Usai membasuh diri, aku mengenakan kaos soft pink lengan panjang bergaris hitam dan jeans biru, melangkah ke ruang makan. Di sana, Dean sedang memasak waffle dan Levine—si pemilik rumah—menyantap toast, sosis dan telur mata sapi di meja makan. Aku berjalan kaku ke bangku terdekat, duduk berjauhan dengan laki-laki itu.
Dean menghampiriku, memberikan waffle yang masih hangat dengan siraman madu. “Aku akan buat lagi kalau kau mau tambah.”
Dia sangat baik. Aku memotong sudut waffle kotak itu, menusuknya dengan garpu dan menyantapnya. “Ini benar-benar enak, Dean.”
“Sepuluh pound sterling,” tukas Levine. Entah dia bicara pada siapa. Dean menaruh jus di dekatku, aku langsung meminumnya.
“Ditambah segelas jus jeruk, tagihanmu jadi tujuh belas pound sterling.”
Aku tersedak sampai jus itu keluar dari hidungku. Sambil terbatuk-batuk, aku menatapnya jengkel. Tidak bisakah aku sarapan dengan khidmat? Dia menatapku dengan ekspresi super malas. “Bayar dengan cash.”
“Aku tak punya uang,” tukasku. Dia sudah berjanji untuk membiarkanku tinggal selama sebulan. Aku menyaksikannya sendiri. Jangan bilang kalau janjinya hanya dimulut saja. Levine menautkan jarinya, menarik napas dalam. Dia sudah menyerah?
“Lalu, kau mau bayar dengan apa? Tidur bersama?”
Darahku mendadak beku. Baiklah, dia belum menyerah dan semakin mengada-ngada. Dean berdeham kaku di pojok dapur sambil menyusun piring bersih, aku juga merasa tenggorokanku mendadak kering. Apa dia bilang? Aku tidak serendah itu, sialan!
Matanya menelisik di antara rambutnya yang jatuh ke satu sisi dahinya, menunggu jawaban. Moirai, aku harap kau datang dan menghajar si b******k ini. “Tidak. Perjanjiannya aku tinggal di sini selama sebulan sampai aku menemukan pekerjaan, ‘kan?”
Dia mendekus. “Itu kata Moirai. Bukan kataku.”
“Tapi kau menyetujuinya.”
“Tidak. Aku hanya ber ’hmm’, bukan berarti itu artinya ‘iya’,” ucapnya seraya terkekeh. Aku menganga tak percaya.
“Kenapa kau jahat sekali padaku?” lontarku.
Dia mendelik. “Apa kita saling kenal? Dari segi apa kau menilaiku jahat? Aku pemilik rumah ini dan kau hanya orang asing yang tiba-tiba datang menempati kamar tamuku, nona kecil.”
“Nona kecil—“
“Ya,” selanya seraya berdiri, “kecil.”
Aku terperangah, menatapnya berjalan pergi tanpa beban, keluar dari ruang makan. Selepas dia membanting pintu, aku memukul meja. Dean tersentak dan akhirnya menjatuhkan sendok bersih ke lantai. Baiklah! Aku juga tidak mau berlama-lama tinggal bersama orang picik itu! Aku bisa gila nanti.
“Erm, Dean, apa nanti kau punya waktu?”
Dean berbalik, “Ada apa, Fania?”
Aku memutar otak sebentar. “Apa kau tau tempat tinggal Moirai? Aku ingin menemuinya sebentar, untuk menanyakan lowongan pekerjaan, mungkin saja dia tau.”
Laki-laki berperawakan Asia itu terdiam. Aku mengerjap. “Kau tidak boleh keluar rumah, ya?”
“Bukannya tidak boleh,” gumamnya, membasahi bibirnya, “aku tidak bisa.”
“Levine tidak mengizinkanmu keluar?”
“Bukan seperti itu. Aku tidak bisa keluar, wujud fisikku hanya berlaku di area rumah ini.”
Aku menatapnya, mencoba menyerap makna kalimat barusan. Tidak, aku tidak mengerti apa maksudnya. Dengan bingung, aku mengangguk. “Oh, err, baiklah. Kalau begitu, boleh aku minta alamatnya?”
Pintu besi ruang makan kembali terbuka. Seorang wanita elegan dengan gaun hitam gothic dan topi lebar melenggang masuk menghampiriku. Menjadikan ruang makan semakin mewah karena kehadirannya. “Pagi, Shane.” Itu dia, Moirai.
“Pagi, Mrs. Gabriel.” kataku terkejut.
Dia menyelipkan rambutku ke belakang telinga sambil tersenyum hangat. “Bagaimana tidurmu?”
“Nyenyak, terima kasih atas bantuanmu tadi malam.”
Manik tosca-nya bergeser, “Mana Levi?”
“Dia ke kamar,” balas Dean.
Mumpung dia masih di sini, aku akan bertanya. “Apa kau tau tempat yang saat ini sedang membutuhkan orang?”
Dia mendelik. “Tidak. Coba aku cari nanti dan aku akan memberitahumu minggu depan. Tenang saja, Levine tidak akan berani mengusirmu.”
Aku meringis kesal. “Tapi dia tidak menyukai keberadaanku, jadi, lebih baik aku mencari tempat lain secepatnya.”
Wanita itu melipat kaki di depanku. Tangannya menyentuh tanganku. Anehnya, aku tidak bisa membacanya. Kemampuanku tidak melihat riwayat memorinya. “Tidak. Aku ingin kau di sini, dengan begitu segalanya akan aman. Percayalah padaku, Fania, aku tidak bisa jamin keselamatanmu di tempat lain.”
Otakku tetap tidak mengerti maksudnya. Yah, mungkin aku sudah jadi d***u. “Kenapa?”
“Kau akan tau nanti. Sekarang, dari pada kau bosan, ayo kita mengobrol bertiga dengan Levi.”
Kini aku kembali berada di dekatnya. Levine memakai mantel tidur berwarna merah maroon. Sinar matahari mengenai jendela dengan stained glass berbentuk bunga krisan biru, warnanya memantul mengenai wajah pucat itu. Dia laki-laki yang elegan—ya, aku benci mengakuinya. Cara bicaranya memang sedikit ketinggalan jaman, namun rambutnya yang jatuh dengan bergaya ke sisi dahi, perhiasan wajahnya yang pas, badan tinggi dan kekar, semua itu cukup menarik perhatian banyak wanita.
Belum lagi seorang wanita yang tak kalah elegannya sedang duduk berhadapan dengan Levine, Mrs. Gabriel. Aku yang duduk di tengah merasa tersingkir, melihat adegan ini dari kejauhan dalam bingkai kotak layar bioskop.
Dean memanggil laki-laki itu di kamarnya, lalu kami berkumpul di ruang baca. Kali ini ruangannya berarsitektur retro. Dindingnya dari keramik berbentuk persegi dengan warna merah bata dan putih yang disusun seperti papan catur. Ada radio lama, piringan hitam, gramofon dan alat musik saxophone. Aku merasa seperti berada di belahan dunia dan dimensi waktu yang berbeda.
Moirai menarik napas. “Kau tidak bisa begitu pada Fania, Levi. Kau sudah berjanji.”
Levi merotasikan matanya. “Aku tidak berbuat apa pun.”
Wanita itu mengangkat sebelah alisnya, Levi tak bisa berkutik. Dia menghempaskan punggung ke sandaran kursi. “Ya, kau tau apa yang terjadi. Aku yang bodoh.”
“Levi, kita sudah lama saling mengenal. Kau tau aku tidak pernah main-main. Aku membawa gadis ini bukan untuk menemanimu.” Moirai menatapku. “Dia orang yang bisa memecahkan masalahmu.”
Dahiku mengerut. “Maaf, apa yang kalian bicarakan?”
Mrs. Gabriel tersenyum simpul. “Aku sama sekali tidak mengerti dengan pembicaraan kalian berdua sejak semalam. Dan juga, kenapa dia terus memanggilmu Moirai?”
“Dia,” kata Levine sambil menunjuk Mrs. Gabriel, “bukan manusia. Dia seorang dewi.”
Aku mendengus. Laki-laki itu menatapku kaget. “Dewi? Ya, Moirai memang sangat cantik sampai aku sendiri meragukan dia manusia atau bukan. Ayolah, Levine, aku bukan anak kecil yang takut menerima fakta.”
“Itu fakta,” lontarnya penuh penekanan. Aku tertawa gugup, melihat ke arah Moirai. “Su-sungguh?”
“Kebetulan, aku mengawasi takdir setiap orang yang lahir ke dunia ini, termasuk takdirmu dan Levine.” Moirai mengatakannya dengan santai seolah hal itu tidak mengguncang mentalku. Setelah aku pikir lagi, mana mungkin ada wanita asing yang tiba-tiba datang dan menolongmu mencarikan tempat bermalam di jaman seperti sekarang.
Aah, sekarang beberapa hal menjadi jelas. Semalam dia menyanggahku dengan bilang kalau aku pergi jauh dari orang tuaku, padahal aku tidak mengatakan itu padanya. Dia seakan sudah tau kalau aku akan ke Stratford-Upon-Avon dan menemuiku tepat di kursi taman, mengajakku untuk pergi bersamanya. Yah, aku tidak langsung percaya. Tidak mungkin aku langsung percaya seratus persen. Tapi untuk sekarang, mari anggukkan saja itu dan cari kebenarannya nanti. Aku bisa gila kalau berpikir tentang itu terus.
Levine melirikku sebentar. “Kau tampak tenang.”
Tidak. Aku hanya mencoba untuk tetap waras.
+ + +
Aku pergi keluar sebentar untuk membeli majalah berisi lowongan kerja terbaru dan kembali ke rumah ketika hujan mulai deras. Untungnya aku tidak pergi terlalu jauh. Aku melepas sepatu, meletakkannya ke samping guci. Aku mendongak merasakan keberadaan seseorang. Levine dan Moirai melenggang di lorong menuju pintu. Dia masih memakai kemeja dengan lengan bergelombang, dengan mantel hitam selutut yang berkibar seiring langkah mantapnya. Laki-laki itu melirikku sebentar, memberikan decihan lalu mengambil payung yang baru saja ku taruh. Aku menatapnya jengkel.
“Kalian hendak pergi ke mana? Di luar hujan deras,” kataku pada Moirai.
“Levine harus menemui kliennya di dekat sungai Bancroft.”
Aku mengangguk lambat. Dengan kata lain, aku akan kesepian di sini. Bukan berarti aku tidak senang dengan Dean. Moirai menatapku lamat-lamat, kemudian bertanya. “Kau mau ikut?”
“Hah?”
“Ikut. Aku akan menemanimu bersama Levine kalau kau tidak mau berduaan dengannya.”
“Tentu saja aku tidak mau berduaan dengannya. Si tukang marah itu.”
“Apa kau bilang?” Levine baru saja kembali dan menyembulkan kepalanya di pintu depan. Aku berdeham, hendak pergi ke dapur. Namun, moirai meraih lenganku. “Aku tak jadi menumpang. Aku penasaran dengan klien kita kali ini,” ucapnya.
Levine mendelik. “Baiklah ….”
“Shane juga ikut.”
Laki-laki itu melotot, begitu pun denganku. “Tidak, tidak, tidak! Aku—“
“Untuk apa?” tanyanya menyelidik.
“Sepertinya dia bisa membantu,” lontar Moirai.
Aku menyelanya. “Aku tidak mau—“
“Aku tak mau dia ikut. Dia hanya akan menghalangi jalan,” sela Levine.
“Oh? Bukankah kau tidak mau berurusan dengan manusia?”
Kini mataku menatap senyum penuh maksud wanita cantik itu, lalu beralih ke Levine. Dia menarik napas, membasahi bibirnya. “Ya, tapi aku bisa menangani ini sendiri. Ini pekerjaanku.”
“Tidak, kau tidak bisa menanganinya, Levi. Kau selalu membuat wanita menangis.”
Levine bungkam. Matanya yang tajam menatapku. “Baiklah, kalau kau mau berganti pakaian, cepat lakukan.” Dia membanting pintu lagi.
“Kita hendak ke mana?” tanyaku gugup.
“Ke rumah seorang janda bernama Hamish. Dia membutuhkan bantuan Levine.”
“Memangnya apa pekerjaannya?”
“Oh, tidak akan seru kalau kau mengetahuinya sekarang, manis. Pakailah sepatumu, kita akan berangkat.”