Young

325 Words
Kisahku bersama kota Finnest akhirnya berganti, aku kembali ke kota dimana aku dilahirkan, ibukota dari negeri Sovernia yang memiliki nama yang sama dengan negeri ini. Pesawat kecil yang membawaku dan juga beberapa penumpang termasuk wanita yang memperkenalkan dirinya sebagai nenekku dan pria yang menyebut dirinya sebagai pamanku akhirnya mendarat di kota Sovernia. Gedung tinggi menjulang menjadi pemandangan pertama, sepuluh tahun aku meninggalkan Sovernia dan semua sudah berubah dengan cepat. Aku bahkan tidak mengenali kota ini lagi, kecuali satu gedung yang akan selalu aku ingat. Gedung tempat dimana aku tinggal bersama ayah dan ibu sebelum pindah ke kota Finnest. Gedung itu masih terlihat megah diantara bangunan-bangunan lainnya. Apakah keluarga Young mengetahui keberadaan apartemen mewah milik orangtuaku?, menurut ibu mereka sama sekali tidak tahu apa-apa. Mereka memutuskan hubungan dengan ibu karena menolak dijodohkan dan kabur bersama ayahku yang seorang tentara dan yatim piatu. Pernikahan ayah dan ibu tidak pernah mereka restui, itulah sebabnya surat dan telepon dari ibu selalu mereka abaikan ditambah alamat yang diberikan oleh ibu menggunakan nama panti asuhan sehingga mereka semakin meremehkan pernikahan yang terjadi di antara ayah dan ibuku. “Mary, dia adalah sepupumu. Daisy Walter.” Aku dihadapkan dengan seorang gadis cantik, rambut kami sama-sama berwarna pirang. Penampilannya sudah pasti sangat menawan dengan pakaian yang aku ketahui keluaran desaigner ternama begitu juga sepatu yang dia kenakan. Matanya memandangiku dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Oh apa dia Daisy?” Terdengar suara wanita yang membuatku menoleh kearah tangga. Seorang wanita dengan rambut pirang dan pria muda yang mungkin seusiaku atau diatasku juga dengan rambut pirangnya berjalan turun menyambut kedatanganku. “Aku Gemma, bibimu dan ini Brandon, dia adiknya Mary.” Aku menganggukkan kepalaku dan menampilkan senyuman tipisku. “Biar kuantar ke kamarmu, kami baru saja membersihkan kamarmu, maaf jika kamarnya kecil karena hanya itu kamar yang tersisa di rumah ini, lagipula bukankah kamu sudah terbiasa tinggal di ranjang panti asuhan.” celotehan Gemma membuatku sadar jika niat mereka menjemputku bukanlah niat baik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD