Perpisahan memang selalu menyedihkan, mau dipisahkan dengan kematian atau perpisahan karena keadaan semuanya akan tetap sama-sama menyedihkan dan menyakitkan.
Michael memelukku dengan erat begitu juga dengan Bianca, setelah aku memeluk seluruh penghuni panti dan berjanji akan datang kembali saat liburan musim panas untuk berkunjung.
Dua malam sebelum kepergianku, ketiga pengasuh panti memberitahu diriku bagaimana keadaan keluarga Young.
Tidak ada kesulitan keuangan, keluarga Young bahkan termasuk jajaran orang kaya di ibukota tetapi mereka memintaku untuk tetap rendah hati dan tidak mengumbar harta warisan yang aku miliki.
“Bahkan kami yang sudah bersama denganmu bertahun-tahun, juga menemani ibumu dari awal rumah ini didirikan mencoba untuk tidak mencari tahu berapa banyak harta yang kamu miliki Daisy. Kami khawatir jika akan timbul sikap serakah dalam diri kami sementara ibumu sudah bersikap begitu baik pada kami.”
Aku paham, sangat paham.
Ibu juga mengatakan hal yang sama, untuk menyembunyikan semuanya, menyembunyikan apa saja yang sudah dia tinggalkan untukku.
Satu-satunya benda mewah yang melekat pada tubuhku hanyalah jam tangan pemberian ibuku.
Haruskah aku menyimpannya juga?
Kata ibu, jam tangan itu adalah pemberian ayahku.
Ayahku adalah anak tunggal, kedua orangtuanya juga sudah meninggal jadi aku sama sekali tidak memiliki keluarga dari pihak ayahku tetapi seseorang bisa saja mengaku datang sebagai keluarga ayahku jika mereka tahu Daisy Carolina Walter memiliki harta yang berlimpah.
Tidak ada yang tidak mungkin, karena itu ibu selalu mengajariku untuk bersikap sederhana.
Uang tidak mengenal saudara, tidak mengenal pertemanan bahkan tidak mengenal cinta.
Aku mengingat kata-kata ibu saat membacakan diriku dongeng seribu satu malam.
“Daisy, kita akan bertemu lagi.” ucap Michael saat aku kembali memeluknya untuk terakhir kalinya.
Tentu saja kami akan bertemu lagi karena kami memiliki impian tentang universitas yang sama, jurusan yang sama dan aku hanya bisa menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis.