Daisy
Daisy
Give me, your answer do..
I'm half crazy
For all the love of you..
Nyanyian dengan suara sumbang terdengar ditelingaku dan pelakunya siapa lagi jika bukan Michael Ardall, dia salah satu teman terbaikku atau lebih pantas kusebut dengan kata sahabat.
Kami mulai bersama saat Michael pindah dari ibu kota Sovernia ke kota kecil dimana aku tinggal, Finnest.
Kota Finnest sendiri bukanlah kota besar dengan gedung pencakar langit, bukan juga kota sejarah dengan bangunan-bangunan megah bergaya victoria atau khas istana-istana kerajaan.
Kota Finnest terletak dikaki gunung, sangat sejuk meskipun musim panas datang dan sangat dingin saat musim dingin menyapa. Gedung-gedung utama kota Finnest termasuk gedung pemerintahan adalah bangunan-bangunan tua yang sudah dipugar dengan apik, tidak begitu menarik tetapi kota Finnest sangat tertata rapi.
Tidak banyak juga kendaraan seperti mobil berlalu lalang, kami lebih suka bersepeda bahkan walikota Finnest juga selalu bersepeda dari rumahnya menuju gedung Balai Kota, dimana dia akan bekerja.
Sore ini aku dan Michael memilih untuk berjalan kaki menuju taman kota yang masih terhubung dengan hutan kota.
Musim panas yang menyenangkan, udara bertiup sejuk dengan matahari yang bersinar cerah.
“Daisy, bagaimana menurutmu?”
Aku ikut menatap kemana arah mata Michael tertuju, dia menatap Bianca Perez dengan sorot mata yang tidak pernah dia berikan padaku. Sahabatku mulai mengenal perasaan cinta, sedangkan aku masih terjebak dalam pikiran-pikiran naifku.
Aku pikir kami berdua akan menjadi pasangan disaat besar nanti.
Aku pikir cinta akan tumbuh beriringan dengan berjalannya waktu yang kami lewati bersama, seperti pada cerita-cerita yang pernah aku baca.
Sayangnya semua harus gugur sebelum bunga-bunga cinta di antara kami tumbuh menjadi kuncup kemudian mekar dengan sempurna.
Tidak, itu semua baru benih bunga yang gagal tumbuh dan aku merasa bersyukur karena benih itu gagal untuk tumbuh.
Perasaanku pada Michael Ardall tetaplah perasaan sayang sebagai seorang sahabat.
Saat ini kami berdua duduk dibangku taman, bangku dengan rangka besi berukir dan tatakan dari kayu menikmati indahnya bunga-bunga musim panas.
Aku memainkan setangkai bunga daisy yang diberikan Michael untukku, sayangnya itu buka bunga untuk perasaan cita tetapi dia memang suka memberiku bunga yang namanya juga sama dengan namaku.
Terlihat romantis tetapi tidak ada perasaan romantis yang kurasakan karena kami sedang membahas kisah cinta yang akan dijalani sahabatku dengan gadis incarannya.
“Aku akan menyatakan cintaku padanya, Daisy. Bagaimana menurutmu?”
“Apa kamu berniat menikah dengannya?, apa kamu akan membawakan seikat bunga daisy untuknya?”
Michael tertawa mendengar pertanyaanku.
“Bukankah terlalu muda untuk menikah?, aku hanya jatuh cinta padanya, Daisy dan aku rasa aku akan memberinya bunga mawar karena daisy hanya untuk Daisy.”
Aku tersenyum pahit, bukan karena cemburu tetapi mendengar betapa mudahnya sahabatku mengatakan perasaan cintanya. Aku jadi iri dan juga ingin segera merasakan perasaan cinta. “Seperti apa rasanya Mike?, rasanya jatuh cinta?”
Michael menyandarkan tubuhnya pada sandaran bangku taman yang kami duduki, wajahnya terangkat menatap kelangit biru yang begitu cerah.
“Jantungmu akan berdegup tidak menentu saat mata kalian bertemu, tubuhmu akan memanas saat tubuh kalian berdekatan dan apakah kamu pernah merasakan hal seperti itu saat bersamaku, Daisy?”
Tentu saja aku menggelengkan kepalaku karena aku tidak pernah merasakannya setiap kali bersama dengannya.
Michael tertawa kecil, seperti mentertawakan dirinya sendiri tetapi aku tidak peduli karena saat ini aku lebih memikirkan kelanjutan hidupku setelah lulus sekolah nanti.
Apakah aku akan tetap berada di panti?
Apakah aku akan melanjutkan pendidikanku di Sovernia?
Kedua orangtuaku meninggalkan warisan yang cukup banyak untukku dan aku bersyukur karenanya, sebagian sudah bisa kunikmati dan sebagian baru dapat kukelola saat usiaku dua puluh tahun.
“Daisy, aku duluan. Bianca sudah melihat kearah kita.”
Kuanggukkan kepalaku, tanganku melambai kearah Bianca yang juga melambaikan tangannya.
Rambut Bianca yang berwarna cokelat muda terlihat berterbangan tertiup angin dan saat Michael mendekati gadis itu, aku tahu mereka adalah pasangan yang serasi.
Rambut cokelat yang mereka miliki, sepasang mata biru yang juga mereka miliki dan keduanya sama-sama terlihat begitu akrab.
Aku akan selalu bahagia untuk mereka.