Bad Guy

1289 Words
Aku menyalang, mendorongnya yang tidak berkutik oleh tekananku. Aku mengaduh, cengkeramannya di rahangku sangat menyakitkan. Apa dia hendak menghancurkan tengkorakku? “Kenapa kau?” tanyanya. Hah? Bicara apa orang gila ini? “Lepaskan!” seruku, Levine menutup mulutku dengan tangan yang tadi mencengkeram rahang. Dia berdiri menunduk di depanku, tangan kirinya di atas punggung sofa, di samping kepalaku. Wajahnya semakin mendekat. Kurasakan darah berdesir dan detak jantungku berdendang berisik dibalik balutan daging dan kulit. “Kenapa Moirai bilang kau takdir yang kucari?” Apa maksudnya? Bukankan itu hanya candaan Mrs. Gabriel,—tapi dia memanggilnya Moirai—jadi sebenarnya yang mana namanya? “Kau pasti heran, kenapa wanita itu tiba-tiba datang dan membawamu ke sini. Dia adalah Moirai, kalau kau penasaran. Dia bukan sekedar manusia, eksistensinya lebih besar dari itu.” Aku menarik tangannya dari mulutku. Sekilas aku melihat sesuatu yang gelap dari memorinya berkat kemampuanku, tapi aku tidak bisa melihat lebih jelas. Rasanya seperti melihat palung terdalam, kau takut untuk menyelam masuk dan melihat dasarnya. Aku membuang jauh-jauh perasaan tersebut seraya berdeham. “Maksudmu?” “Apa kau tau nama dewa-dewi dari mitologi Yunani? Mereka bukan sekedar dongeng yang orang jadikan tokoh dalam cerita, nona Shane. Wanita yang kau lihat tadi adalah salah satu dari mereka. Dia bukti kalau itu bukan sekedar isapan jempol.” Pembicaraan yang tidak masuk akal macam apa ini? Sejak kapan para dewa itu ada? Ayolah, aku yakin dia sudah cukup berumur untuk berpikir logis. Aku tertawa getir. “Kau aneh, Tuan Levine.” Lelaki itu mundur, berdiri di depanku sambil menghisap asap tembakau. “Aku? Ya, aku sadar kalau aku aneh. Terserah kau mau percaya atau tidak, lagi pula dia akan mencuci otakmu ketika takdir yang dia maksud sudah terjadi.” *** Segalanya terlihat gelap. Aku membaringkan diri di atas kasur lipat, menaikkan selimut sampai menutupi leher, lalu mencoba untuk tidur. Apa aku bisa tidur? Tidak. Kubuka mataku untuk percobaan ke sekian kali. Badanku lelah, rasanya persendianku menjadi menua hanya dalam setengah hari. Namun, aku belum mengantuk. Bagaimana aku bisa tidur kalau jantung ini begitu berisik? Sudah tiga jam berlalu, tapi rahangku masih terasa panas oleh sentuhan lelaki itu. Aku duduk, mengusap wajah. Wajahnya begitu dekat, matanya menahanku tuk tidak berkutik, lalu aromanya .... Kubanting bantal karena frustrasi. Kalian boleh mengataiku payah, karena aku memang belum pernah berpacaran dengan siapa pun! Beberapa orang temanku suka memamerkan hadiah dari pacar mereka bahkan dengan frontal mereka b******u panas saat acara kelulusan di depanku. Apa aku iri? Erm, sedikit. Aku bukan wanita polos yang tidak tahu apa-apa dan gampang diperdaya. Bukan! Aku tahu apa yang sepasang kekasih lakukan ketika mereka di dalam kamar terkunci dan suara TV yang terdengar lebih kencang. Kusisir rambut panjangku dengan jari. Kamar tamu bergaya jepang yang kutempati hanya disinari oleh lentera kertas bergambar kelopak sakura, tidak menerangi seluruh ruangan tapi tetap enak untuk dipandang. Oh iya, aku masih penasaran soal rumah ini. Lampu di lorong di depan kamarku tidak menyala ketika aku menggeser pintu. Kuputuskan untuk berjalan keluar rumah dengan piama tidur dan bertelanjang kaki—sepatuku masih basah. Rumah senyap, Dean dan Levine nampaknya sudah pulas. Ini tidak masuk akal. Sekalinya ada trik sulap, tidak mungkin sampai bisa menutupi seluruh rumah dan pohon bonsai yang tumbuh. Mataku masih jernih, aku masih bisa membedakan kucing dan anjing. Mana mungkin aku salah lihat, tapi tadi sore jelas-jelas tidak ada rumah atau bonsai saat aku melihatnya dari luar pagar! Aku berhasil membuka pintu dan menutupnya dengan sangat perlahan. Angin malam terasa menggigit tepat saat aku mendaratkan kaki di serambi depan rumah. Aku tidak akan berlama-lama, hanya berjalan keluar pagar dan memastikan rumah ini terlihat dari sana. Aku meringis begitu telapak kaki menapak di aspal dingin, tanpa basa-basi aku berlari berjingkrak-jingkrak ke pagar yang ternyata tidak dikunci, menariknya lalu melangkah keluar. Aku membalik badan dan tidak terlihat apa-apa di balik pagar. Tidak ada rumah bergaya victoria, tidak ada pohon bonsai di halaman yang diurus. Hanya ada tanah lapang dengan rerumputan liar setinggi lutut. Aku mengucek mata. Oh ayolah, tidak mungkin! Kubuka pagar, melangkah masuk, menabrak badan seseorang di baliknya. Aku memekik nyaring sambil meringkuk. “Fania?” Suara ini .... “Dean?” Aku mendongak. Laki-laki Asia itu memegang senter dan mengarahkannya padaku. Aku menghalangi sinar itu dengan tangan. “Oh, maaf,” ucapnya mematikan senter, kemudian mengulurkan tangan. Aku menerimanya. “Kenapa kau ada di luar tengah malam begini?” Dia melihat kakiku. “Kau bahkan tidak memakai sepatu.” “Aku—” Kutelan ludah dengan susah. “Bukan, rumah ini aneh, Dean.” “Ah, tidak terlihat dari luar, ya? Moirai yang buat rumah ini begitu.” Aku mendelik. “Moirai?” “Mrs. Gabriel.” Ah, iya. Aku lupa. Tunggu, maksudnya dia  yang membuat rumah ini tidak terlihat? Dahiku mengerut. “Susah untuk dijelaskan, tapi rumah ini memang disesuaikan untuk tuan Levine yang tidak suka bersosialisasi.” Pagi datang. Aku merasa seluruh persendian di badanku kaku dan nyeri. Yah, inilah akibatnya kalau jarang berolah raga. Apalagi kemarin aku berjalan kaki mencari tempat untuk bermalam. Mengingat itu aku langsung membulatkan mata ke sekitarku. Aku masih tidak percaya dengan obrolan tadi malam. Seorang wanita menghampiriku di tengah jalan saat aku tersesat, dia mengantarku ke rumah temannya—yang ternyata adalah seorang laki-laki—dan bilang kalau aku tak perlu merisaukan biaya sewa dan makan. Benar-benar sesuatu sekali. Aku takut kalau nanti si pemilik rumah menagihku biaya kamar dengan harga yang mencekik. Mana mungkin dia mengizinkanku tinggal di sini tanpa dipungut biaya apa pun? Itu sangat mencurigakan! Belum lagi, dia orang yang sangat menjengkelkan, matanya seram dan mulutnya pedas. Aku yakin dia berniat menendangku dari sini kalau aku membuatnya kesal. Sejak tadi, selimut putih ini terus menyebarkan aroma menenangkan. Aku penasaran jenis pelembut pakaian apa yang dia pakai. Pintu kamar tamu yang kutempati mendadak bergeser. Aku tersentak, langsung membalik badan melihat orang itu. Si pembantu rumah, Dean, merekahkan senyum seribu watt sambil menghampiriku. Mata kecilnya terlihat semakin kecil dan menggemaskan. Seketika aku tersenyum. “Bagaimana tidurmu? Nyenyak?” “Ya, aroma pelembut selimutnya membuatku nyaman. Namun, badanku nyeri semua karena perjalanan kemari.” Dia memberikan tatapan khawatir. “Aku bisa memijatmu kalau kau mau,” tawarnya. Aku menggeleng seraya tertawa. Aku tidak pernah membiarkan badanku disentuh oleh laki-laki. Pijatan jelas bukan ide bagus. “Aku sudah membuat sarapan. Bersiaplah dan datang ke ruang makan. Letaknya setelah ruang tengah, yang pintu besi.” “Baiklah.” Dean melenggang pergi. Sebuah déjà vu, sudah lama tak ada yang membuatkanku sarapan. Ibu kandungku bahkan lupa kalau aku tidur serumah dengan keluarga barunya. Perasaan sesak itu kembali menghampiri, aku menggeleng pelang untuk membuyarkannya. Aku tak perlu memikirkan itu lagi. Semua akan berubah, aku tidak akan merasa sakit lagi. Tanganku bergerak membuka kancing piama garis-garis putih-biru kesukaanku. Piama jatuh ke tatami, mendadak pintu bergeser lagi ketika aku hendak menurunkan celana. Aku menutupi dadaku sambil mengintip ke belakang lewat bahu. Itu dia, si pemilik rumah. Berdiri bersandar di ambang pintu dengan tangan terlipat dan mata biru ke abu abuan yang menyelidiki. Dia memakai kemeja ruffle dari era Victoria berwarna putih dengan bagian lengan yang bergelombang. Baju itu terlihat agak longgar untuknya, sehingga membuat bahunya terlihat semakin lebar. Dia juga memakai celana kain hitam dan sepatu kulit mengilap. “Kau gila?” pekikku dengan suara mirip kucing yang ekornya terjepit. Suara dinginnya terdengar. “Kita harus bicara soal biaya sewa.” Tuh, kan, kubilang juga apa. Dia akan menendangku dari sini kapan pun dia mau. Aku meraih piamaku lagi untuk menutupi badan. “Nanti saja, aku ingin mandi dulu.” Kataku masih membelakanginya. Kudengar pintu kembali bergeser, suasana kembali sunyi. Dasar gila, seenaknya saja dia. Laki-laki itu sukses membuat pagiku menyebalkan. Huh, padahal tadi malam dia bicara dengan sangat baik padaku. Apa karena saat itu ada Mrs. Gabriel?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD