Kasur baru

479 Words
Kamar ini lebih tepat disebut sebagai kamar pelayan, karena berada di lorong menuju dapur. Aku ingin tertawa geli tetapi urung kulakukan, nikmati saja permainan mereka karena aku tampaknya memang sedang mencari sebuah tantangan dari hidupku yang selalu datar. “Kasurnya lebih keras dari kasur di panti asuhan, apa kalian ada masalah keuangan?,” tanyaku pada Gemma dan tentu saja dihadapan Matilda yang yang juga menemaniku menuju kamar yang mereka siapkan untukku, “meskipun aku tinggal di panti asuhan tetapi aku memiliki kamar sendiri, kasur dikamarku dan juga kamar-kamar temanku sangat nyaman untuk kami tiduri. Apa kalian berniat menjadikan aku pembantu dirumah ini?” Aku memang berniat ingin mengikuti permainan mereka tetapi bukan berarti mereka bisa menindasku meskipun usiaku masih enam belas tahun. Ibuku tidak membesarkan diriku menjadi anak baik yang mudah ditipu dan dibodohi, pengasuh-pengasuh di panti asuhan jika tidak pernah mengijinkan siapapun memandang rendah diri kami meskipun kami berstatus anak panti asuhan. “Tentu saja tidak, tetapi dirumah ini hanya ada..” “Bibi jangan khawatir, aku tidak keberatan tinggal dikamar ini, jika tidak ada pembantu dirumah ini aku juga tidak keberatan untuk membantu bibi memasak dan mencuci piringku sendiri juga piring nenek tetapi tidak dengan piring anak-anak bibi dan paman. Di panti asuhan kami terbiasa mencuci piring kami sendiri, mencuci pakaian kami sendiri, membersihkan kamar kami sendiri, bekerja sama membersihkan panti, jika kalian berniat menjadikan aku pelayan maka aku aka memilih tinggal di asrama saja kebetulan pengasuhku dan pihak sekolahku sudah mengurus kepindahanku di sekolah keputrian Sovernia.” Wajah mereka tampak mengeras saat mendengar ucapanku dan aku tidak peduli. “Kami benar-benar..” Aku tersenyum tipis, memutus ucapan Gemma yang aku tahu hanyalah omong kosong. “Aku tidak minta kamar yang mewah, aku tahu rumah ini hanya memiliki lima kamar selain kamar pembantu yang akan kutempati tetapi aku benar-benar tidak bisa tidur dikasur yang keras dingin. Selebihnya aku tidak masalah dengan kamar ini selama pemanas ruangannya tidak bermasalah, aku rasa uang saku yang diberikan pengasuhku cukup untukku membeli kasur baru jika kalian tidak bisa membelikan aku kasur yang baru.” Sejujurnya aku suka tidur berada jauh dari mereka, tidak masalah dengan kamar yang kecil tetapi tidak dengan kenyamanan tidurku. Mereka harus tahu jika aku tidak mudah untuk ditindas dan pastinya ada maksud lain dari mereka selain mau menjadikan diriku pembantu dirumah ini. “Jangan, kami akan membelikanmu kasur baru.” pinta Gemma yang aku tahu dia mendapatkan cubitan mesra pada pinggangnya dari Matilda. “Sekarang?” “Benar sekarang, kita bisa berjalan-jalan sekaligus makan diluar untuk merayakan kedatanganmu.” Aku menganggukkan kepalaku dan tersenyum senang. Hari pertama dan malam pertamaku setelah sepuluh tahun meninggalkan kota ini harus indah, jika tidak tentu saja aku akan merajuk. Aku akan membuat masalah, jangan dikira aku tidak bisa membuat masalah.Tiga bulan berlalu dan aku menjalani hari-hariku dengan baik di kediaman keluarga Young, setidaknya mereka sangat tahu diri untuk tidak macam-macam denganku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD