Aku berjalan pulang setelah pergi ke flat Alan, menyingkirkan kristal es yang sudah menyelimuti setengah badannya. Laki-laki itu langsung bangkit dari kasur setelah terbebas dari rasa dingin. Aku menatap sarung tangan hitam yang kupakai. “ Terima kasih banyak, Biru.” Mataku mendapat siluet seseorang di depan. Aku berhenti melangkah begitu sadar si putri salju yang berdiri di sana. Hari ini dia memakai pakaian musim panas berwarna kuning motif bunga yang membuat kulit pucatnya lebih terlihat, dipadu dengan sandal kayu berhak dan topi lebar. Asap dingin bergolak tipis di tepi kulit. Dia terlihat seperti ice cream yang disantap di tengah ladang bunga matahari. Manik biru skylight perempuan itu bersinar kejinggaan, memantulkan warna langit. “Maaf, gara-gara kedatanganku, spirit itu jadi bang

