Laki-laki Asia yang Mrs. Gabriel panggil ‘Dean’ datang membawa nampan, menyusun cangkir teh di depan kami masing-masing. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, makanya aku bertanya. “Apa yang kalian bicarakan?”
Mrs. Gabriel menyentuh bahuku. “Aku ingin menawarkanmu pada putraku.”
“Aku bukan putramu, walaupun secara harfiah kau memang ibuku,” tukas pemuda itu.
“Menawarkan?” ucapku.
“Pernikahan,” jelas Mrs. Gabriel. Aku menyalang hebat padanya. Apa dia bilang pernikahan? Siapa? Aku? Dengan dia? Oh, demi kasih sayang dewi fortuna, ini sangat gila!
Aku langsung bangkit dari dudukku. “Tidak, Mrs. Gabriel. Kau mengajakku kemari hanya untuk minum teh,” ucapku seraya meraih teh lalu meminumnya sedikit karena cukup panas. “Nah, aku sudah meminumnya, badanku juga sudah hangat. Lebih baik aku permisi. Terima kasih banyak untuk tehnya.”
Kakiku bergerak cepat ke koridor, meraih gagang pintu, memutarnya. Angin kencang langsung menerpaku dari luar, saking kencangnya aku sampai menutup mata dan berpegangan erat pada pintu. Guntur berbunyi berkali-kali, kilatnya menerangi halaman depan layaknya lampu sorot raksasa. Aku kembali menutup pintu. Gabriel dan Dean menatapku lamat-lamat. Aku tidak berani berjalan di tengah hujan badai dan guntur!
Aku berdeham. “Se-sepertinya aku harus tinggal sampai hujan reda.”
“Menginaplah, manis. Rumah ini punya banyak kamar yang kosong. Tidak perlu sungkan,” balas Mrs. Gabriel.
“Ini rumahku, Moirai,” cetus Levine yang wanita itu abaikan.
“Dean, antar dia ke kamar kedua. Beri dia handuk dan makan malam.”
Dean mendekatiku, meraih bahu dan dengan sopan menuntun ke kamar yang di maksud. “Lewat sini, nona.”
“Aku tidak perlu—“
Laki-laki Asia itu memaksaku melangkah lebih dalam. “Kamar tamu kami sangat indah, Nona, kamu akan tidur dengan nyenyak di sana.”
“Namaku Fania.”
“Oh, baiklah. Fania.”
Kami berbelok memasuki lorong dan jejeran pintu. Kami berhenti di depan sebuah pintu geser yang terlihat janggal karena biasanya pintu itu tidak berada di model rumah seperti ini. Dean menggeser pintu yang dibalut kertas lukis dengan gambar bilah-bilah bambu itu, mempersilakanku masuk lebih dulu.
Mataku mengerjap, tidak yakin mendapati satu set kamar model jepang di rumah bergaya Victoria. Mulai dari tatami, kasur lipat, vas bunga sakura, pedang samurai yang terpajang di atas pintu geser di seberang. Aku merasa baru saja menggeser pintu teleportasi.
“Aku akan menyiapkan baju ganti.”
Aku langsung berbalik. “Tidak perlu, aku membawa baju sendiri.”
Dean mendelik, alis agak tebalnya yang lurus mengerut bingung. “Apa kau kabur dari rumah? Tasmu kelihatan sangat penuh.”
Aku mengangguk asal sambil tertawa canggung.
“Oh,” Dia mengangguk. “Kamar mandinya ada di ujung lorong. Gunakan sabun dan sampo dari botol berwarna biru. Sir Levine tidak suka berbagi sabun, jadi tolong jangan sentuh botol kayu.” Setelah itu dia pergi.
Aku menatap lagi sekeliling kamar tamu milik Mrs. Gabriel—atau Levine. Aku masih tidak mengerti alasan mengapa dia mengajakku kemari. Namun, yang jelas laki-laki dengan warna mata yang ganjil itu sangat tidak suka padaku. Dan, begitu pun aku. Intinya kesan pertamanya sudah buruk di mataku dan akan selalu begitu.
Sebuah kimono untuk mandi menjadi satu-satunya barang yang ada di dalam lemari dengan pintu geser yang serupa dengan yang di pintu, tapi yang ini warnanya menyerupai kayu yang menjadi penyangganya dan tanpa corak lain. Aku bingung harus memakai kimono menuju kamar mandi atau tidak karena aku tidak familier dengan budaya mereka.
Yah, mungkin kau memakai kimono ke sana. Tanganku meraih bagian bawah jaket, menarik sleting, melepaskannya dari badanku. Aku menaik kaos putih ke atas melewati rambut cokelat sepanjang siku. Celanaku basah dari bagian lutut sampai mata kaki. Bahkan aku lupa melepas sepatu dan mengotori lantai. Aku menjadi polos, hanya berbalut kimono putih, hendak berjalan ke kamar mandi di ujung lorong sambil mengeluarkan sepatu.
Kulihat Levine sedang menyandarkan bahu kirinya di ambang pintu yang entah sejak kapan sudah terbuka. Dia melihatku tanpa perubahan emosi, menghembuskan asap tembakau ke arahku yang membeku di tempat sambil memeluk diri. “Cepat mandi. Kita perlu bicara.” Dia bicara dengan nada sangat rendah sampai aku mengira dia menggeram.
“Sejak kapan—“
Dia sudah pergi. Mataku menyalang pada bahu lebarnya yang menghilang di belokan lorong. Sialan, sejak kapan dia berdiri di sini? Apa dia melihat semuanya? Dia telah melihat segalanya? Kurang ajar!
***
Aku berada di sofa kulit ruang tengah bersama pemilik rumah, Levine. Mrs. Gabriel masih duduk di tempat yang sama, dia kembali mengembangkan senyum begitu melihatku. Langit di luar sudah gelap, terlihat dari jendela besar di belakang Levine yang tidak tertutup gorden.
Dia membuang sisa-sisa tembakau yang sudah menjadi abu di mulut pipa, menggantinya dengan yang baru, lalu membakarnya. “Apa kau masih kedinginan?” tanya wanita itu.
“Aku sudah merasa lebih baik. Sekali lagi, terima kasih, Nyonya.”
Tangannya mengusap bahuku yang telah berbalut sweater rajut berwarna mocca. “Syukurlah. Aku baru ingat kalau aku tidak tau namamu.”
“Fania Shane, Nyonya Gabriel.”
“Shane, aku sudah memikirkan banyak hal, aku rasa aku tidak akan bisa tidur dengan tenang kalau kau tidak tinggal di sini untuk sementara waktu.”
Aku membelalak. “M-maksudmu?”
“Levine, kau tidak keberatan, kan? Hanya sampa dia menemukan pekerjaan dan rumah baru.”
Lelaki itu menghirup tembakau. “Hmm,” responsnya. Dia sama sekali tidak menyukai gagasan itu.
“Tunggu dulu, aku tidak bisa.”
“Kenapa tidak bisa? Kau pergi jauh dari rumah orang tuamu tanpa mengenal seorang pun di sini, bahkan kau belum menemukan flat,” tuturnya dengan lembut dan bujukan.
“Aku tidak mampu membayar uang sewa di sini.”
Mrs. Gabriel mengibaskan tangan di udara. “Oh, kau tidak perlu membayarnya. Untuk apa biaya sewa? Ini rumahku.”
“Ini rumahku,” sela Levine dengan penekanan yang masih tidak dipedulikan wanita itu.
“Kau tidak perlu risau soal biaya sewa atau biaya makan. Aku sudah membayar semuanya.”
“Apa?” Suaraku meninggi. Ke-kenapa dia sampai serepot itu pada orang asing sepertiku?
“Moirai, kau—“
“Ah, aku harus pergi. Aku ada acara makan malam dengan pemilik perusahaan kayu. Kuharap dia menerima ajakan kerja sama itu.” Secepat angin dia sudah berjalan pergi ke luar setelah memelukku singkat dan mengecup dahi Levine. Yah, mungkin benar kalau mereka berdua itu ibu-anak.
“Kenapa dia harus memperlakukanku bagai bocah?” tukasnya jengkel.
“Dia bilang kau putranya,” lontarku.
“Secara harfiah, ya. Dia yang mengawasiku dan memberikanku banyak uang. Namun, dia bukan ibu kandungku. Moirai memaksaku untuk membiarkan kau tinggal sementara, tapi aku sangat keberatan dengan itu.”
Ya, aku sudah menduganya. “Aku juga tidak mau berlama-lama di sini,” gumamku, sebisa mungkin tidak mengeluarkan nada sarkastis.
“Masalahnya, aku tidak bisa melawan titahnya. Walaupun kami tidak terhubung oleh darah, apa pun yang terlontar darinya adalah sebuah keharusan.” Dia menggidik jengkel seakan mengingat pembicaraannya dengan Mrs. Gabriel saat aku mandi tadi. “Jadi, aku hanya akan mengizinkanmu tinggal selama sebulan. Kuharap itu cukup untukmu mencari pekerjaan dan rumah. Moirai bilang tidak usah merisaukan biaya sewa atau makan, tapi itu akan kupikirkan lagi.”
Maniknya biru keabu-abuannya memicing, sebenci itukah dia padaku? Sampai dia melihatku seolah aku telah membunuh peliharaannya. “Terima kasih banyak, Tuan,” kataku.
“Aku tidak mengerti.” Tangannya yang berbalut sarung tangan hitam meraih rahangku, meraupnya dari bawah, memaksaku untuk mendongak. Matanya kini hanya sebatas embusan napas, aku bisa mencium aroma tembakau dan aroma manis lain darinya. Bau manis yang berkesan seperti alkohol, membuatmu ingin terus menghirupnya.