Udara yang menggigilkan badan berganti menjadi kehangatan yang nyaman. Kubuka mata, menatap interior rumah yang sangat berbeda dari ruangan mana pun di rumah Levine. Jendela berbingkai merah dan pagar kayu di dalamnya jelas tidak pernah kulihat di sini. Sebuah tangan membelai sisi kepala dan rambut, aku menoleh sambil membelalak. Seorang pria dengan wajah Asia berada di atasku, menampilkan senyum manis dan lesung pipi. Alisnya tebal dan tegas. Matanya berwarna abu-abu yang tidak seterang Levine, tapi kesan kelabu dari maniknya mengingatkanku pada lelaki itu. Dia bicara sesuatu menggunakan bahasa yang tidak kupaham. Kurasakan mulutku menjawab dengan bahasa yang sama. Aneh, padahal aku tidak mempelajari bahasa dari wilayah Asia. Mulutku terus bicara dengan fasih. Bukan, ini bukan lidah da

