Bab 24

1866 Words
Mobil jaguar terparkir di depan kosan. Shara mengenakan dress merah dengan sepatu high heels yang sepadan. Kecantikannya semakin terpancar. Josen tersenyum manis sambil membukakan pintu mobil untuk Shara. Shara bak permaisuri. “Apa dia tahu lo bakal dateng?”tanya Shara sambil menikmati kacang goreng yang dibawa Josen.  “Kayaknya sih enggak.” “Anjir, dia bisa kaget Jos. Mantan macam apa yang datang tanpa ngasih aba-aba.” “Biarin aja. Gue emang sengaja. Gue cuma mau setor muka dan ngasih tahu kalau gue emang happy tanpa dia.” “Tapi aslinya gak happy ya?” “Hmm, mungkin.” “Tenang aja. Kalau lo disakiti lagi sama dia, ada gue yang belain 100%.”ucap Shara dengan semangat. Josen yang tadinya udah manyun seketika tersenyum.  Mereka butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai di tempat tujuan. Acara pernikahan itu jauh dari kata mewah. Shara masih penasaran, kenapa cewek itu jahat sama Josen. Kalaupun mau berpisah, setidaknya dia gak terima uang dari kakeknya Josen. Dengan menerima uang itu, dia makin bikin Josen sakit hati. Sesuai dugaan, cewek dengan gaun pengantin itu melongo kaget melihat Josen datang. Ia jadi gak bisa fokus sama acara itu. Josen langsung berakting. Seakan dia baik-baik saja. Shara malah melongo melihat pengantin itu. Dia cantik banget. Wajar aja Josen jatuh hati sama dia.  Josen merangkul Shara tiba-tiba. Shara yang masih terpaku dengan kecantikan pengantin perempuan itu kaget. Ia melihat ke arah Josen. Ah, rupanya ia lagi berakting. Kayaknya Josen udah cocok jadi pemain film. “Selamat ya.”ucap Josen dengan senyuman palsunya. “Iya. Makasih Jos, udah repot-repot datang kesini.”balas cewek itu. “Ah iya, ini pacar gue sekarang.”ucap Josen memperkenalkan diri. Reaksi cewek itu langsung tertawa. Kelihatan banget sih kalau Josen masih kesal sama cewek itu. Shara buru-buru pamit dan menarik tangan Josen untuk menjauh. Mereka duduk di tepi jalan dengan deburan angin yang sangat kuat.  “Lo itu ya, kalau ngomongnya kayak tadi jelas banget dia curiga. Kelihatan kalau lo kesini cuma mau pamer pacar. Tapi lo belum move on.”seru Shara panjang kali lebar. “Gue juga gak tahu kenapa kayak gini.” “Hmm, udah lupain aja. Mending kita jalan-jalan. Mumpung lo bawa mobil, gue gak harus ngeluarin duit.”ucap Shara. Josen jadi tertawa mendengar ucapan itu. Shara itu blak-blakan banget kalau soal uang. Dia sama sekali gak malu.  “Ah, gue jawab telepon dulu ya.”ucap Shara sambil agak menjauh dari tempat Josen duduk. Ada telepon dari Beno. Pacar pertama yang bikin Shara tidak nyaman. “Hello Ben..” “Kamu dimana, Sha? Aku mau ngajak kamu ke pesta ulang tahunnya Yoga, teman aku yang kemarin di tim futsal.” Mati! “Sorry ya Ben, aku lagi ada urusan. Aku lagi gak di kosan.” “Kamu sama siapa?” Pertanyaan yang bikin ekspresi Shara ketakutan. Apa ia harus jawab jujur? Kalau Beno tahu, dia bisa marah. Harusnya Shara cepat-cepat minta putus. Rasanya gak enak banget digituin. “Gue sama Kak Ririn, teman satu kosan.”ucap Shara bohong. Ia menyipitkan matanya sambil berdoa. Semoga Beno percaya. “Oh gitu, ya udah deh. Aku kira kita bisa bareng ke rumah Yoga.” “Iya, maaf ya Ben.” “Iya ga apa-apa kok Sha. Nanti pulangnya hati-hati ya.” “Iya. Dadah!” Shara langsung menghembuskan nafas lega. Ia melihat Josen dan kembali dengan ekspresi yang sudah diubah. Ia jadi merasa jahat setelah berbohong sama Beno. Ya, sudah seharusnya mereka putus. Kini Shara punya alasan. Kebohongannya itu bisa jadi alasan putus yang tepat. “Dari siapa?”tanya Josen penasaran. “Cowok yang kemarin ketemu sama lo di depan kampus.” “Owh…” “Ya udah ayok, keburu makin malam.” Mereka memutuskan untuk singgah di tempat wisata terdekat. Josen janji mau traktir Shara makan sebagai upah karena udah bantuin. Shara udah gak mau nerima uang dari cowok itu. Ia ikhlas ngebantuin. Apalagi ini bukan hal yang butuh banyak effort.  “Kelihatannya lo gak senang pacaran sama pacar lo itu.”ungkap Josen saat makanan diatas meja udah habis. Mereka berdua sama-sama kelaparan.  “Kelihatan banget ya?” Josen mengangguk. Apa yang ia lihat tadi udah ngebuktiin hal itu. Siapapun pasti tahu.  “Lupain aja Jos. By the way, gue punya permintaan sama lo.” “Apa?” “Sha, kayaknya mulai sekarang kita gak boleh ketemu lagi.” “Hah? Kenapa?” “Kakek gue bakal marah kalau tahu kita sering ketemu. Bisa-bisa lo jadi korban.” “Heh, gue gak selemah itu ya. Kakek-kakek doang, tinggal disikat juga habis tuh kakek.” “Gak semudah itu.”ucap Josen sedih.  Dua hari yang lalu, Jeffrey sengaja datang ke rumah Josen. Sindy sampai kaget karena udah lama Jeffrey gak datang ke rumah itu. Jeffrey datang cuma mau membicarakan Shara. Jeffrey bilang kalau kakek tahu tentang kedekatan mereka. Walaupun mereka cuma temenan, tapi kakek bisa berpikir yang tidak-tidak. Ia gak suka kalau Josen temenan sama orang yang gak selevel sama dia. “Kalau lo bilang gitu, lo sama aja kayak mantan lo itu.” “Engga. Gue gak kayak gitu.” “Soalnya lo ngikutin ucapan kakek lo dengan mudah. Lo gak nganggep gue teman.” Gue maunya lebih dari itu Sha! “Kita cuma teman?”tanya Josen dengan nada sedih. Saat seseorang berharap lebih dari teman, tapi orang yang ditaksir malah bertingkah biasa. Sakit banget! “Maunya gimana?” “Maunya sahabat.” “Okey, kita sahabat. Karena udah jadi sahabat, lo gak boleh ngejauhin gue. Gue juga butuh lo kalau gue lagi sesak nafas sama duit.” “Oh gitu? Pemanfaatan?” “Hahaha.” Tawa dalam sedih. Josen menatap wajah Shara yang lagi excited melihat pemandangan. Cantik dan menggemaskan . Andai mereka bisa bersatu. Josen gak punya niat buat nembak Shara, bahkan kalau cewek itu lagi single sekalipun. Josen juga tahu, mereka hanya akan berakhir dengan penolakan.  Dunia dirancang dengan keseimbangan. Baik orang kaya maupun orang miskin sama-sama menikmati suka duka di dunia ini.  **** Teriknya cahaya mentari membuat mata Shara menyipit. Ia mendengus kesal karena keringetan. Hari yang panas. Ia menunggu David di dekat meja makan. Hari ini akan jadi hari dimana ia dan Beno putus. Itu juga kalau berhasil. Shara memutuskan untuk minta tolong sama David. “Ayo Sha.” “Kak, kita naik motor?” “Iya lah. Emang gue punya mobil? Gak usah manja lo!” “Iya sih kak, cuman ini gerahnya minta ampun. Sampai gue pengen mandi lagi.” “Udah buru. Gak usah dandan heboh, lo pergi juga mau putus.”ucap David. Ucapan yang sangat menohok. David sendiri sudah putus sama pacarnya. Bisa dibayangkan betapa sakit hatinya cewek itu. Kalau dilihat sih, David kelihatan gak kenapa-napa. Entahlah ya, bisa saja dia diam-diam menangis di pojokan. Cuma dia dan Tuhan yang tahu. Shara diantar sama David ke salah satu cafe di Jakarta Barat. Dalam perjalanan itu, Shara deg-degan bukan main. Dia takut mendapat respon yang buruk dari Beno. Kalau Shara tahu akan begini, mungkin dia gak bakal mau pacaran dengan cowok itu. David memutuskan untuk nungguin di meja lain. Cowok itu gak mau kelihatan ikut campur, ya meskipun dia berniat untuk ikut campur. Dengan hati yang masih was-was, Shara langsung duduk di kursi. Beno melihat Shara dengan senyuman di wajahnya. Senyum yang tadinya bikin Shara klepek-klepek dan sekarang jadi horor banget.  “Sha, aku mau rekomendasiin kamu minuman enak di tempat ini.”seru Beno antusias. “Ben, aku kesini mau ngomong sesuatu.” “Entar aja. Aku pesen dulu ya.” “Ehh, ini penting banget Ben.”rengek Shara. “Ya udah, kamu mau ngomong apa?”tanya Beno dengan tatapan serius. Tatapannya itu bikin Shara makin berdebar takut. Rasanya seperti hendak menemui ajal. “Gue mau kita putus.” Satu kalimat yang bikin Beno diam. “Kenapa?”tanyanya kemudian. “Aku gak bisa membagi waktu buat kamu dan hidup aku. Aku gak nyalahin kamu, ini semua salah aku. Aku juga bohong soal pergi sama Kak Ririn. Sebenarnya aku pergi sama Josen.” “Aku gak apa-apa kalau kamu pergi sama cowok itu. Aku mau kita tetap pacaran.” “Gak bisa.” “Kalau kamu merasa gak nyaman, kenapa gak bilang dari awal? Harusnya kamu bilang aja kalau gak suka nemenin aku futsal atau gak suka aku ajak nonton.” Benar kata Beno. Dari awal Shara gak pernah bilang tidak. Ia gak pernah bilang karena takut. Apakah wajar bagi orang yang pacaran saling merasa takut? Shara jadi makin yakin untuk mutusin Beno. Meskipun itu gak adil buat Beno. Lebih baik menyelesaikan sesuatu yang dari awal udah gak baik. “Maafin gue Ben. Gue benar-benar gak bisa ngelanjutin ini.”seru Shara sambil bergegas pergi. Ia gak mau melihat wajah Beno terlalu lama. Rasa bersalahnya akan semakin dalam kalau ia lihat hal itu. Sebelum melangkah lebih jauh, Beno malah menarik tangannya. Ia gak mau ngelepasin tangan itu sampai David datang.  “Lo gak pantas gituin cewek!”ucapnya tegas.  “Udah kak, kita pergi aja.” “Oh, jadi gara-gara cowok ini. Lo selingkuhin gue?”seru Beno dengan kemarahan. Ucapan itu bikin Shara merinding. Boro-boro selingkuh, buat dapetin satu cowok aja susahnya minta ampun.  “Iya. Makanya lo gak usah ganggu dia lagi.”ucap David tanpa peduli ekspresi kaget Shara. Shara berniat mau ngebantah ucapan Beno. Semua itu sirna karena David keburu menjawabnya tanpa berpikir.  “Gue gak nyangka!”seru Beno dengan kepala menggeleng. Shara benar-benar khawatir. David malah menarik tangannya menjauh dari tempat itu. Ia ngasih helm sama Shara. Shara menerimanya dengan wajah cengo.  Sepanjang perjalanan, Shara masih kesurupan. Ia tidak bereaksi apapun. Hingga akhirnya ia sadar kalau perbuatan David barusan bisa menghancurkan hidupnya. Ia memukul punggung David. “Mati deh gue! Kenapa lo harus gitu sih?” “Biar dia gak ngejar-ngejar lo lagi.” “Tapi kalau dia ngasih tahu sama teman sekelas gue gimana?” “Itu artinya dia mulut ember.” “Itu gak nyelesain masalah kak.” “Ah, gue juga bingung.” “Hmm, tapi bodo amat deh . Siapa juga yang percaya sama dia.” “Nah, gitu dong. Optimis is our life.” “Tapi lain kali jangan gitu kak.” “Iya. Terus kita mau kemana?” “Makan mie ayam yuk. Sekalian merayakan hari putus. Gue yang traktir deh.” Motor melaju ke tempat mie ayam langganan Shara. Mie ayam yang bertempat tak jauh dari kafe TG. Shara jadi kepikiran. Sudah tiga orang yang ia ajak makan di tempat itu. Mulai dari Igor, Dios dan sekarang David. Ah, diantara mereka cuma Igor yang kian jauh. Cowok yang ia targetkan jadi pacar. Kayaknya Shara udah gak berniat pacaran lagi. Meskipun ia tahu kalau Igor tak seperti Beno. Ia butuh waktu untuk memikirkan hal yang menguras energi itu.  Saat ini, dia cuma mau bahagia. Bahagia punya banyak teman dan menikmati semangkuk mie ayam yang rasanya enak. Terlebih ada seorang David yang bersamanya. Cowok baik yang selalu membantunya setiap saat. Ia beruntung bertemu cowok itu. Harinya jadi lebih berwarna. Tapi ia sendiri tahu kalau David sangat galau sejak putus dari pacarnya. Ia yang mengakhiri, ia juga yang sedihnya berlarut-larut. Shara jadi penasaran  karena sampai saat ini, dia belum pernah ketemu cewek itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD