Ketika aku membuka pagar rumah, aku langsung berlari ke rerumputan kosong di samping rumah, di depan bagasi, berbatasan langsung dengan jejeran pohon Oak. Aku melangkah masuk ke barisan batang pohon yang rindang, mencari sosok gelap si Biru di antara bayangan dahan dan daun. “Biru?” Suara kuda yang memekik menyahut, kemudian asap hitam bangun dari tanah di depanku, mengepul keluar dari bawah, lalu berubah menjadi padat, membentuk badan seekor kuda. Terakhir, api biru bergolak menyala-nyala di rambut dan keempat kakinya. “Biru, aku butuh bantuan. Apa kau mau kubawa ke suatu tempat?” Kuda itu mengendus-endus sekitar kepalaku. “Erm, aku bingung bagaimana cara membawamu keluar tanpa ketahuan di siang hari begini ....” Si Biru kembali menjadi bayangan, menyatu dengan bayanganku, membuatnya l

