Masakan Kanjeng Ratu

1538 Words
Perasaan Nindy terasa campur aduk sekarang, antara senang dan gelisah. Senang karena akhirnya bisa kembali bertemu dengan orang tuanya dan gelisah karena takut jika rahasianya akan terbongkar. Meskipun sudah meminta Raka untuk menutup mulut, tapi kegelisahan itu masih ada. Bukan satu-dua orang yang tahu jika Nindy baru bekerja sekarang. Dia belum mempersiapkan semuanya karena kedatangan orang tuanya yang mendadak. "Pak Raka pulang aja deh." Nindy berbalik dan menatap Raka yang bersandar pada mobilnya. "Kamu ngusir saya?" Nindy mengerucutkan bibirnya kesal, "Nggak gitu." Dia tampak bingung menjelaskan. "Terus?" Nindy berdecak, "Iya, saya ngusir Bapak!" Raka tersenyum miring dan berjalan mendekat, "Nggak mau. Saya mau liat kamu dimarahin sama Bapak kamu karena udah bohong selama ini." "Pak..." Nindy meraih lengan Raka dengan wajah yang memelas. "Nindy, anakku!" Teriakan yang terdengar nyaring itu membuat Nindy berbalik. Ekspresi takutnya langsung berubah saat melihat orang tuanya mendekat. Nindy merentangkan kedua tangannya dan berlari ke arah orang tuanya. Mereka berpelukan dengan gembira tanpa peduli dengan pandangan orang lain di sekitarnya. Dari jauh, Raka tersenyum melihat itu. Hanya butuh satu detik bagi Nindy untuk mengubah raut wajahnya. Ke mana rasa takutnya tadi? Raka berjalan mendekat dan tersenyum sopan pada wanita paruh baya yang menatapnya bingung. Melihat ibunya yang mendadak diam, Nindy menoleh dan mengumpat saat Raka sudah berada di belakangnya. "Ini siapa, Nduk?" tanya Ibu Nindy bingung. "Ini Pak Raka, Buk. Dia—" Belum sempat menyelesaikan ucapanya, Ayah Nindy sudah maju satu langkah dan menatap Raka lekat. Bahkan raut wajah galak ia tunjukkan dengan pandangan menilai. Nindy meringis melihat itu. Memang ekspresi itu yang selalu ayahnya tunjukkan jika anak gadisnya terlihat tengah bersama pria. "Pak..." Nindy menarik lengan ayahnya, "Jangan melotot. Itu bos aku," bisiknya. Ayah Nindy terkejut dan mundur satu langkah, "Kenapa nggak bilang dari tadi?" bisiknya. "Bapak kebiasaan deh." Kali ini Ibu Nindy yang bicara. Raka menahan senyumnya melihat perdebatan konyol itu. Sekarang dia tahu dari mana sifat aneh Nindy muncul. Gadis itu persis seperti ayahnya. "Perkenalkan, Pak. Saya Raka." Raka mengulurkan tangannya. "Maaf ya, Pak Raka. Ayah Nindy memang selalu gitu kalau liat anaknya sama cowok." Ibu Nindy meminta maaf. "Nggak papa kok, Buk. Saya paham, namanya juga orang tua." "Kok Pak Raka ada di sini juga?" tanya Ayah Nindy bingung. "Panggil saja Raka, Pak." Nindy mencibir melihat jawaban manis yang keluar dari bibir Raka. Pria itu seperti memiliki dua kepribadian ganda. Nindy masih ingat betapa jahilnya pria itu selama ini. "Aduh, nggak enak saya. Kan Pak Raka bosnya Nindy." Raka kembali menggeleng, "Jangan, Pak. Panggil Raka aja biar enak. Saya di sini karena kebetulan tadi ada pekerjaan yang harus saya dan Nindy selesaikan, jadi sekalian jemput Bapak dan Ibu." Ayah Nindy mengangguk paham, tapi dia kembali menatap Raka penasaran, "Nak Raka ini cuma bosnya Nindy atau lebih?" "Pak!" Nindy mulai panik. Raka menggeleng pelan, "Hanya sebatas rekan kerja, Pak. Kalau begitu ayo ke mobil, pasti Bapak sama Ibu capek setelah perjalanan jauh dan butuh istirahat." "Bener! Ayo, langsung pulang aja." Nindy mengangguk setuju dan menarik kedua orang tuanya. Mereka semua sudah berada di dalam mobil sekarang. Tempat yang dituju adalah kost Nindy. Jika datang berkunjung, orang tua Nindy selalu tinggal sementara di kost dengan menyewa kamar yang kosong. "Kenapa nggak kasih kabar kalau mau dateng?" tanya Nindy mulai memasang sabuk pengamannya. "Niatnya mau kasih kejutan, tapi ternyata Bapak yang dikasih kejutan. Iya to, Buk?" tanya Ayah Nindy jahil. "Maksudnya?" Nindy mengerutkan keningnya bingung. "Nak Raka itu pacar kamu kan?" Raka yang sedari tadi fokus menyetir terbatuk mendengar itu. Dia tersedak ludahnya sendiri. Nindy yang panik langsung mengambil air minum dan memberikannya pada Raka. "Pak, jangan gitu dong." Nindy menatap ayahnya memelas, "Jangan bikin Bos Nindy ngamuk. Kalau dipecat gimana?" "Kalau gitu gantian Bapak yang pecat Nak Raka jadi calon mantu." Raka kembali terbatuk mendengar itu. Lagi-lagi Nindy memberikan botol minumnya. "Bapak kalau masih jahil aku paketin balik ke Jogja nih!" ucap Nindy kesal. "Udah-udah! Bapak sama anak sama aja. Kasian Nak Raka nggak bisa fokus nyetir." Ibu Nindy mulai melerai anak dan suaminya. Raka tersenyum tipis, "Nggak papa kok, Buk." "Sebagai permintaan maaf, nanti Nak Raka ikut makan siang ya? Kebetulan Ibuk bawa lauk banyak kesukaan Nindy." Nindy menatap ibunya tidak suka, "Ngapain sih, Buk? Pak Raka itu sukanya makan pizza bukan gudeg." "Saya suka gudeg," jawab Raka menyeringai. Nindy menatap Raka kesal, "Saya nggak tanya." Sebuah cubitan mendarat di lengan Nindy. Siapa lagi jika bukan ulah ibunya? "Nind, kamu kok nggak sopan sama bos kamu? Maaf ya Nak Raka, pasti Nak Raka darahnya tinggi gara-gara kelakuan Nindy." Raka kembali tersenyum, "Saya sudah biasa kok, Buk." Nindy mendengkus dan melipat kedua tangannya di d**a. Sesekali dia melirik Raka dan mencibir tingkah pria itu. Raka tetaplah Raka, pria itu akan selalu bertingkah menyebalkan jika berhubungan dengannya. Dasar badut muka dua! *** Raka yang awalnya berniat langsung pulang tidak jadi karena terperangkap di dalam kost. Ini pertama kalinya dia memasuki kost Nindy yang ternyata bebas, baik untuk pria maupun wanita. Raka memilih untuk duduk di meja makan dapur dengan diam. Aura menjadi mencekam saat Ayah Nindy masih menatapnya penasaran. "Tunggu sebentar ya, Nak Raka. Ini mau selesai," ucap Ibu Nindy yang tengah menghangatkan makanan yang ia bawa. "Pak Raka kenapa nggak pulang aja sih?" bisik Nindy yang duduk di sampingnya. "Kamu mau saya dorong Ibu kamu dan lari pergi gitu?" balas Raka ikut berbisik. "Ya alasan apa kek? Katanya jenius." Raka menatap Nindy jengah. Kadang ucapan gadis itu lebih pedas dari pada dirinya. Secara perlahan dia mulai mengeluarkan taringnya. "Jangan liatin Pak Raka kayak gitu dong, Pak." Nindy menegur ayahnya. "Enggak, Bapak cuma mikir aja. Kalian beneran nggak ada hubungan kan?" "Pak!" Nindy mulai kesal. "Eh, Arif!" panggil ayahnya tiba-tiba saat Arif, penghuni kamar bawah baru turun dari lantai paling atas. Mungkin baru saja selesai menjemur pakaian. "Loh Pak.. Buk.." Arif terkejut melihat kedatangan orang tua Nindy. Sudah hampir lima tahun Nindy tinggal di kost ini dan tentu sebagai orang tua, mereka harus tahu siapa saja penghuninya. Siapa tahu ada bandar n*****a di tempat ini? "Kok nggak bilang kalau dateng, Pak?" Arif menyalami tangan orang tua Nindy. "Sengaja mau kasih kejutan tapi ternyata bapak yang kaget." Ayah Nindy melirik Raka. Arif menatap Raka dengan bingung. Dia tidak pernah melihat pria itu sebelumnya. "Jangan dengerin Ayah, Mas. Ini Pak Raka, bos aku di kantor." Arif mengangguk mengerti, "Saya Arif, Pak. Tetangga Nindy di lantai bawah," ucapnya memperkenalkan diri. "Saya Raka." "Kamu lagi libur kan, Rif? Ayo sini ikut makan. Ibuk bawa makanan banyak. Oh iya, yang ini Ibuk masukin kulkas buat temen-temen kamu nanti ya, Nind?" Nindy hanya bisa mengangguk pasrah. Bisa-bisa semua penghuni kost akan dipanggil orang tunya untuk makan bersama. "Ayo, makan." Ibu Nindy meletakkan seluruh makanan di atas meja. Raka sedikit terkejut melihat itu. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun dia kembali melihat kumpulan makanan rumahan lagi. Ada sedikit rasa iri di hatinya saat melihat Nindy mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya yang lengkap. Nindy mengambil satu piring dan mengisinya dengan nasi. Setelah itu ia berikan pada ayahnya. Dia juga melakukan hal yang sama pada ibunya. Nindy kembali mengambil piring kosong dan mengisinya lagi dengan nasi. Tanpa sadar dia memberikan piring itu pada Raka. Raka kembali terkejut dan menerima piring itu dengan ragu, "Terima kasih," gumamnya. "Ini makan semuanya, harus habis." Sekarang gantian Ibu Nindy yang membagi lauknya untuk Nindy, Raka, dan Arif. "Kalian masih muda, harus banyak tenaga biar semangat kerja." Arif tersenyum, "Makasih, Buk. Udah lama saya nggak makan masakan Ibuk." Mereka makan dengan tenang, sesekali terlibat pembicaraan antara orang tua Nindy dan Arif. Mereka memang sudah akrab. "Bapak seneng banget waktu denger Nindy dapet kerja. Nggak kerasa udah tiga bulan aja. Makasih ya, Rif. Kalau aja waktu itu kamu nggak kasih tau loker itu ke Nindy, mungkin dia masih belum kerja sampai sekarang," ucapan Ayah Nindy bagaikan ledakan meteor di telinga Nindy, Arif, dan Raka. "Apa ini? Kebohongan apa lagi ini?" batin Raka. Arif yang bingung berniat ingin bertanya, tapi dengan cepat Nindy mencegahnya, "Mas, ini habisin!" ucapnya menuangkan sisa sambal ke piring Arif. Arif menatap Nindy meminta penjelasan. Namun gadis itu dengan cepat menggeleng dan memintanya untuk diam. Arif yang paham mulai tersenyum dan menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Sama-sama, Pak. Tapi semua itu nggak akan terjadi kalau nggak ada Pak Raka." Arif menatap Raka lekat berharap jika pria itu mau ikut bersandiwara. "Betul. Ibuk sama Bapak mau ucapin terima kasih juga buat Nak Raka karena udah mau terima Nindy. Pasti selama tiga bulan terakhir ini kamu pusing sama tingkah anak Ibuk." "Buk!" Nindy menatap ibunya kesal. Raka tersenyum dan mengelap bibirnya dengan tisu, "Pusing dikit, Buk. Tapi nggak masalah, karena Nindy cepat tanggap kalau belajar. Jadi enggak susah." "Bagus kalau gitu." Ayah Nindy beralih pada anaknya, "Inget, Nind. Kerja yang bener, Bapak bisa suruh Raka jewer kupingmu kalau kamu berulah nanti." Nindy mengerucutkan bibirnya dan memakan ayamnya ganas. Dia masih kesal dengan suasana tegang yang terjadi. Pertama, kedua orang tuanya datang secara mendadak. Kedua, Raka ikut bergabung dengan mereka. Yang ketiga, hampir saja semua terbongkar jika Arif tidak mengerti sinyal siaga satu yang ia berikan. Dengan senyum angkuh, Raka duduk bersandar dan berbisik di telinga Nindy, "Bantuan saya nggak gratis ya, Nind." Nindy menatap Raka sambil menggigit tulang ayamnya kesal, membayangkan jika yang ia gigit adalah tangan Raka. Dasar kulkas rusak! Kadang dingin kadang anget! *** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD