Begitu pintu otomatis lift terbuka, Sarah segera melangkah keluar dengan tergesa, mengabaikan denyut nyeri yang menusuk di perutnya dan rasa pening yang membuat dunianya seolah berputar miring. Kepalanya tertunduk rapat, menyembunyikan wajah pucatnya di balik helaian rambut yang berantakan; ia hanya ingin segera menghilang dari rumah sakit yang beraroma obat-obatan ini. Namun, pelariannya terhenti seketika saat tubuh kecilnya menabrak sesuatu yang keras dan kokoh layaknya dinding batu. Sarah terhuyung mundur, namun sebelum ia jatuh menghantam lantai marmer, sebuah tangan besar dengan sigap mencekal pergelangan tangannya. Sentuhan itu begitu tegas, mengirimkan sengatan listrik yang familier sekaligus menakutkan ke seluruh syarafnya. Sarah tersentak dan mendongak, hanya untuk menemukan sep

