Terima kasih, Daisy

958 Words
Aku merasa kewarasanku menghilang, membawa seorang pria asing yang bahkan tidak kukenal sama sekali, bahkan aku belum menanyakan namanya menuju panti asuhan tempatku tinggal selama ini. Rasanya aku benar-benar kehilangan kewarasanku, kami berjalan bergandengan, tepatnya aku setengah memapahnya, berjalan sejauh dua kilometer, saat memasuki gerbang panti suasana diluar sudah mulai gelap, semua orang di kota Finnest tidak suka kehidupan malam karena itu sepanjang perjalanan tidak banyak orang berlalu-lalang. Setelah senja adalah waktunya keluarga berkumpul bagi warga kota Finnest, termasuk juga di panti asuhan, semua berkumpul di dapur dan ruang makan untuk menyiapkan makan malam bersama. “Aku terlambat.” ucapku berusaha bersikap sewajarnya. “Oh Daisy, tolong bantu potongkan roti saja.” pinta salah satu pengasuh panti asuhan padaku. Tidak ada yang curiga. Aku harus membawakan obat-obatan, perban, air minum dan juga makanan untuk pria yang kusembunyikan di dalam gudang, tetapi nanti setelah makan malam selesai. Makan malam yang penuh keceriaan. Ada tujuh anak panti asuhan dan tiga pengasuh panti asuhan. Tidak banyak karena Kota Finnest sendiri juga mulai kekurangan penduduk. Anak muda sepertiku akan memilih mengadu nasib ke kota besar atau melanjutkan pendidikan di universitas yang berada di ibukota. “Brandon akan pindah ke kota tahun depan, panti ini akan semakin sepi.” “Panti ini adalah rumah untuk kita pulang.” ucapku yag disambut anggukkan kepala selurh penghuni panti. Panti asuhan ini adalah rumahku, rumah yang dibangun oleh ibu dengan penuh rasa cinta kasihnya dan kemanapun aku pergi maka aku akan pulang kembali ketempat ini ketika aku ingin mencari sebuah ketenangan. Sesekali aku melirik lengan kananku, jarum pendek pada jam tangan pemberian ibuku menunjukkan angka delapan. Aku belum juga memeriksa kembali tamu gelapku. “Bibi, aku mau mengambil sesuatu dari gudang.” aku meminta ijin agarpintu belakang panti tidak dikunci, sesuai kebiasaan jam sembilan maka kami akan tidur. “Hati-hati Daisy, meskipun musim panas mungkin saja ada serigala gunung turun ke kota.” Alasan lain mengapa warga kota Finnest lebih memilih berada dirumah saat hari gelap, semua karena binatang liar dan buas masih sering berkeliaran dikota ini. Aku segera membawa air minum, sup hangat, roti, s**u dan tentu saja obat-obatan dan perban. Pria itu tertidur di atas tumpukan karton dan juga kain terpal. Terllihat dari wajahnya mungkin dia sudah berusia tiga puluh tahun, rahangnya begitu tegas, rambut-rambut halus mulai terlihat disekitar bibirnya yang menandakan beberapa hari ini pria tersebut tidak bercukur. Rambutnya yang tidak panjang dan juga tidak pendek menutupi sebagian wajahnya, rambut berwarna hitam itu tampak kontras dengan kulit putih miliknya. Kulit putih yang tertutupi bercak darah. “Tuan, aku akan membersihkan luka anda.” ucapku dengan lembut sambil menyibakkan rambut yang menutupi pelipis. Cengkraman keras membuatku meringis tetapi aku mencoba memaklumi, pria itu mungkin saja merasakan trauma dengan luka dikepalanya, entah disekujur tubuhnya apa juga ada luka yang sama atau lebih parah. “Maafkan aku.” ucapnya sambil menatap wajahku. “Tidak apa-apa.” Aku kembali membersihkan wajahnyanya dari noda-noda darah. Kuteguk liurku saat menyadari pria tersembut sangat tampan, aku tidak pernah melihat pria setampan ini selama aku hidup di kota Finnest. “Anda bukan berasal dari sini.” ucapku tanpa sadar dengan nada setengah bergumam. “Bukan, kota apa ini?” Keningku berkerut saat dia bertanya, kota apa dia berada sekarang. “Finnest, anda berada dikota ini tetapi tidak tahu namanya. Apa anda malaikat yang jatuh dari langit atau pengembara gunung yang terguling-guling dari pegunungan dan masuk ke hutan?” “Keduanya, tetapi aku bukan malaikat.” Glek! Sekali lagi kuteguk liurku saat mata kami saling menatap. “Apa ada bagian tubuh lain yag terluka?” “Punggung, aku menimpa beberapa dahan pohon tetapi sudah kupastikan tidak ada yang patah hanya memar.” Pria itu membuka kemejanya dan memamerkan tubuh yang terpahat begitu sempurna. Lagi dan lagi aku menelan liurku, ini pertama kalinya bagiku melihat pria melepaskan pakaiannya dihadapanku meskipun hanya sebuah kemeja. Aku menarik nafas panjang sambil menutup mulutku, bagaimana bisa dia tidak kesakitan dengan luka yang memenuhi bagian belakang tubuhnya. “Kakiku mungkin juga terdapat goresan.” Kali ini dia melepaskan celana panjangnya, celana berwarna hitam dengan beberapa kantong di dalamnya tetapi yang menjadi masalah bagiku adalah dia hanya mengenakan celana dalamnya saja. Dia setengah telanjang dihadapanku yang masih suci dan polos ini. “Maaf, jika membuatmu tidak nyaman.” Tidak ada pilihan lain selain menganggukkan kepalaku. Aku sedang mengobatinya bukan berbuat macam-macam. “Ethan, namaku Ethan.” “Sesuai nama anda, kuat dan berumur panjang. Namaku Daisy.” “Daisy..” Jantungku berdegup kencang saat mendengarnya mengucap namaku dengan suara beratnya. Sementara tanganku mengoleskan salep pereda memar dan nyeri pada bagian belakang punggungnya. Ethan mengulanginya kembali, menyebutkan namaku. “Daisy..” “Aku akan memasang perban pada keningmu.” kali ini aku berpindah tempat kehadapannya bertumpu dengan kedua lututku, penerangan gudang yang temaram cukup membuatku kesulitan memastikan letak luka yang harus kututupi perban. “Terima kasih, Daisy.” Sebuah kecupan hangat mendarat dipunggung tanganku. Jantungku semakin berdebar-debar, mungkin dia bisa mendengarnya tetapi aku hanya bisa tertegun memandangi wajah tampannya dibawah sinar lampu yang temaram. “Berapa usiamu?” Aku menghela nafas, berusaha menenangkan diriku. “Enam belas tahun.” Ethan menggigit bibirnya dan aku mengerjapkan kedua mataku dengan cepat berusaha menghalau pikiranku untuk merasakan bibir yang tampak begitu menggoda. “Sial!” dia menyisir rambutnya membuat seluruh wajahnya terlihat begitu tampan, sangat tampan bahkan saat dia mengumpat dia tetap terlihat tampan, bahkan saat aku melihat lengannya yang dihiasi gambar api aku juga melihatnya tampan. “Aku sudah membersihkan luka anda, juga memberikan salep pereda nyeri dan penghilang memar. Aku harus kembali ke kamarku, ini obat pereda demam dan ada juga makanan untuk anda, mungkin sudah dingin tetapi anda tetap harus makan.” Akhirnya aku kembali bisa untuk mengendalikan diriku, aku bisa untuk bersikap kembali normal. “Terima kasih, Daisy.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD