Pacaran ternyata tak seindah yang terlihat di televisi. Shara mengalami penindasan setelah menerima ungkapan cinta dari Beno. Dan hari ini, setelah tiga minggu jadian, Shara memutuskan untuk mengakhiri hubungan itu.
Shara duduk di kursi taman sambil menatap jalanan kosong. Ada beberapa pengendara motor yang melintas. Ia melihat David datang dengan tas besar. Ah, ternyata ini hari dimana David balik. Ia kangen sih, tapi rasa kangen itu gak penting jika dibandingkan beban pikirannya tentang Beno.
“Tumben lo duduk disini?”tanya David sambil duduk di depan Shara. Ia meletakkan tas besarnya di atas meja.
“Iya, lagi banyak pikiran.”
“Apa lo masih dikejar sama orang yang kemarin?”
“Hah?”
“Itu loh, orang yang ngejar Josen. Nah, itu ngejar lo lagi?’
“Engga kok.”
“Btw, lo pacaran sama siapa?”
“Pakai ditanyain lagi. Gue tuh bete kak. Gue pengen putus.”
“Jadi lo gak suka sama dia?”tanya David. Shara mengangguk dengan manyun. “Terus kenapa nerima?”
“Gue kira bakal baik-baik saja. Tadinya gue menjunjung tinggi motto yang bilang kalau cinta datang karena terbiasa. Bukannya datang, cinta itu malah makin jauh. Gue kesal banget sama tuh cowok.”
Bukannya prihatin, David malah tertawa hebat. Betul-betul tak punya rasa prihatin. Shara manyun lagi. Rasanya kesal digituin. Terutama oleh David yang Shara anggap kepala kelurahan. Eh, keluarga.
“Sorry sorry. Gue cuma geli doang. Ternyata lo polos banget.”
“Wajar dong gue polos. Dia pacar pertama gue.”
“Really?”
“Gak usah syok gitu. Gue tau gue aneh. Orang-orang pasti mikir gue gak laku.”
“Gak kok. Lo keren.”
“Hah?”
“Iya, lo keren banget! Pacaranlah ketika sudah tiba waktunya. Waktu yang gue maksud tergantung lo sendiri. Kalau lo nyaman single, why not. Itu pilihan Sha, bukan berarti lo gak laku.”
“Sayangnya cuma lo yang berkata demikian. Dan lagi, gue gak pacaran bukan karena alasan itu doang.”seru Shara. Ia ingat akan hidupnya yang penuh dengan kekangan. Ia sadar diri kok, kalau sampai kapanpun ia gak bisa jadi orang biasa. Ia harus terus berada dibawah bayang-bayang keluarganya yang kaya. Jadi kaya itu tak selalu enak. “Tapi gue harus menikmati semuanya sebelum waktunya tiba.”
David beranjak sambil memukul kepala Shara. “Lebay banget, emang mau kemana? Sini ikut gue, gue bawa banyak banget masakan mama. Sekalian lo dapat makanan gratis.”
“Ish, sakit banget!”keluh Shara sambil menggaruk kepalanya. “Beneran bawa makanan?”ucapnya sambil berdiri. Dia benar-benar antusias. Seakan dia lupa kalau ia berencana buat mutusin Beno.
“Iya. Lo kan miskin Sha. Anggap aja gue ngasih makan anak terlantar.”
“Sialan!”
David tersenyum. Ia meletakkan bungkusan plastik dengan beraneka makanan yang dimasak sendiri oleh mamanya. David membawa tas nya ke kamar. Shara menunggu di ruang makan. Wangi masakan itu udah bikin perutnya gak karuan.
“Baru kali ini gue nemu cowok yang mau bawa masakan mama nya.”ledek Shara sambil membuka beberapa bungkusan. David tak menjawab. Emang benar sih, David selalu ogah kalau ditawarin makanan buat dibawa ke Jakarta. Ia hanya ingat sama Shara. Sudah satu bulan ia gak lihat wajah cewek itu. Mungkin saja dia jadi kurus kering saking hematnya. Ternyata apa yang ia pikirkan salah. Wajah cewek itu makin bulat. Ternyata dia gak menderita jika harus hidup sendiri.
“Iya dong. Gue menghargai mama gue lah.”
“Enak banget!”komentar Shara dengan wajah berbinar. “Beda sama masakan bu kos.”bisiknya. David hanya bisa geleng-geleng kepala. Udah syukur ibu kos memberinya makan.
“Itu pipi kenapa makin bulat?”
“Iya ya? Gara-gara Kak Ririn nih. Gue dikasih makanan mulu.”
Akhir-akhir ini Ririn sering bawa makanan. Katanya sih dikasih kantor. Dan kebetulan cewek itu lagi diet. Dia berusaha mengurangi makanan karbo. Jadilah Shara tong sampah. Tempat menyimpan segala makanan yang ia terima dari kantornya.
“Ohhh, baguslah.”
“Oh ya kak, gue butuh lo buat benerin lampu kamar mandi gue. Udah satu minggu gue mandi gelap-gelapan.”rengek Shara.
“Iya, nanti gue ganti. Lampunya sudah dibeli?”
“Belom. Gue kira dikasih sama bu kos.”
“Engga dong. Entar gue temenin beli, abis itu gue pasangin.”
Shara mengangguk senang. “Iya kak.”ucapnya menyanggupi.
David menikmati makan malamnya dengan melihat wajah Shara. Ia kepikiran dengan status cewek itu. Harusnya ia membantunya biar gak ketahuan keluarganya? Di Malang, David mencari tahu tentang Shara. Cewek yang suka menyendiri dan menghilang setelah lulus SMA. Tak ada yang tahu keberadaannya. Ia tak punya teman baik. Orang-orang bahkan gak tahu kalau dia putri dari pengusaha kaya Sandiaga Cuatro. Setelah lulus SMA, mereka baru sadar akan hal itu. Kecuali teman satu kelasnya, mereka sudah tahu kenyataan itu. Itulah yang membuat jarak diantara mereka semakin jauh.
David makin penasaran, kenapa cewek itu kabur. Apa mungkin dia dikekang oleh orang tuanya?
David juga dapat informasi dari orang tuanya kalau Arini Sri Puji salah satu perempuan berpengaruh di Malang. Arini merupakan salah satu duta lingkungan di kota Malang. Dia punya program-program kreatif dan kekinian yang berguna untuk meningkatkan kesadaran manusia dengan lingkungan. Tapi beredar kabar kalau Arini dan Sandiaga sedang mengalami hubungan yang retak. Kabar ini sudah lama tersiar. Dan beberapa hari lalu kembali tersiar. Entahlah, David gak bisa menebak apa yang terjadi.
Shara menatap David heran. Cowok itu diam dan ngeliatin dia. Tapi dia juga terlihat melamun. Dia gak tertuju atau terpesona sama Shara, dia cuma lagi mengingat sesuatu.
“Lo kenapa anjir?”
“Hahaha. Gak apa-apa.”
“Gue kira kesambet setan!”
“Oh ya Sha, lo beneran mau putus sama pacar lo itu?”
“Iya kayaknya.”
“Gue juga mau putus kayaknya.”
“Gila lo! Jangan ngikut-ngikut. Jangan bilang kalau lo punya niat lain.”
“Apaan sih! Gue gak berniat jadian sama lo!”
“Gue gak bilang itu.”
“Jelas banget kalau lo berpikir kayak gitu. Lo itu adik gue Sha.”
“Iya deh.”balas Shara sedikit sedih. Semakin sering mengalami luka, semakin kuat manusia menerimanya. Luka yang terlalu banyak akan meningkatkan kebal pada orang yang terluka.
“Terus kenapa mesti putus?”
“Balik ke rumah bikin gue sadar kalau hidup gue bukan cuma milik gue seorang. Ada orang tua yang berharap banget sama gue. Selama gue kuliah sampe sekarang, gue terlalu banyak bersenang-senang. Gue gak sadar kalau buat biaya kuliah gue aja, mama sampai ngutang.”
Shara cuma diam. Dia bingung mau bereaksi seperti apa.
“Gue mau fokus sama masa depan gue. Gue gak bisa memenangkan dua hal sekaligus. Gue putusin buat relakan dia.”
Shara masih diam. Ia melihat dengan jelas bagaimana perasaan David. Cowok itu emang anak baik. Mungkin calon mantan pacarnya itu akan menganggapnya b******k kalau mendengar alasan klise itu. Zaman sudah canggih, alasan putus masih saja kuno.
“Lo sih gak ngerasain kayak gue ya..”seru David. Ucapan itu bikin Shara bingung. Apa maksudnya coba. Sebelum Shara ngomong, David keburu merevisi ucapannya. “Maksud gue, lo gak harus putus dengan alasan yang sama kayak gue.”
“Ohh, gue lebih takut kak. Gue mutusin dia dengan alasan yang lebih gak masuk akal. Dan gue terkesan tukang PHP. Baru juga tiga minggu jadian, udah ngajak putus.”
“Hahaha.”
“Terus gimana kak? Gue takut dia malah murka dan kirim santet.”
“Ah, gue punya ide. Gimana kalau lo putus pakai alasan kalau lo punya pacar?”
“Hah? Bukannya itu malah bikin gue makin disantet?”
“Sini, lo punya foto pacar lo itu gak?”
“Ada sih. Bentar gue cari.”balas Shara antusias. Buat mutusin Beno kayaknya susah. Dia orang yang gak mau dengerin Shara. Setiap keputusan bersumber dari Beno. Dan kalau Beno sudah bersabda, Shara gak bisa mengubah sabda itu. Itu bikin Shara semakin kalau mutusin Beno gak bakal semudah itu.
“Hmm, gue lihat dia kayak anak pintar.”
“Benar. Gila juga skill analisa lo.”
“Bisa aja dia menolak buat putus. Tapi itu cuma tebakan gue. Lo harus persiapkan alasan lain buat bikin dia setuju.”
“Hmm, apa dong?”
“Selingkuh misalnya.”
“Gila lo. Bisa-bisa dia ngasih tahu sama teman sekelas gue. Apalagi gue punya musuh di kelas.”
“Kok bisa?”
“Cewek-cewek jahat itu.”seru Shara dengan nada kesal. “Pokoknya gitu deh. Intinya gue gak bisa pakai alasan selingkuh. Nama baik gue bisa hancur.”
“Terserahlah.”
“Terus lo gimana? Apa lo bisa putus dengan mudah?”
“Hmm, bisa banget!”balasnya dengan percaya diri. Bisa-bisanya dia sedih dengan kepercayaan diri itu. Apa iya semua cowok kayak gitu? Mungkin dia bisa bilang dengan mudah kalau dia mau putus. Tapi selanjutnya, gak ada yang bisa menjamin kalau dia gak bakal terluka. Setelah selesai makan malam, Shara langsung balik kamar dengan pikiran mengawang-awang. Kalau sampai ia gak bisa ngomong di depan Beno, ini akan jadi mimpi buruk terpanjang dalam hidupnya.
Ia melihat pesan w******p dari Josen. Ia ngingetin Shara kalau besok adalah hari dimana Josen mau pergi ke acara nikah mantannya. Aduh, Shara gak punya baju baru untuk pergi kesana. Bajunya terasa sangat usang. Andaikan kartu kredit dari Sandiaga masih ia pegang, ia pasti bisa beli dress yang cocok buat acara besok. Terpaksa ia pakai baju yang selama ini sering ia pakai. Tak apalah, ia masih tetap cantik kok. Cantik itu dari dalam hati dan percaya diri yang tinggi. Ia harus tetap pada prinsip itu.