Tidak ada beruang

431 Words
Aku menikmati waktu hingga sore menjadi senja, masih ditempat yang sama, diatas bangku taman sambil memainkan setangkai bunga daisy yang sudah gundul. Setiap kelopak kumainkan, kupetik dan bertanya-tanya “pulang atau tidak”. Hingga pada kelopak terakhir mengatakan “tidak”. Langit biru mulai berganti warna jingga kemerahan yang begitu indah. Finnest akan menjadi gelap gulita saat malam, tetapi Finnest adalah kota kecil yang sangat aman. Benar-benar aman. Bugh! Mataku segera mencari arah suara yang tampak seperti benda jatuh, mungkinkah buah-buah hutan pada berjatuhan atau mungkin seekor tupai jatuh dari pohon, atau anak beruang. Beruang? Mataku membulat, menepis kemungkinan untuk bertemu beruang yang hanya lucu dalam bentuk sebuah Teddy Bear tetapi rasa penasaran meracuni pikiranku. Aku berjalan perlahan menuju hutan kota, hutan tersebut hanya berjarak empat meter dari tempatku duduk. Hutan tempat buah apel, peach, berry-berry bahkan jeruk liar tumbuh dan siapapun boleh memetiknya. Tidak ada yang kelaparan di kota Finnest. Aku meneguk liurku untuk menghalau pikiran takutku. Tidak ada beruang. Tidak ada beruang. Tidak ada beruang. Aku terus merapalkan mantra, menepiskan rasa takutku. Seharusnya aku langsung berlari pulang tetapi lagi-lagi rasa penasaran menyelimuti pikiranku. Jika aku masuk dalam genre horor, dimana harus bertahan dalam kastil berisi vampir, zombie, werewolf, mummy dan sejenisnya sudah dipastikan aku akan menjadi korban pertama karena rasa penasaranku. “Hwaaaaaaaaaaa...” Aku mundur tiga langkah dan terjembab diatas rumput yang dipenuhi daun-daun kering. Tidak ada beruang. Tidak ada beruang. Tidak ada beruang. Kembali aku merapal mantra. Terus merapal mantra sambil memejamkan mataku. Sosok tinggi dan besar berdiri dihadapanku, apakah dia seekor beruang “Tolong aku..” pekikku panik. Mataku yang terpejam akhirnya terbuka kembali. Mata berwarna madu yang membuat jantungku berdegup kencang, sangat kencang. Tangannya terulur untuk membantuku bangun dari jatuhku. Saat jemari kami menyentuh bisa kurasakan tubuhku memanas. “Nona, apa kamu baik-baik saja?” Aku menganggukkan kepalaku dan mataku membulat sempurna, aku melihat darah pada pelipis kelapa pria yang berada dihadapanku. “Anda.. anda berdarah.” aku segera bangkit, berdiri dihadapan pria yang tingginya mungkin dua kali tinggiku karena aku harus mengangkat kepalaku seakan-akan menatap langit dan tiba-tibba saja pria itu jatuh bersimpuh, berlutut dihadapanku. Segenap keberanian kukerahkan untuk menyentuh pelipis pria tersebut “Rumah sakit, aku akan membawa anda kerumah sakit.” Tentu saja aku merasa panik, aku terlalu panik untuk melihat darah yang sebagian masih basah dan sebagian mengering. “Jangan, jangan rumah sakit.” Keningku berkerut tetapi pria itu menggenggam lenganku. “Bawakan saja aku alat pertolongan pertama dan air minum.” pintanya. “Sebaiknya anda berada di gudang tempat tinggalku saja, anda bisa beristirahat disana. Bisa berjalan?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD