuk meraih telinga Nindy. Setelah dapat, dia menariknya cukup keras. "Sakit, Pak!" Nindy berusaha melepaskan diri. "Badung banget kamu!" geram Raka. Nenek Farah yang sedari tadi diam mulai tertawa dan melepaskan tangan Raka, "Jangan galak-galak sama Nindy, Ka. Kasihan loh." Nindy tersenyum dan menjulurkan lidahnya pada Raka. "Kamu selamat karena ada Nenek." "Kalau nggak ada Nenek, saya masih bisa lapor ke polisi dengan tuduhan penyiksaan terhadap karyawan," jawab Nindy. "Nggak usah sok elit," cibir Raka. "Dasar batako!" rutuk Nindy kembali menjulurkan lidahnya. *** Raka dan Nindy keluar dari rumah sakit setelah Nenek Farah selesai melakukan check-up. Saat masih mengantri tadi, tiba-tiba Kakek Anwar datang dan ikut melakukan pemeriksaan. Oleh karena itu, Raka dan Nindy memilih untuk pulang terlebih dahulu karena kakek dan nenek juga akan langsung pulang ke rumah nanti. "Habis ini kamu langsung kerjain tugas kamu." Saran Raka saat mobil mulai berjalan. "Udah siang, Pak. Kayaknya saya bobo siang dulu deh." Raka menatap Nindy jengah. Dia terbiasa dengan kerja cepat, tapi Nindy dengan santainya selalu menunda. Sedikit membuatnya gemas dan ingin memukul kepala gadis itu. "Kamu tau kan kalau waktu adalah uang?" Nindy mengangguk paham, "Tapi ini akhir pekan, Pak. Saya bukan gila kerja kayak Bapak." "Kamu!" "Jangan melotot, Pak. Saya bener loh." Nindy mengerucutkan bibirnya kesal, "Bukannya mau tunda pekerjaan atau nggak profesional, tapi saya selalu melakukan sesuatu itu sesuai jadwal. Bapak jangan khawatir, bulan depan desainnya pasti sudah jadi. Meskipun bangor begini, saya juga pinter kok, Pak. Bisa kerja cepet juga." "Saya nggak peduli prosesnya, yang saya mau desainnya harus sudah selesai bulan depan." "Iya." Nindy menjawab sabar. Dia membuka tasnya saat merasakan getaran pada ponselnya. Ada nama ayahnya di sana. Nindy tersenyum dan berdehem pelan sebelum menjawab. "Pak Raka diem dulu, Bapak saya telepon," ucap Nindy sambil mengangkat panggilan itu. Raka hanya melirik sebentar dan kembali fokus menyetir. "Halo, Pak?" sapa Nindy. "Halo, Nduk. Kamu di mana sekarang?" Nindy melirik Raka sebentar dan menjawab, "Lagi di luar, Pak. Kenapa?" "Bagus, sekalian jemput Bapak sama Ibuk di stasiun ya?" Mata Nindy membulat mendengar itu. "Apa?!" Suara tawa di seberang sana membuat jantung Nindy berdetak dengan kencang. "Ini Bapak sudah sampai di stasiun." "Bapak kok nggak bilang kalau mau ke sini?" Nindy mulai panik. "Ya kejutan to, Nduk." "Ya udah, aku jemput Bapak sama Ibuk sekarang. Tunggu di sana, jangan ke mana-mana." Nindy dengan cepat mematikan panggilannya dan mengacak rambutnya frustrasi. Raka yang melihat itu mengangkat sebelah alisnya bingung. Apa gadis itu mendadak gila? "Kamu kenapa?" Nindy menoleh dan meraih lengan Raka, "Berhenti di sini, Pak." "Kenapa?" tanya Raka bingung. "Saya mau jemput orang tua saya di stasiun." "Saya antar," jawab Raka santai. "Enggak usah, Pak. Beneran deh." Nindy menolak cepat. Dia yakin keberadaan Raka akan menimbulkan banyak pertanyaan nanti. "Stasiun itu jaraknya jauh, biar saya antar. Hitung-hitung kamu hemat ongkos." "Tapi Pak Raka jangan ngomong aneh-aneh sama orang tua saya ya? Kalau ditanya masalah pekerjaan, bilang aja kalau saya udah kerja sama Pak Raka tiga bulan." Raka menatap Nindy tidak suka, "Kamu bohong selama ini?" "Terpaksa, Pak. Dari pada saya dinikahin sama anaknya Pak Kades." Raka terkejut, "Kok bisa?" "Panjang ceritanya, nanti saya dongengin kapan-kapan." "Badung banget kamu," gumam Raka menggelengkan kepalanya pelan. Dia kembali fokus pada jalanan di hadapannya. Sekarang tujuannya adalah stasiun untuk menjemput orang tua dari asisten pribadinya yang datang secara mendadak. *** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD