Aku tidak peduli

422 Words
Menjadi korban perundungan ternyata lebih menyenangkan daripada membalas perlakuan yang dilakukan anak-anak itu padaku, ditambah dengan pipiku yang memerah dan sialnya terasa begitu sakit hingga telingaku terasa pengang. Tentu saja tidak akan berakhir begitu saja, aku melakukannya bukan untuk mengalah tetapi untuk memberitahu siapapun yang menggangguku akan berakhir lebih menyedihkan daripada tangisanku saat ini. Akan kupastikan Helena Darryl akan menangis darah setelah ini, setelah kunjunganku ke ruangan kepala sekolah dan juga bimbingan konseling. “Helena?” “Skorsing?” “Dia mendapatkan peringatan?” “Aku dengar karena dia merundung anak baru dan apa kalian tahu apa alasan Helena merundung, hanya karena tidak suka.” “Dia jahat sekali.” “Aku tidak mau berteman dengan orang sejahat dia.” “Teman-temannya yang membantu perundungan juga terkena surat peringatan.” “Benarkah?” “Hanya karena alasan tidak suka dan sekarang dia harus dapat ganjarannya.” “Aku tidak kasihan.” “Sama.. lagipula siapa dia?” Senyum tipis bahkan sangat samar muncul terbit dibibirku, melukai secara fisik itu mudah tetapi belum tentu membuat jera. Aku menghela nafas, memasang kembali wajah sedihku. Wajah menderita karena telah menjadi korban perundungan. *** Musim semi berganti menjadi musim panas, aku semakin merindukan kota Finnest dan usiaku juga telah bertambah menjadi tujuh belas tahun. Aroma asap kendaraan bercampur dengan aroma roti panggang dan asap dari daging panggang menjadi aroma yang biasa kuhirup, aku tidak membenci Sovernia tetapi jika diminta untuk menghabiskan sisa hidupku tentu saja Finnest akan mejadi pilihan pertamaku. Mungkin ibu dulu membawaku ke Finnest untuk menghabiskan sisa hidupnya bersamaku. Mungkin saja penyakit memang sudah menggerogoti dirinya. Dulu aku sempat bertanya-tanya mengapa ibu memilih kota kecil yang terpencil dan setelah kembali ke Sovernia aku menyadari semuanya. Dia ingin menghabiskan waktunya bersamaku, memberiku kenangan-kenangan indah akan padang bunga daisy yang sesuai dengan namaku, memberiku keluarga yang hangat meskipun tanpa kehadirannya. “Sandwich ayam dua.” Perutku terasa lapar juga setelah berjalan sekitar satu kilometer, masih ada jarak dua kilometer lagi untukku berjalan menuju kediaman Young. Semua gara-gara ban sepeda milikku tiba-tiba saja bocor, entah benar bocor karena memang sudah waktunya atau ada yang sedang mengajakku bermain-main. “Cola dingin juga.” Keluarga Young tidak berani secara terang-terangan menunjukkan rasa tidak suka mereka padaku tetapi mereka berniat membuatku kelaparan ditambah Grace yang menjadi kaki tangan mereka. Tidak akan ada makanan saat aku pulang sekolah, tidak akan ada orang selain nenekku yang juga jarang berada dirumah dan Grace yang sudah pasti tidak akan kemana-mana untuk mengawasi diriku. Aku bahkan tidak peduli karena mereka saja tidak peduli pada keadaanku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD